Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Nyawa Dibalas Nyawa


__ADS_3

Yuki, putra sulung tuan Harada, mendatangi kediaman Yamazaki Kenzo. DIa meminta bantuan pada gangster muda itu untuk memberikan informasi terkait bisnis tuan Harada. Sebagai imbalannya, Yuki berjanji akan memberikan 5 % sahamnya di Miracle pada Ken.


Hal itu membuat Ken harus berpikir keras, namun dia menutupinya di depan Aira, Sang Istri. Pria ini mengatakan bahwa Kosuke yang akan mengurusnya besok. Itu ia ucapkan agar Aira tak mengkhawatirkannya.


"Ini nasi goreng permintaanmu." Aira membawa sepiring besar nasi goreng  buatannya ke dalam kamar.


"Umm." Ken duduk di samping istrinya setelah meletakkan Ayame ke tempat tidurnya. Ken berhasil membuat bayi cantiknya itu tidur setelah melalui drama luar biasa.


"Bagaimana rasanya mengurus bayi? Bukankah itu menyenangkan?" Pertanyaan sarkas yang Aira lontarkan membuat Ken menelan ludahnya dengan paksa. Dia tidak akan berani bertingkah lagi saat istrinya sibuk mengurus anak-anak. Tidak lagi.


Cup


"Maafkan aku." Aira mencium pipi suaminya, membuat wajah putih pria ini merah merona seperti kepiting rebus.


"Eh?" Ken terkejut, menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.


"Maaf karena sudah menyusahkanmu untuk menjaga Aya." Aira tersenyum. "Lain kali, tunggu dia tidur dan aku bisa melakukan apapun yang kamu inginkan."


Hati Ken menghangat, dia merasa tersanjung dengan sikap istrinya ini. Padahal itu hal yang biasa saja, sama seperti interaksi pasangan suami istri yang lainnya.


Tanpa aba-aba, pria ini memeluk wanitanya dengan erat. Dia diam, namun hatinya merapalkan ribuan ucapan syukur pada Yang Maha Kuasa. Tanpa kuasa-Nya, mungkin Ken tidak akan bertemu wanita setangguh Aira. Dan tentu saja ia masih akan menjadi monster paling kejam di dunia bisnis, tanpa belas kasih sama sekali.


"Hey?!" Aira mengerutkan keningnya. "Aku tidak bisa bernapas," keluhnya kemudian.


Ken segera melepas dekapannya dan menatap wanita ini dengan penuh cinta.


"*Arigatou. Hontou ni arigatou." *Ken mengucapkan terima kasihnya dengan menggebu-gebu.


(Terima kasih. Terima kasih banyak)


Aira tersenyum. Dia tahu suaminya orang yang baik, itu sebabnya dia juga memperlakukannya dengan baik. Hubungan mereka bukan lagi saling mengenal seperti di awal-awal pernikahan dulu, melainkan sudah ada di tahap saling melengkapi, saling melindungi satu sama lain.


"Makanlah selagi hangat." Aira mengalihkan perhatian suaminya. Dia mengambil sebuah sendok dan bersiap menyuapi pria ini. "Buka mulutmu."

__ADS_1


Ken menuruti permintaan istrinya, membuka mulutnya lebar-lebar, membiarkan sendok berisi nasi itu masuk ke dalam sana.


"AI-chan,"


"Jangan berbicara saat makan!" Aira menekankan hal itu sebelum menyuapi dirinya sendiri.


Pasangan suami istri ini berbagi makanan yang sama sebagai santap malam. Tak harus dengan sesuatu yang mewah, nyatanya sepiring nasi goreng saja membuat hubungan keduanya semakin harmonis. Tak bisa dipungkiri, Aira berhasil merubah haluan pria ini, membuatnya menjadi manusia biasa tanpa harta.


Di saat yang sama, kakek Yamazaki juga menikmati santap malamnya. Yang berbeda adalah, dia menikmati itu dengan seorang wanita yang luar biasa, Anna.


"Saya tersanjung atas undangan Anda, Tuan." Wanita itu mengukir senyum paling indah yang bisa dia berikan. Siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona.


Kakek menarik sebelah bibirnya ke atas, senyum palsu beliau berikan sebagai balasannya.


"Saya terkejut saat tuan Kobayashi menghubungi saya beberapa saat yang lalu." Anna masih tetap beramah tamah, mentupi sisi iblis yang siap menerkam buruannya kapan saja.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya kakek 77 tahun ini. DIa sudah bisa membaca gelagat Anna yang sekilas memperhatikan para pengawal di sekitar mereka. Pria ini selalu to the point, berani menghadapi musuhnya face to face. Tak peduli pada resiko yang mengancam nyawanya.


"Anda masih tetap sama, tuan Yamazaki Subaru. Itu yang membuat saya kagum."


"Sebelum saya mengatakan tujuan saya kembali ke Jepang, tidakkah Anda ingin mendengar bagaimana saya bisa lolos dari ledakan dahsyat kala itu? Ah, atau cucu Anda mengira saya sudah mati bersama suami saya?"


Hening


Lagi-lagi kakek tak merespon, hanya mendengarkan Anna.


"Demi gadis itu, cucu Anda rela berkorban nyawa. Bahkan tak segan-segan membunuh pria tak bersalah itu." Anna bermonolog. Pria tak bersalah yang dia maksudkan di sini adalah mendiang suaminya, Takeshi Kaneshiro.


"Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa cucu Anda menemukan Mone. Padahal kakak angkatnya yang b*rengsek itu saja terkecoh, tidak bisa menemukan apapun. Entah cucu Anda yang terlalu pintar atau Si Oguri itu yang terlalu bodoh."


Kakek tetap bungkam. Dia menyadari bahwa Anna tidak tahu kemampuan Aira. Yang wanita ini bicarkan adalah Kenzo, bukan yang lain. Ya, misi pembebasan Mone waktu itu memang dipimpin langsung oleh Ken sebagai otak utamanya. Itu yang Anna ketahui. Dan kakek tidak ingin mengungkap kebenarannya sama sekali. Identitas Aira cukup sebagai seorang istri biasa. Itu saja.


"Bertahun-tahun pria bodoh itu mencari adik angkatnya, namun tidak menemukan apapun. Dan tiba-tiba dia datang dengan cucu kesayangan Anda, membantai pengawal, bahkan menghancurkan kediaman tempat saya berlindung." Wajah iblis itu mulai terlihat, tampak dari sorot matanya yang tajam. Tangannya mencengkeram gelas di hadapannya dengan sangat erat. "Bukankah sudah seharusnya saya menuntut balas?"

__ADS_1


Kakek mengerti, wanita ini menyasar Kenzo dan Shun. Tapi sepertinya dia tidak bisa mendekati dua orang itu, jadi memulainya dengan Yuki.


Yuki adalah mantan suami Kaori. Dengan melibatkannya, maka Anna berharap bisa mengusik rumah tangga Shun dengan Kaori. Dan untuk Ken, wanita ini belum bisa menyentuhnya. Bahkan mendekatinya saja sulit.


"Cucuku bergerak untuk membantu Oguri, bukan yang lain." Kakek akhirnya bersuara.


"Saya tahu." Anna kembali mengulas senyum terbaiknya. Mengerikan. "Saya tidak akan mengganggunya jika dia tidak menghalangi misi saya kali ini untuk membalas pria bodoh itu. Nyawa dibalas nyawa. Kematian suami saya harus dibalas kematian pria bodoh itu, Shun Oguri."


Indera penglihatan Anna berkilat tajam. Dia menyampaikan hal itu tanpa beban, seolah menganggap hubungannya dengan kakek begitu dekat. Padahal kakek hanya ingin melihat langkah apa yang mungkin akan wanita ini lakukan.


"Saya harap Anda tidak ikut campur dalam masalah ini." Kalimat tajam dan menukik itu terdengar mengerikan, bahkan membuat tuan Kobayashi menunduk dalam. Dia paham maksud wanita ini, tidak ingin kakek Yamazaki menghalangi jalannya.


"Itu tergantung apa yang kamu lakukan. Jika kamu mengusik orang-orangku, jangan harap ada ampun untukmu."


Kali ini Anna yang bungkam. Dia tidak bisa berjanji akan hal ini. Bagaimanapun juga, misinya kali ini adalah membalas dendam pada Shun. Dan pria itu adalah sahabat karib Kenzo, maka kemumgkinan besar Ken juga terlibat di dalamya.


"Satu helai saja rambut cucuku tercerabut, saat itulah aku mencabut nyawamu!"


Glek


Anna speechless, tak bisa berkata apa-apa lagi. Pernyataan kakek ini tidak main-main.


"Lakukan apapun yang kamu mau asalkan itu tidak mengusik orang-orangku." Kakek berdiri. Sejurus kemudian, beliau meninggalkan tempat ini, membiarkan Anna seorang. Wanita itu mengepalkan tangannya erat-erat. Dia kesal. Pergerakannya sudah terbaca oleh yakuza yang paling ditakuti seantero Jepang ini. Sedikit saja dia salah langkah, maka tamatlah riwayatnya, siap menyusul Takeshi di alam baka.


'Sial!' umpatnya dalam hati.


Otaknya segera berputar cepat, mecari jalan terbaik yang bisa dia tempuh untuk membalaskan dendam tanpa melibatkan Yamazaki Kenzo. Tampaknya itu sesuatu yang mustahil. Itu pikirnya.


* * *


Apa yang akan Anna lakukan? Bisakah dia membalaskan hutang nyawa sang Suami?


See you next day, bye ....

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2