
Kondisi kesehatan Ken tidak begitu baik sekarang. Minami terpaksa bekerja sama dengan dokter klinik untuk memberikan obat tidur agar tuan mudanya itu benar-benar istirahat total. Jika tidak, pasti pria itu akan tetap mengurus pekerjaannya sebelum dipaksa tumbang oleh keadaan.
Minami, wanita hamil itu, bahkan dengan berani memberitahukan keadaan Ken pada Aira. Padahal jelas-jelas bahwa Kosuke melarangnya. Minami hanya berpikir bahwa tidak seharusnya seorang suami menyembunyikan fakta penting seperti itu dari istrinya. Sudah menjadi tanggung jawab seorang wanita untuk memastikan suaminya dalam keadaan baik, entah itu fisik maupun mentalnya.
Setali tiga uang dengan Ken, ternyata Yamaken juga tengah demam sekarang. Dia terpaksa membatalkan beberapa jadwal pemotretan iklan hari ini, membuat manager harus meminta maaf secara khusus pada pihak agensi dan semua yang terlibat di dalamnya.
Tit tit tit
Cklekk
Suara pintu terbuka, membuat Pangeran Live Action itu menoleh seketika. Disana tampak managernya masuk dan melepas sepatu yang dipakainya untuk kemudian menggantinya dengan sandal berbulu yang tersimpan di rak sepatu paling atas.
"Ayo masuk," ajak manager pada seseorang yang belum terlihat batang hidungnya, membuat Yamaken mengerutkan kening karena heran. Tidak biasanya wanita cerewet itu mengajak seseorang kemari.
'Kenapa manager kembali begitu cepat? Siapa yang ia ajak kemari?' batin Yamaken bertanya-tanya.
"Mone-chan," panggil Yamaken lirih sambil berusaha tersenyum untuk menyembunyikan wajah pucatnya. Ia merasa lapar dan haus, memaksakannya keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Kebetulan saat melewati ruang tengah, hendak mengambil ponselnya, terdengar suara seseorang sedang menekan pin/password untuk membuka pintu dari luar, membuat Yamaken ingin tahu siapa yang datang mengunjungi apartemen pribadinya ini.
Tampak Mone dan manager berdiri bersisian. Kedua wanita beda usia itu pasti sudah berkirim pesan atau melakukan komunikasi lainnya.
"Aku pergi. Tolong jaga dia baik-baik," pamit wanita empat puluh tahun itu.
Puk puk
Manager menepuk pundak Mone sebelum menghilang di balik pintu. Dia mempercayakan artis kebanggannya pada gadis berusia dua puluh tahun ini.
Hening
Hanya suara air mendidih yang terdengar di telinga keduanya. Baik Mone maupun Yamaken, keduanya sama-sama canggung. Mone didera rasa bersalah karena sebelum kemari, dokter Takeshi memeluknya dan dia merasa senang saat itu. Sedangkan Yamaken, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Tubuhnya masih lemah dan ingin istirahat lebih lama lagi. Tapi dengan adanya Mone di sini, tentu saja dia tidak bisa mengabaikannya, 'kan?
"Mone-"
"Yama-"
Keduanya berbicara secara bersamaan, membuat mereka mengurungkan niat masing-masing untuk berbicara. Yamaken menunjukkan dengan isyarat tangannya, bahwa Mone dipersilakan berkata lebih dulu.
Mone tersenyum canggung. Ia memainkan zipper jaket biru dongker yang dipakainya sejak pagi hingga menjelang tengah hari ini.
Mone mendekat dan segera menempelkan punggung tangannya di kening Yamaken, membuat wajah pria itu merona seketika. Ia bahkan menundukkan kepalanya karena malu.
"Suhu tubuhmu sudah turun." Mone menurunkan tangannya dan tersenyum kecut. Ia merasa lega mendapati calon suaminya ini baik-baik saja meski masih terlihat pucat. Pria dengan jaket hitam itu tersenyum dan mengacak puncak kepala gadisnya dengan gemas.
"Pasti manager yang memanggilmu. Benar 'kan?" Yamaken menundukkan sedikit badannya, membuat wajahnya sejajar dengan Mone, bahkan tepat di depannya hanya berjarak beberapa centimeter saja. Hidung mereka berdua hampir saja bersentuhan.
Deg
Deg
Deg
Jantung Mone berdegup kencang membuat napasnya sedikit memburu. Pipinya merona merah seketika.
__ADS_1
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir gadis 152 cm itu, membuat napasnya benar-benar terhenti detik itu juga. Ia merasakan embusan napas dari hidung Yamaken yang menerpa pipinya. Pria itu segera menarik diri dan tersenyum.
"Surprise," bisik Yamaken di telinga Mone, membuat wanita berdarah Indonesia-Jepang ini semakin tak karuan rasanya. Sebenarnya, Yamaken berniat mematikan kompor yang ada di belakang Mone, namun sengaja menggoda gadisnya ini.
(Kejutan)
Klik
Yamaken mematikan kompor dan menuangkan mie instan yang dibuatnya ke dalam mangkuk. Ia mengajak Mone duduk di meja makan dengan menarik tangannya secara paksa.
"Apa kamu lapar?" tanya Yamaken sembari menyajikan mie buatannya di depan wanita yang sudah berhasil merebut perhatiannya ini.
Mone menatap calon suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa bersalahnya semakin kuat dan terus menghantuinya.
"Hey hoo ... " Yamaken mencubit hidung Mone. Ia semakin gemas melihat gadisnya yang salah tingkah seperti sekarang.
"Ekhmm. Aku sudah makan." Mone menyingkirkan jemari tangan Yamaken dari hidungnya. Ia berusaha menetralkan hatinya yang tidak bisa digambarkan ini, antara senang atas perhatian Yamaken sekaligus sedih karena hatinya pernah berpaling meski sejenak.
Yamaken duduk di hadapan Mone dan bersiap melahap makanan panas di dalam mangkuk.
Srett
Mone menarik mangkuk di atas meja, menjauh dari jangkauan jemari aktor satu ini.
"Eh?" Yamaken bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba Mone mengambil makanan miliknya. Padahal tadi ia menolaknya.
"Tidak boleh makan mie instan!" ketus Mone dengan wajah garangnya. Ia juga mengambil dua batang sumpit yang ada di tangan kanan Yamaken.
"Kamu sengaja membuatnya saat manager pergi? Dia pasti murka saat melihatnya." Mone berusaha membawa semangkuk makanan itu ke arah belakang, bersiap membuangnya.
"Manager yang membelikannya untukku."
"Eh?" Langkah kaki Mone terhenti mendengar pernyataan Yamaken. Ia menolehkan wajahnya tanpa berbalik, menunggu kalimat berikutnya.
"Manager memperbolehkanku makan mie instan satu kali dalam sebulan. Jangan merusak momen bahagiaku ini. Aku harus menunggu 29 hari lagi sampai manager memberikan izinnya lagi." Yamaken merebut mangkuk di tangan Mone dengan paksa. Ia kembali duduk dan segera melahap makanan di depannya.
Mone terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu tentang hal ini. Bahkan hanya untuk makan makanan favoritnya, Yamaken harus menunggu 29 atau 30 hari lagi. Bukankah itu sesuatu yang tidak menyenangkan?
"Gomen ne," lirihnya setelah duduk di depan Yamaken seperti sebelumnya.
(Maaf)
Slurrpp
Yamaken meneruskan makannya tanpa menanggapi ucapan gadisnya. Itu membuat Mone menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia berniat meminta maaf pada calon suaminya ini atas perasaan sesaatnya pada dokter itu.
...****************...
-Miracle Corporation
Mobil yang Kaori kendarai terhenti di pelataran parkir bawah tanah perusahaan internasional ini. Ia segera keluar dan berjalan bersisian bersama Aira menuju lift khusus yang akan membawa keduanya menuju ruangan Ken. Ya, selain lift khusus eksekutif, ada lift emergency yang dalam waktu singkat bisa membawa Ken dari ruangannya menuju ruang bawah tanah ini, maupun sebaliknya.
__ADS_1
*emergency : darurat
"Hubungi pihak rumah sakit. Sebentar lagi aku akan mengirimkan sampel darah Ken ke laboratorium. Suruh mereka segera memeriksanya!" titah Aira pada wanita hamil yang kini berbagi udara yang sama dengannya.
"Baik, Nona."
Aira menatap angka di atas pintu yang terus berganti, semakin mendekat ke lantai dua puluh dimana suaminya berada.
Ting
Kedua wanita itu keluar dari kotak mengilat ini dan segera berjalan menuju ruangan pribadi Yamazaki Kenzo di depan sana.
Kosuke menundukkan kepala begitu melihat sosok nyonya muda yang ia segani ini. Ia semakin gugup, merasa bersalah karena menyembunyikan fakta ini dari istri tuannya sendiri. Padahal wanita ini yang seharusnya tahu lebih dulu tentang kondisi Sang Suami dibandingkan orang lain.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Kosuke dengan tak enak hati.
"Hmm. Hubungi dokter Hugo, aku harus berbicara secara pribadi dengan beliau!" Perintah Aira membuat Kosuke menengadahkan kepalanya yang sedari tadi menunduk.
"Tapi tuan tidak ingin ... "
Glek
Perkataan Kosuke terhenti saat menatap wajah tanpa ekspresi yang Aira tunjukkan. Ia tahu, jika sudah begini, maka ia tidak bisa lagi membantahnya. Baik Aira maupun Ken, keduanya memiliki aura kepemimpinan dan dominasi yang begitu kuat. Ken saja tidak bisa berkutik di depan ibu tiga anak ini, apalagi Kosuke yang cukup tahu diri akan statusnya sebagai seorang asisten.
"Baik."
Aira segera masuk dan mendapati suaminya yang terlelap di atas ranjang. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Sang Suami. Tidak demam, namun wajahnya terlihat begitu pucat. Dia pasti tidak dalam keadaan baik saat ini.
Yamazaki Kenzo yang Aira kenal setahun terakhir ini, hampir tidak pernah sakit. Dia adalah pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahan fisiknya di depan siapapun. Bahkan luka sayat yang cukup dalam di lengannya akibat berkelahi dengan tuan Harada, tak membuatnya tumbang seperti sekarang. Ia masih bisa bermain peran dengan pura-pura pingsan dan membuat Aira begitu mengkhawatirkannya.
"Ini yang Anda minta, Nona." Minami menyerahkan satu set jarum suntik untuk mengambil sampel darah tuannya yang tak berada di alam bawah sadarnya sekarang. Aira memang meminta benda ini saat mereka dalam perjalanan tadi. Ia mengambil darah Ken dari siku bagian dalam untuk mengetahui dengan jelas penyebab suaminya tumbang ini.
Ia tahu, Ken tidak akan bersedia dibawa ke rumah sakit, apalagi sampai di rawat di sana. Maka cara inilah yang paling baik. Ken tidak akan marah dan ibu mertuanya tak perlu tahu masalah ini. Wanita itu mungkin saja akan mengirimkan Kosuke ke Afrika karena menyembunyikan fakta ini darinya. Aira tidak ingin hal itu terjadi. Jadi, inilah solusi terbaik untuk saat ini, mencari tahu keadaan Ken melalui jalur belakang.
Ya, Aira diam-diam mendalami bidang medis tanpa Ken ketahui. Saat ia datang untuk mengikuti kelas ibu hamil beberapa bulan yang lalu, ia juga meminta pelatihan khusus secara pribadi pada dokter. Itu ia lakukan sebagai persiapan jika terjadi hal-hal darurat seperti sekarang.
Aira bisa belajar dengan cepat bagaimana caranya mengukur tekanan darah, menghitung denyut nadi seseorang, memasang cairan infus, bahkan sampai mengambil sampel darah seperti sekarang ini.
"Bawa ini. Minta mereka memberikan hasilnya secepat mungkin!" Perintah dari Aira hanya dijawab anggukan oleh Minami. Ia membawa pergi tabung kecil berisi cairan berwarna merah itu keluar dan memberikannya pada seorang agen khusus yang siap mengantarkannya ke laboratorium rumah sakit.
"Nyonya, permintaan Anda," ucap Kosuke sembari memberikan ponselnya pada Aira. Disana tertera nama dokter Hugo.
"Selamat siang, Dok." Aira mulai berbicara dengan dokter senior kepercayaan keluarga suaminya ini. Dia tenaga ahli dalam hal ini. Aira ingin mendengar langsung penjelasan beliau tentang kondisi anemia yang kemungkinan besar diderita oleh suaminya sekarang. Meski sudah mendengar penjelasan dari Kaori, ada hal-hal yang masih ingin ia tanyakan lebih dalam.
"Selamat siang, Nyonya Yamazaki. Ada yang bisa saya bantu?"
...****************...
Waaah emak Aira kalo udah barbar ngga ada yang berani lawan yaak 😂😂 Makin cinta sama karakter satu ini, penyayang, perhatian, bisa jadi hacker pro, bisa pake senjata tajam, bisa ambil sampel darah, bisa ambil hatinya abang Kenzo juga 💃
Ada yang penasaran gimana kondisi Ken sebenarnya? See you next part. Jangan lupa tap ikon jempol, love, komen, vote, share, etc.
Baibai,
__ADS_1
Hanazawa Easzy