Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Menikah Lagi?


__ADS_3

Aira menerima panggilan dari Minami, membuatnya harus menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya. Wanita hamil itu jarang menghubunginya, pasti ada hal mendesak yang ingin dia sampaikan.


"Moshi-moshi, Minami-chan," sapa Aira setelah mendekatkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


"Selamat pagi, Nona. Maaf mengganggu Anda dan Tuan Muda."


Aira melirik ke arah pria yang masih terduduk di atas kursi, sepuluh meter darinya.


"Tidak. TIdak mengganggu sama sekali. Ada apa?" tanya Aira to the point. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah waktunya untuk memandikan anak-anak. Meskipun ada Sakura dan yang lainnya, tapi dia merasa lebih  aman jika dia sendiri ikut turun tangan memandikan ketiga jagoannya. Itu dia anggap sebagai tugas utama seorang ibu.


"Ini tentang tuan Harada Yuki."


"Ada apa dengannya?"


Aira sedikit terkejut karena Minami menyebut nama itu. Baru saja dia dan Ken membahas permasalahn pelik yang berhubungan dengan mantan suami Kaori itu.


"Tuan Yuki memaksa ingin bertemu dengan tuan Yamazaki. DIa tidak percaya bahwa Tuan Muda sedang tidak ada di tempat sekarang ini. Pria itu bahkan menunggu di depan pintu apartemen kami."


"Siapa?" Suara Ken yang tiba-tiba membuat wanita ini terhenyak. Dia terkejut lantaran suara langkah kaki Ken sama sekali tak terdengar. Nyatanya pria ini memang tak menggunakan alas kaki sama sekali. Tangan kekarnya memeluk perut Aira dari belakang. Telinganya dia tempelkan pada ponsel di tangan kanan istrinya.


"Bicaralah langsung padanya." Aira berkata pada Minami di ujung telepon.


"Kenapa? Ada masalah?" Suara Ken menggema, membuat wanita hamil di seberang sana terhenyak.


"Ano.... " Minami memilah kata yang tepat.


"Tuan Yuki memaksa untuk bertemu dengan Anda. Dia menunggu di depan pintu apartemen kami dan tidak percaya jika Anda sedang tidak ada di rumah. Pria itu mendatangi kediaman Anda semalam tapi tidak mendapati


siapapun di sana, kecuali penjaga rumah."


Ken mengerutkan keningnya. Memang kepergiannya ini terkesan begitu mendadak. Tapi kenyataannya, Yuki terus berusaha mengejarnya. Untunglah dia menuruti rencana kakek, meskipun harus dengan cara melumpuhkan Aira.


"Dimana Kosuke?" Ken menatap matahari yang semakin tinggi, sekitar pukul tujuh pagi. Jika perkiraannya benar, maka di Jepang seharusnya sudah jam delapan. Dada bidangnya menempel di punggung Aira, masih memeluknya dengan penuh cinta. Dia ingin memperbaiki hubungan mereka yang terasa sedikit renggang sebelumnya.


"Dia sudah berangkat ke kantor. Saya tidak bisa menghubunginya, mungkin masih ada dalam perjalanan."


"Kalau begitu katakan padanya untuk datang ke kantor saja."


"Ya?" Minami mempertanyakan perintah tuannya. Entah kenapa dia khawatir dengan kedatangan pria ini.

__ADS_1


Dengan kandungannya yang semakin membesar, meningkat pula rasa cemas yang dia rasakan. Terlebih lagi, Minami tidak begitu mengenal Yuki dengan jelas. Dia hanya tahu bahwa pria itu beberapa kali menghadiri rapat di Miracle sebagai seorang pemilik saham di perusahaan. Dia takut Yuki bersikap brutal dengan memaksa masuk atau semacamnya.


"Kosuke yang akan mengurusnya." Suara Ken terdengar, seolah bisa membaca kekhawatiran mantan asisten pribadi istrinya ini.


"Aku akan menghubungi orang kantor, meminta mereka memberitahu Kosuke secepatnya." Ken terus bersuara melalui ponsel yang Aira pegang di dekat telinganya. Jarak wajah keduanya hanya terhalang benda elektronik pipih saja. Jika panggilan berakhir, maka Ken bisa dengan leluasa mencium pipi istrinya dari samping.


"Ada hal lain?" tanya Ken karena panggilan dua arah itu belum juga berakhir meski dia sudah memberikan solusi terbaik untuk permasalahan Yuki ini.


"Oh, ti... tidak ada." Minami tergeragap. "Hanya itu saja."


"Aku akan mengirimkan dua orang pengawal untuk berjaga di sekitar kediamanmu. Jangan keluar sembarangan. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu membahayakan nyawamu sendiri!"


Aira mengerutkan keningnya saat mendengar ancaman Ken pada Minami. Tidak biasanya pria ini begitu protektif, terlebih pada bawahannya.


Minami mengangguk meski tak bisa dilihat oleh atasannya ini. "Baik. Saya mengerti, Tuan."


Aira menjauhkan ponsel berwarna hitam itu dari samping telinga ketika sambungan telepon telah resmi terputus. Dia menatap foto Akari, Ayame, dan Azami yang digunakan sebagai wallpaper. Mereka terlihat begitu menggemaskan.


Cup


Ken mendaratkan satu kecupannya di pipi kanan Aira, membuat bahu wanita 26 tahun ini seketika berjengit. Dia terkejut dengan perlakuan pria kesayangannya ini.


"Nani?"


Dengan kerutan yang semakin dalam, Aira menatap Ken yang berdiri di belakangnya. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, persis seperti anak kecil yang tak mengakui kesalahannya. Wajah tanpa dosa yang dia tunjukkan menandakan bahwa pria ini memang sengaja mencium Sang Istri.


"Aku lapar," ucapnya seduktif, menggerakkan jemarinya di luar perut Aira yang masih tertutup blouse berwarna silver, salah satu warna kesukaan wanita ini selain navy.


"Heih?" Aira semakin heran. Kenapa pria ini tiba-tiba saja bersikap manja padanya? Dan lagi, ini masih pagi. Bagaimana mungkin dia meminta 'jatah' sepagi ini?


"Sebentar saja." Ken mendaratkan kecupannya di leher Sang Istri, membuat wanita ini bergidik ngeri. Ada geleyar aneh yang dia rasakan ketika bibir itu menyentuh kulit sensitifnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Aira melepas dengan paksa perlakuan romantis suaminya yang dia anggap tidak pantas. Mereka ada di luar rumah, bagaimana mungkin suaminya ini bersikap tidak tahu malu seperti barusan.


"Ai-chan..." Ken merengek, meminta perhatian lebih pada istrinya ini. Dia ingin bermanja-manja pada wanita Indonesia yang sudah mendampinginya setahun terakhir. "Jika ibu ada di sini, kamu pasti akan lebih senang menghabiskan waktu dengan ibu dan anak-anak kita."


Aira bungkam. Apa yang Ken katakan ini benar adanya. Hubungan mereka memang sedikit berjarak sejak beberapa hari yang lalu. Dan besok, ibu akan datang ke tempat mereka ini. Tentu saja Aira akan lebih senang menghabiskan waktu dengan ibunya dibandingkan dengan pria manja ini.


"Aku harus memandikan anak-anak. Kamu bantu aku, setelahnya kita bisa menghabiskan waktu bersama." Aira mengalah. Dia juga harus membuat suaminya senang sekali-kali.

__ADS_1


"Hontou?"


(Sungguh?)


Ken menunjukkan antusiasmenya. Apapun akan dia lakukan asalkan Aira mau menuruti keinginannya. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.


Aira tak menjawab. Dia lebih dulu melangkah pergi, menuju rumah mewah tiga lantai di depan sana. Itu adalah villa khusus yang kakek Yamazaki persiapkan dalam pelarian mereka kali ini.


Grep


Ken menyusul Sang Istri, meraih jemari mungilnya. "Tunggu aku," pintanya.


Aira hanya tersenyum. Dia selalu terhibur saat pria ini menunjukkan sifat kekanak-kanakannya. Menggemaskan. Bahkan lebih lucu dari ketiga bayi mereka.


"Ai-chan," panggil Ken, menatap Sang Istri dari samping.


"Humm?"


"Kamu tidak marah padaku?"


Kening Aira kembali berkerut. "Marah? Kenapa aku harus marah?"


"Aku meminta Minami menjaga dirinya dengan baik. Tidakkan kamu seharusnya cemburu karena suamimu ini memperhatikan wanita lain?"


"Hah?" Aira menghentikan langkahnya, membuat kaki Ken ikut terpaku di atas pasir pantai. "Jadi, kamu mengatur dua pengawal untuk menjaga Minami, itu juga untuk membuatku cemburu?" Aira menatap suaminya dengan pandangan mencemooh.


"Kenapa?"


Suara tawa menggema. Aira tergelak melihat ekspresi Ken yang heran karena dia tidak cemburu sama sekali.


"Lakukan saja semaumu. Hahaha..." Aira melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sang Suami yang masih terdiam di tempatnya berdiri.


"Bahkan jika kamu ingin menikah lagi, aku juga tidak masalah." Teriakan Aira menggema sebelum tubuh wanita itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak akan ambil pusing dengan apa yang akan suaminya lakukan. Toh, dia sudah percaya penuh padanya.


"Menikah lagi?" Ken mengulang ucapan istrinya. Bagaimana mungkin wanita itu mengizinkannya untuk menikah lagi? Benarkah dia tidak mempedulikannya lagi? Apa benar Aira tidak keberatan dimadu?


* * *


Gimana kelanjutannya ya? Ada yang mau bantuin papa Ken sama mama Aira mandiin baby triplet? Atau ada yang mau dimandiin? *Ehh? Canda sayang.

__ADS_1


Nantikan episode berikutnya yaa. See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2