
Bau antiseptik tercium jelas dari ruangan berwarna biru ini. Beberapa dokter sibuk menggunakan pisau bedahnya untuk mengeluarkan serpihan kaca yang bersemayam di kulit putih bersih yang semakin memucat itu. Perawat yang membantunya juga bergerak dengan cekatan dan selalu siap sedia saat dokter meminta bantuannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pria pada Yu yang berdiri gelisah di depan ruang operasi sejak satu jam yang lalu.
Gadis itu hanya menggeleng tak tahu keadaannya. Ia datang dan kakaknya sudah masuk ruang operasi.
"Sial. Kamu sudah menyelidikinya?" tanya pria itu tampak geram.
"Semua murni kecelakaan. Aku sudah memeriksa semua rekaman CCTV di tempat kejadian. Memang kak Yoshiro yang masuk ke jalur lain."
"Apa dia mabuk?" kini pandangan pria itu tertuju pada asisten Yoshiro yang selalu ada di samping putranya.
"Tuan muda tidak mabuk sama sekali, hanya saja.." pria berbaju hitam itu tampak ragu, ia menunduk tak berani menatap orang yang sedang naik pitam.
"Apa?"
"Mungkin Tuan Yoshiro sedang kesal karena tujuannya tidak tercapai. Dia menantikan Tuan Muda Yamazaki untuk menyerangnya, tapi mereka justru menganggap tidak pernah terjadi apapun dan menghapus kasus malam itu,"
"Kasus malam itu? Apa maksudmu?"
Diam. Tak ada yang berani menjawab. Semua orang memilih diam daripada nanti akan menjadi samsak tinju orang itu saat mereka membuka mulutnya.
"Apa kalian semua tuli?" teriak pria 57 tahun itu sambil menatap semua bawahannya.
"Kakak memberikan bisa ular pada istri Kenzo, ingin membuatnya lumpuh total karena berani menggantikan posisi kak Erina. Ia berharap Kenzo akan menyerangnya dan mereka bisa melakukan perang terbuka, tapi kenyataannya mereka tidak melakukan apapun. Mungkin itu membuat kakak marah dan hilang fokus saat di jalan. Temperamennya sangat buruk akhir-akhir ini," jelas Yu pada ayahnya.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan gadis itu?" suaranya mulai melunak dan ada sedikit rasa iba dari nada bicaranya.
"Hanya lumpuh sementara. Aku sudah memberikan penawarnya sebelum racun itu menyebar." jelas Yu tanpa mengalihkan pandangan dari pintu berwarna biru di depannya.
Klekk
"Siapa wali pasien ini?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah.
"Saya ayahnya, Ebisawa Oda."
"Silahkan ikut ke ruangan saya," ajak dokter itu yang langsung diikuti oleh Oda-san.
Yu akan ikut saat ayahnya memberi isyarat agar putri bungsunya tetap di tempatnya.
"Ada gumpalan darah di otaknya. Sepertinya akibat terbentur saat kecelakaan, tapi yang lebih mengkhawatirkan lagi bukan itu. Putra anda sering minum obat tidur dan obat penenang, mungkin setiap hari. Jadi semua anestesi yang kami berikan padanya hanya bertahan 30 menit, padahal pada umumnya obat itu akan bekerja 4 atau 5 jam.
"Lakukan yang terbaik. Apapun itu asalkan ia selamat."
"Kami berusaha semaksimal mungkin. Tapi sesuai prosedur yang ada, anda harus menandatangani dokumen ini," ucap dokter senior itu sambil menyerahkan selembar kertas persetujuan penggunaan obat anestesi dosis tinggi.
"Apa efek sampingnya?"
__ADS_1
"Pasien akan tertidur lebih lama dan pada beberapa kasus memungkinkan terjadinya kebocoran ginjal. Itu tergantung kondisi masing-masing si pemilik tubuh. Apakah ini tidak masalah, Tuan?"
"Tentu saja tidak. Lakukan yang terbaik agar putraku bisa diselamatkan."
"Baik saya mengerti."
*******
Angin musim dingin berhembus perlahan menyapu dahan-dahan yang mulai mengering. Satu dua daun tersisa menandakan salju akan segera turun dalam bulan ini. Sebuah restoran italia dengan cahaya temaram berwarna jingga menjadi satu pemandangan memikat mata diantara banyak bangunan yang lainnya malam ini.
"Terimakasih atas waktu yang kalian berikan. Aku datang mewakili putraku, Yoshiro untuk meminta maaf pada kalian berdua. Dia sudah membuat kalian melalui masa-masa yang sulit."
"Itu tidak seberapa. Senior hanya ingin berkenalan dengan istriku secara pribadi." jawab Ken ambigu, memamerkan senyuman yang terukir di wajahnya.
Aira menggenggam tangan suaminya, berharap ia tidak marah mengingat tragedi pahit itu.
"Bagaimana keadaan Ebisawa-san saat ini?" tanya Aira spontan saat melihat Ken hendak berbicara, jemarinya semakin erat menekan punggung tangan suaminya. Ia takut Ken melampaui batasnya, menyinggung orang tua yang tengah merendahkan diri demi putranya itu. Ia mengesampingkan egonya demi minta maaf pada orang yang lebih muda.
"Dia baru saja siuman pagi ini. Tuhan masih menyayanginya, tapi..." ucapnya sendu.
"Apa yang terjadi?" tanya Aira refleks saat melihat raut wajah di depannya yang terlihat sedih.
"Dia terus mengamuk dan tidak mengizinkan siapapun menemuinya. Aku takut ia akan semakin merasa kesepian karena tak ada satupun yang bisa mendekatinya. Kondisi tubuhnya juga semakin lemah."
"Bolehkah kami datang?" tanya Aira membuat Ken menatapnya tajam.
"Mungkin anakku berbahaya untukmu, nona. Aku tidak berharap lebih, hanya ingin meminta maaf." pungkasnya sambil menunduk.
"Aku akan pergi. Apa anda keberatan jika aku ikut dengan anda sepulang dari sini?"
"Eh, itu... Sungguh itu akan merepotkan anda. Ini terlalu larut," pria paruh baya itu menatap bimbang ke arah Aira, tak tega menolaknya tapi juga tidak mungkin menyetujuinya. Ia tidak berani menatap Ken sama sekali. Tanpa persetujuan Ken, mana mungkin ia berani membawanya. Terlebih lagi ia takut hal tak terkendali akan anaknya lakukan saat melihat gadis di depannya.
"Suamiku, jika dia menolak bertemu denganku, aku tidak akan muncul di hadapannya. Tapi, setidaknya ijinkan aku untuk melihat keadaannya. Aku yakin dia tidak seburuk yang kamu pikirkan." jawab Aira menggenggam lengan Ken.
'Apa kamu lebih mengenalnya daripada aku dan ayahnya?' Ken diam, ia menyesap kopinya sampai tandas, "Kita akan pergi kesana besok, bukankah kamu harusnya membawa buah tangan?"
Aira tersenyum, "Terima kasih.." ucapnya gembira
Oda-san menatap Ken yang sedang menatap intens istrinya, 'Cinta bisa merubah batu menjadi kapas,' gumamnya dalam hati. Raut kekhawatiran tiba-tiba saja tergambar dengan jelas di wajahnya. Bagaimana tidak? Semua hal yang Ken sukai pasti Yoshiro juga menyukainya. Dan sejak kecil mereka terbiasa berbagi segala hal.
'Apakah kali ini juga ia masih mau membaginya?' hatinya terasa getir hanya karena memikirkan hal itu.
"Paman, anda baik-baik saja?" tanya Aira saat melihat pria di depannya termenung.
"Ah iya. Udaranya terlalu dingin, benar kan? Itu membuatku sedikit gugup," seketika ia menjadi tak bisa berpikir jernih karena ketakutannya sendiri.
"Eh?" Aira tak mengerti keadaannya.
__ADS_1
"Habiskan makananmu, kita langsung pulang setelahnya," dikte Ken memecah perhatian Aira.
"Um.." Aira mengerti dengan sikap Ken sekarang. Jika sudah begini artinya ia tidak ingin membahas apapun lagi.
Mereka berpisah di tempat parkir. Ken memindahkan Aira dari kursi roda ke dalam mobil dengan hati-hati. Saat itulah raut wajah Aira benar-benar murung dan Ken melihatnya dengan jelas.
"Lelah?" tanya Ken saat beberapa menit mereka meninggalkan tempat itu tapi tak ada percakapan sama sekali.
"Bosan," jawab Aira sambil menatap jalanan di luar. Beberapa hari ini ia memilih diam saat tak ada hal penting yang harus ia katakan.
"Marah?" tanya Ken lagi. Ia setia memandang wajah istrinya dari samping.
Aira menoleh dan tersenyum, "Aku akan tidur. Bangunkan aku jika sudah sampai," ucapnya dengan ekspresi senatural mungkin. Ia menyandarkan kepalanya ke samping.
"Tidurlah," Ken membawa kepala Aira ke pangkuannya. Mengelus lembut ujung kepalanya yang berbalut jilbab.
"Ken.." panggil Aira.
"Hmm..." gumam pria itu.
"Maukah kamu menjawab satu pertanyaanku?" Aira menatap wajah Ken dari bawah. Rahang yang tegas, raut wajah sempurna yang tak ada duanya di dunia ini.
"Apa?"
"Jika... Ini hanya jika.." ucapan Aira menggantung, membuat Ken balas menatap mata istrinya, "Bukan apa-apa." ucapnya sambil memalingkan wajah ke depan, tak tahan jika terus bersitatap dengan suaminya.
"Tidurlah," ucap Ken mengelus pipi Aira dengan sayang.
"Terima kasih Ken," lirihnya hampir tak terdengar. Ia memejamkan matanya dan mulai masuk ke dunia mimpi.
*******
Owarimashita...
Hai gengs, akhirnya kelar juga bab ini. Satu pelajaran yang bisa author ambil dari bab ini adalah 'Tolong hargai pasanganmu' *khusus yang udah punya pasangan halal loh yaa, jomblo jauh-jauh dulu deh 😂😂 (padahal author-chan juga jomblo sii) 😋
Ya, hargai saat mereka tiba-tiba mengurungkan niatnya memberi tahukan sesuatu padamu. Ia pasti punya pertimbangan sendiri sampai tidak tega mengatakan hal itu karena ia terjebak di antara "Benar-benar ingin berbicara dan tidak ingin mengganggu"
Ok fix, author baper 😢ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Umm.... Selamat menunaikan ibadah puasa untuk kalian yang menjalankan. Author harap novel unfaedah ini tidak jadi penyebab kalian malas/menunda-nunda beribadah. Tolong bijaklah dalam memanfaatkan waktu. *author-chan sendiri masih belajar (kok geli yaa manggil diri sendiri author-chan)
Jaa ne,
With love...
Hanazawaeaszy 😘😘
__ADS_1