
Mone menikmati pasta di depannya sambil sesekali melihat dua orang di depannya yang sedang berbincang. Anna, ibu angkatnya masih sibuk membujuk PD Simon.
"Ayolah, Simon.. Putriku bisa menerima pekerjaan apapun, tapi jangan harap ia akan bekerja untuk orang-orang itu." Anna tetap dengan pendiriannya, tidak ingin Mone menjalani pemotretan produk kosmetik asal negeri sakura.
"Anna, apa kamu punya masalah dengan mereka? Putrimu harus profesional. Itu hanya pemotretan biasa, tersenyum di depan kamera sambil memegang lipstik, lotion, foundation atau apapun itu, tidak ada yang lain. Jadi apa yang kamu khawatirkan?" tanya Simon dengan mengangkat sebelah alisnya.
Anna tidak bisa menjawab. Ia tahu kekhawatirannya tak beralasan. Dan apa yang Simon katakan benar adanya, Mone harus profesional jika ingin menjadi model papan atas.
"Kenapa mereka memilih putriku? Dari ribuan atau mungkin jutaan model di Rusia, kenapa harus putriku?" ulang Anna dengan kesal. Perbincangan alot ini sudah menghabiskan waktu satu jam, tapi Simon tetap dengan pendiriannya. Ia tidak mau mengganti Mone dengan orang lain.
"Putrimu lahir dan besar di Jepang, kosmetik ini adalah produk buatan Jepang. Keduanya berasal dari tempat yang sama." jawab Simon mencoba bersabar dengan sahabatnya ini.
"Dan kau tahu, putrimu harus melupakan masalah pribadinya jika ingin menjadi model profesional. Ada banyak desas desus karena dia orang asia pertama yang ada di bawah naunganku, terlebih lagi negara asia timur. Tubuh mungil mereka tentu saja sangat berbeda dengan kita orang-orang eropa. Jika bukan karena koneksi darimu, apa dia bisa menjadi model? Mungkin ini terdengar sedikit kasar, aku tidak bermaksud menghina fisiknya tapi inilah kenyataannya."
Mone menghentikan makannya dan menatap Simon dengan ekspresi dingin, "Aku akan mengambilnya. Siapkan kontraknya dalam 5 menit, terlambat satu detik saja tidak akan aku tanda tangani." ucap Mone dengan aura devil di sekitarnya, membuat Anna sedikit ngeri. Itu aura yang sama jika suaminya sedang marah.
"Sayaaang..." panggil Anna mencoba membujuk putrinya. Ia tidak ingin Mone menyesali keputusannya nanti.
"Aku tidak masalah mom.." jawabnya cepat.
"Tidak perlu menunggu lima menit. Kamu bisa menandatangani kontraknya saat ini juga." ucap pria dengan topi yang menutupi kepalanya sambil meletakkan beberapa lembar kertas putih di meja.
Mone kembali duduk dan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Ia bahkan tidak membaca ketentuan yang ada dalam kontrak, lagi pula PD Simon tidak akan menjerumuskannya ke dalam masalah kan? Jika itu terjadi, ibunya tidak akan keberatan membuat pria lajang itu hidup segan mati tak mau.
"Kamu tidak membacanya?" tanya Simon heran.
"Tidak perlu." jawab Mone ketus.
"Bacalah." perintah Simon sambil menyandarkan punggungnya ke belakang.
Mone terpaksa membuka lembaran di depannya. Detik berikutnya ia membelalakkan mata melihat keterangan iklan kali ini.
"Apa ini lelucon?" tanya Mone dengan raut wajah tegang. Jantungnya berdegup kencang setelah membaca satu nama yang tertera dalam kontrak.
"Ada apa?" tanya Anna penasaran.
Sementara itu, 7.479 km dari ketiganya seorang pria tampak memasuki lift bersama wanita di sebelahnya.
"Tapi Nona..." suara Kosuke terhalang pintu lift yang menutup. Membuat angka di atasnya bergerak naik ke bilangan yang lebih besar.
Aira menatap wajah Ken dari samping. Ia menikmati perasaan gugup yang melanda suaminya.
"Apa kamu melakukan kesalahan di belakangku?" tanya Aira. Ia berniat menggoda suaminya yang sekarang hanya memakai kemeja putih dan rompi hitam tanpa lengan. Sementara jas hitam Ken melekat di tubuh mungilnya setelah suaminya itu membuang palto hijau lumut yang semula ia pakai.
"Tidak." kilahnya sambil tetap menatap lurus ke depan. Sesekali ia melirik angka 4 yang ada di atas pintu lift. Entah kenapa liftnya terasa sangat lambat untuk Ken. Ia ingin segera sampai di ruangannya dan makan bekal yang Aira siapkan. Bukan karena ia kelaparan dan tidak bisa menahannya lagi, melainkan ia ingin menghindar dari pertanyaan Aira.
__ADS_1
"Apa yang akan Kosuke katakan padaku? Kenapa kamu tidak mengizinkannya bicara?" tanya Aira ingin tahu.
"Aku lapar." jawab Ken sekenanya. Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah, suamiku lapar?" Aira meraih dagu Ken, membawanya dengan paksa agar menatapnya. Ken yang merasa gugup, langsung memalingkan wajah lagi setelah sepersekian detik atensinya berpadu dengan Aira.
Aira melepaskan genggaman tangan Ken pada jemarinya, "Aku tidak akan menemanimu makan jika kamu tidak ingin mengatakannya." ucap Aira pura-pura marah. Ia mundur dua langkah, merapat ke sisi lain lift. Membuat jarak sejauh mungkin dengan suaminya.
"Ai-chan..." panggil Ken, merasa tak rela karena genggaman mereka terlepas. Aira memalingkan wajah, seolah marah.
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai 15 tempat kantor Ken berada. Beberapa detik berlalu tapi baik Ken maupun Aira tak ada yang bergerak sedikitpun.
Tit
Ken menekan tombol di depannya, membawa lift itu untuk turun kembali ke lantai dasar. Melihat hal itu, membuat Aira tersenyum. Ken kalah lagi, atau mungkin ia mengalah lagi padanya? Entah kalah atau mengalah, Aira tak terlalu mempedulikannya. Yang pasti, ia bahagia sekarang karena Ken menuruti kemauannya. Wanita manapun di dunia pasti ingin dimanjakan, tak terkecuali Aira.
"Aku memecat dua wanita di belakang meja itu. Kosuke pasti akan mengadukan hal itu padamu." ucap Ken sambil merapikan dasinya yang ternyata masih rapi. Menggelikan. Berada di depan orang yang kita cintai sungguh bisa merenggut akal sehat kita.
Ting
Mata Ken membulat menatap pintu lift yang terbuka sepenuhnya. Kenapa cepat sekali sampai di lantai dasar? Bukankah sebelumnya terasa sangat lambat saat mereka naik tadi? Apa gravitasi bumi berpengaruh dalam hal ini? Yang benar saja..
Ken menggeleng mengusir pemikirannya yang tak masuk akal. Ia mengikuti Aira keluar dari kotak besi itu dan menghampiri Kosuke. Asisten pribadi Ken itu tengah berdiri di depan meja resepsionis, tampaknya ia berusaha mencegah dua karyawan Miracle yang tengah membereskan barang-barangnya di meja.
"Nona akan memaafkan kalian. Tunggulah sampai tuan selesai makan. Itu hanya emosi sesaat saja, kalian tidak akan dipecat." ucap Kosuke sedikit panik karena perkataannya hanya dianggap angin lalu.
"Itu benar. Kalian bekerja dengan baik dan akan mendapat bonus bulan ini, benar kan sayang?" tanya Aira sembari menatap Ken yang kini berdiri di sisinya.
Ken masih diam, ia tidak mau menatap Aira dan lebih memilih mengedarkan pandangannya ke langit-langit. Pantang baginya untuk menarik keputusan yang ia ambil sebelumnya.
"Sayang, apa kamu mendengarku?" Aira mencubit perut Ken, membuatnya berjengit seketika.
"Aa... Iya benar. Kalian tidak akan dipecat." jawab Ken sembari menangkap tangan istrinya, menahan jemari mungil itu agar tidak mencubitnya lagi.
"Hanya itu saja?" tanya Aira. Wanita hamil itu ingin Ken mengonfirmasi hal yang ia ucapkan sebelumnya.
"Apa kamu tahu mereka bekerja keras setiap hari? Tidak peduli seburuk apa perlakuan para tamu yang datang, mereka tetap menyapa semua orang dengan ramah. Mereka adalah wajah utama perusahaan ini. Mereka tidak mengenaliku karena memang aku tidak memperkenalkan diri. Jika aku sejak awal mengatakan bahwa aku istrimu, tentu mereka akan mempersilahkanku menemuimu. Lagi pula aku hanya ingin memberikan makan siang untukmu, jadi tidak ada salahnya aku menitipkannya pada mereka. Bukankah kamu masih ada di ruang rapat?" ucap Aira panjang lebar.
"Sebagai seorang atasan seharusnya kamu memberikan penghargaan lebih kepada karyawan yang bekerja dengan loyal. Mereka berdua hanya menerapkan standar operational prosedur yang berlaku di perusahaan ini. Bukannya memberi hadiah, kamu justru memecat mereka. Bagaimana jika mereka bertindak ceroboh dengan mengizinkan siapa saja menemuimu? Tentu itu akan membuatmu tidak nyaman dan tidak memiliki waktu untuk istirahat. Tanpa mereka..." Aira menghentikan rentetan omelannya.
"Hoaammm" Ken berpura-pura menguap. Di siang hari begini, mana mungkin suaminya mengantuk?
Aira cemberut dan melepaskan pegangan tangannya dari Ken. Ia marah karena Ken enggan mendengarkannya. Kosuke menahan senyum melihat akting tuannya yang sangat buruk, sangat berbeda dengan adik kembarnya yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan. Bahkan mendapat julukan Prince of Live Action karena sudah memainkan begitu banyak film atau dorama yang diadaptasi dari manga/anime.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya aku disini. Lebih baik pulang saja." Aira melenggang menuju pintu keluar membuat Ken berlari mengejarnya.
"Mau kemana?" tanya Ken panik. Ia masih ingin menghabiskan waktu dengan istrinya.
"Bukan urusanmu!" jawab Aira ketus.
Ken tersenyum melihat Aira yang sedang merajuk. Mood swing wanita yang tengah hamil muda benar-benar mengganggu. Mereka bisa bahagia detik ini dan bermuram durja detik berikutnya.
"Aah tentu saja itu urusanku." celoteh Ken dengan wajah bahagia.
Hap
Ken menggendong Aira di depan badannya ala-ala bridal style membuat mata wanita itu membulat. Ia terkejut dengan perlakuan Ken padanya. Sebentar lagi jam makan siang, dimana pasti banyak karyawan yang akan melintasi ruangan ini menuju kantin. Ia akan sangat malu jika mereka melihatnya digendong Ken.
Duk duk
"Ken?! Turunkan aku sekarang!!" perintah Aira sambil memukul dada suaminya.
"Tidak akan." jawab Ken dengan senyum iblis di wajahnya pertanda bahaya bagi Aira.
"Kosuke, batalkan semua agenda hari ini dan urus mereka berdua seperti keinginan istriku." perintah Ken tanpa berbalik.
"Baik, akan saya laksanakan." jawab Kosuke patuh.
Ken menggendong Aira ke arah mobilnya. Ia bahkan bersenandung lirih menyuarakan hatinya yang sedang bergembira.
"Aku sudah memberikan mereka berdua hadiah. Sebagai seorang pebisnis profesional, tentu aku juga harus mengambil keuntungan dari pengorbananku. Lagi pula aku juga pekerja yang royal, aku juga berhak mendapatkan hadiahku." bisik Ken sambil sedikit membungkukkan badannya, berusaha memperkecil jarak dengan istrinya. Senyumnya semakin lebar kala mendapati wajah Aira yang memerah.
"Kamu tahu kan hadiah yang ku inginkan?" tanya Ken saat mereka berhenti di samping mobil hitam miliknya.
'Hadiah untuk Ken?' batin Aira.
Dukk
Aira menyikut perut Ken, membuat dekapannya sedikit longgar. Aira memanfaatkan itu untuk melepaskan diri dan berdiri sedikit menjauh dari Ken. Ia masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.
Wajahnya memerah seutuhnya, paham benar apa hadiah yang dimaksud oleh suaminya. Benar-benar gila. Apa suaminya itu seorang maniak? Bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada pria tidak waras sepertinya?
*******
Heuheuheuuu.... cukup sampe sini aja yaa. Author bener-bener ngga bisa lanjut jelasin apa yang bakal terjadi. Lagi pula author kan masih bocah, ngga tau hadiah apa yang Ken minta daei Aira 😂😂
Thanks for coming, please like, comment, vote & see you next day..
With love,
__ADS_1
Hanazawa easzy ♡