Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Girls Talk


__ADS_3

Sumari mengajak Aira pijat di salah satu tempat spa yang ada di pegunungan. Mereka diberi pijatan lembut oleh seorang terapis. Dengan menggunakan minyak atau lotion, terapis yang sudah ahli akan memijat tubuh secara berurutan mulai dari atas kepala sampai ujung kaki.


Melalui pijat, rasa nyeri yang ada di bagian-bagian tubuh, seperti kepala, leher, bahu, punggung, sampai kaki dapat berkurang. Pijatan juga dapat memperlancar sirkulasi darah dan melemaskan otot yang kaku. Bahkan pijat spa diduga bisa meredakan gejala osteoarthritis dan kanker.


Biasanya di dalam ruangan pijat dipasang aromaterapi, sehingga pengunjung dapat menghirup aroma yang wangi saat sedang dipijat. Wangi-wangian aromaterapi yang dibuat dari ekstrak tanaman ini dapat membantu meredakan stres dan menenangkan pikiran. Aromaterapi yang terbuat dari minyak lavender misalnya, bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit pada anak-anak yang baru saja menjalani prosedur bedah untuk amandel dan mengurangi rasa sakit ketika menjalani cuci darah.


Rangkaian selanjutnya setelah pijat adalah berendam di dalam kolam berisi air hangat. Bagian rangkaian perawatan spa ini bertujuan untuk merileksasi otot-otot yang tegang dan kaku dalam tubuh. Selain itu, berendam di air hangat juga dipercaya dapat mengatasi berbagai jenis penyakit kulit.


Sementara itu beberapa kilometer dari sana, seorang pria tampak mengerutkan keningnya. Ia menyudahi permainan gamenya dengan Kakek karena merasa lapar. Dengan langkah panjangnya ia segera berlalu ke kamar. Ingin meminta istrinya menemaninya makan.


Tapi tidak ada siapapun disana. Bahkan selimutnya masih tertata rapi di atas ranjang seolah tak pernah tersentuh. Netranya membulat kala melihat jam di pergelangan tangannya. Jarum pendek yang bergerak dengan sangat lambat itu menunjukkan angka 1.


Ya, jam 1 dini hari. Itu artinya ia bermain game selama 8 jam tanpa henti. Ia mengurut pelipisnya perlahan, mencoba mengingat apa yang terjadi selama ia bermain game tadi. Ah, sayangnya ia tidak ingat apapun. Ia terlalu fokus dengan gamenya.


Sial!


Ken segera berlari keluar, berharap menemukan istrinya disana. Mungkin saja Aira tengah merajuk, berdiam diri di balkon seperti sebelumnya. Nihil.


Tidak ada siapapun di sana. Netranya memicing, memindai keadaan di sekelilingnya. Ia berlari saat melihat sesuatu berwarna hitam di halaman. Ken menatap sebal pada jas miliknya yang teronggok di atas salju.


'Kemana istrinya? Apa yang sudah ia lewatkan?'


Ken berkeliling di seluruh penjuru rumah ini, tapi tetap tidak membuahkan hasil. Ia tidak melihat Aira-nya dimanapun.


Detik berikutnya ia menghembuskan nafas kasar sambil menyugar rambutnya dengan sebelah tangan. Sementara satu tangannya lagi ia gunakan untuk memegang ponsel di samping telinganya.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan...


"SHIT!!" umpat Ken emosi segera menutup panggilan tanpa menunggu operator itu menyelesaikan perkataannya. Ia kembali ke ruang dimana ia menghabiskan waktu sebelumnya, kakek sudah tidak ada di sana. Dan tidak ada satupun pelayan yang nampak.


Terang saja, dini hari begini tentu saja mereka sedang istirahat kan? Memangnya apa yang akan mereka kerjakan?


Ken berlari keluar rumah dan menyambangi dua orang penjaga di depan pintu gerbang. Mereka standby disana selama delapan jam sebelum berganti dengan pekerja lain di shift berikutnya.


"Dimana istriku?" buru Ken tanpa mempedulikan hormat yang ditujukan padanya.


"Maaf?" tanya salah satu dari mereka.


"Dimana istriku? Kemana dia pergi?" tanya Ken emosi.


"Maaf, kami tidak tahu yang tuan muda bicarakan. Tidak ada seorangpun yang keluar sejak kami berjaga disini 5 jam yang lalu." jawabnya tenang.


Ken mengusap wajahnya dengan kasar, ia berharap menemukan titik terang dari dua pria berbaju hitam di depannya. Tapi nyatanya tak ada gunanya sama sekali. Mungkin Aira pergi sebelum keduanya datang.


*****


"Selamat pagi sayang.." ucap Sumari sambil mengusap pipi Aira yang baru saja membuka kelopak matanya.


"Kamu tidur sangat nyenyak." lanjutnya tanpa memudarkan senyum yang menghiasi wajahnya.


Aira menatap sekeliling, sekilas mengumpulkan memori ingatannya. Kenapa ia bisa tidur di ranjang yang sama dengan ibu mertuanya? Lalu dimana Ken?


"Ini masih terlalu pagi. Ayo lanjutkan tidurmu." pinta Sumari sambil menggenggam jemari Aira.

__ADS_1


Melanjutkan tidur? Yang benar saja. Bagaimana mungkin ia bisa tidur lagi di hadapan ibu yang masih membelai pipinya dengan sayang.


"Apa Ken datang mencariku, bu?" entah kenapa pertanyaan itu yang meluncur dari mulut Aira. Sepertinya ia mengatakannya tanpa sadar, karena detik berikutnya ia ingat alasannya pergi dengan ibu adalah karena marah pada Ken.


"Ah, ibu sungguh iri pada Ken." goda Sumari.


"Eh?" respon spontan Aira karena bingung dengan ucapan wanita paruh baya di depannya.


"Orang pertama yang kamu cari adalah Ken, padahal akulah yang ada di depanmu. Mendekapmu dengan erat semalaman agar kamu tidak kedinginan lagi." jawab Sumari menjelaskan.


Aira mengingat kejadian sebelumnya. Ya, setelah pijat selama satu jam itu, Aira kemudian berendam di kolam air panas. Ia bercengkerama dengan ibunya, mereka membicarakan banyak hal sebagai sesama wanita. Istilah kerennya girls talk. Yaps, girls talk adalah pembicaraan dari hati ke hati antar sesama wanita.


Sangking asiknya bercerita, mereka tidak menyadari waktu menunjukkan hampir tengah malam. Ibu mengajak Aira untuk istirahat. Dan saat itulah Aira merasa kakinya mati rasa, ia bahkan hampir jatuh terjerembab jika saja dua orang terapis itu tidak menopang tubuhnya.


Detik berikutnya adalah tubuhnya bergetar hebat merasakan dingin yang luar biasa. Membuat pengawal pribadi Sumari segera membopong tubuh mungil Aira menuju ke kamar.


Ibu dengan sigap memakaikan baju hangat berlapis-lapis untuk menantunya. Memberikan kompres hangat dan berakhir dengan memeluknya sepanjang malam.


"Maafkan ibu karena tidak memperhatikan waktu semalam. Tubuhmu menjadi lemah karena terlalu lama berendam, itu kata dokter." ujarnya dengan raut penyesalan di wajah.


Aira tersenyum hambar menanggapi penjelasan ibunya. Ah, jika Ken tahu pasti dia akan marah besar.


Gregg


Dan detik berikutnya sosok yang Aira khawatirkan justru sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu menatap nyalang ke arahnya yang masih terbaring di ranjang. Langkah kakinya cepat seolah kemarahan sudah sampai di ubun-ubunnya. Membuat alarm bahaya seketika menyala di dalam pertahanan Aira.


"Ibu, tinggalkan kami berdua." ucap Ken lirih dengan aura iblis menyelimutinya.


Begitu pintu terbuka beberapa detik yang lalu, Sumari dan Aira beranjak bangun. Duduk di atas ranjang, menatap ke arah pintu geser yang telah berpindah posisi.


"Tiga detik." ucap Ken menggeram.


"Hah?" Sumari masih terpaku di ranjang, meski ia sudah dalam posisi duduk.


"Ibu punya waktu tiga detik untuk menghilang dari hadapanku." ucap Ken memastikan.


Sumari menelan ludahnya dengan kasar. Ia tahu putranya marah. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti keinginan Ken, atau monster dalam dirinya bisa memporakporandakan tempat ini.


"Baiklah ibu pergi sekarang. Tapi jangan lakukan apapun pada istrimu. Dia tidak..."


"Waktumu habis bu." ucap Ken menggertakkan giginya, menimbulkan bunyi gemeletuk yang membuat Aira bergidik ngeri.


Sumari pergi setelah menepuk punggung tangan Aira, seolah menyiratkan dukungan agar Aira bersiap menerima apapun yang akan terjadi padanya. Dari matanya terpancar kekhawatiran apa yang akan putranya lakukan pada Aira, namun keinginan Ken tak dapat dielakkan lagi.


'Kuatkan dirimu, sayang. Tuhan, tolong lindungi menantuku.' batin Sumari meminta.


Aira mengangguk, memahami bahasa non verbal yang ibu coba sampaikan. Ia mengerti situasi genting ini. Ken sedang dalam mood terburuknya. Memangnya siapa yang tidak khawatir saat istri tercintanya menghilang tanpa jejak?


Sumari keluar dari ruangan sempit ini, meninggalkan Ken dan Aira berdua saja. Detik berikutnya Ken mendekat ke arah pintu, menguncinya dengan kasar dan melemparkan benda logam itu ke sembarang arah.


Aira menatap Ken dengan heran, kenapa Ken marah? Seharusnya ia yang marah karena Ken mengabaikannya semalam.


Dengan tenang Aira mengambil ikat rambut yang ada di atas nakas, mengikat mahkota panjangnya seperti kuncir kuda. Beberapa helai anak rambut yang lolos dari ikatan karena terlalu pendek menambah kecantikan Aira. Tergerai dengan bebas di sebelah pipi chubbynya.

__ADS_1


Ken bersandar di dinding, menatap istrinya dengan tajam seperti serigala yang sedang mengamati mangsanya. Aira tak terlalu peduli, memilih beranjak dari ranjang dan merapikan selimut yang semalam membungkus tubuhnya.


Ia duduk di tepi ranjang, meminum air putih yang tergeletak di atas laci kecil di sebelah tempat tidur. Ia menghidupkan ponsel yang sengaja ia matikan semalam. Ya, ibu memintanya menonaktifkan benda pipih itu sebagai pembalasan agar Ken tidak mengganggu waktu kebersamaan keduanya.


Ada lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab yang berasal dari suaminya. Selain itu ada juga panggilan dan beberapa pesan dari Kosuke maupun Minami. Mereka berdua ikut menghubunginya?


'Jangan katakan jika Ken...'


"Senang bermain petak umpet denganku, sayang?" tanya Ken denga nada dingin yang membuat siapapun ngeri saat mendengarnya.


Glek


Aira menelan ludahnya dengan paksa. Ia bisa membayangkan betapa paniknya Ken saat tidak mendapatinya di manapun. Bahkan tergambar dengan jelas bagaimana Kosuke dan Minami harus datang tergopoh-gopoh demi memenuhi panggilan Ken.


Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menyesal karena tidak memikirkan akibat perbuatannya yang menimbulkan masalah untuk kedua asisten pribadi mereka. Terlebih lagi, ia ingat Minami sedang tidak enak badan. Ah, seharusnya ia tidak merepotkannya.


(Note : ada beberapa adegan yang sedikit 'dewasa' di bawah ini. Jadi, untuk para pembaca yang masih di bawah umur tolong untuk tidak membacanya. Adegan ini hanya boleh dilakukan oleh pasangan/suami istri. Tidak untuk ditiru oleh readers yang belum memiliki pasangan halal. Author sudah mengingatkan dan berlepas diri jika ada yang masih bandel. Sekali lagi, pembaca di bawah 18 tahun, mohon dengan sangat agar melewatkan bagian ini. Terima kasih 🙏)


Ken mendekat ke arah Aira dengan mata berkilat tajam. Kemarahannya tak terelakkan, membuat Aira menutup mata sejenak. Pasrah pada apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku juga berhak marah padamu." ucapnya sambil berdiri, menyamakan posisi dengan suaminya.


"Aku tidak suka saat kamu mengabaikanku. Aku marah karena kamu asik dengan permainan itu. Kamu bahkan tidak mendengarkanku saat..." ucapan Aira terhenti karena Ken meraih rahangnya. Menarik dagu mungilnya dan dengan sebelah tangan itu menekan pipi chubby Aira.


Cup


Ken mencium bibir Aira sesaat setelah melepaskan pipinya, berganti dengan menarik tengkuknya semakin mendekat. Sebelah tangannya melingkar di pinggang ramping Aira, mengikis jarak di antara keduanya.


Aira membulatkan matanya mendapat perlakuan tiba-tiba dari suaminya. Sifat posesifnya kembali menguasai akal sehat pria 27 tahun di depannya. Ia tidak akan bisa melawannya. Kemarahan yang diselimuti nafsu ingin menguasai tergambar jelas dari perlakuan Ken kali ini. Jantungnya berdegup kencang menandakan ia tidak siap mendapatkan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan suaminya.


Bagaimana tidak? Tanpa melepas pagutan mereka, tangan Ken bergerilya menyusuri punggungnya. Ia merabanya dengan seduktif/menggoda. Menimbulkan geleyar aneh pada Aira. Perasaan yang asing dan mengerikan terasa lagi. Dominasi Ken semacam ini pernah ia rasakan sekali, sebelum Yoshiro menyelamatkannya. Mengungsikan tubuh lemahnya ke penthouse milik pria berambut putih itu setelah mendapat serang bertubi-tubi dari Ken.


Akankah Ken kembali menggila seperti sebelumnya?


Tali bath robe yang dipakainya terlepas, membuat baju itu meluncur bebas ke lantai kayu di bawahnya.


'Tidak. Jangan lakukan itu Ken.' batin Aira meminta. Ia takut suaminya berubah menjadi monster lagi seperti sebelumnya.


Ken menciumi istrinya tanpa mempedulikan usaha Aira yang menghalanginya, berusaha melindungi tubuh mungilnya dari serangan hewan buas yang berwujud manusia. Aira benar-benar takut Ken lepas kendali.


Plakk


Aira terpaksa menampar suaminya, mengingatkan pria itu agar tidak kehilangan kewarasannya. Aira takut tindakan Ken akan membahayakan janin di dalam rahimnya.


"Jadi, kamu ingin bermain kasar? Baiklah, aku mengabulkannya dengan senang hati, sayang." bisik Ken dengan smirk di wajah tampannya. Ia tidak segan-segan menyerang Aira, tidak menghiraukan air mata yang luruh di pipi istrinya.


Aira hanya bisa memejamkan mata, berharap badai ini akan segera berlalu. Doanya hanya satu, semoga buah cintanya dengan Ken di dalam sana baik-baik saja.


*******


Ingat, dilarang meniru adegan di atas !!


Thanks for like, vote, & komen kalian 🙏

__ADS_1


See you next day,


Hanazawa easzy ♡


__ADS_2