
Jam dinding menunjukkan pukul 10.20 pagi saat Aira membuka matanya untuk yang kedua kali. Ia melirik cairan infus yang tergantung si sebelah kirinya. Nampaknya obat penenang yang dokter berikan membantunya istirahat dan mengurangi sedikit beban mentalnya.
Beberapa saat yang lalu Aira siuman, seorang wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Kaori mengambil sampel darah dan urinnya. Minami membantunya ke kamar mandi sekaligus berniat membersihkan diri. Aira menjerit histeris saat melihat pantulan tubuhnya di cermin, menyadari ada begitu banyak bekas kemerahan disana. Kilatan sikap kasar Ken padanya membuat Aira memukuli dirinya sendiri karena merasa jijik dan akhirnya kembali pingsan.
Kesadaran Aira terkumpul sepenuhnya sekarang. Bau citrus tercium di hidung membuatnya memandang sekeliling. Ia tidak mengamatinya saat pertama kali siuman tadi. Ruangan ini terasa asing, bukan di rumah sakit dan bukan di kamarnya sendiri. Kamar? Ah, lebih tepatnya tempat penyiksaan. Aira merasakan nyeri di sekujur tubuhnya dan mengingat semua yang Ken lakukan padanya.
Pandangannya tertuju pada butiran salju yang turun semakin deras di luar. Tubuhnya mulai gemetar, hawa dingin ia rasakan meskipun pemanas ruangan menyala. Ia memandang cincin silver yang melingkar di jari manisnya dan perlahan air matanya turun. Ia benci harus terjebak di situasi seperti ini dan tidak bisa menahan sakit yang seolah menghujam jantungnya. Ia berusaha menerima takdirnya, tapi semesta tak mengizinkannya menikmati hidup dengan tenang.
Klang
Aira menendang penyangga infus yang terbuat dari besi itu dan menimbulkan suara gaduh saat mendarat di lantai. Jarum infus yang tertanam di punggung tangannya otomatis tercabut dan mengeluarkan darah. Selimut putih yang menutupi tubuhnya ternoda oleh tetesan darah di beberapa bagian dan membuatnya semakin depresi.
Aira bergelung di atas ranjang, menutup matanya dengan kedua tangan tak ingin melihat tubuhnya sendiri. Tepat saat itu Minami masuk dengan tergesa dan melihat tubuh nona-nya yang bergetar hebat seperti sebelumnya.
"Nona, tenanglah. Ada saya di sini." Minami meraih tangan Aira dan menggenggamnya dengan erat. Kaori yang menyarankannya, setidaknya hal itu bisa membantunya mengurangi kecemasan berlebih yang terjadi.
Benar saja, Aira duduk dan memeluk Minami dengan sangat erat. Ia bersembunyi dalam pelukan pengawal yang berbeda 5 tahun lebih tua darinya. Tangannya mencengkeram jas hitam Minami dan membuat bercak darah dari punggung tangannya menempel disana.
Beberapa menit berlalu, meskipun tubuh Aira masih bergetar namun nafasnya mulai teratur. Perlahan genggaman tangannya mulai mengendur namun belum terlepas.
"Tenanglah nona, tidak akan ada yang bisa menyakiti anda lagi." bisiknya sambil mengelus punggung Aira, menenangkan.
Air mengurai pelukan Minami dan menatapnya dengan mata sembab. Bekas air mata tercetak jelas di wajahnya yang chubby. Minami memberikan sebutir obat yang langsung Aira minum dengan segelas air putih. Obat penenang agar Aira lebih tenang.
Minami membantu Aira berbaring kembali. Dengan cekatan ia mengambil kotak obat dan membersihkan punggung tangannya.
"Tubuh anda terlalu lemah, saya akan memasangkan infusnya lagi." Minami meminta izin pada Aira yang hanya dibalas dengan anggukan lemahnya.
Aira menatap Minami yang merawatnya dengan hati-hati, "Dimana ini?"
"Penthouse Yoshiro-san."
Aira kembali menutup matanya, ia ingat sudah menghubungi Yoshiro saat itu. Bahkan pria itu menanyakan keadaannya saat datang semalam. Aira menyesal karena telah berbohong padanya. Jika saja ia mengatakan keadaan yang sebenarnya dan meminta tolong pada Yoshiro, mungkin ia bisa menyelamatkan diri dari Ken dan tidak berakhir dengan mengenaskan seperti sekarang.
'Ah, semua sudah berlalu.' batin Aira pada akhirnya.
"Bawa aku pergi sejauh mungkin." lirihnya.
"Segeralah membaik nona, saya akan selalu ada untuk anda. Kosuke sudah mengurus semuanya, kita akan kembali ke Indonesia setelah kondisi anda memungkinkan untuk bepergian jauh." jelasnya.
Aira tak bergeming, ia ingin segera pergi jauh agar tak bertemu dengan monster itu lagi.
"Maaf, ini kesalahan saya yang sudah meninggalkan anda tanpa pengawalan." Minami menundukkan kepala setelah selesai memasang infus yang sempat terlepas beberapa saat lalu.
Aira menggeleng pelan, "Tidak, ini bukan kesalahanmu. Meskipun kamu ada di sana, dia tak terbantahkan. Tak ada yang bisa menghentikan monster itu, bahkan kakek sekalipun."
Keduanya diam cukup lama. Berkutat dengan pemikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Aku tidak akan kembali ke Jakarta." ucapnya sambil memandang butiran salju di luar.
"Ya?" tanya Minami menanti apa yang akan dituturkan nonanya.
"Kita butuh liburan."
"Eh?" Minami heran melihat senyum di wajah Aira, dan mengangguk bersiap menuruti apapun kemauannya. Meskipun itu hanyalah fake smile (senyum palsu).
"Tapi sebelumnya kita harus pergi ke suatu tempat. Maukah kamu menemaniku?" lirih Aira.
*******
Keesokan harinya,
"Bagaimana keadaan nona?" tanya Kosuke saat mendengar suara Minami yang terhubung dengan ponselnya.
"Nona pulih dengan cepat. Dia mengejutkan semua orang, termasuk Yoshiro-san dan dokter Kaori."
"Apa yang terjadi?" Kosuke mengernyitkan dahi menerka-nerka apa yang membuat mereka terheran-heran.
"Nona sudah bisa berjalan dengan normal, padahal kemarin untuk bangun saja masih kesakitan. Ia bahkan memaksakan diri untuk tersenyum dan makan pagi bersama Yoshiro-san. Dia begitu kuat, wanita mana yang bisa menahan serangan monster gila sehari semalam dan bisa sembuh hari berikutnya?"
Deg
Kosuke membulatkan matanya. Biasanya seseorang butuh waktu setidaknya satu minggu untuk menyimpan luka atas kejadian mengerikan seperti kemarin. Tapi, Aira bisa mengendalikan perasaan dan menyembunyikan luka di tubuhnya hanya dalam satu hari. Benar-benar mengerikan.
Ken mengetuk-ngetuk meja kaca di depan Kosuke dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia mendengar pernyataan Minami barusan melalui speaker yang terhubung dengan ponsel dan tak merespon apapun. Sungguh pasangan yang tak terduga. Ken dan Aira, dua sejoli yang sama-sama membuat pengawalnya menggelengkan kepala melihat tingkahnya masing-masing.
Wajah Kosuke memucat, ia tidak bisa mencegah Ken yang segera menyambar baju hangatnya di depan pintu. Langkah panjangnya mengantarkan tubuh tegap itu sampai ke lift hanya dalam hitungan detik.
Kosuke menyusulnya dan menghadang Ken saat pintu lift terbuka, "Tuan, saya mohon jangan kesana."
"Kenapa? Apa hakmu melarangku?" Ken memandang Kosuke dengan tatapan menusuk.
"Dokter bilang nona mungkin saja akan ketakutan saat melihat anda. Ia trauma dengan kejadian itu."
Ken tak menghiraukan larangan Kosuke dan menerobos lift yang terbuka saat itu. Tanpa menunggu Kosuke masuk, ia menutup lift yang membawanya turun ke lantai dasar dan bergegas pergi dengan mobil Porsche 718 berwarna silver miliknya.
*******
Sebuah mobil hitam terparkir di pelataran luas di kaki gunung Fuji. Minami keluar dan membukakan pintu untuk Aira. Sebuah payung ia gunakan untuk melindungi nona-nya agar tidak terkena butiran salju yang turun semakin deras hari ini. Kondisi tubuhnya belum membaik sepenuhnya, namun ia bersikeras tetap ingin mengunjungi kakek.
"Aku bisa sendiri." Aira membuka payung di tangannya dan mengambil keranjang buah yang telah ia siapkan sebelumnya. Minami mengikutinya di belakang.
"Kemari, berjalanlah di sisiku." pinta Aira. Minami menurutinya tanpa tapi.
"Nona, anda yakin dengan keputusan ini?"
__ADS_1
Aira tersenyum, "Ini mungkin akan jadi kunjungan terakhirku kemari. Mereka menyambutku dengan 'hangat' saat aku datang, tentu saja aku harus berpamitan sebelum pergi."
"Kunjungan terakhir?" tanya Minami ragu. Lagi-lagi Aira hanya tersenyum sembari mengetatkan syal di lehernya.
Langkah mereka terhenti saat sampai di depan gerbang kayu yang dijaga oleh 2 orang berpakaian hitam. Mereka membukanya saat tahu tamu yang berkunjung adalah orang yang paling disayangi oleh tuan besar mereka.
"Apa yang membawamu kemari, menantuku?" sambut Sumari yang saat itu tengah berdiri di depan pintu bersiap pergi.
"Saya ingin bertemu kakek." jawabnya dengan bahasa formal membuat Sumari mengerutkan keningnya.
Tanpa menunggu respon ibu mertuanya, Aira terus melangkah semakin dalam dan bertemu dengan kepala pelayan di rumah ini.
"Kobayashi-san, apa kakek ada di dalam?" tanya Aira to the point pada pria 50 tahun yang tengah menata kaligrafi buatan tuannya itu.
"Beliau ada di ruang baca." jawabnya kemudian mengantar Aira sampai ke tempat yang ia maksud.
"Terima kasih." Aira menunduk sopan saat pelayan senior itu pergi meninggalkan mereka.
"Apa kabar, kakek?" Aira menunduk hormat di depan pria dengan rambut memutih yang sedang memegang kuas tengah membuat kaligrafi.
"Apa yang membawamu kemari?"
Beberapa menit kemudian..
Kakek menautkan alisnya saat melihat Aira mengangsurkan belati yang ia berikan 6 bulan yang lalu dan cincin yang ia lepas dari jari manisnya.
"Saya menyerah." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Katakan dengan jelas." pinta kakek.
"Sumimasen." ucap Aira sambil menunduk. Detik berikutnya ia mengangkat dagunya menatap Sumari dan kakek bergantian.
(Maaf)
"Saya akan kembali ke Indonesia besok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa lagi bertahan di sisi Ken. Sekali lagi, saya mohon maaf." pungkasnya lalu menunduk dalam.
Gregg
Pintu geser di belakang Aira terbuka dan menampilkan sosok pria dengan wajah babak belur. Pandangannya tertuju pada wanita berjilbab marun 2 meter di depannya.
"Ken..." panggil Sumari dengan wajah terkejut melihat keadaan putranya, "Apa yang terjadi dengan wajahmu?"
*******
Huuuhhh... Author bisa bernafas lega sekarang. Aira bakal bebas dari Ken 😢😢
Tapi, apa benar Ken akan membiarkan Aira pergi? See you next day...
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawaeaszy ^^