
"Berjanjilah kamu akan segera kembali." lirih Aira sambil menatap gugus bintang yang menghiasi langit.
"Tentu. Aku janji."
Hening
Keduanya diam cukup lama. Sibuk dengan cabang pemikirannya masing-masing. Ada banyak hal yang ingin Aira katakan pada suaminya, namun lidahnya terlalu kelu untuk bersuara. Ken pun sama, ada begitu banyak impian yang ia rencanakan untuk masa depan Aira dan buah hati mereka. Ken ingin mengatakannya, tapi dia takut jika semua itu akan membuat Aira semakin bersedih jika ia tak pernah kembali. Setiap waktu nyawanya berada di ujung tanduk saat memutuskan untuk masuk kembali ke dunia gelap yang ia tinggalkan hampir enam tahun yang lalu.
"Ken..." ucap Aira dengan perasaan kacau, namun berusaha ia tahan agar tak menangis.
"Jangan menghubungiku selama kamu pergi nanti." pinta Aira lirih. Ia semakin mengikis jarak dengan suaminya. Tubuhnya berbalik tak lagi menatap langit melainkan sedikit mendongak menatap wajah Ken, ayah dari anak-anaknya kelak.
Deg
"Aku mungkin akan menangis hanya dengan mendengar suaramu tanpa bisa memandang wajahmu seperti ini lagi. Aku tidak ingin kamu pergi." lanjut Aira sambil mencengkeram baju suaminya.
Butiran salju di angkasa turun semakin deras, membuat atap 'kura-kura' yang transparan itu tampak memutih. Pemandangan langit mulai terlihat buram, bukan hanya karena tertutup salju melainkan karena air yang menggenang di pelupuk mata Ken. Ia berkaca-kaca mendengar permintaan istrinya, seolah mereka akan berpisah selamanya.
"Ah, ekhhmm..." Ken berdehem untuk menormalkan perasaannya. Ia segera menghapus matanya dengan kasar, mencegah agar bulir bening itu tak sampai keluar dari kelopak bulatnya. Pantang untuknya menangis, apalagi di depan istrinya yang justru terlihat tegar. Meski masih tampak gurat kesedihan di wajahnya, namun Aira menampakkan senyum terbaiknya di depan Ken beberapa saat yang lalu. Seolah ia akan tetap berdiri walau badai siap meluluhlantakkan pertahanannya saat ini juga.
"Apa yang kamu bicarakan, my little girl? Bukankah kita akan bertemu lagi?" Ken menautkan kening pada istrinya setelah mengajukan pertanyaan retoris itu.
(My little girl : gadis mungilku)
__ADS_1
*Kalimat retoris tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan (author jadi inget pelajaran bahasa Indonesia đ )
Sekian lama Ken tidak memanggil istrinya dengan panggilan itu, rasanya sedikit aneh untuk Aira. Panggilan itu Ken gunakan saat berniat menggodanya.
' Apa dia ingin menggodaku?' batin Aira sambil mengerucutkan bibirnya. Ia merasa kesal terlihat dari sikapnya yang membuang nafasnya dengan kasar dan duduk dengan memeluk lututnya. Meninggalkan sisi badan Ken dengan gerakan tiba-tiba. Moodnya memburuk hanya karena mendengar panggilan yang mengesankan seolah ia masih anak kecil.
Ya, di mata Ken dia tetaplah seorang gadis kecil, tapi Aira berpikiran sebaliknya. Dia bukan anak-anak lagi, bahkan dalam hitungan bulan akan jadi seorang ibu.
"Hey... Ada apa?" Ken tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk. Ken tidak tahu apa sebabnya. Dia ikut duduk di samping Aira dan menatap wajah istrinya dari samping. Ah, pipi chubby itu terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Cup
Ken mencium pipi istrinya yang membuat wajahnya memerah seketika dengan mata membulat sempurna. Aira tak menyangka akan mendapat perlakuan manis seperti itu. Tunggu, manis? Apa itu bisa disebut perlakuan manis?
Mungkin hal itu terlihat manis dari sudut pandang orang lain, tapi bagi Aira itu adalah hal yang sangat menjengkelkan. Bukannya membujuknya atau meredakan emosinya yang mulai terasa, justru pria lesung pipi itu sengaja menggodanya. Ken selalu saja bersikap out of control jika mereka hanya berdua. Sepertinya sifat jahil suaminya itu semakin menjadi-jadi beberapa bulan terakhir.
Awalnya rahim seorang wanita hanya seukuran kepalan tangan. Namun saat hamil 2 bulan, rahim mereka berukuran sebesar jeruk bali. Selain itu, embrio dalam rahim kini berkembang menjadi janin dimana terdapat semua bakal anggota tubuh manusia. Pada usia hamil 2 bulan ini, tulang-tulang telah mulai tumbuh, begitu juga dengan jari tangan dan jari kaki.
Saat hamil 8 minggu atau 2 bulan, volume darah ibu hamil akan meningkat 40-50 persen. Secara psikologis, mungkin akan merasa mood menjadi lebih cepat dan sering berubah. Sebagian wanita juga mulai merasakan kembung dan nyeri ulu hati. Hal ini tergolong normal sebagai akibat peningkatan sirkulasi hormon. Selain itu dapat terjadi perubahan kulit yakni adanya area-area yang menggelap, disebut dengan kloasma. Perubahan ini hanya sementara dan akan kembali ke warna semula setelah persalinan.
Ken berpindah ke hadapan Aira dan meletakkan dagunya di atas tangan. Badannya tertelungkup menghadap ke bawah seperti anak kecil. Netranya menatap ke wajah Aira yang sedang kesal, terlihat dari muka bulatnya yang memerah.
__ADS_1
"Kamu semakin cantik saat sedang merajuk." rayu Ken sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aira, membuat wanita asia tenggara itu bergidik ngeri. Pria di hadapannya itu terasa berbeda 180° dengan orang yang ia nikahi lebih dari setengah tahun yang lalu. Ken berubah.
Ken yang dulu adalah laki-laki arogan yang bertindak dengan logikanya. Ia tak segan mengancam orang lain saat permintaannya tak terwujud. Belum lagi sifat otoriternya yang begitu dominan membuat Aira tak bisa menolak apapun perintahnya. Emosinya yang meluap-luap selalu menguasainya saat mendapati ada perlawanan dari orang di sekitarnya, seperti saat Ken mencambuknya sebelum masuk ke akademi. Atau peristiwa paling memilukan yang tak bisa Aira lupakan adalah saat Ken berubah menjadi monster dan membuat Yoshiro sampai membawanya keluar dari apartemen Ken dengan paksa.
"Ai-chan..." Ken melambaikan tangannya di depan wajah Aira, berhasil membangunkan istrinya itu dari lamunan panjang. Flashback tentang perjalanan hidupnya membersamai Ken membuatnya sadar dengan keadaan sekarang. Ia bertahan sampai hari ini dan seharusnya ia lebih bersabar lagi, karena pasti ada skenario tersembunyi yang sudah Tuhan siapkan untuknya. Atau mungkin untuk keluarga kecil mereka kelak? Entahlah...
Aira kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, namun membelakangi Ken. Beberapa helai surai hitamnya tergerai di belakang kepala. Pria itu berpindah posisi, duduk di dekat kaki Aira dan mulai memijatnya perlahan.
Dia kembali mengingat artikel yang sama seperti sebelumnya. Perubahan mood drastis dalam waktu singkat adalah hal normal pada ibu hamil. Jika merasa sulit tidur, kondisikan kamar dan diri senyaman mungkin, seperti mendengarkan musik ringan atau membaca sebelum tidur. Para suami dapat membantu meringankan kelelahan yang dialami istrinya dengan cara memijat punggung, kaki, atau tangan wanita hamil di malam hari.
"Apa yang membuatmu marah? Apa kamu lelah?" tanyanya perlahan, berharap istrinya merasa nyaman dan bisa mengeluarkan keluh kesahnya.
Aira masih terdiam. Mulutnya membisu meskipun hatinya mulai sedikit menghangat dengan curahan perhatian dan kasih sayang Ken padanya. Rasa bersalah Ken atas semua sikap kasarnya di masa lalu, membuatnya berubah dan berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Aira.
"Apa kamu begitu mencintaiku sampai tidak ingin berpisah denganku sedetik pun?" jiwa narsis Ken kembali menguasai, "Aku tahu aku terlalu tampan sampai kamu tidak bisa mengalihkan pandanganmu, benar kan?" Ken menggelitik telapak kaki Aira di sela-sela aktivitasnya memijit betis istrinya.
' Apa yang dia katakan? Terlalu tampan?' lirih Aira dalam hatinya. Ia memutar bola matanya karena jengah mendengar penuturan suaminya yang semakin menyebalkan jika sedang bersikap seperti sekarang ini.
"Hey sayang, kenapa diam saja? Apa kamu malu karena tebakanku benar? Ayolah... Apa yang tidak aku ketahui darimu?" tangan Ken berpindah menggelitik pinggang Aira, membuat wanita di depannya terlonjak.
"KENN?!!" Pekik Aira sambil berbalik, berusaha menahan tangan Ken agar berhenti membuatnya geli.
*******
__ADS_1
Hai minna-san, happy reading yaa đ¤
Hanazawa easzy âĄ