Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Cemburu


__ADS_3

Seorang kurir mengantarkan paket untuk Aira saat Ken akan membuka jilbab istrinya itu. Ken menyelesaikan sarapannya dan mendekati Aira sambil membawa secangkir kopi yang ia letakkan di meja.


"Apa kamu suka?" tanya Ken sambil duduk di sofa belakang Aira, menatap istrinya yang masih terkejut karena tiba-tiba ada paket untuknya, padahal ia tidak memesan apapun.


"Ini untukku?" Aira mengambil kotak berisi hewan imut berbulu yang ada di dalam kardus dan meletakkannya di samping Ken. Kini mereka duduk berhadapan, hanya saja Ken duduk di kursi dan Aira masih duduk di lantai beralas karpet bulu-bulu berwarna abu yang terasa lembut.



Miaaww...


Aira menatap seekor kucing Persia berwarna putih abu-abu dengan mata coklat di depannya. Muka bulat, telinga pendek, dan hidung mungilnya semakin mengesankan betapa imutnya hewan berbulu itu. Pantas saja kurir itu mengatakan dia lucu dan menggemaskan.


Aira tidak menyangka Ken akan memberikan hewan peliharaan untuknya. Ia ingat, pernah melihat wallpaper kucing lucu di ponsel Ken saat pertama kali mereka bertemu. Tapi, dilihat dari tabiatnya yang pemarah dan terlahir di keluarga gangster, tampaknya cukup aneh jika ia suka kucing.


"Aku membelinya 3 bulan yang lalu sebelum kembali ke Jepang." Ken mengambil kucing itu dan meletakkannya di pangkuan, memeriksa tubuhnya apa dirawat dengan baik atau tidak di tempat penitipan hewan.


"3 bulan yang lalu?" Aira heran dengan pernyataan suaminya, itu sekitar bulan September.


"Aku ingin memberikan itu sebagai hadiah ulang tahunmu, tapi prosedur membawa hewan ke dalam pesawat cukup merepotkan. Jadi aku putuskan untuk menitipkannya saja di tempatnya dan akan mengambilnya setelah kamu pulang ke Indonesia." jelas Ken.


"Kamu ingat ulang tahunku?" tanya Aira.


"26 September," jawab Ken seraya memberikan kucing di tangannya pada Aira, "Aku terburu-buru saat itu jadi tidak sempat mengurus surat kesehatan hewan yang jadi syarat mutlak agar diizinkan membawa hewan ke dalam pesawat."


"Surat kesehatan hewan?" Aira baru pernah mendengarnya. Sebelumnya, yang ia tahu ada beberapa maskapai penerbangan yang tidak memperbolehkan penumpangnya membawa hewan ke dalam pesawat.


"Petugas harus meninjau kesehatan dan mendata apakah hewan termasuk satwa langka atau dilindungi. Sebenarnya surat karantina itu juga untuk menghindari penyebaran penyakit menular di pesawat. Sebab, hewan bisa membawa penyakit yang membahayakan seperti flu burung, rabies atau penyakit lainnya. Setelah sah dan diizinkan untuk dibawa keluar daerah, maka tinggal melanjutkan administrasi special handling,"


"Special handling? Apa lagi itu?" tanya Aira tak mengerti dengan penjelasan Ken. Lagi-lagi ia belum pernah mendengarnya. Jika dilihat dari arti katanya, special berarti khusus dan handling artinya penanganan, "Penanganan khusus?"


"Ya. Penanganan khusus hewan peliharaan saat dipindahkan dengan kargo terpisah. Ada biaya administrasi special handling, tapi tidak sebesar harga tiket penumpang. Saat membawa hewan peliharaan di bagasi pesawat, pemilik hewan harus menyiapkan kandang khusus yang harus terjaga kebersihannya. Selain makanan dan minuman yang berpotensi tercecer saat pesawat terjadi guncangan, kotoran hewan juga harus tersimpan rapat supaya tidak merugikan atau mengotori barang bawaan penumpang lain. Itu cukup merepotkan untukku yang tergesa-gesa ingin menemuimu di akademi." jelas pria sipit itu panjang lebar seraya menyerahkan kucing di tangannya pada Aira.


(peraturan hewan masuk bagasi pesawat, author baca dari tribunnews 🤗)

__ADS_1


Aira berbalik dan menempelkan punggungnya ke kursi, membiarkan tubuhnya seolah ada dalam kungkungan Ken. Kedua lutut Ken sejajar dengan bahunya. Ia mengelus punggung kucing yang terasa lembut itu.


Melihat Aira asik dengan hewan di tangannya, perlahan Ken melepas peniti di dagu istrinya dari belakang. Ia bersiap melepas jilbab hitam itu, membuat Aira sedikit terkejut. Gerakan tangannya terhenti, bahunya berjengit seperti merasa risih atau geli.


Deg


Melihat respon Aira yang seperti tidak nyaman dengan perlakuannya, membuat pria lesung pipi itu mengurungkan niatnya. Hatinya mencelos mengingat hubungan mereka tidak sepenuhnya mulus, ada beberapa hal di masa lalu yang membuat hubungan mereka renggang.


"Gomen," ucap Ken sambil menarik tangannya menjauh dari dagu istrinya. Ia mengambil cangkir berisi kopi yang ia letakkan di meja beberapa menit yang lalu, menyesapnya perlahan. Ia cukup tahu diri, Aira pasti masih trauma dengan perlakuan kasarnya dulu.


(Maaf)


Keduanya diam cukup lama. Aira termenung menyadari sikapnya yang berubah pada Ken. Ia bisa pura-pura bersikap hangat pada Ken di depan orang lain, tapi jika hanya berdua seperti sekarang justru membuatnya canggung. Ia takut Ken melakukan hal-hal diluar kendali seperti dulu.


Begitu juga dengan Ken, ia merasa bersalah pada istrinya. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya jika sedang berdua bersama calon ibu dari anak-anaknya itu. Yamaken benar, Aira sudah menjadi candu untuknya. Ia tidak bisa menahan keinginannya untuk selalu dekat dengan Aira, menyentuhnya, membelainya, menciumnya, dan betapa ia sangat ingin merengkuhnya dalam pelukan. Tapi sekali lagi, waktunya tidak tepat. Jika ia tetap memaksakan diri, mungkin Aira akan semakin mengokohkan tembok penghalang tak terlihat yang akan memisahkan mereka.


"Kamu suka kucing?" tanya Aira lirih, membuyarkan pemikiran Ken. Ia memberanikan diri memecah kecanggungan di antara mereka.


"Hmm?" Ken meraba kemana arah pembicaraan istrinya. Otaknya blank tak bisa menerka apa yang ingin Aira dengar dari mulutnya.


"Wallpaper ponselmu juga bergambar kucing waktu itu." jelasnya singkat membuat Ken tersenyum dan mengingat pertemuan pertama mereka.


"Aku lebih suka hiu." Ken menggoyang-goyangkan gantungan ponselnya di depan wajah istrinya. Aira membelinya saat di Disneyland sebelum peristiwa ankle boots terjadi.


Aira tersenyum dan meraih ponsel Ken tanpa aba-aba. Ia melihat wallpaper ponsel suaminya, ternyata masih sama seperti dulu. Ken bahkan tidak menggantinya meskipun hampir 7 bulan berlalu.


"Ini?" Aira menunjukkannya pada Ken, berharap mendapat penjelasan tentang wallpaper yang terpasang di ponsel suaminya.


"Aku tidak pernah mengganti wallpapernya bertahun-tahun. Itu Erina yang memasangnya saat kami masih bersama." jelas Ken sambil menatap manik mata Aira di bawahnya.


Seketika Aira memalingkan wajahnya kembali ke depan. Ia meletakkan ponsel Ken di meja, pura-pura asik dengan kucing barunya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman mendengar suaminya menyebutkan nama wanita lain. Ia tahu Erina hanya tinggal nama, tapi seolah ia tidak bisa menghilangkan nama itu dari hati Ken. Ia bersaing dengan sesuatu yang tidak akan bisa ia lawan, yaitu takdir.


Takdir bahwa Erina adalah cinta pertama Ken yang takkan terlupakan. Pantaskah dia yang hanyalah gadis biasa tanpa ada sesuatu yang bisa dibanggakan, justru berusaha mengusik posisi Erina di hati Ken? Pertemuannya dengan Ken, pernikahan mereka yang dibangun atas dasar keuntungan kedua belah pihak, dan surat perjanjian antara Ken dengan kakek yang menegaskan bahwa posisinya hanyalah sebuah properti bagi keluarga Yamazaki untuk mendapat keturunan, berhasil membuat hati Aira teriris. Ia sadar posisinya. Ia tidak akan bisa dibandingkan dengan Erina, sampai kapan pun. Cinta pertama Ken itu layaknya burung merak yang cantik dengan pesonanya sedangkan Aira hanyalah itik, berbeda kasta.

__ADS_1


"Tato kupu-kupu di punggungmu, itu juga buatan Erina kan?" Aira berusaha menetralkan suaranya agar tak bergetar. Lidahnya kelu hanya sekedar melontarkan pertanyaan remeh itu, hatinya kembali tercabik. Ia ingat Yu pernah bilang bahwa Erina hobi membuat tato dan mempunyai sebuah tato kupu-kupu di lengan kirinya bagian dalam. Hal itu membuatnya patah hati lagi. Erina dan Ken sangat cocok, berbeda dengannya yang tak bernilai ini.


"Kupu-kupu?" tanya Ken sembari mengelus puncak kepala istrinya yang masih tertutup jilbab. Aira diam, tak menanggapi. Hatinya bergemuruh namun berusaha bersikap sebiasa mungkin.


"Apa itu terlihat aneh?" Ken balik bertanya, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Aira.


"Apa kamu tidak menyukainya? Haruskah aku menghapus tatonya?" Ken turun dan duduk di samping Aira, mengamati wajah istrinya dari sisi kiri.


"Apa kamu masih menyukai Erina?" pertanyaan itu lolos dari mulut Aira tanpa memandang Ken. Ia justru berbalik memunggungi suaminya, tak ingin menatap wajah tampannya. Entah kenapa ia takut meskipun sekedar menatap manik hitam suaminya.


"Apa kamu cemburu?" Ken mengalungkan tangannya di depan leher Aira. Hatinya menghangat mendapat pertanyaan itu dari istrinya. Berbeda dengan Aira yang justru semakin kesal karena Ken tidak segera menjawab pertanyaannya. Ken semakin mengikis jarak di antara mereka sampai Aira bisa merasakan punggungnya menempel dengan dada bidang suaminya. Hal itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


"Kamu benar, aku menyukai Erina bahkan setelah kepergiannya lima tahun yang lalu." Ken meletakkan dagunya di pundak Aira, mencari kenyamanan sambil sesekali mencium leher istrinya yang masih tertutup kain segi empat berwarna hitam.


Aira berusaha melepaskan diri dari tindakan suaminya yang mulai melewati batas. Ia tidak ingin Ken lepas kendali, "Ken, jangan seperti ini." pintanya


"Kenapa? Kamu istriku." Ken mulai menciumi pipi Aira yang ia hadapkan ke samping dengan tangannya. Hasratnya meronta meminta dipuaskan.


"Aku masih marah padamu !" Aira berdiri dengan paksa membuat tautan lengan Ken terlepas dari badannya.


"Aku marah karena kamu masih menyukai Erina. Seberapa sulit mengganti gambar latar di ponselmu? Dan sekarang kamu mengirimkan hewan kesukaannya untukku, kamu masih belum bisa melupakannya, benar 'kan?" Aira menatap suaminya dengan wajah memerah. Emosinya tersulut karena Ken mengakui bahwa ia masih menyukai mantan pacarnya itu.


Bukannya membujuk Aira, Ken justru bangkit dan menjauh dari istrinya. Ia mendekat ke arah dinding kaca dan mulai memperhatikan jalanan di bawahnya yang terlihat padat. Apartemennya ada di lantai 7, sama seperti saat di Tokyo.


"Apa kamu bisa sepenuhnya melupakan Yudha?"


Deg


*******


See you next day, thanks for your like, comment & vote for me. May God bless you all 😍🤗


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy 😘


__ADS_2