
"Ka-chan, sesekali pulanglah ke rumah. Ibu menantikanmu sepanjang waktu. Dia sangat merindukan kedatangan menantunya."
BRAKK
PRANG
BUGH
PYARR
Berbagai benda menjadi sasaran pelampiasan Shun, lempar, tendang, hantam, pukul, semua ia lakukan sebagai ekspresi kemarahannya. Ia menggila dan membuat ruangan ini tak ubahnya seperti kapal pecah terhantam badai haishen.
Kata-kata yang Yuki ucapkan terus terngiang-ngiang di kepala Shun, membuat emosinya meluap-luap minta dilampiaskan. Ia menendang meja di tengah ruang kerjanya ini, membuat vas bunga, buku, monitor, dan beberapa benda terpaksa mendarat di lantai. Belum lagi guci besar di depan pintu yang lebih dulu hancur berkeping-keping tak lagi berbentuk.
Tak hanya itu, ia melempar lampu hias yang sebelumnya berdiri di sudut ruangan, membuatnya menghantam tembok dan hancur seketika. Kemarahannya belum juga reda, ia beranjak menuju kamar mandi dan meninju kaca besar yang ada di dinding, membuat pantulan wajahnya terbagi menjadi patahan-patahan tak beraturan.
Dadanya naik turun, tangannya mencengkeram wastafel dengan napas terengah-engah. Emosinya terpancing saat Kaori menolak pulang bersama. Gadis itu justru berlari dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat di sana. Ia mengabaikan teriakan Shun yang membahana di jalanan, membuat orang-orang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Entah berapa mobil yang ia tabrak saat di jalan tadi. Shun sungguh menggila. Ia berteriak memaki semua orang di sepanjang jalan seperti orang kesetanan. Ia yang bersalah tapi justru memarahi orang-orang yang menjadi korbannya. Beberapa dari mereka memilih pergi daripada harus berurusan dengan orang gila satu ini. Benar-benar gila.
BYURR
Tubuh Shun basah kuyup seketika. Ia baru saja keluar dari kamarnya saat mendapati hadiah dari adik angkatnya yang ternyata telah menunggunya sejak tadi.
"Sudah reda?" tanya Mone tanpa rasa bersalah. Sebuah ember warna hitam ada di kedua tangannya. Ia sengaja menyiram kakak angkatnya ini untuk meredakan kemarahannya.
"Aku pernah dengar kak Aira bilang, "Marah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air", Kebetulan kakak sedang marah jadi aku melakukan eksperimen kali ini. Kita lihat apa yang kak Aira katakan itu benar atau tidak," celoteh gadis 20 tahun ini dengan bangga. Entah ia sungguh bereksperimen atau hanya mencari alasan saja.
Shun mengepalkan tangannya di sisi badan. Kemarahannya pada Kaori memang sedikit reda, tapi melihat wajah Mone yang tengah tersenyum padanya, membuat hatinya gondok.
"Bodoh!" Shun mendekat ke arah Mone dengan langkah cepat, membuat gadis itu terkejut. Matanya membulat seketika, alarm tanda bahaya menyala detik itu juga.
"Kak... kakak. Apa yang ingin kamu lakukan?" Mone berbalik sambil melempar ember di tangannya sembarang. Ia mengambil jurus andalan saat kakaknya marah, yakni jurus seribu langkah.
"Gomen... gomenasai," ucap Mone sambil berlari. High heels yang dipakainya membuat langkah kakinya tak leluasa. Ia berhenti dan melempar sepatu itu ke sembarang arah sebelum melanjutkan aksinya kabur dari kejaran Shun.
(Maaf... maafkan aku)
Jarak mereka semakin dekat, membuat Mone berusaha lari sekuat tenaga. Peluh segera membanjiri tubuhnya, rasa lelah membuatnya semakin panik. Tenggorokannya terasa kering dan membuatnya kesulitan bernapas. Ia menyerah, tidak akan bisa kabur lagi dari kemarahan kakaknya.
"Ampun... am... pun.... Aku bersalah. Tolong maaafkan aku," ucapnya terbata-bata. Ia berhenti berlari dan kini menatap kakak angkatnya dengan pandangan mengiba. Tangannya tertangkup di depan dada, berharap pria ini mengampuninya.
"Tahu minta ampun?" tanya Shun, sebuah smirk muncul di wajah tampannya. Ia seperti serigala yang mendapati mangsanya terpojok di akar pohon, tak bisa lari kemana-mana lagi. Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hatinya.
__ADS_1
"Hyaaa.... Apa yang kamu lakukan?"
Bugh
Bugh
Shun mengangkat tubuh kecil di depannya seperti karung, membuat gadis itu meronta-ronta dengan memukuli punggung kakak iparnya sekuat tenaga, berharap bisa terlepas dari situasi berbahaya ini.
"Terimalah hukumanmu!" ucap Shun lirih dan dalam. Dengan langkah kakinya yang lebar, ia membawa adiknya itu keluar apartemen, tak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya.
BYURR
Tubuh gadis mungil itu tenggelam di dasar kolam sebelum kembali muncul ke permukaan.
"Hwaa..." Mone menyembulkan kepalanya dengan napas terengah-engah. Hidungnya memerah dengan mata yang terasa perih. "APA KAU GILA?!!" teriak gadis itu penuh emosi.
"Apa eksperimenmu berhasil?" tanya Shun dengan senyum terkembang di wajah putihnya.
BYURR
Detik berikutnya, Shun terjun ke dalam kolam dan membuat wajah Mone kembali basah oleh cipratan air. Ia mulai berenang menjauh, menikmati dinginnya air di kolam renang ini di tengah hari musim semi yang terasa hangat. Ia terlihat melupakan permasalahannya dengan Kaori dan asik menikmati hobinya ini.
Ya, Shun adalah atlet renang andalan sekolahnya di olimpiade antar pelajar beberapa tahun yang lalu. Bahkan ia mencatatkan waktu tercepat di antara semua peserta. Selain karena ia berbakat, ini juga hobinya sejak kecil. Ia bisa menghabiskan waktunya selama berjam-jam di kolam renang dan melupakan semua masalah apapun yang dihadapinya saat itu.
Puk puk
Shun menepuk air di depan wajah Mone, membuat gadis itu mengerjap beberapa kali, tersadar dari lamunan masa kecilnya. Ia tidak menyadari keberadaan kakaknya yang kini berdiri beberapa langkah di depannya.
"Jadi, apa eksperimenmu berhasil atau gagal?" tanya Shun dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Bodoh!" maki Mone pada pria satu ini. Ia berjalan ke pinggir kolam dan segera naik, meninggalkan riak air dari jejak kakinya yang akhirnya menghilang.
Ia bersiap masuk kembali ke apartemen dengan bertelanjang kaki, mendapat pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
"Naik ke punggungku!" pinta Shun yang tiba-tiba saja sudah berjongkok di depan Mone. Ia bersiap menggendong adik angkatnya ini.
"Heih? Kenapa cepat sekali? Apa kakak punya sayap?" celoteh Mone. Ia langsung menuruti permintaan pria ini, membuat tubuh mereka tak lagi berjarak. Sejak kecil Shun memang selalu memanjakannya, seperti menggendongnya sepulang sekolah. Jadi mereka cukup dekat satu sama lain.
Meski tak ada ikatan darah sama sekali diantara keduanya, nyatanya Shun begitu tulus menyayangi adiknya ini. Pun sama dengan Mone, ia tidak akan segan menerima perlakuan dari kakak angkatnya. Hubungan mereka bahkan lebih dekat dari saudara kandung pada umumnya. Mereka saling bahu membahu saat menyelesaikan pekerjaan rumah di akhir pekan.
Tuan Kamishirishi memang sengaja melatih kedua putra putrinya ini untuk mandiri. Mereka diminta untuk membersihkan rumah, menyiram tanaman, bahkan menguras kolam renang setiap hari minggu. Dan itu keduanya lakukan dengan senang hati, membuat ikatan satu sama lain semakin kuat. This is a brotherhood. Inilah ikatan persaudaraan diantara keduanya.
"Apa kamu tidak makan dengan baik akhir-akhir ini?" tanya Shun saat menaiki tangga di depannya yang akan membawa mereka ke lantai dua dimana apartemennya berada.
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku terlalu ringan untukmu?" Bukannya menjawab, Mone justru berbalik melontarkan pertanyaan.
"Apa si Yamaken itu tidak pernah memberimu makan? Apa dia tidak punya uang?" Shun melontarkan pertanyaan yang lainnya.
"Yamaken? Kenapa tiba-tiba membahasnya? Aku makan atau tidak bukan urusannya," ketus Mone sebal.
"Tentu saja ada. Dia pacarmu, kekasihmu. Sudah seharusnya dia memperhatikan apakah kamu makan dengan baik atau tidak!" ucap Shun saat sampai di anak tangga teratas, bersiap berbelok menuju koridor yang akan membawanya menuju pintu hitam di depan sana. Itu pintu apartemen mereka berdua.
"Apa kakak juga memperhatikan kak Kaori? Apa dia makan dengan baik siang ini?"
Deg!
Pertanyaan Mone membuat langkah kaki Shun terhenti. Hatinya tertohok mendengar celotehan adiknya itu. Ia menyadari kesalahannya selama ini. Ia tidak pernah sekalipun memperhatikan gadisnya itu, apakah dia makan dengan baik atau tidak.
"Dasar bodoh!"
Plakk
Mone memukul kepala Shun cukup keras. Ia menyadari selama ini kakaknya tidak memperhatikan calon istrinya. Egonya terlalu tinggi untuk menanyakan hal remeh temeh seperti makan ataupun yang lainnya. Terlebih lagi, Shun melamar Kaori dengan penuh tekanan dan pemaksaan, membuat hubungan mereka terasa aneh dan canggung. Kaori seperti sengaja menjaga jarak darinya, bahkan meminimalisar interaksi keduanya.
Dokter cantik itu terpaksa menyetujui lamaran Shun karena tidak bisa menghindar lagi. Padahal jelas-jelas Shun sudah menolak perasaannya saat di kediaman Ken. Gadis mana yang akan menerima pinangan pria yang pernah menolaknya? Yang benar saja!
Mone memaksa turun dari gendongan kakaknya. Ia menekan kombinasi password untuk membuka pintu di depannya.
"Aku akan bilas tubuhku lebih dulu. Setelah itu kita bersihkan kapal pecah ini." Mone menunjuk ruang tamu di apartemen mereka yang tampak kacau.
Shun diam tak merespon. Ia seperti mayat hidup, tanpa ambisi, tanpa ekspresi. Benar-benar mengerikan.
"Kak?" Mone menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Shun, tak ada respon sama sekali. Ia seperti tenggelam dalam dunia paralel di dalam pikirannya sendiri. Bergulat dengan segala penyesalan atas sikap dingin dan acuh tak acuhnya pada Kaori. Ia selalu menyia-nyiakan perhatian yang Kaori tunjukkan, bahkan dengan terang-terangan menolak perasaannya. Bodoh. Kebodohan yang hakiki.
"Huft!" Mone terpaksa menarik kakaknya ke dalam kamar. dan langsung mendorongnya masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower yang mengeluarkan air hangat. "Waktumu lima belas menit. Tidak kurang, tidak lebih. Lewat dari waktu yang ditentukan, aku tidak akan membantumu membereskan kekacauan ini!" tegas Mone pada kakaknya.
"Ini sabun, ini sampo. Bersihkan sendiri badanmu. Sampai jumpa!" Mone meninggalkan pria itu setelah meletakkan botol berisi sabun dan sampo di masing-masing tangan kakaknya yang tampak seperti orang linglung.
"Ck ck ck. Sungguh cinta membuat orang menjadi gila," gumam Mone memasuki kamar pribadinya. Ia segera membilas tubuhnya sebelum kedinginan, sebelum flu menyerang tubuhnya.
...****************...
Keren nih hubungan Mone sama Shun 😍
Selalu Author tunggu like, komen, vote, rate n share dari kalian. Big love for you all 💙
Bye,
__ADS_1
Hanazawa Easzy