
Klek klek
Aira membuka kunci koper yang ada di hadapannya dengan penuh tanda tanya. Apakah yang kakek siapkan untuknya? Dilihat dari bentuk wadahnya, ini seperti satu set senjata untuk agen rahasia yang berisi beberapa pistol, peluru, bahan peledak, atau semacamnya. Tapi, bisa saja ini juga barang yang lain.
Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia harus menguatkan mentalnya, entah apapun yang ada di dalam sana, pastilah sesuatu yang tidak biasa. Aira meragu, haruskah ia tetap membukanya?
"Bukalah!" titah kakek lirih dan dalam.
Mau tak mau Aira harus membukanya. Ia tidak bisa menolak titah kakek suaminya ini.
Krekk
Koper hitam itu terbuka seluruhnya, menampilkan isinya yang luar biasa.
"Ini?!" Aira menatap kakek Yamazaki dan tuan Kobayashi bergantian, tidak percaya dengan benda di hadapannya.
"Terbanglah seperti Rajawali. Kepakkan sayapmu! Tunjukkan kemampuanmu!"
Koper hitam persegi panjang itu berisi dua buah katana panjang, satu belati mungil berwarna hitam, belati gagang merah, dua buah stik nunchaku, beberapa pisau berbentuk bintang yang sering digunakan para ninja, dan sebuah senjata aneh yang tidak ia ketahui namanya.
Krekk
Aira kembali menutup benda hitam di depannya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Kakek, maafkan aku. Aku tidak bisa menerima tugas ini." Aira mendorong koper itu menjauh dari hadapannya.
Kakek mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka cucu menantunya ini akan menolak tugas yang ia berikan untuk membantu suaminya sendiri.
"Kenapa?" tanya kakek dingin dan tajam. "Kamu akan membiarkan suamimu mati seorang diri disana? Anak-anakmu tidak akan memiliki ayah lagi. Kamu rela?"
Aira bergeming. Ia mematung di tempatnya, waktu seolah berhenti berputar detik itu juga, membuatnya kehilangan pendengarannya. Hening. Bahkan desau angin tak lagi menghampiri indera pendengarannya. Ia sibuk bergulat dengan dirinya sendiri di dalam hati.
Senjata di depannya membuat Aira merasa kehilangan jati dirinya. Ia takut membangunkan monster yang sedari dulu ia sembunyikan rapat-rapat sejak memutuskan keluar dari pasukan khusus. Satu-satunya hal yang masih ia jalani sampai sekarang adalah kemampuannya untuk meretas jaringan. Selain itu, ia menguburnya kuat-kuat. Ia tidak ingin menyakiti siapapun. Satu janjinya, ia tidak ingin melihat pertumpahan darah lagi.
Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Peringatan kakek membuat hatinya terasa sakit. Tentu saja ia tidak ingin anak-anaknya kehilangan sosok seorang Ayah. Tapi, ia benar-benar tidak ingin bertempur lagi.
Wuzz wuzzz
Deru baling-baling helikopter bersamaan dengan hembusan angin yang cukup kuat, berhasil menyadarkan Aira dari dunia paralel yang ia ciptakan sendiri. Ia menolehkan wajahnya ke halaman rumput luas di samping tempat latihan berkuda. Pesawat berbentuk seperti capung itu mendarat sempurna, menampilkan kemegahannya.
TAP
TAP
Empat orang berpakaian hitam berjalan ke arah Aira dan kakek Yamazaki. Masing-masing dari mereka membawa sepucuk senjata laras panjang di tangannya. Langkahnya yang tegap terlihat seperti agen khusus pembasmi terorisme atau semacamnya.
Keempatnya berhenti tiga langkah di depan Aira, menundukkan kepala sejenak sebelum membuka penutup kepala masing-masing.
"Apa kami mengejutkanmu, Aira-chan?" tanya Kaori pada ibu tiga anak ini.
"Kaori, Yu?!" Wanita berjilbab ini terkejut melihat dua orang di depannya yang sangat ia kenal. Sementara dua orang lagi, tampak asing di mata Aira. "Kalian?"
"Aku baru saja menikah dengan Shun. Haruskah aku merelakan suamiku mati sebelum kami bulan madu? Impossible! Ayo berangkat!" seru dokter cantik yang juga menguasai senjata ini.
"Maaf, aku... " Aira masih berusaha menolak permintaan wanita yang telah menjadi sahabatnya ini.
"Kakek, kami pinjam cucumu."
__ADS_1
Yu mendorong Aira masuk kembali ke dalam rumah. Ia memaksa Aira bergabung dalam misi kali ini. Kekasih Yoshiro ini bahkan tak segan-segan membantu Aira melepaskan pakaiannya.
"Yu, apa yang kamu lakukan?!" Aira mencekal tangan Yu. Wanita itu tengah melepas kaus kaki yang melekat di kakinya.
"Waktu kita terbatas. Kaori-chan, ayo bantu aku!"
"Dengan senang hati."
Kaori mendekat dan ikut memaksa Aira berganti baju.
"AGH, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Teriakan Aira menggema, membuat beberapa pelayan yang berdiri di luar pintu saling pandang. Kakek Yamazaki tersenyum simpul memdengar penolakan yang Aira tunjukkan. Keputusannya yang memberangkatkan dua wanita itu sepertinya tepat. Aira tidak akan bisa melawan dominasi keduanya.
-Di saat yang sama, Miracle Corporation-
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi saat sebuah helikopter mendarat di atas gedung Miracle. Baling-balingnya yang besar bergerak searah jarum jam.
"Tuan. Saatnya kita berangkat." Kosuke menundukkan kepala di hadapan tuannya.
"Tunggu sebentar. Aku ingin mendengar suara istriku sebelum berangkat."
Ken mengambil ponselnya, menempelkan benda pipih itu di samping telinga. Terdengar suara Sakura yang menerima panggilan itu.
"Dimana Aira?" tanya Ken to the point.
"Nyonya ada di ruang ganti. Tunggu sebentar." Sakura segera masuk ke ruangan setelah mengetuk pintunya lebih dulu. Disana ada tiga orang wanita, Aira, Kaori dan Yu. Dua wanita jepang itu tengah sibuk mendandani Aira dengan pakaian serba hitam yang mereka pakaikan dengan susah payah. Aira mencebikkan bibirnya, terus menolak misi ini.
"Nyonya, Tuan Muda ingin berbicara dengan Anda." Sakura mengulurkan ponsel milik Aira.
"Ada apa?" tanya Aira ketus. Ia masih sebal atas pemaksaan yang dilakukan oleh dua sahabatnya ini.
Di seberang sana, Ken mengerutkan kening, heran dengan respon istrinya.
"Ada apa? Kamu marah padaku?"
Hening
"Ai-chan?"
"Bukan apa-apa. Kaori dan Yu ada di sini. Mereka benar-benar menyebalkan!" jawab Aira dengan nada sebiasa mungkin.
"Mereka berdua datang ke rumah kakek?" heran Ken. Tidak biasanya kakek menerima tamu orang luar seperti dua wanita berbeda usia itu.
"Umm. Mereka mengajakku 'bermain' di luar," terang Aira ambigu. Ia tidak ingin Ken khawatir. Jika ia mengatakan bahwa kedatangan keduanya untuk memaksanya membantu menumpas musuh Ken, tentu saja Ken tidak akan mengizinkannya. Tapi sebagai seorang istri, ia juga tidak boleh pergi tanpa izin dari suaminya. Apalagi masa nifasnya ini belum selesai. Seharusnya ia masih harus istirahat di rumah sampai kondisinya benar-benar pulih.
"Ken, bolehkah aku menggunakan senjata?" tanya Aira hati-hati.
"Senjata? Untuk apa?"
Srett
Kaori merebut ponsel dari tangan Aira. "Istrimu terlalu lama berdiam diri di rumah. Aku dan Yu akan mengajaknya 'bersenang-senang'. Apa kamu mengizinkannya?"
Kali ini kerutan di kening Ken semakin dalam setelah mendengar penuturan Kaori. Ia tidak tahu apa yang dimaksud 'bersenang-senang' disini.
"Apapun itu, pastikan dia tidak terluka sedikit pun. Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan menghukummu!" tegas Ken.
"Tentu saja." Kaori mengembalikan ponsel Aira. "Ini."
Aira beranjak bangun, sedikit menjauh dari dua wanita barbar yang luar biasa ini.
"Ada apa?" tanya Aira sembari membenahi tali pakaian di pinggangnya yang sedikit terlalu kencang.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ucap Ken di ujung telepon. Suaranya sedikit bergetar. Sepertinya ia tengah menahan hatinya yang tengah bergemuruh, sebelum berangkat menuju medan perang. Semua orang tahu, hanya ada dua kemungkinan dalam pertarungan seorang yakuza, menang membawa kemenangan atau meneguk kekalahan yang akan menyisakan jasadnya tanpa nyawa. Ken pasti menginginkan kemungkinan yanh pertama, tapi dia hanya manusia biasa, bukan Tuhan. Semua yang terjadi padanya telah tertulis jauh hari sebelum ia lahir ke dunia ini. Dimana ia akan mengembuskan napas terakhirnya, itu sungguh di luar kendalinya.
Entah kenapa hati Aira tiba-tiba merasa tidak tenang. Ia menggigit bibir bawahnya. Pernyataan Ken membuat matanya berkaca-kaca, mulutnya terkatup rapat tak bisa bicara. Hatinya mencelos, sebuah palu godam terasa menghancurkan harapannya, membuatnya rasa takut seketika menderanya. Ia takut kehilangan pria yang dicintainya. Ayah dari ketiga anaknya.
"Ai-chan, aku benar-benar merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu," lirih Ken. "Apapun yang terjadi nanti, kamu harus menerimanya. Bahkan meskipun itu hanya sepotong jasadku sekalipun."
Tik
Sebulir air mata membasahi pipi bulat nan tembam itu. Genangan air yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya, akhirnya tumpah tak terbendung. Wajahnya dibanjiri tangis detik itu juga. Kepalan tangan segera membekap mulutnya, menahan isak yang berusaha menyeruak.
"Ai-chan, jika aku tidak ada lagi, tolong jaga anak-an... "
"Apa yang kamu katakan? Apa kamu bodoh?!" ketus Aira memotong ucapan suaminya. "Kamu harus kembali. Harus! Ini perintah bukan permintaan! Bukankah kamu ingin anak perempuan untuk menemani Aya bermain?"
Pertanyaan Aira sontak membuat Ken tersenyum. Hatinya menghangat mendengar kalimat yang istrinya ucapkan. Seolah seperti kuda yang mendapat cambukan cemeti dari pemiliknya, semangat Ken kembali berkobar. Rasa takut dan was-was di dalam hatinya seketika sirna, berganti dengan keinginan untuk bertahan hidup. Ia memiliki satu alasan kuat untuk memenangkan pertempuran ini selain istri dan ketiga anaknya, melainkan seorang anak perempuan yang akan menemani Aya bermain. Ya, ia sungguh menginginkannya.
"Aishiteru, Ai-chan," lirih Ken sambil tersenyum. Hatinya buncah oleh rasa bahagia.
(Aku mencintaimu)
Hening
Aira juga tersenyum sambil mengangkat tangannya ke atas seperti permintaan Kaori. Dokter cantik itu tengah memasangkan tas pinggang kecil berisi puluhan shuriken di tubuhnya.
*shuriken yakni pisau berbentuk bintang yang sering digunakan oleh para ninja untuk menyerang musuhnya. Logam ini memiliki fungsi yang hampir sama seperti peluru, bisa melukai tubuh targetnya secepat kilat. Bahkan bisa menancap di tubuh seseorang dan menghabisi nyawanya detik itu juga.
"Kenapa tidak menjawabnya?" tanya Ken. Ia menatap jam tangannya setelah Kosuke mengisyaratkan bahwa waktu mereka sudah habis.
"Aku akan menjawabnya saat kamu kembali. Sampai jumpa."
Tut tut tut
Sambungan telepon terputus, membuat layar ponsel Ken menampilkan wallpaper gambar ketiga anaknya yang tengah tersenyum.
Cup
"Ayah pasti akan kembali dan membuat adik baru untuk kalian!" ucapnya antusias setelah mengecup potret triplet kesayangannya.
Ken menyimpan benda pipih itu dalam saku jas sebelum beranjak menuju helikopter di atap.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Ken saat kakinya melangkah menaiki anak tangga menuju atap, tempat dimana pesawat kecil itu berada.
"Sesuai arahan Anda. Semua sudah siap!" jawab Kosuke tanpa ragu.
"Bagus. Ayo berangkat!"
Ken menatap tajam langit biru di atas sana. Matanya berkilat tajam, siap meluluhlantakkan musuh-musuhnya.
'Aku akan mempersembahkan kemenangan ini untuk hadiah anniversary kita. Ai-chan, tunggu kepulanganku!' tekad Ken dalam hati sebelum melompat menaiki helikopter berlogo huruf M besar di sisi kanannya. Miracle.
...****************...
So sweeett 😄😍😍😍😍
Demi apa coba si abang Ken semangat buat menang gara-gara mau bikin adek buat Aya? Adudududuuuuhhh 😥 Jomblo minggir dulu lah, sembunyi di balik selimut liat keuwuan mereka nanti 🐌
Readers said, "Makin penasaran kek apa gelud mereka, author gaje dah ah main tarik ulur dari kemaren 😂😂"
Gomen ne, kan biar kaya roller coaster gitu ceritanya, naik dikit, turun, naik lagi, turun lagi, baru wuzzzzzzz 💃💃
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy