Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Testpack


__ADS_3

Matahari mulai condong ke arah barat saat Aira selesai memandikan putrinya. Dua buah hatinya yang lain sudah ada dalam pengawasan para pengasuhnya.


Cklekk


Tepat saat itu Ken muncul di pintu, membawa beberapa bungkusan makanan yang diminta Aira. Wajahnya terlihat begitu bercahaya, menandakan bahwa suasana hatinya sedang gembira.


"Tadaima," ucap Ken sembari mengusir dua pengasuh putranya keluar dengan isyarat mata.


(Aku pulang)


Tugas rekan-rekan Sakura ini sudah selesai. Mereka membereskan urusan dua bayi ini dengan taktis, bahkan Si Bulat Azami sudah memejamkan matanya. Dia begitu nyaman berada di dalam box dengan selimut hangat menutupi kaki dan perutnya. Piyama tidur yang dipakai membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


"Okaeri," jawab Aira sambil memakaikan baju pada putri kesayangannya. "Apa kamu mendapatkan pesanku?"


(Selamat datang kembali)


"Umm." Ken mendekat dan menunjukkan satu bungkus rujak buah yang berhasil didapatkan oleh Kosuke.


"Dimana kamu membelinya?" tanya Aira ingin tahu. Pasti tidak mudah mendapatkan makanan khas Indonesia itu di sini.


Rujak terdiri dari potongan buah-buahan yang diberi sambal kacang yang pedas. Buah-buahan segar dengan rasa manis dan asam berpadu dengan rasa kacang yang gurih, dan dibumbui garam untuk memperkaya rasanya. Selain itu, sensasi pedas dari cabai merah dan cabai rawit pastilah terasa menggugah selera. Tidak ada satupun orang Indonesia yang belum pernah memakan kudapan ini.


"Kosuke yang membelinya. Aku mendatangi sepuluh restoran Indonesia, tapi tidak ada satu pun yang menjual rujak. Mereka menawarkan gado-gado sebagai gantinya."


Aira tersenyum. Dia tahu perjuangan suaminya ini pasti tidak mudah. Tidak mungkin dia meminta bantuan pada asisten pribadinya, jika mencari makanan lain. Tapi, kudapan yang menyegarkan ini bukan makanan biasa, pantaslah sulit menemukannya.


"Jadi, dimana Kosuke mendapatkannya?" Aira membuka bungkusan yang Ken bawa setelah menyerahkan Ayame pada Sakura. Bayi merah itu tampaknya juga mengantuk, siap menyusul adiknya untuk masuk ke alam mimpi.


"Di Ibaraki. Di sana ada seorang warga Indonesia yang memiliki usaha catering rumahan. Gado-gado yang dijual di restoran adalah buatannya."


Atensi wanita bersurai panjang itu terarah pada potongan buah nanas, timun, apel dan kiwi. Hal itu membuatnya tersenyum. Bisa dikatakan ini "rujak made in Japan" karena sama sekali berbeda dengan rujak original di Indonesia yang memakai kedondong atau mangga muda sebagai sumber rasa asam dan segarnya.


Meskipun kudapan aneka rasa ini begitu terkenal di Indonesia, namun di Jepang sendiri masih terbilang asing. Hanya sedikit orang-orang berkulit putih ini yang pernah mencoba makan rujak. Itu karena tidak ada kedai makanan Indonesia di Jepang yang menyediakan menu satu ini.


Walaupun makanan unik ini masih kurang populer di luar Indonesia, orang Jepang yang pernah makan rujak mengaku agak heran dengan rasa sambal kacangnya yang sering disebut saus oleh mereka. Campuran cabai, bawang putih, kacang tanah, asam, garam dan gula merah ternyata bisa membentuk cita rasa yang sedap. Ini sangat berbeda dengan bumbu masakan Jepang.


Rujak yang mempunyai rasa lengkap antara manis, asam, asin dan pedas terasa lebih menyegarkan pikiran. Dan sensasi rasanya sangat berbeda dengan makanan Jepang kebanyakan. Misalnya sushi. Makanan satu ini terbuat dari ikan mentah dengan kepalan nasi yang rasanya asam manis, kemudian saat makan dicelupkan pada soyu (kecap khusus) yang berasa asin. Atau ada juga yang sejenis dengan sushi yakni sashimi. Lagi-lagi hidangan ini berbahan dasar ikan mentah. Cara makannya pun sama yaitu menggunakan soyu, jadi rasanya hanya asin saja.


"Pegawai restoran menyuruhku datang sendiri dan meminta wanita itu membuatkan rujak. Tapi masih ada hal lain yang harus aku lakukan saat itu."


"Hal lain? Apa?"


Mata Aira membulat sempurna saat melihat benda mungil yang terserak di meja. Ada lebih dari sepuluh buah testpack yang tergeletak di sana.


"Apa ini?" tanya Aira tak mengerti.


"Kamu hamil 'kan?" tanya Ken to the point.

__ADS_1


"Siapa yang hamil? Aku?" Aira menunjuk hidungnya sendiri.


"Tentu saja. Siapa lagi?"


Detik berikutnya, tubuh Aira sudah ada di dalam kamar mandi. Ken mendorongnya dengan begitu bersemangat.


"Lakukan tes sekarang juga. Aku yakin kamu hamil."


"HAH?"


Ken tak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia benar-benar yakin 1000% bahwa keinginannya untuk memiliki seorang putri akan segera terwujud. Berbanding terbalik dengan Aira yang menatap pria di hadapannya dengan pandangan jengah.


"Kenapa kamu pikir aku hamil?" Aira masih bersikeras bahwa dugaan Ken salah. Lagipula, ini tubuhnya, mana mungkin dia tidak tahu keadaan jiwa raganya sendiri. Aira ingat betul bahwa dia selalu mengonsumsi pil kontrasepsi setelah berhubungan, jadi sangat kecil kemungkinannya untuk hamil yang kedua. Terlebih lagi, kondisinya sedang tidak fit seperti sekarang.


"Intuisiku tidak pernah salah. Ayo masuklah. Apa perlu aku membantumu mengambil sampel urin untuk mengeceknya?"


BRAKK


Aira segera menutup pintu di belakangnya rapat-rapat, menjadi dinding penghalang antara dia dan Ken, suaminya yang selalu saja mengejutkan. Disaat pebisnis lain gila kerja, dia justru tergila-gila pada istrinya dan berharap memiliki anak lagi. Benar-benar tidak biasa pria satu ini.


Aira melakukan permintaan Ken, mengambil sampel urin miliknya dan mencelupkan ujung testpack itu di sana. Sebenarnya, kondisi urine yang encer membuat hormon hCG sulit untuk terdeteksi. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan alat tes kehamilan ini saat pagi hari setelah bangun tidur. Kondisi urine pada saat itu masih pekat, sehingga hasil yang didapat bisa lebih akurat. Namun Aira enggan berdebat dengan suaminya yang pasti tidak ingin mengalah.


"Sudahlah. Biarkan saja. Toh hasilnya sama saja. Aku tidak hamil." Gumaman Aira terdengar olehnya sendiri.


Cklekk


Aira keluar dengan wajah datarnya. Ia mendekat ke arah Ken dan meletakkan benda di tangannya ke atas meja.



Ken mengambil alat tes kehamilan itu dan menghitung jumlah garis merah yang ada di sana. Jelas-jelas hanya ada satu garis.


"Pasti karena alat ini yang tidak akurat!" Ken masih bersikukuh. Pria itu tahu bahwa saat testpack memasuki masa kadaluwarsa, bahan kimia yang berperan mendeteksi kadar hCG pada urin mulai kehilangan sensitivitasnya. Akibatnya, hasil yang ditunjukkan bisa keliru.


Ken meminta Aira melakukan tes lainnya dengan memberikan dua buah testpack lagi.


"Lagi?" tanya Aira memastikan.


"Umm!" Ken mengangguk mantap. Aira tak membantah. Dia masuk ke kamar mandi dan mengetesnya lagi.



"Sama saja." Aira memberikannya langsung pada Ken.


"Aku tidak percaya!" Ken mengeluarkan semua testpack yang ada dari dalam wadah kemasannya. "Ambil sampel urinnya. Aku akan melakukannya sendiri."


Aira menggelengkan kepala karena heran. Obsesi suaminya ini benar-benar mengerikan. Sifatnya kembali menjadi aneh.

__ADS_1


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Ken mulai emosi.


"Baiklah." Aira mengambil botol kecil berbentuk tabung yang Ken berikan dan segera mengisinya dengan urin. Dia hanya bisa menghela napasnya, tidak bisa mencegah keingintahuan Sang Suami.


"Ini."


Ken mencelupkan semua testpack yang tersisa satu per satu tanpa rasa jijik. Dia menunggu hasilnya keluar dengan harap-harap cemas. Alat tes kehamilan satu ini baru menunjukkan hasilnya setelah dua atau lima menit kemudian. Dan Ken yang dipenuhi rasa penasaran, benar-benar merasa waktu itu sangat lama. Kakinya bergerak kesana kemari seperti setrikaan. Tangannya ikut tak bisa diam, menantikan hasil yang muncul, satu atau dua garis.


"Duduklah," bujuk Aira. Ia merasa pusing melihat suaminya berjalan kesana kemari tanpa bisa dia hitung.


Ken tak mengindahkan saran Aira. Dia berkali-kali melihat benda mungil warna putih yang ada di atas meja. Benar-benar pria yang tidak sabaran.


'Ayolah ... ayolah. Dua garis. Dua garis,' gumam Ken dalam hati.


Aira lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada pria yang sudah menjadi pendamping hidupnya setahun terakhir ini. Tes kehamilan yang dilakukan di rumah dengan test pack memiliki tingkat akurasi 99%. Namun, tes kehamilan dengan sampel darah dipercaya lebih akurat. Aira diam saja, tak menyarankan cara kedua ini atau Ken pasti akan menyuruh dokter kemari dan mengambil sampel darahnya. Merepotkan!


"Sudah lima menit!" Ken berseru keras. Dia mengambil alat itu dengan bersemangat. Namun, detik berikutnya wajahnya berubah menjadi sayu. Dia terlihat begitu kecewa.



Aira ikut mendekat dan membaca tulisan yang ada di sana : Not Pregnant.



Sementara di testpack yang lain juga menunjukkan hasil yang sama yaitu hanya terdapat garis satu. Itu artinya dia tidak hamil.


"Ayo kita ke rumah sakit. Dokter harus memeriksamu. Alat itu tidak berguna!" Ken menggenggam jemari istrinya, mengajak wanita 26 tahun ini mendatangi tenaga medis.


Aira menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak mungkin hamil."


"Apa maksudmu? Kenapa tidak mungkin? Apa kamu meragukan kemampuanku? Aku yakin kamu pasti hamil!"


Ken benar-benar keras kepala, membuat Aira tersenyum.


"Kenapa tersenyum? Kamu menertawakanku?" ketus Ken tak suka.


"Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Aku sedang datang bulan."


"HEIHH?"


...****************...


Whahahaaaa... Si Abang Kenzo sii sok tahu. Kena prank kan dia 😂😂😂


Tapi kok Aira mual muntah yaa? Terus kenapa minta rujak? Ada yang tahu alasannya? Yuk tulis di kolom komentar, yuk!


Penasaran jawabannya? Nantikan episode berikutnya yaa 😉

__ADS_1


Btw, selamat menjalankan ibadah puasa yaa temen-temen. Bye,


Hanazawa Easzy


__ADS_2