Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Masa Lalu Menyedihkan


__ADS_3

*Catatan :


-Kamishiraishi Shu \= ayah angkat Shun.


-Mone Kamishiraishi adalah putri tunggal tuan Kamishiraishi.


- Takeshi Kaneshiro : sepupu/saudara jauh tuan Kamishiraishi yang menikah dengan wanita Rusia bernama Anna*.


*****


"Aku dalam perjalanan pulang, Mom." ucapnya dengan nada seceria mungkin.


"Baiklah. Apa Daddy bersamamu?"


"Ah, Daddy? Dia sepertinya akan sedikit sibuk. Aku membuat 'keributan kecil' di hotel." jawabnya sambil menggosok hidungnya meski tidak gatal. Itu kebiasaan sejak kecil saat merasa canggung atau ketika berbohong.


Apakah membunuh orang kepercayaan ibu angkatnya bisa disebut 'keributan kecil'?


"Baiklah. Mommy siapkan makanannya sekarang. Hati-hati di jalan.." ucapan itu terdengar sebelum Mone kembali menyimpan ponsel berwarna gold miliknya ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.


Langkahnya menuju mobil terhenti saat melihat seorang remaja laki-laki yang menggendong adiknya yang sedang tertidur. Usia mereka sepertinya hanya terpaut beberapa tahun saja, mengingatkan Mone pada seseorang yang sangat berharga di masa lalunya.


Orang yang selalu menggendongnya sepulang dari tempat les di malam hari. Bahkan ia selalu membelanya saat menjadi korban bully di sekolah waktu itu. Perlahan ia memutar jam tangannya dan tampaklah foto Shun di dalamnya.


Mone menghadap ke atas, menahan agar bulir bening di pelupuk matanya tidak luruh membasahi pipinya.


"Apa yang terjadi?" sela seseorang yang muncul di belakang gadis kelahiran 20 tahun yang lalu ini.


"Bukan apa-apa." Mone menjawabnya singkat sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku.


"Berikan padaku!" pinta pria dengan setelah jas yang melekat di tubuhnya. Dialah Takeshi Kaneshiro, ayah angkat sekaligus pemilik hotel yang kini menaungi Mone Kamishiraishi.


"Hmm?" tanya Mone tak mengerti.


"Aku akan menyetir. Duduk dengan baik di kursimu." pinta Takeshi pada gadis bermata indah di depannya.


Mone terpaksa menyerahkannya. Detik berikutnya terdengar bunyi khas yang menandakan seseorang mengendalikan remot kunci mobil miliknya. Cukup menekan tombol bergambar gembok di benda berukuran kecil ini, maka pintu mobil akan terbuka dan sebaliknya.



Di benda kecil bertenaga baterai ini, terdapat tiga sampai empat tombol tergantung variasi dari masing-masing perusahaan pembuatnya. Tapi umumnya ada dua tombol bergambar gembok, satu tombol bergambar pintu bagasi, dan satu tombol lagi bergambar alarm. Masing-masing memiliki fungsi yang memudahkan penggunanya.

__ADS_1


Kecanggihan dari teknologi ini selalu melekat pada mobil-mobil keluaran teranyar. Jadi tak perlu memasukkan kunci ke lubang pintu, hanya cukup menekannya dari jarak jauh maka kuncinya akan terbuka dengan sendirinya.


Sementara tombol alarm berwarna merah berguna untuk menjaga keamanan dari gangguan orang lain. Tombol bergambar speaker itu akan mengeluarkan suara jika ditekan. Ini efektif untuk meminimalisir tindakan pencurian mobil. Mobil akan mengeluarkan suara yang sangat kencang saat seseorang membukanya dengan paksa.


"Ayo pulang.." ajak Takeshi setelah menurunkan kaca mobil yang kini ada dalam kuasanya. Netranya terpatri pada Mone yang masih terpaku di tempatnya sejak beberapa saat yang lalu.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebelum pulang ke rumah." bujuknya sekali lagi membuat Mone tak kuasa menolaknya.


"Seseorang melacak keberadaanmu beberapa hari yang lalu. Dilihat dari alamat IPnya, mungkin itu kakakmu." terang pria dibalik kemudi itu dengan tenang.


"Dia bukan kakakku." jawab Mone dingin.


"Ayolah, itu sudah lama berlalu. Kamishiraishi... mm, maksudku ayahmu saja tak pernah menyalahkan Shun atas kematiannya. Bukankah dia tersenyum di akhir hayatnya?"


"Fakta ayahku meninggal karena melindungi orang itu tetap tak bisa dihapuskan. Jika aku memaafkannya, apakah ayahku akan hidup lagi?" Mone berucap dengan menggebu-gebu, memperlihatkan dendam di hatinya.


Takeshi menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Jika ayahmu masih hidup, kita tidak akan ada waktu untuk berbincang seperti ini. Benar kan?"


Pertanyaan itu membuat Mone kembali terdiam. Hal itu benar adanya. Jika ayahnya tidak meninggal saat itu, Mone tidak akan kabur dari pesta ulang tahunnya. Hari yang seharusnya membahagiakan untuknya berubah menjadi hari penuh luka dan kekecewaan. Kekacauan terjadi dan membuat ayahnya tertembak di dada demi melindungi Shun yang saat itu masih berusia 23 tahun.


FLASHBACK


Lampu kristal tergantung di atas ballroom sebuah hotel di Osaka, Jepang. Puluhan orang tampak menikmati hidangan di mejanya masing-masing. Alunan piano yang dibawakan seorang gadis memukau semua orang yang ada di sana.


Ia duduk bersama kedua orang tuanya yang tersenyum bangga. Semua orang memberikan tepuk tangannya yang meriah atas persembahan dari gadis 15 tahun ini.


"Mone-chan, permainan pianomu semakin indah. Ibu pasti akan sangat merindukanmu saat kamu kembali ke Thailand besok." puji wanita dengan gaun yang senada dengan putrinya. Ya, Mone saat ini sedang menjalani pertukaran pelajar di Thailand selama 6 bulan. Ia pulang khusus untuk merayakan ulang tahun yang telah ayahnya siapkan.


"Ini semua berkat bimbingan ibu." jawab Mone tersipu malu. "Dimana kakak?" tanyanya.


"Dia sedang menerima telepon. Mungkin sebentar lagi akan kembali." jawab Kamishiraishi Shu, ayahnya.


"Otanjoubi omedetou gozaimasu darling." ucap seorang wanita berwajah eropa. Ia berdiri tepat di samping gadis yang tengah merayakan ulang tahunnya hari ini.


(Selamat ulang tahun sayang)


"Auntie Ann.." Mone terperanjat dan langsung memeluk wanita yang kini sedikit membungkukkan badannya.



"Untukmu." wanita bernama Anna itu menyerahkan buket coklat ferrero rocher gold edition yang ia terima dari suaminya.

__ADS_1


"Arigatou.." ucap Mone dengan senyum lebar di wajahnya. Ia sangat menyukai coklat.


"Takeshi Kaneshiro, sudah lama kita tidak bertemu." tuan Kamishiraishi memeluk kerabat jauhnya yang kini tinggal di Rusia, bahkan menikah dengan wanita berambut putih yang kini sedang berpegangan tangan dengan istrinya.


"Ayo duduk, nikmati hidangannya." ajak nyonya Kamishiraishi.


"Kapan kamu kembali ke Thailand, sayang?" tanya Anna pada gadis berpipi chubby itu.


"Besok pagi." jawabnya berat hati.


"Ah, kenapa cepat sekali?" Anna mengelus punggung tangan Mone dengan sayang.


Mereka berlima duduk melingkar di meja bulat yang penuh hidangan. Tak lama kemudian Shun kembali dan menyapa kedua tamu jauh itu.


"Apa kabar paman?" sapa pria yang tak lain adalah Shun Oguri itu.


"Apa aku terlihat sangat tua sampai kamu memanggilku paman?" canda Takeshi sambil menepuk bahu Shun.


Perbincangan hangat itu berlanjut tanpa mengetahui seseorang sedang mengawasi mereka dari lantai dua.


"Aku tidak akan melepaskanmu, Shun Oguri." ucap seorang wanita dengan mata berapi-api menyiratkan dendam, "Kematian ini adalah pembalasan untuk nyawa suamiku yang telah kamu ambil."


Tangannya masih berada di sisi badan sambil menggenggam sesuatu berwarna hitam. Jika dilihat dengan seksama ternyata wanita itu memegang pistol semi otomatis. Senjata api itu beroperasi dengan sebuah mekanisme geser dan magazen yang sebelumnya telah diisi dengan amunisi.


Wanita itu membuka pengaman senjata di tangannya dan meletakkan jari telunjuknya di atas pelatuk, "Shun, terimalah kematianmu." Tepat saat itu tuan Kamishiraishi melihatnya.


DOR


"SHUN, MERUNDUK !!" teriaknya spontan sambil mendorong tubuh putranya menjauh dari arah peluru yang kini melesat menuju mereka dengan cepat.


BRUKK


Tubuh pria itu terkapar di atas lantai detik berikutnya, diiringi teriakan Mone yang syok melihat ayahnya diterjang peluru.


Semua tamu berhamburan dari meja mereka untuk menyelamatkan diri. Takeshi melihat wanita yang menyerang kakak sepupunya itu dan segera mengejarnya. Namun orang-orang yang berlari ke berbagai arah menyulitkannya dan membuat wanita itu berhasil kabur.


FLASHBACK END


"Kita sudah sampai." ucap Takeshi menyadarkan lamunan Mone dari masa lalunya yang menyedihkan.


*****

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2