Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kedatangan Yuki


__ADS_3

Ken pulang ke rumah tepat saat matahari kembali ke peraduannya. Dia sedikit terkejut saat melihat Aira tiba-tiba menghentikan langkahnya dan seperti memikirkan sesuatu yang penting. Ternyata wanita itu merasakan adanya sesuatu yang tidak baik. Entah itu sungguhan atau hanya perasaannya saja.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk tertangkap oleh telinga Ken, membuatnya mematikan shower yang tengah memancarkan air dingin ke kepalanya.


"Ada apa?" tanya Ken sembari mengusap wajahnya yang basah, menyingkirkan helai rambutnya yang menutupi sebagian wajah.


"Ada tamu untukmu." Suara Aira menggema, menembus pintu kayu bercat putih yang menghalangi keduanya.


"Siapa?"


"Tidak tahu. Aku akan melihatnya. Setelah kamu selesai, segeralah turun," pinta Aira.


Hening. Tak ada suara lagi. Sepertinya Aira sudah melangkah meninggalkan kamar ini.


Ken mengerutkan keningnya, mencoba berpikir siapa tamu yang ingin menemuinya. Jelas-jelas dia tidak menerima kunjungan rekan bisnis di kediamannya ini. Lagi pula, tidak ada janji temu malam ini. Dia sengaja membatalkan semua agenda demi bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Sang Istri. Kesibukannya akhir-akhir ini memaksanya untuk tak mendekati Aira.


Srash srashh


Ken melanjutkan mandi. Dia harus segera menyelesaikan kegiatan pribadinya ini dan menyusul Aira yang turun lebih dulu ke bawah.


"Dimana orang itu?" tanya Aira pada asisten rumah tangga yang memanggilnya. Mereka berdua tengah menapaki anak tangga menuju lantai bawah.


"Di ruang tamu."


"Baiklah. Tolong siapkan minumannya dan antarkan kesana jika sudah selesai."


"Baik, Nyonya." Wanita yang memakai apron di depan tubuhnya ini mengangguk. Dia siap melaksanakan tugas yang Aira titahkan.


Langkah kaki Aira terhenti sesaat, dia menatap punggung tamunya yang asik menatap lukisan di dinding.


"Selamat malam, Tuan." Aira menyapa lebih dulu, membuat pria itu menoleh.


"Ah, malam." Dia tampak sedikit terkejut, tidak menyangka tuan rumah akan menyapanya dengan tiba-tiba.


"Silakan duduk." Aira mengisyaratkan dengan tangannya agar pria bermata sipit ini menempati kursi kosong yang ada. "Maaf sebelumnya, boleh saya tahu siapa Anda?"


"Saya Yuki. Harada Yuki."


Deg!


Ada perasaan tidak nyaman yang seketika menghampiri perasaan Aira, Mendengar nama itu, membuatnya berpikir jauh.


'Yuki Harada? Apa hubungannya dengan tuan Hayato Harada? Mungkinkah mereka memiliki hubungan kekerabatan yang dekat? Atau hanya kebetulan saja memiliki marga yang sama?'


"Apa suami Anda ada di rumah?"


Aira segera menguasai diri. Dia harus bersikap baik pada tamunya ini, tidak peduli apapun tujuan kedatangan tamunya ini. Sudah menjadi keharusan bahwa dia akan memuliakan tamu, dengan beramah tamah seperti sekarang misalnya.


"Boleh saya tahu ada kepentingan apa?" tanya Aira hati-hati.


"Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan padanya."


Aira menajamkan otaknya, menghubungkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Jika memang tamunya ini masih kerabat tuan Harada, mungkinkah dia akan menuntut jawab atas kematian pria itu? Ataukah ada urusan lain yang berhubungan dengan bisnis Ken maupun Miracle?


"Dia baru saja pulang beberapa saat yang lalu. Sekarang dia sedang memebersihkan diri, sebentar lagi akan kemari." Aira cukup tahu diri, tak menanyakan lebih lanjut tentang kepentingan pria ini. Mungkin saja itu sesuatu yang rahasia.


Hening


Tak ada yang bersuara. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga seorang asisten datang mengantarkan minuman. Dengan cekatan, Aira mrnyajikan cangkir berisi teh hijau itu di depan Yuki.


"Silakan minumnya, Tuan."


"Umm. Terima kasih."


"Anda orang Indonesia?" Yuki kembali memulai percakapan.


"Benar," jawab Aira singkat.


"Saya pernah datang ke sana beberapa tahun yang lalu saat ada bencana tsunami besar."


"Oh, benarkah?"


"Umm. Ada misi sosial yang kebetulan melibatkan saya. Udara di sana hangat. Orang-orangnya juga menyenangkan. Saya sedikit terkejut saat melihat Anda."


"Terkejut? Apa ada sesuatu yang aneh?"

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu." Yuki tersenyum, senyuman yang tulus dan hangat. " Penutup kepala yang Anda gunakan itu, mengingatkan saya pada negeri tropis itu dan semua orang-orangnya."


"Oh." Aira tersenyum canggung.


Sakura  mendekat, membawa Aya dalam dekapannya.


"Nyonya, nona Ayame terus gelisah. Sepertinya dia mencari Anda."


Aira dan Yuki seketika menoleh ke arah Sakura. Wanita dengan pakaian khas baby sitter itu mendekat, dan kemudian menyerahkan bayi mungil ini pada ibunya.


"Dia tidak menangis, tapi terus menggeliat ke kanan kiri, seolah merasa tidak nyaman," lapor gadis 26 tahun ini.


"Berikan padaku." Aira merengkuh bayinya dalam pelukan.


Puk puk puk


Ibu tiga anak ini berusaha menenangkan puteri cantiknya dengan menepuk-nepuk paha luar Sang Bayi. Dan seperti tahu bahwa dia sudah ada di tangan yang tepat, Aya kembali tenang.


Yuki menatap interaksi ibu-anak di depannya dengan pandangan haru. Hatinya seolah tersayat ribuan sembilu. Perih, Sakit tapi tak berdarah.


Pikirannya kembali pada masa lalu kelam saat bersama dengan Kaori. Jika saja istrinya itu tidak kehilangan buah hati mereka, pastilah kehidupannya ini semakin sempurna dengan kedatangan anak-anak yang menggemaskan.


Kilasan memori itu terputar begitu saja, membuat Yuki terbawa perasaan. Dia ingin bahagia, bersama orang yang dicintainya, yaitu Kaori. Namun agaknya itu hanya akan menjadi halusinasinya saja. Nyatanya, Kaori sudah memilih orang lain sebagai pendamping hidupnya sekarang.


"Tuan," panggi Aira untuk yang ketiga kali, membuat Yuki tergeragap, membawa kesadarannya kembali.


"Ya?"


"Ponsel Anda berdering." Aira mengingatkan. Sejak tadi benda mungil di dalam saku jas Yuki itu terus berbunyi,  namun pria itu tak memedulikannya, asik dengan lamunannya sendiri.


Yuki segera melihat benda pipih dengan layar sentuh sebagai permukaannya itu. Tampak nomor tak dikenal yang terus menerornya sejak siang tadi. Itu nomor ponsel Anna.


Bip!


Bukannya mengangkat panggilan komunikasi dua arah itu, justru Yuki menekan tombol power cukup lama. Ponselnya mati total, tak bisa menerima panggilan sama sekali.


'Eh?' Aira sedikit terkejut dengan tingakah pria ini yang sengaja menghindari panggilan telepon itu.


"Selamat malam, Harada-san." Ken menyapa Yuki dengan memanggil nama belakang tamunya ini.


Ken segera bergabung, duduk di samping Aira yang berusaha menidurkan putrinya dalam dekapan.


Aira hanya mengangguk sebelum beranjak pergi, menghilang dari pandangan Yuki dan Kenzo.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ken taktis. Tidak mungkin putra nyonya Suzuki ini datang padanya tanpa kepentingan. Pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Dan sepertinya itu bukan urusan Miracle sama sekali.


Yuki meletakkan benda mungil yang ia dapatkan dari Anna pagi ini. Itu adalah flashdisk yang berisi laporan keuangan geng Naga Hitam selama lima tahun terakhir.


Ken memicingkan matanya, meraba-raba maksud sebenarnya yang ingin pria ini sampaikan.


"Seseorang memberikan benda ini beberapa jam yang lalu. Di dalamnya berisi laporan keuangan kelompok Naga Hitam. Bisa Anda jelaskan seberapa jauh ayah saya terlibat di dalamnya?" Yuki langsung bertanya pada pokok permasalahan yang membuatnya pusing seharian ini.


"Apa maksud Anda?" Ken memastikan.


"Selama ini, bukankah Anda bekerja sama dengan ayah saya? Anda pasti tahu seperti apa bisnis yang beliau jalankan. Tolong beritahu saya selengkapnya. Lagipula selama ini semua bisnis Naga Hitam terhubung dengan kakek Anda, tuan Yamazaki Subaru."


"Heih?" Ken menaikkan sebelah alisnya, semakin heran dengan permintaan tamunya ini. "Kenapa saya harus menuruti permintaan konyol ini?"


"Seseorang mengatakan hal-hal buruk tentang mendiang ayah saya." Yuki menundukkan kepalanya, belum percaya pada pernyataan yang Anna sampaikan padanya.


"Apa kita sedekat itu?" sarkas Ken tajam dan menukik. "Saya tidak memiliki waktu untuk mengurus hal tidak jelas seperti ini. Silakan cari orang lain!" Ken berdiri, siap mengusir tamunya ini.


"Tolong saya," ucap Yuki sebelum Ken mengusirnya pergi. "Saya bodoh dan tidak tahu tentang apapun. Dengan polosnya saya percaya bahwa ayah saya orang yang baik dan pengasih. Namun kenyataanya, dia hanyalah serigala berbulu domba yang merugikan banyak pihak. Saya ingin mengembalikan semua hak orang-orang yang selama ini menderita karena ayah saya."


Ken sedikit tertarik dengan pernyataan Yuki, mengembalikan hak orang-orang yang mengalami penderitaan karena tuan Harada? Mengagumkan.


"Saya tahu ini terasa janggal, tiba-tiba datang dan memohon pertolongan pada Anda. Tapi tidak ada orang lain yang bisa saya percaya. Satu-satunya orang itu adalah Anda, Yamazaki-san."


Ken tersenyum, merasa semakin tergelitik. Dia ingat betapa angkuhnya wajah Yuki saat rapat dewan direksi dan investor Miracle beberapa bulan yang lalu. Saat itu, pria ini begitu angkuh, mengatakan dirinya memiliki saham di Miracle dan sebagainya. Tapi hari ini, dia tampak begitu kebingungan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


"Apa imbalan yang saya dapatkan jika bersedia menyediakan informasi yang Anda inginkan?' tanya Ken, memancing keberanian pria ini.


"Saya akan melakukan yang terbaik. 5% saham Miracle akan menjadi milik Anda jika semua informasi yang Anda sampaikan benar adanya."


"Lima persen?"


"Benar. Itu sebanding dengan tugas yang harus Anda lakukan untuk saya."

__ADS_1


"Kenapa Anda begitu percaya pada saya?"


Yuki bungkam. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa mendatangi Ken.


"Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Bisnis tuan Harada terlepas sepenuhnya dari keluarga Yamazaki sejak lima atau enam tahun yang lalu. Semua laporan yang mungkin Anda lihat, itu murni bisnis ayah Anda sendiri."


Yuki terhenyak. Dia tidak menyangka hal ini sebelumnya.


"Sejak kesehatan kakek memburuk enam tahun yang lalu, beliau memberikan Naga Hitam sepenuhnya untuk tuan Harada. Selain itu, saya yang bertanggung jawab untuk semua aliran dana yang masuk, memastikan tidak ada satu sen pun yang ayah Anda berikan pada kami."


"Bagaimana mungkin? Bukankah tuan Yamazaki ada di belakang semua bisnis ilegal itu?" Yuki masih bersikeras, ingin mendapat pengakuan bahwa ayahnya tidak bersalah.


Ken menggeleng tegas. "Tidak. Itu sudah berlalu. Kami tidak tahu menahu pergerakan Naga Hitam beberapa tahun ini. Saya akan mengirimkan buktinya pada Anda besok. Tapi, saya harus menegaskan sekali lagi, laporang keuangan atau apapun yang ada di dalam sana, terlepas sepenuhnya dari Miracle maupun keluarga Yamazaki."


Wajah Yuki semakin muram. Dia tidak tahu urusan ayahnya akan serumit ini.


"Asisten saya akan mengantarkan Anda sampai pintu keluar. Sampai jumpa."


Ken meninggalkan ruangan ini, menyisakan Yuki seorang diri yang tengah bergulat dengan pemikirannya sendiri. Niat baiknya tak semudah yang ia bayangkan, bahkan semuanya menjadi semakin tidak jelas, seperti benang kusut, sulit diuraikan.


"Mari, Tuan, saya antar ke depan." Salah satu asisten rumah tangga mempersilakan Yuki pergi.


Ken menemui Aira di kamar anak-anak. Dia masuk tanpa mengetuk pintu dan mendapati wanita itu tengah membuka pakaiannya bagian atas. Aira bersiap menyusui Aya.


"Sudah selesai?" tanya Aira, menatap wajah suaminya lekat-lekat.


"Umm."


Brukk


Ken membaringkan tubuhnya di depan Aira, tepatnya di samping putrinya, Ayame. Detik berikutnya dia memejamkan mata, seolah ingin mendapat kedamaian yang lama tidak ia rasakan.


"Apa ada masalah?" Aira ingin tahu.


"Sedikit. Kosuke yang akan mengurus pria itu besok." Suara Ken terdengar penuh beban.


Aira memilih diam. Dia tidak akan ikut campur jika Ken tidak meminta bantuan padanya.


"Ai-chan," panggil ayah tiga anak itu.


"Humm?"


"Aku lapar." Ken memasang puppy eyesnya di depan Aira. "Buatkan nasi goreng untukku," pintanya kemudian.


"Nasi goreng?" Aira mempertanyakan menu makanan yang suaminya inginkan ini. Dia selalu makan makanan sehat, kenapa tiba-tiba ingin makanan khas Indonesia ini?


"Apa kamu sakit?" Aira memeriksa dahi suaminya.


"Umm. Benar, aku sakit." Ken mengangguk-anggukkan kepalanya sok imut, membuat Aira tersenyum. Jelas-jelas suhu tubuh suaminya ini normal. Kepribadiannya saja yang sedikit bermasalah.


"Benarkah? Sakit apa?" pancing Aira, menantikan akting suaminya berlanjut.


"Sakit perut. Perutku sakit karena kelaparan." Ken meringkuk, memegangi perutnya erat-erat.


"Sangat sakit?" tanya Aira lagi.


"Sakit. Sangat sangat sakit. Ayo cepat buatkan nasi goreng untukku sebelum pingsan!" Ken memaksa seperti anak kecil. Dia meraih jemari Aira, seolah menariknya turun dari ranjang.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan buatkan nasi goreng untukmu." Aira melepaskan tautan putrinya yang sedang menyusu. "Jaga dia baik-baik. Jika dia menangis, maka tidak ada satu sendok pun nasi goreng untukmu."


"Oekk oeekk." Tangis Aya pecah detik itu juga. Dia belum puas menyusu dan harus terganggu oleh ayahnya sendiri.


"Hei... Ini," ucap Ken panik.


Aira berkacak pinggang, menatap Ken dengan garang. Mau tak mau, pewaris keluarga Yamazaki ini menggendong putrinya, berusaha menghentikan tangis malaikat kesayangannya.


"Rasakan itu!" ketus Aira sebelum pergi. Dia sengaja memberikan pelajaran pada Ken agar tak lagi bermanja-manja padanya di saat yang tidak tepat seperti sekarang.


"Chotto mate, Ai-chan!!" Panggilan Ken menggema, tepat sebelum Aira menutup pintu di belakangnya.


(Tunggu, Ai-chan!)


"AI-CHAN. TASUKETE!!"


(Ai-chan, tolong!)


* * *

__ADS_1


See you next day. Bye,


Hanazawa Easzy


__ADS_2