
"Indoneshia e youkoso..." ucap Aira sambil merentangkan tangannya di hadapan Kosuke dan Minami. Membuat Ken tersenyum lebar melihat keceriaan Aira begitu sampai di tanah kelahirannya, Indonesia.
(Selamat datang di Indonesia)
Hap
Ken menarik istrinya ke belakang, mengapitnya agar tak bergerak lagi. Beberapa orang memperhatikan mereka karena suara Aira terlalu lantang, membuat Ken merasa tak enak hati. Wanitanya itu sangat bersemangat menyambut kedua tamu spesialnya di Indonesia.
"Eh, hehe. Gomen ne." ucapnya pada Ken. Ia berjinjit dan mencium pipi suaminya. Kosuke dan Minami hanya tersenyum melihat nona mereka yang terlampau antusias sampai harus dikendalikan oleh 'pawangnya'.
(gomen : maaf)
"Apa kalian lapar? Aku akan mengajak kalian ke tempat makan paling enak disini." Aira melepaskan diri dari suaminya dan menggandeng lengan Minami dengan antusias. Berbicara banyak hal dan meninggalkan suami mereka di belakang dengan koper di troli masing-masing.
Ken membulatkan mata melihat perubahan sikap istrinya yang berubah 180°, tak lagi pendiam dan irit kata seperti saat di Jepang. Dimana sifat dingin dan angkuhnya yang selama ini ia gunakan sebagai tameng?
"Apa atmosfer udara yang hangat berpengaruh pada kepribadian seseorang?" gumam Ken pada asistennya yang kini berjalan di sampingnya.
"Mungkin saja." jawab Kosuke sambil tersenyum, melihat tampang bossnya yang terlihat sedikit frustasi.
*******
Langit telah berubah gelap sepenuhnya saat kedua pasang sejoli itu masuk ke sebuah restoran padang yang terlihat ramai. Beberapa pengunjung tampak sedang menikmati makanannya, sementara yang lainnya asik berbincang setelah melahap hidangan mereka.
Rumah makan dengan cat berwarna coklat dominan itu terlihat biasa saja, bahkan terkesan kurang dekorasi. Tak ada hiasan dinding atau sejenisnya. Juga meja yang tertata rapi dengan 4 atau 6 kursi yang menyertainya, tanpa ada bunga atau apapun di meja, sama sekali tak ada unsur seni disana. Satu-satunya yang membuatnya sedikit indah hanya sebuah miniatur rumah dengan atap berbentuk seperti tanduk yang ada di depan pintu masuk.
"Silahkan tuan, nyonya, sebelah sini." seorang pramusaji mempersilahkan ke empat orang pengunjungnya masuk dan menunjukkan satu meja di pojok ruangan yang masih kosong.
"Paket lengkap uda." pinta Aira pada pria berusia 40 tahunan yang datang untuk mencatat pesanan setelah mereka duduk.
(uda : panggilan untuk orang yang lebih tua dalam bahasa Minang)
"Minum apo?"
(apo : apa)
"Teh angek 4. Labiahan ladonyo ni.." jawab Aira.
(Teh hangat 4. Tolong tambah sambalnya ya)
Pramusaji itu kembali setelah mencatat pesanan pelanggannya. Aira tersenyum menatap pengantin baru yang ada di hadapannya.
"Bahasa apa itu?" tanya Ken penasaran. Ia tahu yang istrinya ucapkan bukan bahasa Indonesia, karena terdengar asing di telinganya.
"Bahasa Minang, salah satu daerah di bagian barat Indonesia. Tempat restoran ini berasal."
"Itu bahasa kecilmu, nona?" tanya Minami penasaran.
"Bukan. Aku belajar dari temanku." jawabnya sebelum berdiri, beranjak mencuci tangan di wastafel yang menempel di dinding. Minami mengikutinya setelah Aira melambaikan tangan.
Ken mengurut pelipisnya, ia benar-benar pusing melihat keanehan istrinya yang 'baru' ini. Bukan Aira yang ia kenal 6 bulan ke belakang.
"Anda baik-baik saja, tuan muda?" tanya Kosuke agak khawatir. Ken tidak pernah terlihat bermasalah sebelumnya, sesulit apapun urusan bisnis yang dihadapinya pasti bisa ia selesaikan tanpa cela. Tapi hari ini terlihat berbeda, ia lebih banyak diam dan sering memandang Aira dengan ekspresi yang sulit diartikan. Seolah bertemu orang asing yang membuatnya harus memeras otak.
Ken mengangguk dan kembali menatap punggung istrinya yang berjarak 2 meter darinya. Melihat tubuh mungil yang tengah mengandung buah hatinya dengan pikiran bercabang. Ken merasa Aira menyembunyikan sesuatu darinya, tapi setelah mencari tahu tak ada informasi apapun yang ia dapatkan. Aira tidak pernah berinteraksi dengan siapapun setelah keluar dari kediaman kakek.
Beberapa kali ia mendapati istrinya itu termenung sambil menggenggam gelang pemberian biksu, tapi ia selalu menampilkan senyumnya lagi saat menyadari kehadiran Ken. Pasti ada sesuatu yang Aira pikirkan, tapi ia tidak ingin membaginya. Di sisi lain, Aira terlihat sangat ceria dan bersemangat, entah itu ia lakukan dengan tulus atau hanya untuk menutupi masalah yang ia pendam? Ken tidak tahu.
"Kita sudah menyeberangi lautan, mungkin saja kutukannya sudah hilang." Kosuke berucap seolah mengetahui kegelisahan tuannya. Sebelumnya, Ken meminta Kosuke menemui biksu untuk menanyakan apa saja yang mereka bicarakan. Tapi tak ada yang aneh, biksu hanya mendoakan untuk kebaikan Aira dan bayinya. Seorang pertapa harusnya bisa dipercaya, jadi Ken coba mempercayainya.
__ADS_1
Ken memejamkan matanya sekejap, kemudian pura-pura mengecek ponselnya. Tak ada jaringan sama sekali, ah ia lupa belum mengubah pengaturan ponselnya setelah mendarat di Indoenesia.
"Berikan padaku." pinta Kosuke mengulurkan tangannya. Ken menyerahkan ponselnya dan membiarkan pria di depannya itu merubah pengaturan benda pipih berwarna silver miliknya. Pada akhirnya ia masih tetap direpotkan oleh Ken meskipun statusnya sedang liburan bulan madu.
Aira kembali dengan senyum terkembang di wajahnya dan menepuk pipi Ken yang terlihat sedikit pucat, "Apa kamu sakit?"
Senyumnya menghilang dan hendak meraba dahi suaminya, khawatir Ken demam. Tapi sebelum tangan itu menyentuh kening, Ken menariknya dan menyembunyikan di bawah meja. Menggenggamnya dengan sangat erat membuat Aira bertanya-tanya apa yang terjadi pada suaminya.
"Ada apa?" tanya Aira semakin khawatir karena Ken tak mengucapkan sepatah katapun.
Ken menarik Aira ke dalam pelukannya dan menyesap aroma lemon dari leher istrinya yang tertutup jilbab. Setidaknya itu bisa membuatnya tenang, melupakan kegelisahannya untuk sementara.
"Ken.." lirih Aira, "Ada orang datang." ucapnya saat melihat seorang pramusaji datang mengantarkan minuman pesanan Aira tadi. Ken segera mengurai pelukannya dan memasang wajah datarnya lagi
Aira sengaja pesan teh hangat di cuaca yang dingin ini. Pramusaji itu kembali membawa beberapa piring di tangan kirinya membuat Minami menepuk lengan Kosuke yang masih berkutat dengan ponsel milik Ken. Berharap aktivitas suaminya itu bisa dijeda dan mengetahui keheranannya.
Pria bermarga Watanabe itu menoleh ke arah pandangan istrinya dan terlihat takjub menyadari apa yang pelayan itu bawa. 4 piring nasi putih dan beberapa lauk di piring yang berbeda. Ingat, hanya menggunakan satu tangan.
Menyusul kemudian tambahan lauk yang lainnya. Pria itu datang lagi membawa 10 piring dengan sebelah tangannya dan meletakkan satu per satu di meja panjang tempat mereka duduk sekarang. Meja berwarna putih ini penuh oleh hidangan khas dengan aroma yang kuat.
"Tarimokasi" ucap Aira sebelum pelayan itu pergi.
(Tarimokasi : terima kasih)
"Nona..." Minami tak yakin dengan makanan di depan mereka.
Ken tak bereaksi sama sekali, sekilas ia mengerutkan kening tapi kemudian segera menetralkannya lagi. Melepas genggaman tangannya pada Aira begitu saja dan mulai melepas jas yang dipakainya. Ia beranjak cuci tangan yang diikuti oleh Kosuke.
"Nona, apa anda yakin kita memesan makanan sebanyak ini?" tanya Minami dengan wajah penuh tanda tanya. Meskipun terlihat lezat tapi tidak mungkin mereka akan menghabiskan semua hidangan bermacam warna itu.
"Ah, sou ka.." Minami mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham.
(sou ka : jadi begitu)
"Dan coba lihat sekeliling kita." Aira bersemangat melihat ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanya Minami tak mengerti. Ia melihat sekeliling, hanya orang-orang yang sedang makan atau berbincang dengan teman makannya.
"Kita makan pakai tangan." Aira menggerak-gerakkan jemarinya di udara.
"Pa... Pakai tangan?" tanya Kosuke terkejut. Ia baru selesai dari cuci tangan dan memperhatikan sekeliling. Memang benar orang-orang itu makan langsung dengan memakai tangannya. Kosuke tidak pernah melihat hal itu sebelumnya.
Ken yang baru saja menyusul duduk mengambil sendok bersiap makan, namun Aira segera merebutnya sambil menggelengkan kepala.
"Ken, kita makan pakai tangan." istri mungilnya itu mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, membujuk si perfeksionis ini merasakan sensasi baru saat makan.
"Aku tidak bisa." tolaknya. Ia menatap ke arah lain dengan tangan bersedekap di bawah dada. Tidak ada satupun orang di keluarganya yang makan dengan tangan, pasti memakai sendok atau sumpit. Kakek akan memukul tangannya dengan rotan jika makan tidak sesuai tata krama yang diajarkan.
"Benar tidak mau makan? Ya sudah." Aira meletakkan sepotong rendang di piringnya dan menyerahkan piring berisi lauk daging sapi di tangannya pada Minami, "Ini rendang. Semua orang mengakui bahwa ini adalah makanan paling enak di dunia. Kalian pasti akan menyukainya." jelasnya dengan bangga.
"Ran... Randan?" Minami kesulitan mengucapkan namanya.
"Rendang, daging sapi yang dimasak dengan bumbu khusus selama berjam-jam. Cobalah." Aira mulai memasukkan suapan pertamanya setelah membaca doa terlebih dahulu.
Kosuke dan Minami saling pandang melihat cara makan nona mereka yang langsung mengambil nasi dengan jemarinya. Sekilas terlihat aneh dan menjijikkan bagi keduanya, tapi ekspresi wajah Aira menampakkan sebaliknya. Ia terlihat sangat menikmatinya.
__ADS_1
"Itadakimasu.." ucap Minami memulai makan.
(itadakimasu : selamat makan)
Minami mencoba meniru yang dilakukan oleh Aira dan membelalakkan mata saat mulai mengunyah makanan di mulutnya.
"Ehmm... Oishii..." ucapnya senang membuat Kosuke melakukan hal yang sama. Meskipun agak kesulitan di awal, tapi pasangan itu mulai menikmatinya.
(oishii : enak)
Ken melirik sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke luar. Melihat hilir mudik kendaraan di jalan raya, menerjang hujan yang mengguyur ibukota. Tepat saat mereka masuk ke restoran, hujan lebat datang. Memaksa orang-orang tertahan di tempat ini sampai hujannya sedikit mereda. Terlalu berbahaya berkendara di tengah jalanan yang licin.
Ken menelan ludahnya saat mendengar Minami dan Kosuke memuji makanan yang diberikan oleh Aira. Mereka mencoba ayam pop, sate padang, dan beberapa hidangan lain. Sejujurnya ia juga lapar, tapi egonya bersikeras tidak akan makan dengan tangan seperti yang lainnya. Apa kata dunia jika ada yang tahu perilaku anehnya ini.
"Buka mulutmu.. Aa..." pinta Aira memajukan tangannya berniat menyuapi Ken yang masih merajuk.
"Aku tidak lapar." jawabnya ketus.
Krukk kruukkk
Mata Ken membulat, perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat. Aira tersenyum mendengar suara perut Ken yang masih memalingkan wajahnya. Ia mendekat dan berbisik di telinga suaminya.
"Kalau masih menolak makan, aku akan tinggal di hotel, kamu pulanglah sendiri ke apartemen. Jangan memintaku ikut denganmu." Aira mulai menjauhkan piringnya, menggoda Ken.
Ken perlahan menoleh dan membuka mulutnya dengan wajah memerah menahan malu. Ia mengunyah makanannya sambil menatap manik mata Aira yang terlihat bahagia, tak ada kekhawatiran seperti yang ia lihat beberapa hari terakhir. Minami dan Kosuke tersenyum melihat sikap kekanakan Ken yang tiba-tiba muncul jika berhadapan dengan Aira. Tuan muda mereka benar-benar telah jatuh cinta.
Suapan kedua kembali masuk ke mulut Ken. Ia bahkan tak malu menunjuk ayam goreng kremes di piring, meminta Aira menyuapinya dengan lauk itu.
"Kamu suka?" tanya Aira senang melihat Ken makan dengan lahap. Mungkin benar kata orang tua jaman dulu, taklukkan pria dengan perut mereka. Jika mereka kenyang, tak akan ada masalah kedepannya.
Satu jam berlalu, mereka selesai menikmati hidangan di atas meja dan merasa kenyang. Ken akhirnya mau makan dengan tangannya sendiri bahkan sampai meminta ayam kremes lagi. Ia sangat menyukainya, tak peduli pada pandangan Kosuke yang seolah siap mengolok-oloknya. Hujan di luar mulai reda, tersisa rintik gerimis yang terasa sendu jika dipandang sekilas.
"Ayo pulang." Aira kembali setelah membayar tagihan di kasir.
Dua pasang suami istri itu berjalan keluar restoran dengan menggandeng pasangan masing-masing. Pengalaman baru yang takkan terlupakan untuk mereka.
"Aku sudah pesan taksi online yang akan mengantar kalian ke hotel. Besok temanku akan menemui kalian, dia akan jadi pemandu wisata kalian selama disini. Tanyakan apa saja jika ada yang belum dimengerti. Hari ini cukup sampai disini, kita bisa bertemu lain kali. Aku dan Ken tidak bisa menemani kalian, masih ada sesuatu yang harus diurus." jelas Aira panjang lebar.
"Terima kasih nona. Tolong jaga kesehatan selama aku tidak ada di sisimu." pinta Minami sebelum memeluk puannya dan masuk ke dalam mobil berwarna putih yang membawa mereka ke hotel untuk istirahat.
Aira dan Ken sudah mengatur semuanya mulai dari penginapan, tiket pesawat, daftar destinasi wisata yang akan mereka kunjungi, bahkan menyewa tour guide profesional selama sebulan penuh yang akan menemani mereka keliling Indonesia.
(tour guide : pemandu wisata)
"Kita pulang?" tanya Ken sembari menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin, "Apa kamu sakit?" Ken terlihat khawatir.
"Tidak, aku hanya lelah." jawab Aira sambil tersenyum. Ia sempat terlihat memikirkan sesuatu saat melihat kepergian Minami, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi kembali tertahan.
Ken membukakan pintu untuk Aira dan membimbingnya masuk. Mereka duduk di bangku penumpang dan memberikan alamat yang akan mereka tuju pada driver berusia 50 tahunan itu.
"Kamu lelah?" tanya Ken mengelus puncak kepala istrinya yang hanya dijawab dengan anggukan. Aira mulai memejamkan matanya setelah bersandar di bahu Ken. Tiba-tiba saja kantuk menderanya dan membuatnya masuk ke alam bawah sadar tak lama kemudian. Ken menahan kepala Aira agar tidak terjatuh.
40 menit berlalu. Ken menggendong Aira sampai di apartemen dan membaringkannya perlahan di ranjang. Dengan telaten ia melepas sepatu yang dipakai istrinya dan menyelimuti tubuh mungil itu sebatas perut.
"Arigatou.." bisik Ken lalu mencium kening istrinya penuh kasih. Ia mengamati wajah ayu Aira yang tengah terlelap dan mencium kedua matanya bergantian, berharap tidak akan melihat sorot kesedihan lagi di sana. Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
(Terima kasih)
*******
__ADS_1
Selamat datang di Season 2 Gangster Boy. Hope you'll enjoy it 🤗
Hanazawa easzy ^^