
"Kaori-chan, tolong ajak senior kemari. Kita makan bersama." ucap Aira ringan seolah tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka.
Tak
Ken memukul sendok nasinya dengan kasar, memberikan kode pada Aira bahwa ia tidak suka dengan sikap Aira yang begitu baik pada dua orang yang hampir membunuhnya.
"Kita harus memuliakan tamu. Jangan merajuk lagi." ucap Aira sambil mencium pipi suaminya yang sedikit membungkuk.
Kedekatan mereka berdua tak lepas dari pandangan Shun yang berjalan di belakang Kaori. Ia kembali mengingat pernyataan Kaori hari itu.
Aku tidak yakin bisa memaafkan orang yang meracuniku dua kali, bahkan mengancam keselamatan nyawaku. Tapi dia bisa melakukannya. Bersikap seolah tidak ada kesalahan apapun yang ku lakukan sebelumnya, dia bahkan meminta tolong padaku untuk ikut bergabung bersamanya. Ingat, minta tolong bukan memerintah. Hatinya lembut.
"Apa dia bukan manusia?" tanya Shun pada Kaori dengan lirih.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya? Ketulusan hatinya menyentuhku. Jadi jangan coba-coba menyakitinya atau aku sendiri yang akan membunuhmu." jawab Kaori serius.
"Itu membuatku takut." ucap Shun sinis.
"Kamu takut padaku?" Kaori menatap Shun yang berdiri di sampingnya.
"Aku takut tidak bisa mengendalikan diri seperti sebelumnya jika hanya berdua dengannya. Dia benar-benar menarik perhatianku." gumam Shun namun masih bisa Kaori dengar dengan jelas.
Dukk
"Aku pasti akan membunuhmu jika itu benar terjadi!" ucap Kaori setelah menyikut pria obsesif itu. Membuat Shun sedikit membungkuk, menahan sakit di sekitar tulang rusuknya. Kaori bertindak bar-bar lagi padanya. Sifat wanita itu berbanding terbalik dengan penampilannya yang cantik dan anggun.
"Daijoubu senpai?" tanya Aira saat atensinya tertuju pada kedua tamunya. Ia menatap Shun yang terlihat memegangi perutnya.
(Apakah kamu baik-baik saja, senior?)
"Tidak apa-apa. Mungkin dia sudah kelaparan." jawab Kaori yang menyeret Shun mendekat ke arah meja makan.
"Maaf harus merepotkan kalian." ucap Kaori canggung saat mendapati Ken ikut sibuk menata makanan di meja.
"Tidak harus minta maaf. Aku senang ada teman makan, suasananya jadi sedikit ramai." jawab Aira tulus. Senyum manis terus tersimpul di wajahnya membuat Shun tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Aira.
"Apa kalian tidak takut kami menaruh racun di mangkuk dan sumpitnya?" canda Ken yang terdengar seperti sebuah sindiran, membuat Shun menatapnya seketika.
"Keenn..." panggil Aira lembut sambil menarik tangan suaminya, "Tidak baik mengatakan hal-hal buruk di depan makanan." bujuknya agar Ken berhenti menyudutkan kedua tamu mereka pagi ini.
Aira menyajikan dua buah nampan bulat untuk kedua tamunya. Mereka menatap hidangan masing-masing dengan sedikit heran. Hanya semangkuk nasi, beberapa potong tamagoyaki (telur gulung) dan semangkuk sup. Tidak ada hidangan lain seperti yang biasa tersaji di meja makan orang Jepang.
"Aku tidak tahu apa ini akan sesuai dengan selera kalian. Aku dan Ken terbiasa dengan makanan simpel dan tidak terlalu banyak jenisnya." ucap Aira seolah bisa membaca pemikiran kedua tamunya yang masih terdiam menatap hidangan yang ia sajikan.
__ADS_1
"Kalian bisa makan di tempat lain jika merasa hidangan dari istriku tidak layak di konsumsi." cetus Ken datar. Aira meremas punggung tangan suaminya yang tergeletak di meja, memintanya jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi.
"Ayo makan selagi supnya masih hangat." ajak Aira kembali mencairkan suasana.
"Itadakimasu..." ucapnya setelah membaca doa dalam hati.
Mereka berempat menikmati hidangan pagi itu dalam diam, salah satu etiket makan yang sangat dijaga oleh orang Jepang. Sangat berbeda dengan kehidupan orang barat yang justru sengaja mengobrol saat makan. Benar-benar bukan hal yang patut dibudayakan, bukan?
Aira dan Kaori sedang membereskan peralatan makan mereka saat Ken dan Shun memilih duduk di balkon yang menghadap ke luar. Menikmati keindahan kota Tokyo yang berselimut salju.
Musim dingin kali ini berhasil menyepuh ibukota Jepang itu menjadi putih seluruhnya. Membuat siapa saja enggan keluar rumah. Di kejauhan tampak mobil pembersih salju mulai bekerja mengkondisikan jalan agar bisa dilewati kendaraan.
Beberapa menit lagi adalah jam sibuk dimana orang-orang berbondong-bondong pergi ke tempat kerja mereka dengan kendaraan pribadi. Saat cuaca semakin dingin seperti ini, beberapa orang memilih menggunakan kendaraan pribadi mereka daripada berjalan menuju stasiun kereta.
"Aku tidak akan menyerah." ucap Shun memulai percakapan.
"Itu tidak akan mudah. Istriku tidak akan berpaling padamu. Dia cukup bijak untuk memilih mana yang harus ia pertahankan dan mana yang semestinya ia tinggalkan." jawab Ken yakin.
"Kenyataan bahwa aku yang bertemu dengannya lebih dulu saat di Thailand, tidakkah itu mengusikmu? Dia merebut perhatianku jauh sebelum kalian bertemu." ungkap Shun bangga.
"Tapi akulah yang menjadi suaminya, ayah dari anak yang dikandungnya sekarang." bela Ken, mulai merasa geram karena tamunya itu bersikeras menunjukkan obsesinya pada Aira.
"Tanpa antivenom dariku, mereka tidak akan bertahan." Shun memamerkan evil smile andalannya.
"Senior bukan Tuhan ataupun malaikat pencabut nyawa. Istriku percaya Tuhan yang menggenggam dan melepaskan nyawa seseorang. Manusia hanya pion-pion yang diatur oleh 'Tangan Tuhan'. Jika Tuhan berkehendak maka tidak ada satupun manusia yang bisa mencegahnya. Dia tidak tertarik lagi pada antivenom andalanmu itu. Itulah sebabnya kami memutuskan hubungan denganmu." jelas Ken.
Shun terdiam. Ia mencerna perkataan Ken yang di dengarnya. Bagaimana mungkin itu terjadi? Apa itu artinya Aira tidak takut pada kematian yang mengintainya?
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kaori yang membawa empat cangkir teh hijau dan beberapa buah kue muffin di atas nampan.
"Bukan apa-apa." jawab Ken sembari memilih duduk di satu sudut kursi yang terdapat di balkon itu. Tangannya meraih tombol lampu dan mematikannya. Hari sudah cukup terang, jadi sinar lampu di bawah kursi yang didudukinya tak ada gunanya.
"Dimana istriku?" tanya Ken karena beberapa menit berlalu tapi Aira tidak tampak bergabung dengan mereka.
"Dia sedang berganti pakaian." jawab Kaori.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ken pada Kaori.
Deg
"Apa yang kamu bicarakan? Hubungan kami tidak seperti itu." sanggah Kaori dengan canggung. Jantungnya berdegup cepat mendengar serangan dari Ken.
"Bukankah kamu menyukainya sejak dulu? Jika tidak, bagaimana mungkin kalian bekerja sama tanpa ia memberikan imbalan apapun padamu?"
"Itu... Sepertinya kamu salah paham." Kaori coba menolak pemikiran Ken. Ia menyimpan helaian rambutnya ke belakang telinga, kebiasaannya saat gugup.
__ADS_1
"Kamu menyukaiku?" tanya Shun pada Kaori. Netranya menatap tajam wanita yang datang bersamanya pagi ini.
"Ti.. Tidak. Bukan begitu. Aku hanya..." Kaori kesulitan menyangkal perasaannya sendiri dan berakhir dengan menundukkan kepala. Ia tidak bisa menjawabnya.
"Bukankah sejak awal aku sudah menegaskan bahwa aku tidak akan menggunakan hati? Aku tidak pernah menggunakan perasaan saat bekerja dengan siapapun. Kita bersama karena kamu yang datang mengulurkan tangan padaku. Aku tidak pernah sekalipun memohon bantuanmu. Jadi jangan pernah berharap lebih tentang hubungan kita. Satu-satunya orang yang akan menjadi pendampingku adalah Aira, tidak ada yang lain." Shun mengucapkannya dengan nada dingin dan menusuk.
PLAKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Shun, membuatnya memerah dan terasa perih. Wanita hamil itu berdiri di ambang pintu yang menghubungkan balkon dengan ruang tengah saat Shun mulai berbicara. Jadi hanya cukup mendekat beberapa langkah dan Aira bisa menampar pipi orang tidak tahu diri itu.
"Apa kamu gila?" tanya Aira yang kini berdiri dua langkah di depan Shun yang masih tertegun. Ia syok mendapat tamparan dari wanita yang berhasil merebut hatinya.
"Aku salah menilaimu, senior." ucap Aira dengan ekspresi penyesalan di matanya, membuat Shun membulatkan matanya.
"Kau tahu betapa aku membencimu karena kejadian sebelumnya? Aku ingin menguburmu hidup-hidup agar tidak lagi melihat wajahmu yang menjijikkan. Aku melupakan itu dan berharap kamu menyerah dengan obsesimu yang tidak masuk akal. Aku wanita yang telah menikah dan tidak ada jalan untukku menjadi milikmu. Satu-satunya cara untuk membuatmu bahagia adalah menemukan adikmu dan membayar lunas rasa bersalahmu padanya. Aku melakukan semua itu demi kasih sayangmu pada Mone-chan." ungkap Aira panjang lebar membuat Shun mematung di tempatnya.
"Aku tahu rasanya sendiri tanpa ada orang yang menggenggam tanganku, jadi aku tidak ingin senior merasakan hal itu lagi. Aku ingin menemukan Mone-chan dan mengembalikan kebahagiaan seorang kakak yang melindungi adiknya, tapi kenyataan bahwa senior tidak memiliki hati pada siapapun mengusikku. Aku menilaimu terlalu tinggi. Jadi keinginan untuk menemukan adikmu hanyalah karena rasa bersalah pada tuan Kamishiraishi yang sudah mengorbankan nyawanya hari itu? Bukan kasih sayang seorang kakak pada adiknya? Apa aku salah?" tanya Aira membuat Shun menundukkan kepalanya.
Aira beranjak pergi mengambil setumpuk kertas yang ia siapkan di sebelah televisi layar datar yang ada di ruang tengah apartemennya.
"Ini semua data tentang keberadaan adikmu yang bisa ku dapatkan. Aku menyerah dan tidak akan ikut campur pada urusan kalian lagi." ucap Aira sambil meletakkan berkas itu di meja.
"Ah Kaori-chan, hari ini jadwalku menemui dokter. Apa kamu bisa menemaniku? Ken sepertinya akan sedikit sibuk di kantor." Aira mendekat ke sisi badan Kaori dan meraih jemarinya yang terasa dingin.
Kaori mengangguk sekali, ia tahu Aira berusaha menyelamatkannya dari situasi tidak mengenakkan ini.
"Ken, aku pergi." pamitnya setelah mencium tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu." pinta Ken setelah mengecup kening istrinya. Aira tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui permintaan suaminya.
"Ayo.." Aira menarik tangan Kaori menjauh dan berakhir menghilang di balik pintu. Meninggalkan Ken dan Shun yang masih berdiam di balkon.
"Aku tidak akan meminta maaf atas perbuatan istriku tadi." ucap Ken sambil berlalu. Ia harus segera pergi ke kantor sebelum terjebak macet di jalanan.
*****
Ish... Sebel sama Shun yang ngga tau diri 😑
Tapi, gimanapun juga dia tetep cinta pertama author 😍😄😄
Arigatou gozaimasu untuk semua like, komen, vote & waktu yang kalian gunakan disini. Gomen ne jika masih ada typo, salah tanda baca atau apapun itu yang membuat bacaan kurang nyaman dinikmati. Author masih terus belajar untuk menyempurnakan karya unfaedah ini. See you next day 🤗
Jaa mata ne,
Hanazawa easzy ♡
__ADS_1