
Kosuke bersiap menjelaskan fungsi earpiece pada Yamaken, termasuk cara menggunakan alat tersebut.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya sebuah suara yang menignterupsi dua pria berbeda usia ini, membuat keduanya menoleh.
"Selamat datang, Nona," sapa Kosuke, seketika berdiri dan menundukkan kepalanya sekilas.
"Murasawa-san, tidak perlu terlalu formal padaku. Aku hanya datang untuk memberikan ini." Mone mengulurkan sebuah flasdisk warna hitam pada asisten pribadi Yamazaki Kenzo ini.
"Disana berisi data-data keuangan pribadi Anna. Ada beberapa aliran dana besar yang mencurigakan. Maaf merepotkanmu untuk mencari informasi tentang orang-orang itu. Aku ada agenda lain yang harus dilakukan."
"Baik. Saya akan segera memeriksa orang-orang ini." Kosuke mengangguk dua kali, sudah menangkap dengan jelas permintaan Mone padanya. Gadis ini jenius, hampir sama seperti kakak sepupunya, Aira. Mereka memiliki mata dewa yang bisa menembus piranti elektronik mana saja. Mengesankan.
"Ada yang bisa saya bantu lainnya?"
Mone menelengkan kepalanya ke samping. "Umm, sepertinya tidak ada."
Tanpa aba-aba, Mone mengambil kotak berisi earpiece di tangan kiri pria ini.
"Siapa yang akan menggunakan earpiece?" Mone memandang kekasiihnya, "Kamu?"
Yamaken berdiri dan mengangguk sekali. "Kamu tahu cara menggunakannya?"
Mone mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum miring. "Walaupun aku tahu, tapi aku tidak akan mengambil alih situasi yang ada. Minta Murasawa-san yang menjelaskan saja. Dia lebih ahli memberikan pengarahan pada orang baru."
"Ya. Aku memang orang baru. Jadi, bolehkan aku memanggilmu senior? Bukankah kamu datang lebih dulu ke dunia gelap ini?"
"Heih? Mau jadi juniorku?" Mone terkekeh. "Tidak perlu. Kita akan melangkah bersama. Aku dan kamu, kita ada di kapal yang sama. Tidak ada senior junior, kita akan bergandeng tangan, saling melengkapi satu sama lain. Itu saja."
"BIsa kita mulai sekarang?" tanya Yamaken, kembali mengalihkan pandangan pada Kosuke.
"Baik." Kosuke kembali duduk setelah mempersilakan Mone untuk duduk dengan isyarat tangannya. "Kita mulai sekarang."
Kosuke membuka kotak kecil di hadapannya dan mulai sibuk mengatur beberapa hal di atas meja.
"Saya yakin Anda pernah melihat ini sebelumnya." Kosuke mengangkat alat bantu dengar di tangannya, menatap Yamaken dan Mone bergantian.
Yamaken mengangguk semenatara Mone hanya diam mendengarkan.
__ADS_1
"Awalnya earpece ini digunakan untuk menerima pangggilan telepon seperti halnya earphone atau headphone." Kosuke menggoyang-goyangkan ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam saku.
"Earpiece sekarang ini identik digunakan sebagai alat komunikasi rahasia yang banyak digunakan oleh anggota pasukan pengawal khusus."
"Ah, aku sering melihatmu menyentuhnya dengan satu jari. Apa itu untuk mengaktifkan fungsinya?"
Kosuke tersenyum. "Anda cukup jeli, Tuan." Pria yang sebentar lagi menjadi ayah ini mencontohkan earpiece warna putih yang biasa dipakainya. "Seperti ini?"
Yamaken mengangguk. "Benar."
"Gerakan mengangkat satu tangan dan menyentuh telinga ini sebenarnya hanya refleks saja. Tidak ada hal khusus, semua orang yang memakai alat bantu dengar akan melakukan hal ini."
"Dorongan pelan yang dilakukan oleh jari itu, kami dilakukan agar bisa mendengar lebih jelas suara yang diberikan dari perangkat lain. Kita bisa menyambungkannya dari ponsel atau media yang lainnya. Saya akan mencontohkannya nanti. Silakan Anda coba."
Kosuke memberikan earpiece warna hitam yang baru ia buka dari kemasan pada tamunya.
"Dengan mendorongnya sedikit lebih ke dalam seperti ini," cetus Kosuke sambil mencontohkan. "Akan membuat fokus kita lebih terjaga, terlebih lagi jika kita berada di ruangan yang bising atau ada suara lain yang mengganggu."
Yamaken meniru apa yang Kosuke contohkan, sedikit mendorong alat bantu dengar di telinganya agar menempel lebih dalam. Udara di gendang telinga terkunci, membuat suara lain terhalang masuk.
"Bagaimana cara menggunakannya?" Yamaken semakin antusias.
"Ah, tolong berikan saya ponsel Anda." Kosuke mengulurkan tangan, meminta smartphone milik tuan muda di hadapannya.
"Ponsel?" Yamaken merogoh sakunya dan memberikan benda pipih itu setelah membuka setelan kunci dengan sidik jarinya. "Ini."
"Saya akan memasang aplikasi Ste*lth Audio Player di ponsel Anda. Ini dibutuhkan untuk menghubungkan alat bantu dengar yang akan Anda gunakan dengan panggilan ponsel atau audio apapun yang terpancar dari sini."
Yamaken melongok, melihat apa yang tengah Kosuke lakukan dengan ponselnya.
"Setelah terinstal seperti ini, Anda harus membuka apllikasinya dan memberikan izin atau permission yang diminta."
Bip bip
Terdengar suara yang tertangkap indera pendengaran Yamaken. "Ah, aku mendengarnya. Ini sudah tersambung."
Kosuke mengangguk mantap.
__ADS_1
"Selama ada file audio di smartphone Anda, Anda bisa memutarnya melalui aplikasi yang saya instal barusan. Dan nantinya, suara yang dimainkan ponsel ini otomatis terdengar di telinga Anda melalui alat itu."
"Apa bedanya earpiece, earphone, dan headphone? Bukankah tiga alat ini sama saja fungsinya?"
Kosuke tersenyum. Dia memang berniat menjelaskannya, tapi terdahului dengan pertanyaan Yamaken.
"Tentu saja sedikit berbeda. Fungsi ketiga alat ini sama-sama sebagai alat bantu dengar, tapi sepesifikasinya yang lain." Lagi-lagi Kosuke menatap lawan bicaranya dan Nona di seberang sana bergantian.
"Earpiece sering digunakan untuk misi tertentu dan seringkali alat kecil ini hampir tidak terlihat saat dipakai di telinga. Karena jika lawan mereka melihatnya, mungkin mereka akan dicurigai.
"Jadi, penggunaan alat ini cukup rahasia. Lebih aman lagi jika dipakai seorang perempuan seperti nona Mone ini. Mereka bisa menutupinya dengan helai rambut panjang yang dimiliki masing-masing dan tidak akan membuat orang curiga.
"Sedangkan earphone sendiri lebih berfungsi sebagai alat bantu dengar saat mendengarkan musik. Ada pengaturan audio yang lebih kompleks agar instrumen musik yang terdengar lebih jelas dan berbeda untuk setiap telinga kanan dan kirinya."
"Heih, ada fakta seperti itu?" Mone ikut berceloteh. Dia tidak tahu ada perbedaan mendasar antara earpiece dan earphone. Sebelumnya dia tidak berpikir demikian detailnya.
"Benar. Fungsi utamanya menyambung audio musik, sama halnya dengan headphone."
"Ah, headphone ini lebih keras suaranya?" tanya Yamaken memastikan.
"Benar, Tuan. Suara yang tersambung melalui headphone lebih keras dan lebih maksimal dibandingkan dua alat bantu dengar yang sebelumnya kita bahas."
Lagi-lagi Yamaken mengangguk. "Aku menangkap jelas semua yang kamu sampaikan."
"Anda bisa menggunakannya mulai sekarang. Tuan Kenzo akan menghubungi Anda nanti."
Kali ini sebuah gelengan yang terlihat. "Aku yang akan menghubunginya nanti jika diperlukan."
"Hey, memangnya apa yang akan kamu lakukan sampai membutuhkan benda ini?" Mone mendekat, duduk di samping Yamaken dan melepas earpiece yang ada di telinga kanan calon suaminya.
"Kamu akan tahu nanti!"
Yamaken mencubit hidung Mone, membuat gadis itu mengerucutkan bibir.
Apa yang Yamaken rencanakan? Sampai jumpa di bab berikutnya. See you...
Hanazawa Easzy
__ADS_1