
Minami datang ke kediaman Ken dan Aira, berniat memberitahu nona-nya tentang kondisi fisik Ken yang memburuk dan mendapatkan pemeriksaan dokter. Ia bahkan sampai mengabaikan panggilan suaminya dan bersikeras akan tetap mengungkapkan rahasia itu pada ibu tiga anak ini.
Siapa sangka, urusannya tak akan mudah. Minami bertemu dengan Mone di depan rumah mewah itu. Hal itu membuatnya sedikit meragu, akan tetap mengatakan rahasia itu pada nyonya muda atau tidak. Di saat yang bersamaan, ternyata nyonya Sumari ada di sana. Beliau tiba-tiba muncul di balik pintu, membuat Minami kehilangan kata-kata detik berikutnya.
"Apa yang kalian lakukan di depan pintu?" tanya nyonya Yamazaki dengan kening berkerut.
Deg!
Jantung Minami seolah berhenti satu detakan. Ia tahu betul seberapa berbahayanya wanita paruh baya ini jika tahu tentang kondisi putra sulungnya.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Minami sambil menundukkan kepalanya selama beberapa detik.
"Ada urusan penting apa sampai kamu datang kemari?" Nyonya Sumari menatap wanita hamil empat bulan itu dengan penuh tanda tanya. Tidak biasanya asisten pribadi ini datang. Jelas-jelas dia sudah kembali aktif di kantor dan melepaskan tanggung jawabnya sebagai pendamping menantunya.
"Saya datang untuk menjemput nyonya Khumaira." Minami berusaha menunjukkan ekspresi yang sewajarnya agar nyonya di depannya tidak curiga.
"Dia memintamu datang?" selidik wanita 52 tahun ini. "Tapi dia tidak mengatakan apapun sebelumnya."
Minami hanya tersenyum, tidak membantah maupun mengiyakan pertanyaan itu. Ini jurus pamungkasnya untuk bisa melewati 'gerbang hidup' paling berbahaya di keluarga yang telah ia layani sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Dia ada di kamar anak-anak. Masuklah." Nyonya Sumari menggeser sedikit badannya, mempersilakan asisten pribadi itu untuk masuk. Ia tahu ada yang Minami sembunyikan, tapi dia tidak terlalu mempedulikannya. Toh Aira dan Ken sudah dewasa dan berpengalaman. Mereka bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja oleh orang lain.
"Terima kasih." Minami segera masuk dan meninggalkan wanita mengerikan itu bersama Mone di ambang pintu.
"Aira memintamu datang?" kali ini pertanyaan to the point itu menyasar Mone.
Gadis dua puluh tahun itu menggeleng, "Aku sengaja datang. Ini inisiatifku sendiri. Aku tidak tahu ibu ada di sini," jawab Mone canggung.
"Jangan memanggilku ibu. Kamu belum resmi menjadi putriku!" ketus nyonya Sumari sambil lalu membuat Mone terhenyak di tempatnya berdiri. Ia hanya bisa menatap punggung wanita yang kini semakin jauh darinya. Sepertinya hubungan mereka yang cukup dekat, tak lagi sama sekarang ini.
__ADS_1
Sejak melihat foto-foto kedekatan Mone dengan seorang dokter di tempat kerjanya, nyonya Sumari menjadi sedikit antipati pada gadis ini. Dia tidak suka jika seseorang merebut calom istri putranya. Aira secara khusus meminta Ken untuk tidak mencampuri urusan Mone dan Yamaken. Tentu saja itu artinya dia juga tidak bisa melakukan apapun. Jika dia tetap bertindak, maka Ken yang akan murka.
'Bukankah ibu yang memintaku melakukannya? Lalu kenapa sekarang aku tidak boleh memanggilmu ibu?' lirih Mone dalam hati. Dia terluka oleh kata-kata tajam yang nyonya Sumari ucapkan. Wanita itu jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya.
Mone berbalik badan. Ia memilih pergi dari kediaman kakak sepupunya ini. Lagipula Aira akan pergi bersama Minami, dia tidak ingin bersama wanita kejam itu lagi. Atau berbagai kalimat sarkasme yang lagi-lagi akan didengarnya.
Di saat yang bersamaan, Minami sudah ada di dalam kamar baby triplet bersama Aira. Wanita itu duduk di depan nona-nya yang tengah menyusui Si Cantik Ayame.
"Bagiamana keadaanmu?" tanya Aira sambil tersenyum. Ia begitu senang bisa bertemu dengan asisten pribadi yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Selain karena usia Minami yang lebih tua darinya, dia juga sudah begitu berjasa setahun belakangan. Itu yang membuat Aira merasa dekat.
"Baik. Sangat baik," jawab Minami antusias, namun raut khawatir tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya dan Aira menangkap hal itu.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu?" selidik Aira.
Sebuah gelengan Minami lakukan, mengisyaratkan bahwa dugaan nona-nya ini keliru.
"Ada apa? Katakan saja," pinta Aira, meraih tangan Minami dalam genggamannya.
"Maafkan saya. Saya memberikan obat tidur pada Tuan." Minamo membuat pengakuannya.
"Obat tidur? Apa maksudmu?" Aira mengerutkan keningnya, tidak tahu apa yang akan wanita hamil ini bicarakan dengannya.
Minami menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tentang kondisi kesehatan Kenzo, membuat Aira terkejut. Ia tidak menyangka Ken bisa menyembunyikan fakta itu darinya. Aira memang melihat wajah Ken sedikit pucat pagi ini, tapi dia tidak menyangka situasinya separah ini.
Minami juga mengaku telah bekerja sama dengan dokter klinik untuk memberikan obat tidur pada tuan mudanya.
"Maafkan kelancangan saya ini. Saya tidak bermaksud buruk sama sekali. Itu saya lakukan agar tuan muda istirahat total. Jika tidak demikian, dia pasti akan tetap memaksakan dirinya untuk mengurus berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sekali lagi, tolong maafkan saya."
Aira speechless, bukan hanya karena pengakuan terakhir Minami, melainkan atas semua hal yang ia dengar ini. Tentang Ken yang begitu keras kepala dan menolak pergi cek kesehatan, Kosuke yang harus kerepotan meminta maaf pada pihak rumah sakit, dokter klinik yang mendiagnosis suaminya terkena anemia, dan berbagai fakta yang membuat kepalanya berputar.
__ADS_1
Wanita berjilbab itu segera menyudahi aktivitasnya menyusui Sang Bayi. Perlahan ia membaringkan Aya yang sudah terlelap, kembali ke dalam box.
"Sakura, masuklah," pinta Aira pada pengasuh bayinya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. Dia pergi begitu mendengar Minami mengatakan ada sesuatu yang ingin ia katakan. Sakura tahu, pastilah itu sesuatu yang penting. Tidak seharusnya ia berada di ruangan yang sama demi menjaga privasi Minami dan Aira.
Gadis 26 tahun itu segera masuk dan mendekat ke arah Aira yang terlihat khawatir.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Aku akan pergi ke kantor, jaga anak-anak. Ada ibu di bawah, beliau akan ada di sini sampai sore nanti. Tolong siapkan botol ASI steril untukku. Aku buru-buru, tidak sempat pumping. Nanti seseorang akan mengirimkannya ke rumah."
*Pumping ASI adalah proses memerah ASI dari payudara dengan menggunakan pompa. ASI yang telah dipompa tersebut, kemudian diberikan kepada bayi melalui botol susu, atau disimpan di freezer untuk dikonsumsi lain waktu.
"Baik, Nyonya. Saya mengerti." Sakura menunduk sekali. Ia segera pergi untuk menyiapkan permintaan puannya.
"Kenapa membawa barang-barang itu? Apa kamu akan pergi dalam waktu lama?" tanya nyonya Sumari yang tiba-tiba masuk kamar dan melihat barang bawaan Aira.
"Itu ... " Aira bimbang. Ia tidak ingin mengatakan kondisi Ken, tapi juga tidak mungkin menyembunyikannya.
"Ada apa?" tanya nyonya Sumari ingin tahu. Ia melihat dengan jelas ekspresi kekhawatiran dari wajah menantunya.
"Bu, sebenarnya ...."
...****************...
Dag dig dug 😥
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1