Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Mission Failed


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam saat dua orang pria masuk ke sebuah apartemen mewah di pusat kota. Mereka tidak menyalakan lampu sama sekali dan langsung masuk ke bagian rumah yang lebih dalam.


"Selamat malam, Tuan," sapa Minami begitu mendengar langkah kaki mulai menapaki ruang tengah yang cukup luas ini.


"Hmm," jawabnya bergumam.


"Nona terlelap lebih awal malam ini. Sepertinya dia sedikit lelah setelah pergi spa yang dilanjut berbelanja bersama nona Kamishiraishi," lapor wanita 30 tahunan itu.


Ken terdiam di tempatnya berdiri. Ia menatap kamar utama dan kamar tamu bergantian.


"Saya akan menyiapkan kamar tamu untuk Anda," ucap Kosuke sebelum berlalu.


Minami mengerutkan keningnya. Ia heran kenapa suaminya berkata akan menyiapkan kamar tamu, bukankah tuan Yamazaki tidak pernah bermalam di sana? Pria itu adalah bagian tak terpisahkan dari Aira, jadi tidak mungkin mereka akan pisah ranjang malam ini.


"Ken?! Akhirnya kamu pulang. Aku merindukanmu." Aira keluar dari dalam kamar dan segera mendekat ke arah suaminya.


"Jangan mendekat!" perintah Ken dengan nada dingin dan tegas. Ia bahkan mundur dua langkah, membuat Aira terpaksa berhenti di tempatnya berada sekarang.


"Eh?" Aira sedikit tersentak. Tidak biasanya Ken bersikap begitu dingin padanya. Suaminya itu pasti akan memeluknya dan mencium keningnya. Itu sudah menjadi rutinitas wajib sebelum dan setelah bepergian.


"Bukan begitu, maksudku, aku akan membersihkan diri lebih dulu." Pria itu segera berlalu masuk ke kamar utama, tempat dimana Aira tidur sebelumnya. Rencananya untuk masuk ke kamar tamu terpaksa diurungkan agar Aira tidak curiga.


'Ada apa dengan Ken? Kenapa dia terlihat aneh? Apa aku salah menilainya? Dia terlihat canggung saat menatap mataku. Apa pekerjaannya hari ini sungguh berat?' Aira membatin.


Belum habis keheranan Aira, Kosuke muncul dari kamar tamu. Ia tampak sedikit gugup saat melihat Aira di ruang tengah, seolah takut rahasianya akan terbongkar.


"Selamat malam, Nona," sapa Kosuke dengan nada sebiasa mungkin, namun terdengar sedikit bergetar.


'Ada apa ini? Apa mereka berdua menyembunyikan sesuatu dariku?'


"Malam," ucap Aira dengan tenang, menyembunyikan berbagai tanya yang kini mulai menghantui kepalanya. "Karena Ken sudah pulang, kalian bisa kembali ke rumah." Wanita hamil itu melangkahkan kakinya, hendak menyusul Ken di dalam kamar. Setidaknya ia harus menyiapkan piyama tidur untuk suaminya.


"Tung ... tunggu," cegah Kosuke. Ia bahkan menghalangi jalan Aira menuju ruangannya sendiri.


'Heh? Apa-apaan ini?' Aira mulai merasa kesal, namun hanya bisa mengerutkan keningnya sambil membatin.


"Tuan muda belum makan malam. Bisakah Anda membuatkan sesuatu untuknya?" tanya Kosuke setelah menundukkan badannya sekilas. Ia sudah begitu lancang menghalangi jalan menantu kesayangan keluarga Yamazaki ini.


"Menyingkir dari jalanku!" perintah Aira tegas.


"Maaf." Kosuke terpaksa berjalan dua langkah ke samping kiri, membiarkan nonanya lewat.


Aira masuk ke dalam kamar dan mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Tampaknya urusan bisnis Ken hari ini tidak begitu lancar. Jika tidak, mana mungkin ia akan bersikap seaneh ini.


Wanita hamil itu mengambil satu set piyama lengan panjang warna hitam dari dalam lemari. Semua piyama disana kebanyakan berwarna gelap, bahkan ada lebih dari sepuluh piyama hitam seperti yang ada di tangan Aira saat ini.


Aira menatap pintu kamar mandi berwarja hitam yang menyembunyikan suaminya, berharap pria itu akan lebih baik setelah mandi. Sekarang ia akan melaksanakan tugasnya untuk membuat hidangan makan malam.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak pulang?" ketus Aira saat masih mendapati kedua asistennya di ruang tengah. Bahkan kali ini raut wajah Minami ikut menegang, sepertinya Kosuke sudah memberitahukan sesuatu pada istrinya itu.


"Malam ini, saya mohon izinkan kami menginap di sini, Nona." Minami menundukkan kepalanya saat mengatakan permintaan anehnya itu.


"Menginap? Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Aira dengan nada agak tinggi. Ia terlanjur kesal karena merasa pasangan suami istri di depannya ini menyimpan sebuah rahasia.


"Kami hanya ingin menjaga Tuan dan Nona. Besok ada acara sangat penting, yakni peresmian gedung baru itu. Kami hanya ingin memastikan tuan muda bisa beristirahat dengan baik."


Aira mengabaikan penjelasan Kosuke. Pasti ada sesuatu, entah itu ancaman atau sejenisnya yang mungkin membahayakan nyawa Ken, makanya Kosuke dan Minami memaksa tetap ada di sini. Berbagai tanya kembali menggema di lubuk hatinya, namun Aira memilih diam. Ia akan menggalinya sendiri pada Ken nanti. Pria itu tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya.


Aira mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin dan mulai mengolahnya dengan cekatan. Sesekali gerakannya terhenti saat merasa jagoan di dalam perutnya beraksi. Tanpa komando, Minami segera membantu nonanya di dapur, sementara Kosuke memilih masuk ke ruang kerja milik Ken yang ada di sebelah ruang tamu.


"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku, benar 'kan?" tanya Aira tanpa memandang lawan bicaranya. Hanya ada ia dan asisten pribadinya itu di ruangan ini. Tangan Aira sibuk mengiris wortel menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Ia akan memasak sup ayam kesukaan Ken.


"Maafkan saya, Nona."


Aira mengangkat sebelah bibirnya. Ia sudah menduganya, Minami pasti akan tetap tutup mulut. Ia bisa dipercaya dan memiliki tekad yang kuat, tak mudah goyah. Ia akan memegang rahasia yang ia ketahui sebaik mungkin, tidak akan membocorkannya pada orang lain, termasuk Aira.


"Tidak masalah. Aku akan mencari tahu sendiri."


Tiga puluh menit kemudian, Ken keluar dari dalam kamar. Tubuhnya terbalut pakaian hitam yang Aira siapkan tadi.


'Apa dia tidak sempat makan hari ini jadi terlihat sedikit kurus?' batin Aira saat melihat suaminya sedikit lain dari biasanya.


Pria itu langsung duduk di kursi dan memakai celemek makan yang Aira berikan. Minami menyajikan masakan mereka dan bersiap pergi.


"Tapi, Nona ... " Minami enggan menuruti perintah Aira, ia merasa canggung makan bersama. Tapi, melihat wajah nonanya berubah masam, wanita itu langsung menunduk, "Saya akan memanggilnya."


Aira duduk di sebelah Ken dan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya. Ia sengaja mengambil ayam bagian paha kesukaan Ken dan beberapa potong sayuran ke dalam mangkuknya.


"Mau daging asap?" tanya Aira, bersiap mengambil tumis daging asap yang tersaji di atas piring.


"Tidak, terima kasih."


'Eh?' bayin Aira. Ia menatap wajah Ken saat pria itu mengucapkan terima kasih.


'Sejak kapan hubungan kita menjadi seasing ini? Dia benar-benar aneh.' Aira semakin menyadari sesuatu. Ken tidak seperti biasanya.


Aira mengabaikan perasaan di hatinya dan memilih duduk di samping Ken. Kosuke dan Minami segera bergabung dan mulai makan bersama. Sesekali Aira mencuri pandang pada pria di sampingnya yang tengah menyingkirkan daun bawang dari mangkuknya.


'Dia bukan Ken.' batin Aira memastikan keyakinannya. Meski wajahnya sama, tapi Ken dan adik kembarnya tetap memiliki perbedaan. Salah satunya yang kini ia saksikan sendiri. Jika Ken tidak pernah memilih makanan apapun dan melahap semua hidangan di hadapannya, lain lagi dengan Yamaken. Adik iparnya itu tidak menyukai daun bawang yang ada di dalam sup.


Untuk memastikannya, Aira menatap belakang telinga kanan pria di sampingnya. Dan dugaannya benar, tidak ada bekas luka di sana. Padahal Aira ingat betul, ia pernah melihat bekas luka di belakang telinga suaminya saat ia membantu Ken mengeringkan rambutnya.


'Jadi, kamu ingin bermain-main denganku, adik ipar? Kita lihat seberapa hebat kamu bermain peran menggantikan kakakmu.' Batin Aira kembali berucap. Sejak awal ia merasa Ken ini aneh, dan ternyata dia hanyalah 'tiruan'.


"Mau tambah lagi lauknya, Sayang?" tanya Aira. Ia sengaja menggunakan panggilan itu untuk melihat ekspresi Yamaken.

__ADS_1


"Uhukk," Yamaken tersedak demi mendengar panggilan Aira padanya. Ia segera meminum air putih yang Aira ulurkan.


"Ada apa denganmu? Apa aku membuatku terkejut?" pancing Aira. Ia menatap wajah Yamaken yang memerah. Meskipun pria ini bisa memerankan banyak tokoh dorama dan film, nyatanya ia tidak bisa memainkan peran dengan apik kali ini. Misinya untuk menyamar menjadi Ken gagal. Mission Failed.


(Misi gagal)


"Aku sudah selesai." Yamaken beranjak dari duduknya. Ia segera masuk ke ruang kerja Ken untuk bersembunyi. Ia harus menenangkan dirinya agar kakak iparnya itu tidak menyadari bahwa ia hanyalah tiruan Ken.


Aira tersenyum menatap kepergian adik iparnya. Ia meletakkan sumpit di tangannya ke samping mangkuk dan menatap kedua asistennya yang terlihat makan dengan canggung.


"Apa aku membuat kalian ketakutan? Kenapa wajah kalian terlihat begitu tegang?" pancing Aira. Ia membereskan bekas makannya dan Ken, kemudian membawa peralatan keramik itu ke arah wastafel.


Minami segera menyudahi aktivitas makannya dan segera membantu Aira di dapur.


"Biarkan saya yang melakukannya, Nona," pinta wanita yang saat ini juga tengah mengandung buah cintanya bersama Kosuke.


"Aku bisa melakukan ini sendiri." Aira meletakkan piring yang sudah ia cuci bersih ke atas rak yang menempel di dinding.


Aira meninggalkan kedua asistennya. Ia membuat dua gelas susu coklat hangat sebelum masuk ke dalam ruang kerja Ken. Ia ingin melihat bagaimana Yamaken akan berakting di depannya. Selama ini, Ken selalu menolak saat Aira memintanya minum susu ibu hamil. Tapi, Yamaken pasti akan mau meminumnya.


Tok tok tok


"Apa aku boleh masuk?" tanya Aira setelah membuka sedikit pintu di depannya dan melongokkan kepalanya ke dalam. Tubuhnya masih tertinggal di balik pintu.


"Umm, masuklah." jawab Ken tiruan ini. Ia tampak sibuk memilih buku yang tertata rapi di dinding.


"Aku buatkan susu hangat untukmu. Minumlah selagi hangat," pinta Aira dengan senyum terkembang. Ia menyerahkan segelas untuk Ken.


Pria lesung pipi itu langsung meminumnya sampai habis tak bersisa, persis seperti dugaan Aira. Pria ini bukan Ken, melainkan Yamaken. Karena Ken tidak akan minum susu ibu hamil, dia akan menolaknya mentah-mentah, bahkan lebih memilih mendapatkan hukuman daripada menelan cairan manis berwarna coklat itu.


Aira duduk dan meminum susu buatannya sendiri setelah merapalkan doa dalam hati. Yamaken menatapnya dalam diam, ada gurat perasaan bersalah yang tercetak jelas di wajahnya.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa hari ini berjalan tidak seperti harapanmu? Apa ada masalah dengan gedung baru itu?"


"Tidak ada." Yamaken mengambil gelas kosong yang Aira letakkan di atas nampan. Pria itu segera keluar, meminimalisir interaksi dengan kakak iparnya ini.


"Kita lihat, seberapa jauh bakatmu bermain peran," gumam Aira lirih. Ia beranjak kembali ke kamarnya dan menatap potret Ken yang ia simpan di dalam dompet. "Dimana kamu sekarang? Aku merindukanmu."



...****************...


Hwaaaa.... Abang ayang Ken ganteng banget siiiiy 😍😍😍😍😍😘😘😘😘😘😘


Duh, dimana si abang yaa kira-kira? Trus, apa yang bakal Aira lakukan yaa buat ngetes Yamaken? Sampai jumpa episode berikutnya 😉


Jaa ne,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2