Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : You Solved It, Right?


__ADS_3

Hanya tersisa waktu lima detik yang tertera di layar countdown timer clock itu.


5...


"Ai-chan.. Wake up!!"


4...


"DAMN !! Tidak ada waktu lagi."


Ken segera menarik Aira dari atas ranjang dan membawanya tiarap di lantai marmer yang terasa dingin itu. Ia melindungi Aira dengan tubuhnya sendiri, agar istrinya itu aman dari serpihan kaca atau benda apapun yang akan membahayakannya.


3...


2...


Ken semakin mempererat pelukannya, menutup kedua telinga Aira dengan tangannya dari suara ledakan yang mungkin sebentar lagi akan terdengar menggema di ruangan itu. Entah apa yang akan terjadi detik berikutnya, ia pasrah dan hanya bisa menutup matanya.


"Kamisama, tasukete kudasai..." lirih Ken di ambang batas asanya.


(Ya Tuhan, tolonglah kami...)


Jantungnya berdetak sangat kencang, berkali-kali lipat dari sebelumnya. Kemungkinan terburuk adalah ia bisa kehilangan nyawanya, tapi dalam hatinya ia memohon agar istri dan calon buah hatinya terselamatkan. Ia berkali-kali menghadapi bahaya sebelumnya, namun baru kali ini ia merasa begitu ketakutan. Takut wanita yang ia cintai akan terluka.


1...


Tiiiiiiitttt......


Hening


Beberapa detik berlalu, Ken membuka matanya perlahan dan tidak ada yang terjadi pada mereka. Semua bukunya masih tertata rapi di dinding, jendela kaca beberapa meter dari mereka juga masih utuh, tak ada retakan atau bahkan pecahan yang berserakan seperti bayangannya. Tak ada yang terjadi. Hal itu membuat Ken bisa bernafas lega.


Ken meletakkan kepala Aira yang sebelumnya berada di atas tangannya dengan hati-hati. Detik berikutnya ia mendekat ke arah bom yang ada di bawah ranjang dan memeriksanya. Ternyata palsu. Ia membanting benda berwarna merah itu dengan kesal untuk melampiaskan amarahnya.


Ken membaringkan Aira kembali ke ranjang, dan memeriksa keadaannya. Nafasnya semakin melemah membuat Ken khawatir. Tanpa sengaja netranya menangkap sesuatu yang ganjil dengan lengan istrinya.



Terlihat bekas biru kemerahan serta sebuah titik merah di bagian dalam lengan Aira seperti bekas tusukan jarum atau sejenisnya. Mungkinkah seseorang mengambil sampel darah istrinya? Atau seseorang menyuntikkan sesuatu yang membahayakan nyawanya?


Ken mencoba bersikap setenang mungkin. Ia mengambil ponselnya dari atas nakas dan menghubungi tangan kanannya. Terpaksa ia meminta bantuan Kosuke lagi dan mengganggu honey moon asistennya itu.


(honey moon : bulan madu)


"Kosuke, ada tugas untukmu." ucap Ken lugas.

__ADS_1


*******



Ken menatap punggung tangan istrinya yang terpasang sebuah selang/pipa bening yang berfungsi sebagai sarana mengalirnya cairan dari infusan yang akan menuju vena. Air vented berwarna putih melekat bersama infuse set yang terpasang beberapa saat yang lalu. Ken mengingat penjelasan dokter yang memeriksa Aira.


*Air vented adalah lubang kecil yang berfungsi sebagai penyetabil udara dan juga berfungsi sebagai ventilasi ketika memberikan terapi infusan vial.


"Dari hasil pemeriksaan sampel darah nyonya Aira, terdapat kandungan chlorophyll yang cukup tinggi. Penggunaan chlorophyll sebagai obat bius/anestesi biasanya disemprotkan. Hal itu ampuh untuk melumpuhkan atau menenangkan syaraf manusia, sehingga penggunanya bisa tertidur hingga lima jam."


"Selain itu, terdapat trivan propofol yang menjadi salah satu jenis anestesi yang bersifat total. Reaksinya akan membuat penggunanya merasa tenang, rileks, dan seluruh otot akan mengalami relaksasi. Obat bius ini bisa menyebabkan pernapasan dan jantung berhenti."


"Obat bius dapat menyebabkan banyak komplikasi dan bahkan membahayakan bayi Anda, terutama selama trimester pertama. Ibu yang menerima anestesi di usia kehamilan awal dapat melahirkan bayi dengan kecacatan sistem saraf pusat."


"Bayi juga berisiko terkena katarak kongenital dan cacat lainnya seperti hidrosefalus. Selama trimester pertama atau hingga minggu ke-13 kehamilan, organ dan anggota tubuh bayi sedang dalam proses pembentukan. Jika Anda melakukan prosedur yang membutuhkan obat bius di usia kehamilan awal, maka hal ini dapat menganggu perkembangan normal janin."


Ken meraup wajahnya dengan kasar, Aira belum juga sadar sejak seseorang misterius membiusnya 2 jam yang lalu.


"Obat bius yang masuk ke dalam janin bisa menyebabkan cacat lahir, maka kita harus memastikan mengenai tingkat keamanan, risiko, waktu, dan jenis obat bius yang digunakan. Ada beberapa resiko pada penggunaan obat bius saat hamil, antara lain berat bayi lahir rendah."


Dokter wanita itu menatap Ken sambil menjelaskan, "Sebuah penelitian yang dilakukan pada anak-anak menyimpulkan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang melakukan prosedur bius lokal mengalami berat lahir yang rendah. Selain itu ada resiko lain yang mengintai istri Anda, yaitu kematian. Ibu hamil yang melakukan prosedur bius total memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami kematian. Sebagian besar hal ini terjadi akibat sang ibu kesulitan mengatur napas. Untungnya anda segera membawa nyonya Khumaira kemari."


Ken menciumi wajah Aira dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak akan rela jika istrinya itu sampai meninggalkannya. Dia tidak akan melepaskan orang yang sudah membahayakan keselamatan istri dan calon anaknya. Penjelasan dokter masih terngiang-ngiang dengan jelas di telinganya.


"Obat bius dapat meningkatkan kadar racun di dalam tubuh ibu. Racun yang bercampur dengan darah selain membahayakan janin juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi untuk ibu. Komplikasi yang terjadi di organ-organ penting selama kehamilan dapat mengancam nyawa ibu dan keselamatan janinnya."


Dan penjelasan dokter yang terakhir benar-benar membuat Ken frustasi. Ia beralih ke sisi badan Aira yang lain, menciumi punggung tangan istrinya yang terbebas dengan berbagai doa yang ia rapalkan dalam hati. Ia takut pembiusan Aira kali ini menyebabkan racun bisa ular yang orang itu suntikkan beberapa bulan yang lalu kembali aktif.


(rapal : ucap/baca)


Tok tok


Minami masuk dengan raut wajah khawatir. Ia mendekati Aira dan menatap Ken, "Saya akan menjaga nona.."


Ken mengangguk satu kali. Ia beranjak pergi setelah mencium kening istrinya dan membenahi selimut yang menutupi tubuh Aira sampai ke perut. Ada urusan lain yang harus ia selesaikan bersama Kosuke yang menunggunya di dalam mobil.


Tanpa Ken sadari, seseorang memperhatikan kepergiannya dengan seringai terukir di wajahnya. Ia bersembunyi dalam gelap, tidak terpantau dari CCTV keamanan rumah sakit tempat Aira dirawat sekarang.


"Dia menangkap umpannya." lapornya melalui telepon genggam di tangannya.


*******


5.787 km dari Jakarta, Yoshiro mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan tokyo yang mulai tampak lengang. Ia menghentikan mobil Subaru WRX STi warna putih miliknya di halaman belakang kediaman keluarga angkatnya.


__ADS_1


"Dimana Yu?" tanya Yoshiro pada salah satu pelayan yang ia temui di ruang tamu.


"Nona ada di kamarnya." jawabnya sambil menunduk. Ia tidak berani menghadap tuan muda mereka yang nampaknya dalam keadaan emosi yang buruk.


BRAKK


"Siapa yang kalian usik sebelumnya?" tanya Yoshiro begitu melihat adik angkatnya tengah berdiri sambil menatap taman belakang rumah yang tertutup salju.


"Apa maksudmu?" tanya Yu sarkas. Ia berbalik menatap Yoshiro tanpa ekspresi. Sejujurnya ia malas meladeni pria di depannya ini, masih marah pada kejadian sebelumnya. Tapi kenyataannya, ia tidak bisa mendiamkan orang yang berhasil mencuri hatinya beberapa tahun ini.


"Seseorang memasang bom palsu di apartemen Ken dan membius Aira. 8 jam berlalu, tapi sampai sekarang dia belum sadarkan diri." jawab Yoshiro dengan raut wajah khawatir yang sangat jelas, membuat hati Yu kembali teriris.


"Kamu pikir aku tahu siapa pelakunya?" Yu kembali berbalik, menatap hamparan salju yang membuat semuanya tampak putih sempurna. Pemandangan yang indah, berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa panas dan terbakar oleh api cemburu.


"You solved it, right?" tanya Yoshiro yakin.


(Kamu menyelesaikannya, kan?)


Tanpa menjawab apapun, Yu berbalik kembali ke meja kerjanya. Ia menghadapkan laptop berwarna putih miliknya ke hadapan Yoshiro. Disana terpampang foto seseorang yang sangat Yoshiro kenal. Seseorang dari masa lalu mereka yang membuatnya dan Ken tidak bisa terlepas dari jerat dunia hitam yang berusaha mereka tinggalkan.



Shun Oguri, teman seangkatan Yoshiro sekaligus senior Ken di akademi.


*******


Hai readers semua... Kali ini endingnya nggak gantung yaa 🤗


Author usahakan up secepatnya, tapi pelan-pelan yaa. Author harap kalian bersabar, karena nulis itu ngga semudah bikin mie instant yang 5 menit udah siap saji 😂


Btw, disini udah mulai masuk ke konflik gangster lagi. Kalo ada yang tanya, kok alurnya lambat sii? Jujur, author juga masih belajar nulis. Jadi buat bikin satu chapter/episode aja butuh waktu yang lama buat mikir supaya cerita ini enak dinikmati.


Selain itu, author usahakan ada sedikit informasi/ilmu yang bisa author bagi supaya cerita ini bisa sedikit berfaedah untuk pengetahuan kita, bukan cuma cerita halu yang ngga jelas apa gunanya.


Trus, kok ada aja masalahnya siih thor? Ya, namanya juga hidup pasti ada masalah yang harus kita hadapi. Anggap itu sebagai ujian kenaikan 'kelas' yaa gaess 🤗


Kok sedih mulu? Menderita terus si Aira. Kapan dia bahagia? Aira udah ngerasain bahagia kok di episode sebelum-sebelumnya. Dia melalui 'badai' di Jepang sampai layak untuk mendampingi Ken, sekarang ujian Ken di Indonesia untuk membuktikan ia layak ada di sisi Aira. Author juga maunya mereka happy terus, tapi ibarat pepatah "Badai pasti berlalu". Author juga punya quotes sendiri, "Jika badai pasti berlalu, maka pelangi juga ada saatnya sirna."


Jadi jangan berlebih-lebihan dalam menyikapi segala sesuatu yaa gaess, semuanya pasti akan berlalu. Seperti perasaan author untuk 'dia' yang author-chan harap bisa segera berlalu... Huhuhuhuu *apaansii? gomen ne 😂😂


Hontou ni arigatou (terima kasih banyak) untuk semua dukungan kalian sejauh ini. See you next episode... Big ♡ for you all...


Jaa mata ne,


Hanazawa easzy ^^

__ADS_1


__ADS_2