Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Bussiness Class


__ADS_3

Seperti biasa, author cantumkan beberapa beberapa informasi yang author ambil dari berbagai sumber di google. Jika berkenan, silahkan dibaca untuk menambah ilmu pengetahuan kita. Yang tidak berkenan, bisa langsung skip ke bagian yang lain.


Mohon maaf jika ada informasi yang kurang tepat, nyatanya author cuma copy paste dari artikel di internet. Author belum pernah naik pesawat sih, jadi ngga tau artikel itu beneran atau cuma manis dibaca doang. Yuk ah ada yang mau jadi donatur buat author coba-coba naik pesawat? Kita ke Singapura, Jepang atau Thailand yuk πŸ˜‚πŸ˜‚


Selamat membaca, hope you'll enjoy it πŸ˜‰


Hanazawa easzy πŸ’œ


...****************...


Aira turun dari mobil yang membawanya bersama Ken menuju bandara ini. Seorang pria dengan setelan pakaian berwarna hitam bergegas mendekat dan mengambil alih koper yang baru saja Kosuke turunkan dari bagasi.


"Sebelah sini tuan." ucap seorang petugas wanita yang datang bersama pria tadi. Ia menunjukkan pintu khusus penumpang VVIP si sisi lain bandara ini.


Aira sedikit canggung. Ia tidak nyaman diperlakukan khusus seperti ini, tapi suaminya tidak peduli. Ia memasang wajah angkuhnya dan berjalan mengikuti petugas setelah meraih pinggang istrinya.


"Ken?!" Aira hendak protes, ucapannya terhenti karena Ken mengisyaratkan agar ia diam. Pria itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Aira untuk tidak melanjutkan kalimatnya, apapun itu.


"Silahkan nikmati waktu istirahat Anda. Saya akan melakukan pengecekan tiket." ucap petugas itu sebelum pergi. Kosuke mengikutinya, membiarkan tuan dan puannya istirahat di lounge yang ada di bandara internasional ini. Benar-benar perlakuan khusus untuk orang-orang yang dianggap very very important person.


*VVIP : orang-orang yang sangat penting


Sejujurnya Aira tidak menyukainya. Ia menolak naik jet pribadi seperti saat keberangkatan mereka karena dirasa itu terlalu berlebihan. Terlebih lagi kepulangan mereka kali ini terhitung santai, tidak ada agenda khusus apapun. Ia meminta Kosuke memesan tiket pesawat reguler, tapi ditentang oleh Ken. Mereka sempat berdebat yang membuat asisten mereka itu bimbang. Ia bingung harus menuruti siapa, Ken atau Aira?


Jika menuruti Ken, Aira akan marah padanya. Dan bukan hanya itu saja, Minami juga akan marah padanya karena tidak mengikuti kemauan nona kesayangan istrinya itu. Tapi jika menuruti Aira, bisa dipastikan Ken akan memberinya hadiah khusus, mengirimnya ke Afrika misalnya. Sungguh hadiah yang sangat tidak diinginkannya.


Setelah perdebatan yang cukup alot, Ken akhirnya mengalah dan meminta Kosuke memesan tiket dengan pesawat komersil seperti permintaan istrinya. Dengan syarat Aira tidak boleh protes lagi. Dan di sinilah mereka sekarang ini.


Ada beragam kelas pesawat yang bisa dipilih, mulai dari ekonomi, bisnis, dan yang paling mewah, kelas satu (first class). Tanpa Aira ketahui, ternyata Ken memilih penerbangan kelas bisnis untuk perjalanan kali ini. Tidak perlu yangΒ first class, yang kelas bisnis saja sudah menawarkan fasilitas menggiurkan untuk penumpang. Fasilitas-fasilitas tersebut akan membuat Aira nyaman selama penerbangan berlangsung dan istrinya itu tidak akan bisa menggugatnya.


Kelas bisnis memiliki kursi yang lebih luas, yang memungkinkan kaki bisa bergerak dengan bebas. Ditambah, adanya pijatan kaki yang siap membuat rileks sepanjang penerbangan. Selain itu, penempatan kursi berada di bagian depan pesawat. Jadi, tidak perlu antre saat naik dan turun dari pesawat.


Sambil menunggu kedatangan pesawat, penumpang kelas bisnis akan dimanjakan dengan ruang tunggu yang mewah. Ruangan tersebut dilengkapi dengan fasilitas dan layanan gratis semisal kursi pijat, makanan, minuman, hingga toilet yang bersih dan wangi. Suasana ruang tunggu juga jauh dari kebisingan, seolah berada di dunia lain. Terpisah dari hiruk pikuk bandara yang hampir selalu ramai 24 jam.


Ken menarik Aira untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Keduanya duduk bersisian, tentu saja dengan jemari Ken yang masih menempel di pinggang ramping istrinya. Ia bersikap begitu posesif melindungi Aira, tidak ingin siapapun merebut perhatian pujaan hatinya itu.

__ADS_1


"Kakak ipar, apa kamu berusaha memonopoli kakakku?" tanya Mone yang kini berkacak pinggang di depan Ken dan Aira. Sejak awal ia tidak suka dengan perlakuan Ken pada kakak sepupunya yang bersikap seolah Aira tidak boleh menjauh se-inchi pun darinya.


"Masalah untukmu? Dia istriku." jawab Ken sembari fokus pada ponsel di tangannya. Ia hanya melirik Mone sepersekian detik saat gadis itu mulai menunjukkan protesnya.


"Dia juga kakakku. Aku berhak duduk dengannya. Apakah aku salah menilai? Ku pikir kak Aira sangat beruntung memiliki kakak ipar yang sangat bijak dan pengertian. Tapi ternyata...." sindir Mone pada Ken. Ia memainkan jemarinya di pipi, menyinggung sikap Ken yang posesif dan pemaksa.


Aira tersenyum simpul sambil menatap Kaori yang duduk di kursi yang lain, dia mengerlingkan sebelah mata padanya. Nampaknya 'pelajaran' untuk Ken akan segera dimulai, diawali oleh Mone yang akan memicu perdebatan dengan pria 27 tahun itu. Keduanya memperebutkan Aira.


"Ai-chan..." Ken mencoba mencari dukungan istrinya.


"Aku ingin duduk dengan adikku. Kami baru saja bertemu dan ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya." ucap Aira.


Ken terpaksa berdiri, mengalah pada Mone yang terus menatapnya dengan pandangan tidak suka. Ia tidak boleh bertengkar dengan anak kecil ini. Bukankah setiap kakak akan membela adiknya? Begitupun dengan Aira, ia pasti akan memihak pada Mone. Ken cukup tahu hal itu karena dia juga punya 2 orang adik. Ia bersedia melakukan apa saja untuk membantu adik-adiknya.


Mone segera mengisi tempat duduk yang Ken tinggalkan. Ia mengambil ponselnya dan berfoto dengan Aira. Mereka tertawa bersama membuat Ken merasa sedikit terasingkan. Ia berjalan menjauh dari kedua wanita beda usia itu.


Lima belas menit kemudian, Kosuke kembali dengan beberapa kru pesawat yang akan bertugas dalam penerbangan kali ini kembali ke Jepang.


"Silahkan melalui jalur ini, tuan, nona.." ucap seorang pramugari wanita yang sepertinya berasal dari Jepang. Fisiknya tidak berbeda jauh dari Kaori, cantik, tinggi, putih, dan mata sipit yang tajam, ciri khas yang dimiliki oleh orang-orang dari negeri sakura itu.


Ken berjalan mendahului yang lain bersama Kosuke, disusul kemudian Mone dan Aira di belakangnya. Jeda beberapa langkah ada Kaori dan Minami yang saling diam, mereka tidak terlalu akrab. Dan dua orang paling belakang ada Shun dan Yoshiro yang memasang wajah tanpa ekspresi. Shun merangkul sahabatnya itu dan memaksanya berjalan sedikit lebih cepat agar tidak terpisah jauh dengan yang lainnya.


"Aku duduk di sini." Mone mendahului Ken yang bersiap duduk di sisi istrinya.


"Pergi ke kursimu sendiri." perintah Ken.


"Tidak akan." elak Mone. Dia bersikeras ingin ada di samping Aira, ini adalah bagian dari rencana mereka untuk membuat Ken marah.


"Ai-chan..." panggil Ken, ia berharap Aira menyuruh Mone untuk duduk di kursinya sendiri.


"Aku ingin duduk dengannya. Kamu tidak keberatan bertukar kursi dengan adikku kan?" ucap Aira dengan senyum terkembang di wajah. Ken mendengus kesal. Ia kalah lagi oleh gadis 20 tahun ini.


Tampaknya Mone akan menjadi ancaman untuk Ken kedepannya. Ia akan membuat Aira membagi perhatian dan kasih sayangnya. Ken harus memutar otak, mencari cara untuk menjauhkan gadis itu dari istrinya secara tidak langsung. Mungkin memberikan kesibukan untuknya bisa menjadi solusi terbaik.


(Artikel mulai dari sini, boleh skip aja kalo ngga suka πŸ™)

__ADS_1


Pesawat lepas landas setelah pramugari selesai mengarahkan penumpang untuk memakai seat belt dan mematikan ponsel. Burung besi itu melayang di udara, seolah berenang diantara gumpalan awan yang berwarna putih bersih. Pemandangan Moskwa yang tertutup salju menjadi tampilan indah yang Mone saksikan untuk terakhir kalinya. Empat tahun yang manis namun penuh kepalsuan harus ia akhiri saat ini juga. Fokusnya beralih pada Aira, wanita yang masih memiliki hubungan darah dengannya ini.


*seat belt : sabuk pengaman


Penerbangan berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Secara umum, tingkat pelayanan kelas bisnis tidak jauh berbeda dengan kelas ekonomi. Penumpang akan mendapatkan beberapa barang seperti handuk panas, minuman, dan makanan gratis sebelum atau setelah lepas landas, tergantung etika pelayanan yang diterapkan masing-masing maskapai penerbangan. Satu yang pasti, Aira dan rombongan kecilnya itu akan mendapatkan layanan prioritas dari pramugari selama perjalanan.



Penyajian makanan di kelas bisnis layaknya restoran bintang lima. Ada taplak meja, gelas kaca, piring kaca, dan layanan lainnya. Menu makanan dan minuman juga dibuat khusus dengan beragam pilihan yang bisa dicoba. Makanan lezat dan bahkan anggur premium siap menggoyang lidah para konglomerat yang berani membayar lebih demi kenyamanan penerbangan mereka.


Selain itu, masih ada fasilitas lain yang akan membuat orang awam tercengang. Dengan tarif di atas rata-rata, para penumpang di kelas bisnis juga akan mendapatkan sikat gigi, pasta gigi, masker mata, hingga pelembap. Khusus untuk penerbangan yang memakan waktu lama, biasanya mereka akan memberikan sandal dan piyama agar tidur malam menjadi nyaman.


Ada beberapa perbandingan antara perlakuan kelas ekonomi dan kelas bisnis, di antaranya saat Check-in & Boarding.


Penumpang kelas ekonomi harus mengantre di konter yang disediakan. Sebelum boarding, mereka juga harus merelakan penumpang yang bayar lebih untuk naik lebih dulu dan kita yang terakhir. Bahkan ada beberapa maskapai penerbangan yang mengharuskan penumpangnya melalui jalur yang lain, seperti turun tangga, naik bus, atau jalan kaki langsung ke pesawat yang ada di ujung.


Sedangkan untuk penumpang kelas bisnis, ada gerbong khusus untuk penumpang sehingga tidak perlu lama mengantre. Setelah mendapat boarding pass, tidak perlu menunggu di waiting room karena bisa ke lounge menikmati sofa empuk dan makan-minum dulu sebelum terbang. Begitu pesawat siap dimasuki, orang berada ini masuk lebih dulu. Begitu pun ketika akan turun, bahkan beberapa maskapai seperti Garuda menyediakan tempat tunggu khusus sementara staff mereka akan mencarikan bagasi kita. Sungguh pelayanan yang luar biasa.


Perbedaan kedua adalah perihal tempat duduk. Di kelas ekonomi, tempat duduk standar dengan luas yang tidak seberapa. Bagi yang memiliki kaki panjang atau orang tinggi, bersiaplah agak pegal terutama jika penerbangan lebih dari 2 jam.


Sedangkan tempat duduk di kelas bisnis terbilang cukup luas dan dilengkapi pijakan kaki. Mau tegak lurus, setengah berbaring sambil nonton atau tidur pulas, semuanya bisa. Selain itu tidak seperti penumpang kelas ekonomi yang hanya mempungai satu tempat untuk meletakkan barang yang bergabung dengan majalah, di sini ada beberapa tempat penyimpanan yang khusus untuk masing-masing penumpangnya. Selain itu karena kompartemen di atas hanya dipakai beberapa orang, rata rata selalu ada tempat dan semua barang bisa fit di atas. Di kelas bisnis ini juga sangat terasa bahwa masing masing memiliki kursi ini secara utuh karena ada pemisah antar kursi dan sandaran kursi sendiri. Jangan lupakan ada bonus : bantal, selimut, colokan listrik dan lampu baca.


Biasanya hanya ada dua pramugari / pramugara yang standby melayani permintaan penumpang yang jumlahnya puluhan hingga ratusan. Kebayang kan ribetnya?


Nah di Business Class ini, satu kabin bisnis yang jumlahnya mungkin sekitar 20 orang saja, dipegang oleh dua orang pramugari. Jadi tidak akan ada penumpang yang terabaikan disini.


Pada perjalanan jauh, seringkali kita merasa bosan dan membutuhkan entertain/hiburan. Ada In-flight magazine dan layar monitor yang lebih besar. Masing-masing layar telah dilengkapi semacam filter jadi kita tidak bisa melihat jelas ke layar orang ain.


Perbedaan selanjutnya, penumpang kelas ekonomi jika beruntung akan mendapat makanan berupa snack (roti atau kue atau roti kering). Beberapa maskapai bahkan meniadakan atau harus membeli dengan biaya tambahan. Kalau untuk perjalanan panjang, pasti dapat tapi perlengkapan makannya terbuat dari plastik. Dan karena tempatnya sempit maka harus makan hati-hati supaya tidak jatuh.


Di kelas bisnis, masing-masing diberikan satu set perlengkapan makan lengkap, dialasi kain, pakai serbet, menggunakan piring & mangkok keramik/kaca, gelas wine kaca dan tempat garam dan lada khusus. Bahkan terkadang selesai makan akan ditawarkan coklat, lalu diberikan oleh-oleh pajangan rumah yang limited series. Setelahnya akan mendapat handuk dingin dan amenities kit layaknya menginap di hotel, berupa tas mungil keren yang berisi perlengkapan toeletries walaupun penerbangan hanya beberapa jam saja. Perlakuan khusus ini sebanding dengan harga yang harus dibayar, yakni dua hingga tiga kali lipat dari harga ekonomi.


...****************...


Maaf jika membuat readers semua kecewa karena episode ini cuma tentang artikel penerbangan. Gomen (maaf) πŸ™

__ADS_1


Bye-bye,


Hanazawa easzy πŸ˜‰


__ADS_2