
"Apa yang membuatmu berubah?" tanya Aira pada Mone terkait keputusannya untuk menerima Yamaken.
"Itu, sebenarnya..." Mone tampak meragu.
"Ya?"
"Aku menyukai Yamaken sejak lama, mungkin tujuh tahun yang lalu." Mone mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
"Tu... tujuh tahun yang lalu?"
Otak Aira seketika menghitung mundur usia adiknya. Sekarang dia berusia 20 tahun, itu artinya Mone mulai menyukai Yamaken saat berumur 13 tahun?
"Aku pernah ikut ayah saat pertemuan bisnis. Karena acara di dalam ruangan terlalu membosankan, jadi aku bermain di taman dan bertemu dengan Yamaken. Dia begitu baik padaku, dan aku langsung menyukainya saat itu juga," aku Mone sambil menggigit bibirnya.
"Jadi, itu fallin' in love at the first sight?"
(Cinta pada pandangan pertama?)
Mone mengangguk, "Mungkin."
Aira mengembuskan napasnya, tidak bisa berkomentar dengan perasaan khusus yang dimiliki oleh adiknya ini. Keduanya diam cukup lama.
Mone sibuk menimang-nimang keponakan cantiknya dan Aira berbaring di ranjangnya, membelai kedua putranya yang tengah terjaga.
"Apa yang kamu bicarakan dengan kakek?" tanya Aira saat Mone mendekat ke arahnya, meletakkan Aya ke ranjang king size di ruangan ini, bergabung dengan kedua saudaranya.
Mone sedikit tersentak, "Kakek Yamazaki?"
"Hemm. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku," ungkap Aira.
"Ano... " Mone meragu, "Tidak ada yang penting. Hanya berbincang saja," ucapnya.
"Apa kakek mengancammu? Katakan padaku!" Aira meraih tangan adiknya, duduk berhadapan dengannya.
"Tidak. Tidak. Itu tidak benar. Beliau hanya memberikan tantangan kecil padaku."
"Tantangan kecil?" Aira menyipitkan matanya, menantikan penjelasan berikutnya dari Mone.
"Kakek memintaku mencari pria yang lebih baik dari Yamaken dalam waktu tiga bulan. Aku merasa tertantang dan menyanggupinya. Jika berhasil, kakek akan membebaskanku dari perjodohan ini. Tapi jika gagal, aku tidak akan bisa pergi dari keluarga ini seumur hidupku."
"Lantas?" tanya Aira, "Apa kamu berhasil?"
Mone tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada pria yang lebih baik darinya. Sebulan ini aku melakukan dua puluh kali kencan buta. Tapi mereka semua hanya tertarik pada fisikku saja."
"Apa katamu? Dua puluh kali?" Aira membulatkan matanya, heran dengan adiknya yang begitu bersemangat mencari pengganti Yamaken.
Mone memegang tengkuknya sendiri, "Hmm. Dan aku menyerah saat kencan butaku yang ke dua puluh."
"Kenapa? Apa dia seseorang yang jauh lebih 'dewasa' darimu? Atau pria dengan rambut merah yang menjengkelkan?"
"Tidak." Mone menggeleng.
"Jadi, kenapa kamu menyerah dengan cepat?"
__ADS_1
"Karena Yamaken mengelus kepalaku seperti tujuh tahun yang lalu," jawab Mone, kembali mengingat pertemuannya dengan Ken di atap gedung saat ia membawa popcorn.
FLASHBACK
"Jangan khawatir. Aku akan bicara pada kakek. Kamu tidak perlu merasa terbebani. Lakukan saja apa yang kamu mau. Jaga kesehatanmu, jangan sungkan untuk menghubungiku jika kamu membutuhkan bantuan." Ken menoleh, menatap gadis di sampingnya sambil tersenyum.
'Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum seperti itu setelah aku menolaknya?' batin Mone.
"Maaf," ucapnya tak enak hati.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun." Yamaken mendekat dan mengelus puncak kepala gadis di hadapannya, membuatnya tersipu dan menundukkan kepala.
FLASHBACK END
"Dia melepaskanku, saat itulah aku merasa hatiku ketakutan. Takut aku tidak akan bisa melihatnya lagi," ungkap Mone jujur.
"Jadi, setelah dia mencampakkanmu, kamu baru peduli padanya?"
"Bukan begitu, Kak. Aku hanya... " Mone menelengkan kepalanya, bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaannya.
"Aku... Aku... Aku hanya tidak tahu bagaimana membalas perasaannya. Terlebih lagi, dengan latar belakang kehidupanku ketika di Rusia, aku takut dia akan berada dalam bahaya."
Aira menangkup pipi adiknya, "Yang terjadi justru sebaliknya."
"Eh?" Mone meraih jemari Aira yang kini tengah mengelus pipinya. "Maksud kakak?"
"Saat kamu mengabaikannya, justru dia berada dalam bahaya. Kamu tahu? Kondisi fisiknya memang terlihat baik-baik saja selama ini, namun hatinya rapuh. Selama kamu mengabaikannya, dia seperti mayat hidup."
Aira mengambil ponsel dari nakas dan menunjukkan potret adik iparnya yang terlihat muram.
"Itu belum seberapa, lihat ini," ucap Aira sembari menunjukkan potret hitam putih Yamaken di salah satu akun sosial medianya. Tertanggal tiga pekan yang lalu, itu artinya seminggu setelah ia menolak Yamaken.
"Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Dia terlihat baik-baik saja, bahkan tersenyum saat bertemu denganku," ungkap Mone.
"Itu salah satu kemampuannya. Bukankah dia memiliki begitu banyak penghargaan karena kepiawaian aktingnya? Hanya menunjukkan senyum di depanmu selama beberapa detik agaknya masih bisa ia lakukan. Tapi di rumah, ia seolah tak memiliki semangat lagi. Managernya sampai bertanya pada ibu, masalah apa yang terjadi. Itu sebabnya kakek memaksamu menikah dengannya dua bulan lagi. Jika tidak, mungkin cucunya tidak akan terselamatkan."
Mone diam. Ia menundukkan kepala, menyadari kesalahannya yang mengabaikan Yamaken beberapa waktu lalu. Ia menatap jemarinya yang saling bertaut.
"Aku sudah membunuh begitu banyak orang. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya begitu saja? Sampai sekarang pun, aku masih berpikir untuk membatalkan keputusanku jika itu mungkin," aku Mone dengan suara bergetar.
Aira meraih adiknya yang mulai berkaca-kaca ke dalam pelukan. Ia membelai punggung gadis itu dengan lembut, memberikan kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari siapapun. Ibunya meninggal sejak kecil dan tuan Kamishiraishi tidak berniat mencari penggantinya.
Satu-satunya perhatian yang ia terima sebagai sosok ibu adalah Anna, istri tuan Takeshi Kaneshiro saat Mone masih di Rusia. Namun, wanita itu juga tidak sebaik yang terlihat di luar. Dia menyayangi Mone karena harta peninggalan tuan Kamishiraishi, bukan benar-benar tulus menyayanginya.
Hal itulah yang membuat Aira ingin selalu melindungi adik sepupunya. Dia tidak ingin Mone kembali ke jalan yang salah seperti tahun-tahun yang lalu. Ia ingin Mone memiliki kehidupan yang layak, tanpa bayang-bayang dunia hitam yang sempat membelenggunya selama lima tahun.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti Tuhan membencinya. Tuhan mungkin marah, menghukum hamba-Nya. Tapi DIA akan memaafkan mereka selagi ada tekad untuk berubah menjadi lebih baik."
Mone semakin mengeratkan pelukannya. Ia menangis tersedu-sedu di dalam dekapan kakaknya, membuat Ken urung masuk. Pria itu hanya berdiri di depan pintu, menatap dua wanita yang kini tak berjarak lagi.
__ADS_1
Melihat suaminya yang hanya terpaku, Aira melambaikan tangannya, meminta Ken mendekat.
"Aku?" tanya Ken tanpa suara sambil menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk.
Aira mengangguk.
"Apa?" mulut Ken kembali terbuka, lagi-lagi bertanya tanpa suara, tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Aira memegang kepalanya sendiri, memberi isyarat agar Ken mengelus puncak kepala adik iparnya. Tangis Mone mulai mereda, ia mulai mengatur napasnya namun masih enggan mengurai pelukan Aira.
'Ayo lakukan!' geram Aira dalam hati. Ia gemas saat melihat Ken kembali menarik tangannya seperti sebelumnya.
'Kenapa aku harus melakukannya?' protes Ken dalam hati. Ia tidak pernah menyentuh puncak kepala orang lain, kecuali Aira dan Erina.
Aira membelalakkan bola matanya, menatap suaminya dengan pandangan yang tajam dan menusuk.
'Cepat!!'
Ken memalingkan wajahnya ke arah lain, memandang halaman belakang rumah ini yang mulai tampak redup sebelum senja datang.
'Astaga, aku bisa mendengar perintahnya meski ia mengucapkannya dalam hati. Apa ini yang disebut telepati suami istri?' ucap Ken dalam hati.
Puk puk puk
Ken terpaksa mengulurkan tangannya, menepuk kepala Mone dengan lembut seperti sikap hangat seorang kakak pada adiknya. Hal itu membuat Mone terperanjat, terlihat dari bahunya yang otomatis berkedik. Ia melepas pelukan Aira dan menengadahkan kepalanya, menatap Ken yang berdiri menjulang di sisi ranjang.
"Ternyata adik iparku bisa menangis juga," seloroh Ken dengan memamerkan senyum yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta, terkecuali Mone.
Plakk
'Astaga! Apa yang dia katakan?' Aira menepuk dahinya sendiri, menyadari betapa bodohnya pria yang telah ia nikahi ini. Bagaimana bisa menghibur seseorang yang bersedih dengan kalimat sarkas seperti itu?
"Siapa yang menangis?" Mone segera menghapus bekas air di wajahnya dengan kasar.
"Kalau bukan menangis, lalu apa? Kamu tidak akan mengatakan bahwa ruangan ini berdebu sampai membuat matamu berair, benar 'kan?" Ken mengacak rambut Mone dengan gemas. Sengaja menggodanya agar marah dan melupakan kesedihannya.
Perlakuan Ken barusan tentu saja segera mendapat perlawanan dari Mone. Ia menepis jemari kakak iparnya dan bangkit dari tempat itu detik berikutnya.
"Jangan menyentuhku!" geramnya tajam.
"Ugh, lucu sekali." Ken kembali mengacak rambut Mone. Kali ini lebih bersemangat dari sebelumnya, membuat beberapa helai justru ikut terbang kesana kemari tak beraturan.
"Singkirkan tanganmu!" Mone segera menuju pintu yang terbuka. "Kakak ipar menyebalkan!!"
BAMM
Mone pergi setelah membanting pintu di belakangnya, menyisakan Ken dan Aira yang saling melempar tawa.
...****************...
Lucu kalo Ken sama Mone berantem 😍
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💜