Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Luka Masa Lalu


__ADS_3

Shun menggila dengan menghancurkan apartemennya. Ia marah sejadi-jadinya karena melihat Kaori bermesraan dengan seorang pria. Bahkan Kaori mengakui pria bernama Yuki Harada itu sebagai mantan suaminya. Hal itu membuat Shun kehilangan kendali. Ia membanting, meninju, menendang, melempar barang apa saja yang ada di hadapannya.


Melihat hal itu, Mone tak bisa tinggal diam. Ia mengguyur Shun dengan seember air untuk meredam kemarahannya. Dan keduanya berakhir di kolam renang yang ada di bagian luar apartemen.


Mone mengungkap masa lalu Kaori saat di Inggris dulu, peristiwa traumatis yang tak pernah diinginkan oleh wanita manapun di dunia ini. Keguguran, perceraian, dan diusir paksa oleh ayah mertuanya, itu terjadi di saat yang bersamaan.


"Kakak hanya perlu membuat kak Kaori bahagia, bukan membuatnya semakin terluka." Mone mengucapkan itu sambil tersenyum, memberi semangat untuk kakak angkatnya ini.


Bagai seekor kuda yang dicambuk oleh pemiliknya, Shun berlari tergesa meninggalkan apartemen. Ia bahkan tak peduli saat ia menabrak beberapa orang yang ada di lobi. Langkah kakinya baru terhenti saat tangannya membuka pintu mobil sport di depannya. Kakinya menjejak pedal gas detik berikutnya, membawa kendaraan roda empat itu menembus jalanan Tokyo. Ia bersiap menemui Kaori.


Sementara itu, di tempat lain. Kaori baru saja menyelesaikan rapat dengan beberapa staf rumah sakit, termasuk ayahnya. Ia berjalan keluar dari ruangan bersama pria 55 tahun itu.


"Pulanglah, Ka-chan. Ibu merindukanmu." Ayah Kaori menatap putri sulungnya dengan penuh kasih sayang.


Kaori tersenyum pahit menatap ayahnya. Ia menggeleng lemah. "Aku tidak akan pulang. Sampaikan permintaan maafku pada ibu," lirihnya dengan suara sedikit bergetar. Ia menahan gemuruh di dalam hatinya. Ia masih mengingat semuanya dengan sangat baik, betapa menyakitkannya saat melihat ibunya terbujur di ranjang ICU setelah ia kembali dari Inggris tiga tahun yang lalu.


Saat itu Kaori sampai si rumahnya tepat saat matahari terbenam. Ibunya begitu antusias, memasak banyak makanan demi menantu kesayangannya. Beliau berpikir Yuki akan pulang bersama Kaori. Demi kesehatan ibunya, Kaori beralasan bahwa Yuki sedang sibuk dan tidak bisa pulang.


Tapi tanpa diketahui, tuan Hayato, ayah Yuki justru sengaja menghubungi ibunya dan mengatakan bahwa Kaori keguguran, berpisah dengan Yuki dan tidak bisa kembali melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya.


Hal itu tentu membuat ibunya shock. Ia terkena serangan jantung saat itu juga dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sejak saat itu, Kaori memilih pergi dari rumah, tinggal di apartemennya sendiri agar tak bertemu dengan ibunya. Kaori merasa gagal memenuhi keinginan wanita yang telah melahirkannya ini. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang sudah membuat ibunya terluka.


"Sampai kapan kamu akan menghukum dirimu sendiri seperti ini?" tanya pria yang memakai jas warna putih di badannya. Ia prihatin pada keadaan putrinya yang masih menyimpan luka masa lalunya.


Kaori tersenyum hambar. Ia kembali bungkam dan memilih pergi meninggalkan ayah kandungnya setelah menunduk takzim sejenak. Ia naik ke atap rumah sakit, menikmati senja yang datang menjelang. Pergantian siang menjadi malam adalah momen yang sangat ia suka sepanjang hidupnya. Namun, kini menjadi waktu paling menyakitkan untuknya. Terluka oleh permainan semesta.

__ADS_1


Sebulir air mata luruh di pipinya, jatuh membasahi jalinan tangannya yang ada di atas paha. Cobaan yang ia alami terlalu berat. Berpisah dengan orang yang sangat ia sayangi, yakni cinta pertamanya sejak di bangku sekolah. Belum lagi perasaan kehilangan calon buah hati yang membuatnya merasa begitu bersalah. Ia yang selama ini pura-pura terlihat baik-baik saja, nyatanya memiliki trauma masa lalu yang kelam.


CIIT


Di saat yang sama, sebuah mobil berhenti di tempat parkir rumah sakit ini. Bunyi decit rem yang memekakkan telinya menandakan bahwa kendaraan itu melaju dalam kecepatan tinggi sebelum berhenti mendadak.


BAMM


Shun keluar dari balik kemudi dan membanting pintu di belakangnya dengan keras, menimbulkan suara debaman khas pintu mobil yang tertutup. Ia berjalan dengan tergesa, hampir seperti orang yang berlari. Langkah kakinya mengarah pada lobi rumah sakit swasta di salah satu sudut kota Tokyo ini. Sepuluh anak tangga berundak di depannya tak menjadi halangan, ia lewati dalam beberapa langkah detik saja.


"Paman, dimana Kaori?" tanya Shun saat berpapasan dengan ayah Kaori di depan lift. Beliau adalah seorang dokter spesialis syaraf sekaligus penanggung jawab utama di tempat ini. Dia adalah direktur rumah sakit yang berdiri sejak beberapa puluh tahun yang lalu.


"Di atap," jawabnya singkat sambil menunjuk ke atas. Raut wajahnya terlihat lelah, namun tetap memaksakan senyum. Sedikit banyak ia mengenal pemuda di depannya ini. Pemuda yang berhasil mengalihkan perhatian putrinya dari masa lalunya yang kelam. Kedatangan Shun, seperti hujan yang membasahi tanah yang gersang, menumbuhkan semangat hidup untuk Kaori. Bahkan, putrinya itu berhasil jatuh cinta pada pria kejam ini. Pria yang memiliki tabiat berkebalikan dari menantunya dulu, Harada Yuki yang lembut dan penyayang.


"Terima kasih, Paman," ucap Shun sambil menundukkan kepalanya sejenak.


Ting


Denting nyaring itu menandakan lift sampai di lantai teratas gedung ini. Semburat cahaya berwarna oranye nampak di langit, terlihat melalui pintu yang terbuka di ujung anak tangga. Shun segera keluar dari kotak besi ini, berlari menapaki anak tangga yang menghubungkannya dengan atap rumah sakit, tempat dimana Kaori berada.


Langkah kakinya terhenti saat netranya menangkap bayang-bayang yang tak asing untuknya. Seorang wanita berambut panjang tengah menangis sedu sedan sambil menundukkan kepala, beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tangannya mengepal di depan mulut, menutupnya agar tak bersuara, membuat bahunya berguncang menahan getaran hebat di dalam hatinya.


Shun berjalan perlahan. Ia merasakan hatinya ikut sakit seolah tertusuk jarum. Wanita yang selalu terlihat tegar di depan semua orang, justru menjadi sosok yang kini terlihat begitu memprihatinkan. Statusnya sebagai putri direktur rumah sakit ini, memaksanya berpura-pura terlihat kuat, selalu tersenyum sepanjang waktu.


Grep

__ADS_1


Shun sampai di belakang Kaori, memeluknya dengan lembut. Tangannya melingkar di depan dada dan perut wanita 29 tahun ini, menyalurkan rasa cinta di dalam hatinya. Pria kejam yang tak segan membunuh mangsanya ini, kini bertekuk lutut di hadapan seorang wanita. Ini pertama kalinya Shun memeluk seorang wanita, kecuali adik angkatnya.


"Kaori-chan, aku disini untukmu," bisiknya lembut.


Deg!


Seolah tersengat listrik tegangan tinggi, tubuh Kaori menegang. Ia begitu terkejut dengan suara yang sangat dikenalnya ini. Parfum bernuansa menthol yang kuat segera menyapa indera penciumannya, membuatnya semakin yakin siapa pemilik tangan yang tengah mendekapnya ini. Pria yang berhasil memporakporandakan pertahanannya untuk tak jatuh cinta lagi, sekaligus pria yang membuatnya sakit hati beberapa bulan yang lalu. Pria kejam bagaikan serigala liar ini, tengah memeluknya?


"Kaori-chan, jangan menunjukkan wajah jelekmu di depanku!" cetus Shun sarkas, sangat berbeda dari ucapannya lima detik yang lalu. Kelembutan yang ia tunjukkan sebelumnya, sirna seketika.


Swushh


"Memangnya kenapa kalau wajahku jelek? Aku tidak memintamu melihat wajah jelekku ini! Menyebalkan!" ketus Kaori setelah melepas paksa dekapan yang mengunci tubuhnya. Ia berdiri, menatap tajam pria di depannya ini, kesal dengan sikapnya yang selalu saja semena-mena mencemooh orang. Shun benar-benar pria menyebalkan.


"Menyebalkan seperti ini juga kamu suka 'kan?" tanyanya sombong, membanggakan dirinya sendiri. Ia memamerkan senyum di wajah tampannya.


"HAH?"


...****************...


Kapal mulai berlayar.... Uwuuuu 💕💕


Selamat berjuang abang Shun 💃


Penasaran sama kelanjutannya? Wajib like, vote n komen yaa 😉😋 Apalagi kalo kasih koin ke author, ugh, makin tjinta dah ah 😍😘😘😘😘😘

__ADS_1


Jaa,


Hanazawa Easzy


__ADS_2