
"Cantik dan berapi-api, sama sepertimu," ucap Yamaken sembari menatap wajah Mone penuh cinta.
Deg
Mone menatap wajah Yamaken dengan kening bertaut. Senyum yang terpatri di wajah dengan lesung pipi itu berhasil membuat banyak wanita tergila-gila. Mereka bahkan menyebutnya sebagai husbu sejuta umat, saking banyaknya wanita yang mengagumi pria kelahiran 28 tahun yang lalu ini.
*husbu adalah bahasa slang yang berasal dari bahasa Inggris "husband" yang memiliki arti suami.
'Astaga, apa mereka sungguh menganggap pria ini sebagai suami mereka? Yang benar saja!' batin Mone tak percaya
"Mone-chan, aku menyukaimu," ungkap Yamaken sembari membalik badannya, menghadap gadis yang tertegun di hadapannya.
Glek
Mone meneguk salivanya dengan paksa, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering seperti seharian belum pernah teraliri air.
Yamaken melepas tangannya dari lengan Mone dan kini menangkup wajah chubby yang menggemaskan di depannya. Ia mengelusnya dengan ibu jari. Wajahnya yang tersenyum tampak begitu menawan, berbanding terbalik dengan aura gelap yang perlahan menguar dari gadis yang tengah cemberut itu.
Sinar kemerahan di angkasa mulai menggelap seiring mentari yang tak lagi terlihat karena tertelan ujung dunia. Yamaken memberanikan diri melangkah maju, mengikis jaraknya dengan Mone. Jemarinya tak tinggal diam, berpindah ke belakang telinga Mone, menahan gadis itu agar tidak bisa menghindar dari serangan tak bersuara yang akan ia berikan.
Melihat gelagat yang ditunjukkan Yamaken, membuat Mone membulatkan matanya. Ia mundur satu langkah, berusaha menjaga jarak dengan pangeran live action ini. Tapi yang terjadi justru berlawanan dengan keinginan Mone, Yamaken dengan sigap justru menarik pinggangnya, membuat tubuh mungilnya tak lagi berjarak dengan Yamaken.
Yamaken semakin mendekatkan wajahnya. Tatap matanya mengarah pada bibir tipis berwarna peach yang kini hanya berjarak beberapa cm darinya. Entah setan apa yang telah merasukinya sampai berani bertindak lebih dulu. Tidak biasanya Yamaken berinisiatif untuk mencium seorang gadis. Semua ciuman yang ia lakukan di dorama atau pun film, itu semua hanya tuntutan peran saja, bukan keinginan pribadi seperti sekarang.
Tubuh Mone menegang. Ini pertama kalinya seorang pria berada dengan jarak sedekat ini dengannya. Tapi entah kenapa saat ini dia tidak bisa melawan, padahal jika ada orang lain yang berani menyentuhnya, pasti akan ia lumpuhkan saat itu juga. Bisa dengan meninjunya, menginjak kakinya, atau bahkan menendang organ vital orang itu.
Tapi, kali ini Mone sungguh tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tubuhnya seolah terkunci tak bisa bergerak. Sebagian hatinya menolak dengan keberadaan Yamaken yang hendak menciumnya, namun sisi hatinya yang lain justru mendukung, bahkan menyarankan agar Mone memejamkan matanya dan bersiap menikmati perlakuan dari pria ini.
'Gila! Dia sungguh membuatku gila!' batin Mone frustasi.
Jarak keduanya hanya tersisa tiga centimeter saat logika Mone kembali menguasai. Dia tahu apa yang ada di dalam hatinya, yakni tidak ingin memberikan harapan palsu pada Yamaken. Tidak boleh ada yang terjadi di antara mereka berdua. Titik.
Dukk!
Mone menghantamkan kepalanya ke depan, membuat keningnya beradu dengan hidung Yamaken. Benturan yang begitu keras itu berhasil membuat Yamaken terpental ke belakang. Ia jatuh terduduk di atas pasir karena terkejut dengan serangan yang tiba-tiba Mone tujukan padanya. Ia memegangi hidungnya yang terasa pegal dan seketika ia merasakan nyeri kepala yang cukup hebat. Selain itu, penglihatannya seketika buram, membuatnya tak bisa bergerak sembarangan.
Bayang-bayang tubuh Mone yang semakin menjauh membuat Yamaken putus asa. Ia membaringkan tubuhnya di atas pasir, menatap langit di atas sana yang hampir gelap seluruhnya. Punggung tangannya menyeka darah yang mengalir dari hidungnya dengan kasar.
"Aku pantas mendapatkannya," gumam Yamaken sembari memukul pasir di sisi badannya, menyadari kesalahannya yang telah melewati batas.
Sementara itu, Mone telah tiba di pintu gerbang kediaman Yamazaki. Langkahnya terhenti kala berhadapan dengan seorang pria lanjut usia yang menatapnya dengan tajam. Dia baru saja keluar dari mobil hitam yang dibukakan oleh seorang pengawal.
"Siapa kamu?" tanya Kakek Yamazaki setelah berhadapan dengan Mone. Ia tidak mengundang siapapun untuk datang ke rumahnya, tapi kenapa ada orang asing di halaman rumahnya?
Mone menundukkan kepalanya, "Nama Saya Mone. Kamishiraishi Mone. Maaf atas ketidaksopanan saya."
"Kamishiraishi?" Kening kakek bertaut, mencoba mengingat seseorang bermarga Kamishiraishi yang pernah ia dengar sebelumnya.
__ADS_1
Tuan Kobayashi, kepala pelayan di tempat ini segera mendekat. Dia berdiri di belakang tuan besar Yamazaki, "Tuan, dia gadis Rusia yang waktu itu. Dia datang bersama Nona Aira siang ini."
Kakek menatap penampilan Mone dari atas ke bawah, kembali ke atas lagi. Seolah men-scanning gadis di depannya dengan seksama, mencari sesuatu yang dia miliki.
Tuan Kobayashi mendekat dan berbisik pada kakek, membuat pria lanjut usia itu membelalakkan mata.
"Kamu yakin?" tanya kakek Yamazaki.
"Iya. Saya sudah memastikannya."
Kakek terdiam, beliau tampak menimang-nimang sesuatu di dalam dirinya.
"Ikut denganku." Kakek menatap Mone sebelum masuk ke ruangan pribadinya.
"Silakan, Nona. Ada yang ingin Tuan Besar bicarakan dengan Anda." Tuan Kobayashi menggunakan tangannya sebagai isyarat agar Mone mengikuti tuannya.
Gadis berusia dua puluh tahun itu tampak ragu. Ia terpaku di tempatnya berdiri.
"Nona Kamishiraishi, silakan," ulang pria yang memakai kimono tradisional Jepang berwarna hitam itu.
Mone terpaksa menyeret langkahnya menuju sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat gelap. Kesan rahasia dan misterius seketika menyergap siapa saja yang masuk ke ruangan yang cukup temaram ini.
(source : pinterest)
Kakek duduk di belakang meja, sedangkan Mone masih berdiri satu langkah di depan pintu, masih tahu diri. Ia tidak berani mendekat, takut nyawanya terancam. Jelas-jelas ia sudah menolak cucu pria lanjut usia ini, bahkan ia juga mengantukkan kepalanya dengan sangat keras beberapa saat yang lalu. Entah bagaimana keadaan pria itu sekarang.
Greg
Pintu geser di belakang Mone bergerak tanpa aba-aba, membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat. Sepertinya tuan Kobayashi yang menutupnya barusan.
"Kemari," perintah kakek tanpa menatap Mone. Pandangannya lurus ke lantai kayu yang ada di depannya, dimana sebuah zabuton tergeletak di sana.
(visual zabuton, pinterest)
*Zabuton adalah alas duduk tradisional Jepang yang terlihat seperti bantal duduk biasa, digunakan sebagai alas ketika duduk di lantai. Selain sebagai alas duduk, zabuton juga berguna untuk mempertahankan suhu tubuh normal di cuaca yang masih terasa dingin. Penampilan luar zabuton terlihat seperti futon (kasur tradisional Jepang) yang berukuran kecil, biasanya berbentuk persegi. Zabuton juga dapat digunakan sebagai futon kecil untuk alas tempat tidur bayi.
Mone mendekat dan duduk bersimpuh di atas bantal yang terasa hangat itu. Ekor matanya menangkap pemandangan yang lagi-lagi membuat nyalinya menciut.
Sebuah katana dengan ukiran berbentuk naga tergeletak tepat di belakang kakek Yamazaki. Pedang itu tampak lebih menakutkan dibandingkan ke enam lainnya yang pertama kali Mone lihat saat memasuki ruangan 6 x 6 meter ini.
"Kamu takut?" tanya kakek saat melihat Mone mencengkeram lututnya.
__ADS_1
Mone hanya bisa menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap kakek. Meskipun dia biasa membunuh orang saat di Rusia, tapi dia tidak pernah menggunakan katana. Senjata yang menjadi andalannya hanya pistol dan belati. Tidak ada yang lain.
"Angkat kepalamu!" perintah kakek dengan nada bicara yang dingin dan tajam, membuat Mone menurutinya detik itu juga.
"Kenapa kamu menolak cucuku?" tanya kakek langsung pada pokok permasalahan yang ingin ia tahu.
"Sumimasen,"
(Maafkan saya)
*Sumimasen sama artinya dengan gomen, yakni untuk meminta maaf. Tapi sumimasen lebih formal, digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua, orang asing, atau orang dengan status sosial yang lebih tinggi.
"Katakan alasannya." Kakek Yamazaki berucap dengan nada yang sedikit lebih ramah.
Glek
Mone lagi-lagi terpaksa menelan ludahnya. Ia harus bisa mencari jawaban yang tepat untuk menghadapi yakuza yang paling ditakuti di seantero Jepang ini. Jika ia membuat kakek marah, mungkin kepalanya akan dipenggal sekarang juga.
"Tangan saya berlumur darah, sama sekali tidak pantas menyambut uluran tangannya yang suci."
Srett
Kakek mencabut katana yang ada di belakangnya dan mengarahkan pedang tajam itu pada Mone. Ujungnya yang runcing berada tepat di bawah dagunya, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
"Kamu sungguh menolak cucuku?" kakek menatap Mone dengan pandangan yang menusuk.
"Maaf atas kebodohan saya. Saya tetap tidak bisa menerimanya," jawab Mone, menatap kakek Yamazaki dengan sorot mata penuh ketakutan.
"Bahkan kamu akan tetap menolaknya jika aku yang memaksamu menerimanya?"
"Maaf." Mone menutup matanya, bersiap merasakan sakit yang tak terperikan jika mungkin kakek akan menyabet lehernya saat ini juga.
"Kamu bahkan rela mati daripada harus menyambut perasaan cucuku." Kakek berdiri menjulang di depan Mone. Pegangan tangannya semakin mengerat, ia mengangkat pedang itu menjauh seolah bersiap menebas leher di depannya detik berikutnya.
"Maafkan saya," cetus Mone pasrah. Ia siap kehilangan nyawanya. Mungkin saatnya ia menemui ayah dan ibunya di alam baka.
...****************...
Dag did dug 😣😣
Kejam kali dikau, Kek! 😲😲
Kira-kira apa yang bakal terjadi sama Mone yaa? Ugh, author deg-degan rasanya.
Sampai jumpa episode berikutnya. Jangan lupa like-nya yaa, komen juga biar author makin semangat lanjutinnya.
Hanazawa Easzy 😍😘
__ADS_1