Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Yamashita Park


__ADS_3

Ken menemani Aira menemui dokter Tsukushi, seorang dokter spesialis kandungan yang juga berperan penting dalam pengobatan ibu dan janin berisiko. Ken sempat khawatir jika saja ada sesuatu yang akan membahayakan keselamatan istri dan ketiga anaknya, nyatanya kondisi mereka baik-baik saja. Hanya semacam sharing informasi agar Aira lebih siap dan menyarankan untuk memperbanyak istirahat.


Keduanya keluar dari rumah sakit bersalin itu saat matahari telah tenggelam sempurna di ufuk barat, membuat langit mulai terlihat gelap sempurna.


"Kita kemana?" tanya Aira. Ia menatap wajah suaminya yang tengah fokus mengemudi.


"Rahasia. Aku ingin mengajakmu ke tempat terbaik di kota ini." Ken mengerlingkan sebelah matanya. Tepat saat itu mobil mereka berhenti di perempatan jalan karena lampu lalu lintas berwarna merah


"Suamiku menjadi genit. Aku bertanya-tanya siapa yang sudah mengajarinya," canda Aira. Ia mengelus pipi suaminya, membuat Ken tersenyum.


Ken menarik pundak Aira tanpa aba-aba dan mencium keningnya sekilas sebelum kembali duduk tegap di atas kursinya.


"Ken?!" pekik Aira saat mendapati suaminya bersikap begitu impulsif.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku mencium keningmu? Atau mau ku cium di bagian wajah yang lain?" goda Ken.


"Mesum!" tuduh Aira sembari mencubit pinggang suaminya yang tertutup sweater coklat muda. Salah satu warna kesukaannya.


"Mesum juga tidak masalah, bukankah kamu suka? Lagi pula aku melakukannya pada istriku sendiri, bukan pada orang lain." Ken membela diri. Ia melirik istrinya sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya. Mobil mereka melaju pelan, diikuti oleh kendaraan lain yang ada di belakangnya.


"Kenapa mulutmu jadi banyak omong sekarang? Dimana Yamazaki Kenzo yang dingin dan arogan itu?" cibir Aira pada suaminya.


"Apa itu termasuk pujian untukku karena sekarang bersikap hangat dan begitu memanjakan istriku?" balas Ken memutarbalikkan tuduhan Aira. "Istriku begitu cantik dan subur. Dia bahkan memberikan tiga putra sekaligus dalam sekali hamil. Itu artinya hanya cukup hamil tiga kali lagi dan aku bisa membuat tim sepak bolaku sendiri. Lengkap dengan satu pemain cadangan. Bagaimana mungkin aku tidak memanjakannya?" cetus Ken blak-blakan.


"Astaga. Apa yang kamu makan siang ini? Aku akan menegur Kosuke karena membiarkanmu makan sembarangan dan membuat otakmu kacau!" Aira kesal karena Ken tidak menyaring ucapannya sama sekali. Ingin sekali rasanya memukul tempurung kepala yang ada di hadapannya ini agar pemiliknya kembali berpikir rasional.


"Otakku kacau bukan karena makanan, tapi karena kamu terus menari-nari di dalam pikiranku. Bahkan saat bekerja di kantor pun, aku selalu memikirkanmu. Jika bisa, aku akan memasukkanmu dalam saku kemejaku agar kita tidak perlu berpisah lagi. Kamu akan ada bersamaku 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Bukankah itu hebat?"


"Hah?" Aira melongo mendengar penuturan Ken yang terdengar begitu berlebihan. Menahannya sepanjang waktu, menyamai tagline sebuah restoran cepat saji asal Amerika yakni 24/7, memangnya bisa?


Aira tak menjawab. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia heran dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan suaminya menjadi overdosis kata-kata manis seperti ini. Apa pria itu mengambil kelas cinta selama berjauhan darinya sebulan terakhir? Hanya membayangkannya saja membuat Aira bergidik ngeri. Ia lebih suka Ken yang irit kata, bukan pria penggoda seperti sekarang.


"Kenapa? Kamu terpesona padaku 'kan? Aku tahu kamu pasti akan tersentuh mendengar ucapanku ini. Tidak perlu berterima kasih, aku mengungkapkannya dengan tulus dari dasar hatiku."


Aira enggan mendengarkan celotehan Ken yang masih berlanjut. Ia memilih untuk membenahi posisinya duduk dan menutup matanya. Wanita hamil itu ingin terlelap saja agar tidak perlu mendengarkan rayuan gombal suaminya yang membuatnya ingin muntah saat ini juga. Mungkin kata-kata itu akan terasa manis jika diucapkan secukupnya, tapi jika berlebihan seperti sekarang, justru terasa tak ada artinya lagi.


"Apa kamu tidur?" tanya Ken saat ucapannya tak mendapat balasan dari Aira.


Ia mengelus pipi istrinya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya masih mencengkeram benda bulat di hadapannya, menjaga kestabilan kendaraan agar tetap melaju di jalurnya.


"Have a nice dream, my dearest." Atensi Ken kembali fokus pada jalanan lurus di depannya, membiarkan istrinya masuk ke alam mimpi. Ken akan membangunkannya saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


(Mimpi indah, kesayanganku)


Kendaraan berwarna silver itu melaju dengan kecepatan sedang, membawa dua insan itu menuju satu tempat spesial yang ada dalam kepala Ken.


Bagi orang asing, ketika mendengar kata Jepang, tempat yang paling sering dijadikan destinasi wisata pastinya tidak jauh dari Tokyo, Osaka, atau Kyoto. Padahal, masih banyak daerah di Jepang lainnya yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Yokohama.


Ibukota prefektur Kanagawa ini menyimpan berbagai macam destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan, baik mereka yang berasal dari luar negeri maupun para penduduk lokal. Letaknya sendiri tidak begitu jauh dari Tokyo dan bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam bila melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta.

__ADS_1


Yokohama sendiri disebut menjadi kota kedua terbesar di Jepang setelah Tokyo dengan jumlah penduduk mencapai 3,6 juta jiwa. Kota ini terkenal sebagai kota yang memiliki pelabuhan terbesar di Jepang. Pada zaman Edo (1603-1867) dahulu kala, pelabuhan Yokohama menjadi salah satu pelabuhan pertama di Jepang yang membuka arus perdagangan dengan pihak asing. Dan sekarang difungsikan sebagai tempat wisata.


Mobil yang Ken kendarai melewati gerbang raksasa yang bertuliskan Yamashita Koen atau Taman Yamashita. Seorang petugas membukakan pintu mobil Ken dan mempersilakannya masuk.


Ken menatap wajah tenang istrinya yang masih terlelap di alam mimpinya. Dia mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati dan membawanya masuk ke area taman yang memiliki luas mencapai 74.000 meter persegi.


Aira mengerjapkan matanya sekali, merasakan pipinya tertampar angin yang cukup kuat. Selain itu, ia merasakan tubuhnya seolah melayang di udara.


'Apa aku mimpi? Kenapa tubuhku seolah berada di ayunan?' gumam Aira dalam hati. Ia membuka kelopak matanya dan mendapati wajah Ken beberapa centimeter di depannya.


"Ken?!"


Sekilas wanita hamil itu menatap sekeliling dan begitu terkejut saat menyadari bahwa mereka sedang ada di luar ruangan. Ia segera mengalungkan tangannya di leher Ken.


"Ken, ini dimana?" tanya Aira ingin tahu.


"Ini tempat rahasia yang ku katakan sebelumnya, Taman Yamashita."


"Bisa turunkan aku? Aku akan berjalan kaki sendiri," pinta Aira hati-hati, takut membuat suaminya marah.


"Sudah sampai," ucap Ken. Ia mendudukkan Aira di sebuah kursi besi yang ada di sana. Aroma bunga mawar langsung tercium di hidung wanita itu, membuatnya segera menyapu pandang ke sekeliling dan terkagum-kagum detik berikutnya.


Aira bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah laut, tangannya mencengkeram pagar besi yang menjadi pembatas daratan dan lautan di depan sana. Taman ini menyuguhkan pemandangan yang mengkombinasi antara taman dan pelabuhan.



"Hi-ka-wa Ma-ru." Aira membaca tulisan yang ada pada sebuah kapan besar di atas lautan di depan sana.


"Eh, boleh?"


"Sekarang kapal itu difungsikan sebagai museum, dibuka untuk umum dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore, dan tutup setiap hari Senin."


"Pasti mahal yaa untuk bisa masuk ke sana," cetus Aira.


"Tidak juga. Tiket masuk seharga 200 yen untuk orang dewasa dan 100 yen untuk anak-anak dan lanjut usia di atas 65 tahun. Ayo, kamu bisa istirahat di sana," ajak Ken, bersiap membawa istrinya ke dalam kapal.


"Bukankah sudah tutup? Ini sudah jam tujuh malam,"


"Aku akan menemui petugasnya. Mereka tidak akan keberatan meskipun jika kita ingin menginap di sana." Ken berujar dengan percaya diri. Tidak ada orang yang berani menolak tuan muda Yamazaki ini.


"Tidak usah." Aira berbalik dan menghadap taman di depannya. Selain pemandangan laut yang mengagumkan, taman Yamashita juga menyuguhkan pemandangan indah dari kebun bunga berbagai warna. Lebih bagus lagi karena terkena bias lampu di kanan kirinya.



(Pemandangan taman Yamashita di siang hari. Sumber : pinterest)


Taman Yamashita adalah salah satu taman khas dari daerah Yokohama yang juga merupakan tempat kencan yang populer. Selain bisa menyaksikan Teluk Tokyo yang terlihat sangat indah, para pengunjung juga bisa melihat perahu yang datang dan pergi menuju teluk dan jembatan Yokohama. Pada musim semi dan musim gugur, tempat ini sangat cocok dikunjungi untuk menyaksikan bunga mawar yang bermekaran.


Ken dan Aira berjalan bersisian, melalui jalan setapak yang terbentang di antara tanaman berduri itu.

__ADS_1


"Taman ini dibangun di atas lahan yang menjadi puing-puing saat Gempa Besar Kanto pada tahun 1923, dan dibuka lima tahun setelahnya."


"Itu sudah cukup lama," gumam Aira. Tangannya meraih bunga mawar berwarna pink keunguan di depannya. "Ada berapa banyak bunga di sini?"



"Di ladang bunga pusat ada sekitar 400 bunga dari 60 jenis mawar  yang ditanam dan akan bermekaran dari awal musim panas sampai ke musim gugur. Sayang sekali, ini belum memasuki musim panas jadi hanya beberapa bunga yang mekar."


"Tidak masalah. Aku suka."


"Nanti kita kesini lagi bersama anak-anak," ucap Ken sambil tersenyum.


"Umm." Aira setuju dengan pendapat Ken. Semoga persalinannya berjalan lancar jadi ia bisa datang kesini lagi dengan para jagoannya. "Banyak sekali patung di sini?"


"Ya. Ada berbagai patung perunggu dan monumen, termasuk 'Gadis yang menggunakan sepatu merah' itu," tunjuk Ken pada sebuah patung di depan mereka.


"Gadis yang menggunakan sepatu merah?"


"Itu adalah sebuah patung yang terinspirasi oleh sajak anak-anak terkenal Ujo Noguchi. Gadis kecil memakai sepatu merah yang semua orang Jepang tahu dan merupakan subjek dari lagu anak-anak yang disenangi dan disayangi. Dalam lagu tersebut, gadis kecil meninggalkan Jepang dan pindah ke luar negeri, sehingga dalam patung digambarkan mata penuh kerinduan pada pelabuhan Yokohama. Ah, lihat di sebelah sana," Ken menunjuk menara air India seratus meter di depannya. "Itu merupakan hadiah dari Asosiasi India Jepang. Menara ini dipersembahkan oleh asosiasi orang India timur yang tinggal di Jepang, untuk berterima kasih atas dukungan masyarakat Jepang setelah gempa bumi besar Kanto tahun 1923."


"Lalu, apa itu?" tanya Aira sembari menunjuk patung dewa penjaga air yang duduk di tengah-tengah air mancur.


"Itu patung dewa air yang disumbangkan oleh kota San Diego, Amerika Serikat."


Langkah keduanya terus berlanjut menjelajahi taman ini. Mereka berpapasan dengan beberapa pasangan muda mudi yang menatap Aira sambil tersenyum. Mungkin mereka turut bahagia melihat perut Aira yang besar, entahlah. Taman ini merupakan salah satu landmark kota Yokohama, yang menarik banyak pengunjung lokal dan internasional sepanjang siang dan malam.


Para pengunjung taman dapat minum dan menikmati makanan kecil di toko Lawson dekat pintu masuk barat laut (sebelah kiri menghadap taman), dan jika beruntung, dapat melihat pemain jalanan menampilkan show yang spektakuler.


"Ini indah," puji Aira saat keduanya kembali duduk di depan patung Gadis pramuka yang merupakan simbol persahabatan Jepang dan Amerika Serikat.



"Jalan ini akan membawa kita ke kota Cina." Tunjuk Ken pada jalanan di depannya. "Selain itu, di depan sana ada The Red Brick Warehouse dan The Motomachi shopping street. Orang-orang pergi ke sana dengan berjalan kaki. Jalan ini bernama Yamashita-Koen Dori (jalan taman Yamashita) sepanjang taman yang terdaftar sebagai satu dari 100 jalan terbaik di Jepang."


(https://id.japantravel.com/kanagawa/taman-yamashita/23893)


"Kamu suka?" tanya Ken.


"Umm. Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Ayo pulang, aku lelah."


"Ayo,"


Keduanya kembali ke mobil dan pulang ke rumah kakek Yamazaki.


...****************...


Jalan-jalan virtual dulu kita. Nanti deh ke sana bareng abang Yamaken 😂😂


As always, jangan lupa tinggalkan jejak yaa. See you & baibai 😄😉

__ADS_1


Hanazawa Easzy 🌸


__ADS_2