Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Ilusi


__ADS_3

"Apa kakak tidak mencintai kakak ipar?" tanya Mone pada Aira, "Apa yang kakak rasakan, aku berhak tahu. Kakak bahagia atau tidak, aku juga harus memastikannya agar kakak tidak terluka. Aku tidak ingin siapapun menyakiti kakak."


"Bahagia atau tidak, mencintainya atau tidak, itu tidak lagi penting. Apapun yang terjadi, dia adalah suamiku, ayah dari anak-anakku. Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk mereka di masa depan. Selama mereka bisa tertawa, aku ikut bahagia." ungkap Aira.


Ia mengajak Mone masuk ke dalam kamar untuk melihat hasil cetak dari USG empat dimensi yang beberapa jam lalu ia dapatkan dari dokter Maeda. Ia tidak menyadari ada pria yang kini tengah terluka mendengar jawaban dari mulutnya.


"Ai-chan..." lirih Ken. Ia tertegun di tempatnya berdiri, menyadari bahwa selama ini Aira bertahan dengannya hanya demi buah hati mereka. Apa Aira benar-benar tidak mencintainya? Apa dia akan pergi setelah bayi mereka lahir?


Ketakutan seketika merambat ke dalam sanubari Ken. Ia mengingat dengan jelas semua hal buruk yang ia lakukan di masa lalu pada Aira. Ia menundukkan kepalanya merasa begitu bodoh karena selalu saja menjadi tak terkendali di depan istrinya. Ia pernah mendengar bahwa hati seorang wanita layaknya gelas kaca, sekali retak (terluka) akan membekas selamanya. Bahkan meskipun kita berusaha memperbaikinya sekuat tenaga, tetap ada bekas yang tak bisa dihilangkan. Mungkin Aira memang bisa menerima Ken sebagai suaminya sekarang, namun luka yang ia torehkan di dalam lubuk hati istrinya tetap akan membekas selamanya.


"Tuan..." panggil Kosuke pada Ken.


"Ayo pergi." ucapnya tanpa menatap asistennya itu. Ia tidak ingin mengganggu Aira yang tengah menikmati waktu berharganya bersama Mone. Bagaimana pun juga Ken tidak bisa menafikan pertalian darah di antara keduanya.


"Tuan.."


"Hmm..." gumam Ken, wajahnya menghadap ke luar.


"Kemana Anda ingin pergi?" tanya Kosuke sembari menatap tuan mudanya melalui kaca spion yang menampilkan wajahnya yang terlihat muram.


"Bawa aku ke tempat 'itu'." jawab Ken datar dan dingin.


"Tapi tuan..." Kosuke tampak ragu dengan keinginan tuannya. Jika nona tahu, ia pasti akan marah.


"Pergi atau keluar dari mobil sekarang juga!" ancaman Ken berhasil membuat Kosuke kembali menghadap ke depan. Ia berbalik saat mendengar Ken ingin pergi ke tempat terlarang itu.


"Nona melarang Anda kesana. Saya akan mengantar Anda ke hotel untuk istirahat sementara waktu sampai kondisi Anda lebih baik." Kosuke menghidupkan mobilnya dan bersiap menginjak pedal gas saat lengan Ken mencengkeram bahunya.


"Pergi atau keluar!" ucap Ken dengan rahang mengerat. Ia benar-benar putus asa sekarang. Wanita yang begitu ia cintai ternyata tidak mencintainya. Wanita itu bertahan hanya karena tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan calon ibu dari anak-anaknya. Ia mendengar semua percakapan Aira dan Mone. Aira tidak membantah sama sekali perkataan Mone, itu artinya ia mengiyakan semua tuduhan yang Mone ungkapkan.


"Tuan..." Kosuke benar-benar tidak ingin mengantar tuannya ke sana. Dulu Ken boleh ke tempat itu, tapi dengan statusnya sekarang, hal itu tidak Aira izinkan. Sama sekali. Dan itulah sebabnya Kosuke bersikeras menolak keinginan tuan mudanya.


"Keluar!" Ken membuka pintu di sisi kanan asistennya dan mengusirnya dengan paksa. Kosuke terpaksa menurutinya. Ia hanya bisa melihat mobil hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian menghilang dari pandangan dalam beberapa detik.

__ADS_1


"Nona, maaf saya tidak bisa menjaga tuan muda.." lirihnya sambil menundukkan kepala. Ia segera menghubungi Minami untuk mengatakan semua yang telah terjadi, termasuk Ken yang mendengar perdebatan Aira dan Mone.


...****************...


Langit gelap seluruhnya saat Ken sampai di pelataran rumah yang terasa asing. Ia berjalan tanpa kata melewati halaman yang luas. Daun maple berwarna merah tampak menumpuk di bawah pohon, beberapa helai tersisa di ujung dahan sebelum jatuh ke tanah hari berikutnya.


Kakinya menapaki anak tangga pendek yang terbuat dari kayu. Jemarinya menyapu debu yang menempel di pegangan tangga di sisi kanan tubuhnya. Berapa lama rumah ini ditinggalkan oleh pemiliknya?


Kriett


Ken membuka pintu utama rumah ini yang terbuat dari kayu. Bunyi engsel yang berderit semakin menunjukkan betapa usangnya rumah ini.


Hening


Tak ada suara apapun selain binatang malam yang ada di semak belukar di sekeliling rumah ini. Aroma lumut yang kuat menegaskan rumah ini tak berpenghuni, bahkan mungkin tak terjamah oleh manusia. Kelembaban yang tinggi membuat lumut dan jamur bebas tumbuh di berbagai sisi rumah ini, terutama yang tidak terkena cahaya matahari.


"Ken..." panggil suara lembut dari belakang membuat Ken berbalik saat itu juga. Tapi tak ada siapapun di sana. Hanya ruangan kosong dengan cahaya temaram dari bias lampu yang ada di teras.


"Ken..." suara itu kembali terdengar membuat Ken kembali berbalik dengan cepat. Lagi-lagi tak ada siapapun. Ken memicingkan matanya, bersiap menyergap orang yang memanggilnya. Tapi tak ada suara apapun atau siapapun. Hal itu membuat Ken kesal dan tersulut emosi.


Pintu kayu usang di depan Ken terlempar hingga ke ujung ruangan membuat debu di sekitarnya beterbangan ke segala arah.


"Uhuk.. uhukk.." Ken terbatuk setelah menghirup udara yang terkontaminasi debu tebal di depannya.


Samar-samar terlihat cahaya dari belakang rumah tua ini membuat Ken langsung menuju ke sana.


"Bukankah itu sudah lama berlalu?" terdengar suara Aira.


Ken semakin mempercepat langkahnya, tapi entah kenapa lorong gelap ini terasa begitu panjang. Rasanya rumah ini tidak begitu besar jika dilihat dari luar, tapi kenapa ada koridor panjang seperti di rumah sakit? Hal aneh ini kembali membuat Ken menautkan kedua alisnya.


"Aku tetap tidak bisa melupakannya." jawab suara yang sangat familiar di telinga Ken. Suara yang tidak pernah ia dengar lagi sejak 5 tahun yang lalu, atau bahkan lebih. Suara cinta pertamanya, Erina. Putri pertama keluarga Ebisawa.


Ken sampai di ambang pintu, tangannya berpegang erat pada rangka kayu di sisi badannya. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Ada Aira dan Erina yang kini duduk berhadapan di padang rumput yang luas.

__ADS_1


Tunggu. Ini tidak nyata.


PRANG


Ken menghantam cermin di sisi kiri tubuhnya dengan punggung tangan. Sakit. Tangannya terasa ngilu dengan darah yang mulai mengalir membasahi jemarinya yang berwarna pucat pasi. Cermin itu retak beberapa bagian, membuat pantulan wajah Ken terbagi menjadi beberapa potongan yang abstrak.


'Ada apa ini?' batin Ken memberontak. Akal sehatnya melawan. Ia yakin ini hanya ilusi. Erina sudah meninggal, jadi tidak mungkin cinta pertamanya itu duduk bersama dengan Aira.


Tunggu...


Tapi jika ini ilusi, tangannya tidak akan terasa sakit dan berdarah kan? Semua ini terasa begitu nyata dan menyakitkan. Hatinya kembali terluka setelah mendengar suara Erina. Rasa bersalahnya pada gadis itu kembali terasa. Luka lama yang ia sembunyikan di dasar hatinya yang paling dalam kembali menyeruak ke permukaan. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Erina tidak benar-benar ada. Pasti ini hanya ilusi. Ia harus menjauhkan Aira dari bayang-bayang Erina.


Ken berlari sekuat tenaga. Ia menghalau rumput ilalang yang kini berdiri menghadangnya. Ia bergerak dengan susah payah menerobos semak belukar yang ada di depannya.


Benar. Ini ilusi. Ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin ada rumput ilalang di akhir tahun di Jepang? Terlebih ini musim dingin. Juga tidak ada padang rumput seperti yang ia lihat sebelumnya. Semua ini pasti tidak nyata.


Ken menghela nafasnya setelah berhasil keluar dari kepungan rumput liar yang sempat menyulitkannya. Ia menatap Aira dan Erina yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya. Kedua wanita itu bergandengan tangan dengan erat dan tersenyum pada Ken sebelum menghilang bersama kabut yang semakin menebal. Asap putih itu menjadi penghalang di antara ia dan kedua wanita penghuni hatinya.


"Ai-chan...." panggil Ken sembari berusaha menghalau kabut itu dari hadapannya. Ia berjalan tak tentu arah, bayang-bayang Aira masih terlihat di depan sana. Ia hanya harus melangkah maju untuk mencapai istrinya dan mereka akan kembali dari dunia ilusi ini bagaimanapun caranya.


"AI-CHAN..!!" Ken berteriak memanggil istrinya. Ia terus melangkah, hanya sedikit lagi ia bisa meraih tangan Aira yang terukur padanya. Ia bisa melihat Aira dengan jelas sekarang, hanya beberapa langkah saja dan ia akan sampai di depan Aira.


"Ken..." panggil Aira dengan air mata yang membasahi pipinya, "Selamat tinggal.." ucap Aira dengan suara serak. Ada tebing curam di belakang Erina dan Aira. Kedua wanita itu terus mundur tanpa melihat ke arah belakang.


"TIDAK!! AI-CHAN TETAP DI SANA!!" teriak Ken frustasi.


Aira melambaikan tangannya dengan wajah tanpa ekspresi.


"AI-CHAAAAANNNN..." Ken berteriak memanggil wanita kesayangannya.


...****************...


See you next day 😢😭😭

__ADS_1


Hanazawa easzy 💔


__ADS_2