Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Happy Ending


__ADS_3

"Apa kamu sungguh menyukaiku?" tanya Mone dengan suara bergetar. Ia memeluk Yamaken dari belakang.


Yamaken terdiam, tubuhnya menegang. Hanya desau angin yang terdengar di atap rumah sakit ini. Juga detak jantungnya yang begitu cepat, seolah ingin keluar dari tempatnya saat ini juga.


Mone memeluknya? Apa itu artinya, perasaannya bersambut?


"Mo... Ah, Kamishiraishi-san," Yamaken begitu canggung, bahkan lidahnya terlalu kelu untuk memanggil nama gadis ini. Lebih mudah menyebutkan nama marganya.


"Yamazaki-kun, ayo mulai semuanya dari awal."


DEG!


Seolah ada kembang api yang berpendar di angkasa. Perasaan Yamaken menghangat, penuh warna warni di hatinya. Cintanya sungguh bersambut, bahkan Mone yang mengungkapkannya lebih dulu kali ini.


Yamaken berbalik, ia memeluk Mone dengan erat. Tanpa aba-aba, bulir bening kembali membasahi pipinya. Ia menangis lagi.


"Arigatou. Hontou ni arigatou," ucap Yamaken terharu.


(Terima kasih. Terima kasih banyak)


"Apa kamu menangis?" Mone mengurai pelukannya dan menatap pria di depannya dengan sebal. Meski begitu, ia menghapus air tanpa warna dari wajah putih di depannya.


"Apa kepribadian kita tertukar?" canda Mone sambil mengacak rambut Yamaken. Ia yang seorang wanita nyatanya memiliki tekad dan hati yang keras. Sedangkan Yamaken, seorang pria tapi begitu lembut hatinya, mudah menangis karena hal-hal sepele.


Hap


Bukannya menjawab, Yamaken kembali memeluk Mone dengan erat. Ia bahkan tak segan memutar tubuhnya beberapa kali, membuat gadis itu seolah terbang di udara.


"Hahahaaa.... Lepaskan aku. Aku takut." Mone menepuk-nepuk punggung Yamaken beberapa kali.


Gerakan Yamaken terhenti. Napas mereka terengah-engah, saling menempelkan kening dan melempar senyum satu sama lain.


"Aku senang kamu mengakui perasaanmu." Yamaken mengelus pipi chubby di depannya sambil tersenyum.


"Mana ada? Siapa bilang aku menyukaimu!" ketus Mone secepat mungkin. Ia bahkan melepas pelukannya di tubuh Yamaken.


"Ayolah, mengaku saja. Kamu juga sebenarnya menyukaiku, 'kan?" Yamaken menjawil dagu Mone yang memasang wajah cemberutnya.


"Percaya diri sekali. Sudah. Aku pergi." Mone berbalik, bersiap meninggalkan pria yang delapan tahun lebih tua darinya itu.


"Siapa bilang kamu boleh pergi?" Yamaken menahan baju bagian belakang Mone, membuat gadis itu tercekik oleh blouse yang ia kenakan.


"Apa yang kamu lakukan?" Mone protes, melepas cengkeraman Yamaken dengan paksa.


'Hubungan mereka sungguh aneh. Biasanya si Pria akan menahan lengan atau pinggang si Wanita. Tapi Yamaken justru menahan baju belakangnya? Yang benar saja! Huh!' kesal Mone.


"Tetap di sini," pinta Yamaken lirih. Kali ini ia menggenggam jemari gadisnya dengan lembut. Ia membawa Mone duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Mone. Ia menatap sekeliling. Tak ada apapun atau siapapun. Hanya palang-palang besi yang sering ada di atap sebuah gedung.


"Merajut mimpi masa depan," jawab Yamaken tegas.


Mone tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


...****************...


Ken masuk kembali ke dalam ruang perawatan istrinya dengan perasaan lega. Ia yakin hubungan Yamaken dan Mone mengalami perkembangan. Semoga saja mereka menemukan kecocokan masing-masing.


"Bagaimana?" tanya nyonya Sumari, khawatir terjadi sesuatu pada Yamaken dan Mone.

__ADS_1


"Sepertinya mereka sudah berdamai," jawabnya lemah.


"Syukurlah." Ibu tampak lega. "Ibu harus pergi sekarang. Apa tidak masalah aku meninggalkan kalian hanya berdua dengan tiga malaikat kecil itu?" tanya nyonya Sumari sembari menunjuk box berisi triplet A, Akari, Ayame, dan Azami.


"Tak apa, Bu. Pergilah," jawab Yamaken sambil menganggukkan kepalanya lemah.


"Segera hubungi Ibu jika membutuhkan sesuatu," ucapnya sambil mencium kening menantunya.


"Baik, Bu. Terima kasih," lirih wanita yang baru melahirkan bayinya 24 jam yang lalu itu.


"Hati-hati di jalan, Bu," pesan Ken sambil membukakan pintu untuk ibunya. Ia hanya mengantar wanita itu sampai di koridor. Membiarkannya pergi bersama dua orang pengawal yang selalu menyertainya.


"Apa kamu lelah?" tanya Aira saat melihat wajah pucat suaminya.


"Umm. Aku ingin tidur," jawabnya acuh tak acuh.


"Eh? Eh? Apa yang kamu lakukan?" protes Aira. Tanpa aba-aba, Ken naik ke atas ranjang perawatannya. Ia menyurukkan kepalanya di lengan Aira yang berbaring setengah duduk.


"Ken?" Bagaimana jika ada yang melihatnya? Turun dari ranjangku sekarang juga!"


"Mmhh." Ken menutup matanya, mengabaikan panggilan dan protes dari istrinya.


Dengkuran halus terdengar dari mulut suaminya beberapa detik kemudian, membuat Aira menyerah. Ia mengelus surai hitam suaminya dengan sayang. Ia tahu, pria ini sudah meluangkan waktu berharganya dua hari terakhir.


"Selamat istirahat." Aira mencium puncak kepala suaminya sambil tersenyum. Meski ini masih tengah hari, nyatanya Ken begitu kelelahan setelah terjaga sepanjang malam. Aira akan membiarkannya istirahat sejenak. Lagi pula, Ken tidak akan tidur lebih dari tiga puluh menit, itu kebiasaannya. Ya, Ken memiliki managemen waktu tidur yang baik selama ini. Entah masih sama atau tidak beberapa hari kedepan, tidak ada yang tahu.


...****************...


Di saat yang sama, beberapa meter dari tempat itu, di ruang istirahat khusus dokter...


"Terima kasih," ucap Kaori menatap kotak cincin di depannya. "Tapi aku tidak bisa menerimanya. Maaf," tolaknya halus. Ia mendorong kotak itu kembali pada pemiliknya, Shun Oguri.


Shun tersenyum, sudah menduga jawaban ini yang akan ia dapatkan.


"Apa aku terlihat semenyedihkan itu?" Kaori mengangkat sebelah bibirnya, heran dengan isi kepala pria di hadapannya.


"Pilihanmu hanya dua. Berkencan dulu atau langsung menikah?"


"Hah?" heran Kaori terang-terangan saat melihat Shun kembali mendorong cincin berlian yang ia gunakan untuk melamarnya. Lamaran yang aneh. Ini lebih terdengar sebagai sebuah desakan, bukan lamaran atau pernyataan cinta. Pria gila ini memang benar-benar gila.


Kaori beranjak dari duduknya. Enggan mempedulikan pria yang tahun ini genap memasuki usia kepala tiga. Ia tidak ingin menanggapi dua pilihan itu. Semuanya memiliki arti yang sama, menjadi pendamping hidupnya.


Jika ia memilih opsi pertama, berkencan dulu, bisa dipastikan Shun akan menjeratnya hingga ia tidak bisa pergi, bagaimanapun caranya. Dan lebih buruk lagi saat memilih opsi kedua, langsung menikah? Itu artinya ia tidak bisa berkutik lagi semacam eksekusi mati. Pilihan yang tidak dapat dipilih.


"Silakan tinggalkan ruangan ini. Aku tidak akan memilih salah satu ataupun keduanya." Kaori membuka pintu putih di depannya, mengusir pria itu dari ruangan minimalis tempatnya tinggal sementara.


Shun menampilkan smirk andalannya. Ia bangun dan mendekat ke arah pintu. Kakinya terhenti satu langkah di depan Kaori, mendekatkan wajahnya, membuat jantung gadis itu sontak berdisko dengan irama tak beraturan. Embusan napas pria itu menerpa wajahnya.


'Apa yang dia pikirkan? Kenapa aku takut seperti ini?' gumam Kaori dalam hati. Tangannya terkepal di sisi badan, menetralkan emosinya agar wajahnya tidak memerah.


"Telingamu merah," bisik Shun sambil tersenyum.


Kaori buru-buru menutupi telinganya dengan rambut hitamnya yang tergerai bebas. Ia tidak ingin terprovokasi.


BAMM


Shun menutup pintu dengan menggunakan kakinya. Tangannya menahan kedua pergelangan tangan Kaori, menempelkannya dengan paksa ke daun pintu di belakang dokter cantik itu.


"Sudah ku katakan, pilihanmu hanya ada dua. Berkencan atau menikah, bukan justru mengusirku!"

__ADS_1


"Terserah! Aku tidak akan mmp... " Shun melahap bibir tipis di depannya, membuat kata-kata Kaori tertahan saat itu juga.


'Dia gila. Benar-benar gila!' batin Kaori memberontak. Matanya membulat sempurna mendapat serangan yang begitu tiba-tiba ini.


Psrgerakan Shun semakin aktif, ia mencoba mendominasi gadis di hadapannya. Kaori tahu pasti bahwa pria ini tak bisa dilawan, tapi bagaimanapun juga, ia juga bukan gadis lemah yang hanya bisa pasrah.


Dukk


Kaori menginjak kaki Shun, berharap pria itu melepaskan pagutannya. Dan benar saja, Shun mengerutkan keningnya, menatap manik mata Kaori dalam-dalam.


"Mau bermain kasar denganku? Kita lihat siapa yang akan menang!" bisik Shun di telinga Kaori. Ia bahkan tak segan mencium dan mengembuskan napas di area sensitif itu, membuat bulu roma Kaori seketika meremang.


Shun menarik tubuh Kaori dengan paksa dan membaringkannya di meja. "Aku bisa melakukannya sekarang juga. Apa kamu siap?"


"GILA! DASAR PRIA GILA!" Kaori berusaha memberontak dari kungkungan tubuh atletis di depannya. Namun agaknya semua itu sia-sia saja. Tenaganya tak sebanding dengan Shun.


"Benar. Aku memang gila. Bukankah kamu juga menyukainya?" Shun menahan kedua pergelangan Kaori dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala. "Aku mulai sekarang. Apa kamu tidak keberatan jika aku membuat tanda di sini?" Shun memegang leher putih Kaori dengan jari telunjuknya. Matanya berkilat menahan gairah.


Tanpa menunggu jawaban Kaori, Shun mendekatkan kepalanya ke arah ceruk leher itu, bersiap menciumnya saat itu juga. Atau bahkan bisa lebih ekstrim dari itu, membuat tanda yang bisa dilihat oleh semua orang.


"YAMETE!! AKU AKAN MENIKAH DENGANMU!" teriaknya sepersekian detik sebelum bibir Shun mendarat di kulit sensitifnya.


(BERHENTI!)


"Hontou?" pancing Shun dengan senyum kemenangan terpatri di wajah tampannya.


(Sungguh?)


"DASAR PRIA GILA! AKU MEMBENCIMU!" Kaori mendorong tubuh Shun begitu cekalan tangannya terlepas.


"Tapi kamu juga menyukaiku," ucap Shun dengan mengangkat sebelah alisnya. "Benar, 'kan?"


Kaori memilih pergi dari ruangan istirahatnya ini. Ia ingin mendinginkan kepalanya yang mendidih. Keputusan yang ia ambil tidak akan bisa ia tarik kembali. Pria pemaksa itu pasti akan tetap memaksakan kehendaknya jika Kaori tetap menolak.


"Akhirnya aku akan menikah," gumam Shun sambil tersenyum seorang diri.


...****************...


HWAAAAAA.... Emang gila nih abang cinta pertama author 😂😆😆😆


Astaga, guling-guling kan akutuh bayanginnya... 😂😂


Adududuuu, happy ending yaa gaess. Kalo si Yu sama Yoshiro kan udah baikan, jadi ngga aku ceritain di episode terakhir season 3 ini. Inget, episode terakhir season 3. Artinya, Gangster Boy ini BELUM TAMAT yaa.


Masih ada kelanjutannya kok, cuma mungkin rehat dulu beberapa hari yaa. Otak author lelah & kerjaan di dunia nyata kudu segera dibereskan. Jadi, untuk sementara karya ini (mungkin) ngga bakalan up beberapa hari ke depan. Buat yang kangen, bisa baca-baca lagi episode awal.


Arigatou minasan...


Hontou ni arigatou... 🙇🙏🙏


Terima kasih yang tak terkira untuk satu tahun ke belakang yang telah terlewati. Author mohon maaf yang setulusnya jika ada hal-hal yang membuat kalian tidak berkenan, atau mungkin ada informasi yang salah. Maaf jika masih ada typo, salah ejaan, pemilihan diksi yang kurang sesuai, insyaAllah akan author perbaiki kedepannya.


Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua yang sudah mendukung author sejauh ini. Jangan lupa jaga kesehatan, tetap utamakan ibadah, penuhi tanggung jawab dan kewajiban yang kalian miliki. Jangan sampai karena novel unfaedah ini jadi kalian malas-malasan, apalagi sampai ninggalin ibadah. Big NO!!!


Pokoknya terima kasih yang tak terhingga untuk kalian semua. 😍💙


Yang mau kenalan sama author, boleh masuk grup chat. Di deskripsi, ada kontak pribadi author. Bisa kok kalian chit chat, asal tetap jaga sopan santun yaa.


Akun sosmed juga boleh di follow yaa @hanazawa_easzy (perhatiin belakangnya, e.a.s.z.y yaa) 😊

__ADS_1


Udah ah, cukup segitu aja. Sampai jumpa di episode selanjutnya... Bye-bye 🤗


Hanazawa Easzy ❤


__ADS_2