Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Pengorbanan Istri Luar Biasa


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul empat sore waktu setempat saat lampu di atas pintu yang bertuliskan RUANG OPERASI dimatikan. Itu artinya proses persalinan di dalam sana telah berakhir. Pintu terbuka. Tiga orang tenaga medis keluar dari ruangan steril itu berurutan.


"Dokter, bagaimana keadaan menantu dan cucu saya?" tanya nyonya Sumari pada mereka, namun tak satu pun bersedia menjawab. Mereka bergegas pergi, hanya memberi isyarat dengan tangannya bahwa mereka tidak akan bicara apapun.


Ya, ketiga orang itu tidak memiliki kapasitas bicara di sini. Yang berhak untuk menyampaikan hasil operasi kali ini adalah dokter Tsukushi. Beliau yang paling senior di antara semua orang yang tadi berjibaku di dalam sana. Orang itu pula yang paling bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi pada pasiennya.


Selain sebagai konsultan kehamilan berisiko, beliau juga adalah wakil direktur pengelolaan rumah sakit swasta ini. Jasanya yang telah mengabdi hampir tiga puluh tahun di tempat ini, tentu pantas diganjar dengan posisi ini.


Nyonya Sumari bergerak kesana kemari, menantikan ketiga cucunya keluar dari ruangan di depannya. Lima menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda mereka akan keluar.


"Bu, tenanglah." Yamaken mencoba menenangkan ibunya, meraih tangannya, memintanya duduk.


"Kenapa mereka belum keluar juga? Aku sudah mendengar tangisan mereka bertiga. Apa ada masalah?" tanya ibu tak sabar. Ya, ia sudah mendengar tangisan ketiga cucunya beberapa saat yang lalu.


Yamaken hanya diam. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Mungkin masih ada hal yang perlu diurus, itu pikirnya.


Ceklekk


Daun pintu itu terbuka lebar. Dokter Tsukushi keluar dan membantu Kaori yang mendorong ranjang di depannya. Ada Ken di sisinya sembari memasang senyum terbaiknya. Ia beralih pada ranjang bayinya saat melihat ibu dan Yamaken membantu mendorong ranjang Aira.


Kakek berjalan bersisian dengan tuan Tsuguri, tertinggal di belakang rombongan bersama beberapa pengawalnya. Raut wajah kedua pria beda usia itu tampak lega. Melihat Ken yang tersenyum, itu artinya semua berjalan dengan lancar. Ketiga cicitnya sudah lahir, sampai di dunia ini dengan selamat.



Mereka masuk ke sebuah ruangan berwarna abu-abu di lantai dua rumah sakit ini. Ruangan ini cukup lega dengan pendingin ruangan di salah satu sisinya. Sebuah kursi panjang berwarna putih menempel di dinding, dekat jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Yokohama. Di sampingnya terdapat meja kecil berbentuk kotak dengan bunga artificial yang ada di atasnya. Sebuah televisi digital layar datar tertanam dinding, bisa dimanfaatkan untuk hiburan sewaktu-waktu.


Di sebelah ranjang perawatan Aira, ada meja mininalis yang menyatu dengan wastafel dengan kran sensor otomatis. Tak lupa ada kamar mandi di dekat pintu masuk, dimana ada dua lemari untuk menyimpan barang-barang penghuni maupun keluarga yang menunggui pasien VVIP class ini. Desain yang minimalis namun masih terasa mewah dengan perabot yang berkualitas.


Pengawal di belakang kakek meletakkan barang bawaan yang telah nyonya Sumari siapkan sebelumnya. Ada dua tas hitam besar, yang mana langsung menjadi pekerjaan untuk Minami.


Wanita hamil beberapa minggu itu segera mengeluarkan barang-barang dari dalam tas dan menatanya di dalam lemari. Beberapa barang yang seringkali dipakai, seperti tisu, handsanitizer, dan semacamnya ia letakkan di atas meja.


Dokter Tsukushi, Kaori dan seorang petugas medis yang lain undur diri, menyisakan si kembar, Ken-Yamaken, nyonya Sumari, tuan Tsuguri, beserta dengan kakek Yamazaki.


"Bagaimana keadaannya?" tanya ibu pada Ken. "Ibu sangat mengkhawatirkan mereka." Ia mendekati menantunya, menyapu pandang pada wanita yang ia paksa menikah dengan putranya sebelas bulan yang lalu.

__ADS_1


"Tenanglah, Bu. Mereka baik-baik saja." Ken mengelus alis mata istrinya dengan ibu jari.


"Normal atau sesar?" tanya kakek yang juga ingin tahu cerita di balik pintu tadi. Hanya Ken yang boleh masuk, jadi tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana, kecuali cucu kesayangannya itu.


"Dua-duanya. Dia pingsan setelah melahirkan dua bayinya. Jadi, mau tidak mau, dokter terpaksa melakukan pembedahan saat itu juga." Ken memilih duduk di kursi empuk berwarna putih yang ada di sana. Semburat mentari sore hari menyapa penglihatannya, membuat matanya sedikit silau.


Yamaken dengan sigap menarik tirai yang tergantung di atasnya, membuat sinar mentari tak lagi menerpa wajah kakaknya secara langsung.


Ken mengurut pelipisnya. Rasa lelah dan letih seketika menderanya. Ia memejamkan mata sambil meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan fisik Aira sekarang. Pantas saja ia pingsan setelah bayi perempuan mereka lahir. Ia saja yang hanya mendampingi istrinya, bisa merasakan kelelahan yang amat sangat seperti sekarang.


"Kamu terlihat begitu lelah. Basuh wajahmu dan ganti baju, mungkin itu akan sedikit membuatmu segar." Ibu menyarankan. Beliau mengambil satu kemeja untuk putra sulungnya, "Pergilah. Ibu akan menjaganya," ucapnya sambil melirik Aira yang masih belum sadarkan diri.


Ken menerima pakaian yang diulurkan ibunya dan segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil celana panjang dari lemari. Ia membasuh tubuhnya, membiarkan air dingin itu menerpa ujung kepala hingga ujung kakinya. Ia akan merasa lebih segar setelah mandi, daripada sekadar membasuh wajah seperti yang ibunya sarankan.


...****************...


Semburat warna oranye menghiasi langit kota Yokohama. Senja agaknya bersiap mengantarkan siang yang hendak berlalu, berganti menjadi malam. Lampu-lampu di koridor rumah sakit ini mulai menyala. Meskipun bukan rumah sakit terbesar di kota ini, nyatanya ini yang paling nyaman untuk ditinggali.


Itulah sebabnya kakek Yamazaki tidak segan-segan memberikan donasi jutaan Yen di rumah sakit swasta ini tiap bulan. Kenyataannya, rumah sakit swasta ini lebih bisa menjamin kualitas pelayanannya dibanding rumah sakit negeri. Sama seperti kenyataan di Indonesia. Bahkan lebih parah di negara berkembang itu.


Terjadi ketimpangan sosial yang cukup signifikan antara rumah sakit swasta dan rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah setempat. Dari segi pelayanan, pihak swasta akan melayani semua pasien tak pandang bulu. Entah itu mereka menggunakan biaya umum, asuransi, atau bahkan jaminan kesehatan nasional yang bisa dibilang gratis.


Kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia sangat jauh berbeda dengan di negara ini. Bahkan rumah sakit terbaik di sana, mungkin hanya sebanding dengan rumah sakit kelas tiga di sini. Memprihatinkan.


Dengan sumber daya dan kekayaan alam yang melimpah, nyatanya tak menjamin kesejahteraan ke-268 juta lebih penduduknya. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin terhimpit keadaan. Bahkan ada oknum-oknum tertentu yang tega memanipulasi dana-dana untuk rakyatnya di pelosok negeri. Ah, pembahasan ini tak akan ada habisnya bahkan sampai kiamat sekalipun, selama para petingginya masih sama, berusaha memperkaya dirinya sendiri.


Ken membuka matanya dan menyapu pandang ke sekeliling ruangan. Tak ada siapapun di sana. Ia tertidur dengan menundukkan kepala di atas ranjang sambil menunggui istrinya yang belum juga sadarkan diri. Tak ada siapapun di sana. Kakek Yamazaki memutuskan pulang ke rumah untuk istirahat, kesehatannya sedikit memburuk akhir-akhir ini. Mungkin efek tubuh rentanya yang mulai melemah, tak lagi sekuat tiga puluh tahun lalu dimana ia bisa melibas habis musuhnya dengan tebasan katana di tangannya.


Ibu dan Ayah harus menghadiri acara yang Ken tinggalkan, ia tidak bersedia pergi dan memilih merawat istrinya di ruangan ini. Ada acara gala dinner yang digelar oleh salah satu rekan bisnis Miracle Corps. Tentu saja harus ada perwakilan yang datang.


Ken beranjak bangun dari duduknya dan menghampiri ketiga bayinya yang ada di dalam box besar itu. Mereka tampak damai dalam tidurnya, sama seperti sang Ibu.


Pada saat yang sama, Aira mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retina matanya. Aroma citrus seketika menyapa indera penciumannya, aroma kesukaan ibu mertuanya.


Kelopak mata Aira terbuka sempurna beberapa detik kemudian. Ia melepas ventilator di hidungnya dan merasa napasnya lebih lega sekarang. Pandangan matanya tertuju pada sosok seorang pria yang sedang menunduk di depan ranjang bayi.

__ADS_1


Puk puk puk


"Sayang, kamu bangun?" Ken menepuk-nepuk salah satu bayi di dalam box.


Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat putrinya yang terbangun dan menggendongnya dengan hati-hati. Tampak sekali ia masih merasa canggung membawa buah hatinya dalam dekapan. Mereka terlalu kecil dibandingkan tangan kekar Ken.


"Ibumu belum... " Ken melirik ke arah Aira. "Whoaaa... kapan kamu bangun?" tanya Ken spontan.


Aira tersenyum menatap Ken yang tersentak kaget. Pria itu seperti melihat hantu saja. Wajahnya yang terkejut sungguh lucu dan menggemaskan.


Aira melambaikan tangannya, meminta Ken untuk mendekat. Ia meminta bayi dalam dekapan suaminya itu untuk diberikan padanya.


"Tolong sedikit tinggikan ranjangku," pinta Aira.


Ken menurut, memutar tuas di samping ranjang yang otomatis mengangkat pegas di bawah sana.


"Sudah?" tanya Ken saat melihat posisi Aira sedikit terduduk, namun masih seperti berbaring.


"Sedikit lagi," ucap wanita kesayangan Ken itu.


Ken tersenyum, menuruti permintaan istrinya.


"Sudah." Aira memegang lengan Ken yang ada di sisi ranjang. Tepat saat itu ia melihat bekas cakaran kukunya di punggung tangan Ken. Aira ingat dengan jelas, bagaimana luka itu bisa terjadi.


"Maaf," lirihnya merasa bersalah. Matanya masih tertuju pada punggung tangan suaminya. Sebelah tangannya yang lain mendekap bayi mereka dengan erat, membuat kenyamanan tersendiri bagi buah hatinya yang kembali terlelap. Nampaknya makhluk kecil itu tahu siapa yang tengah mendekapnya kali ini, irama jantung yang sama, helaan napas yang selalu ia dengar saat masih di dalam kandungan, ibunya.


"Ah, bukan apa-apa." Ken segera menarik tangan kanannya dan mengelus puncak kepala Aira dengan sayang.


"Terima kasih." Ia mencium punggung tangan Aira dengan penuh penghayatan. Rasanya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar lagi dibandingkan menjadi seorang ayah. Dan itu semua tentu saja berkat pengorbanan istrinya yang luar biasa.


"Terus saja pamer kemesraan di depanku!" ketus sebuah suara di depan pintu.


...****************...


Siapa nih yang dateng? Ganggu aja 😂😂

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy 💜


__ADS_2