
-Iida, Prefektur Nagano, Jepang
Seorang pria duduk di atas kursi putar sambil menghisap cerutu di tangannya. Ia menaikkan kakinya ke atas meja sembari menikmati alunan musik dari speaker yang tertanam di dinding. Seorang wanita paruh baya duduk di hadapannya, terhalang meja kayu warna hitam mengilat.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu sebelum seorang wanita berpakaian minim masuk. Ia menggenggam dokumen berwarna merah di tangannya dan segera meletakkannya di meja.
"Tuan Harada, ini dokumen perjanjian yang Anda minta."
Pria yang bernama Hayato Harada itu terkekeh melihat penampilan asisten pribadi yang memiliki tubuh sintal ini. Sebagai seorang laki-laki, ia tentu saja ingin mencicipi hidangan spesial di depannya ini. Lekuk tubuhnya yang terlihat jelas, membuat hasratnya naik seketika.
"Siapa namamu? Apa kamu punya waktu malam ini?" tanya pria lima puluh tahunan itu pada wanita yang menampilkan wajah tanpa ekspresi. Ia menampilkan rasa ketertarikannya dengan terang-terangan.
"Ehm!" Terdengar suara seorang wanita berdeham, mengaburkan imajinasi pria itu yang sudah berkelana ke segala arah, memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia terpaksa mengalihkan pandang kembali ke depan, menatap wanita yang baru pertama kali ia lihat ini.
"Harada-san, bisa kita lanjutkan perjanjian kita?" tanya wanita dengan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Dari penampillannya, terlihat jelas bahwa ia seorang sosialita yang mementingkan penampilannya.
"Tentu saja, Nyonya Hanako. Mari kita bekerja sama." Politisi elit itu segera menurunkan kakinya, kembali menjejak lantai mengilap di bawah sana.
"Karena melihat asisten pribadi Anda yang begitu cantik, saya jadi lupa diri. Hahaha." Tawa pria berpakaian hitam itu menggema di seluruh ruangan ini. Sebuah ruang sempit 6 x 9 meter yang terletak di lantai empat, sebuah gudang tua yang sudah lama ditinggalkan.
"Tanda tangani perjanjiannya, maka asisten yang cantik ini akan mentransfer uang yang Anda minta, detik berikutnya. Berapapun yang Anda inginkan, akan saya berikan asalkan bisa melihat Miracle tumbang. Akan lebih baik lagi jika bocah itu tak terlihat lagi untuk selamanya." Nyonya Hanako mengepalkan tangannya di atas meja, merasa kesal dengan sosok Ken yang sudah memporakporandakan hidupnya, sampai mengirimnya ke balik jeruji besi.
"Whoaaa... Anda begitu bersemangat. Sepertinya Anda sangat tidak menyukai 'bocah itu'?" sindir pria yang kini berdiri sambil melepas jas hitam yang dipakainya. Ia menggulung lengannya sebatas siku dan menampilkan tato naga berwarna hitam yang selama ini tersembunyi dengan baik di balik kemeja lengan panjang yang selalu dipakainya.
Nyonya Hanako membulatkan matanya, terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya. "Anda...."
Tuan Harada menyeringai. Ia tahu wanita ini pasti akan terkejut setelah melihat tato miliknya.
"Kenapa terkejut? Anda takut bekerjasama dengan saya?"
Glek
Nyonya Hanako menelan ludahnya dengan paksa. Ia tidak pernah menyangka bahwa politisi yang selalu terlihat ramah dan baik kepada anak-anak di depan publik ini, nyatanya adalah seorang pemimpin mafia yang sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Pria itu memakai topeng malaikat untuk menutupi kepribadiannya yang didominasi oleh iblis.
Ya, hampir semua orang yang berkecimpung di dunia hitam pasti tahu sepak terjang geng ini. Mereka adalah rekan bisnis keluarga Yamazaki. Siapa saja yang mengusik naga hitam, menjadi musuh yakuza yang dipimpin oleh kakek Yamazaki. Begitu juga sebaliknya.
Nyonya Hanako berdiri. Ia takut ini hanya perangkap untuk menjebaknya.
__ADS_1
"Bukankah kalian anggota yakuza itu? Kenapa Anda membebaskanku dari tahanan? Apa ini sebuah jebakan?" Wanita yang tak lagi muda itu, menatap panik sekelilingnya, takut akan ada bahaya yang mengintainya.
Krek krekk
Tuan Harada menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, menimbulkan bunyi gemeletuk tulang lehernya. Pria itu menjauh, berdiri di dekat jendela kusam yang menampilkan rumput ilalang tinggi di sekeliling bangunan tua ini.
"Saya pikir Anda bukan wanita bodoh."
"Ap.... Apa?" Nyonya Hanako tergagap, tidak tahu maksud pria yang memunggunginya ini.
"Bisnis tidak mengenal kawan atau lawan. Siapa yang lebih menguntungkan, itulah kawan kami."
Hening
Tidak ada yang bersuara. Ruangan ini seolah tak berpenghuni sama sekali. Nyonya Hanako menunggu penuturan politisi ini lagi.
"Sejak bocah itu memegang Miracle, dia menjadi besar kepala." Tuan Harada mulai bernarasi. "Semua sumber uang ilegal perlahan ia musnahkan. Penyelundupan senjata tanpa izin, penjualan hewan-hewan langka, bahkan perdagangan narkoba dan minuman keras, tidak boleh dilakukan. Dia ingin membersihkan tangannya, berharap uang yang ia hasilkan hanya berasal dari orang-orang bersih."
Nyonya Hanako mengerutkan kening, mencoba menangkap sinyal pertentangan yang pria itu tuturkan.
"Bahkan kakek tua itu tidak melakukan apa-apa saat cucunya mengambil alih bisnis kami, menghancurkan sumber uang kami. Orang itu mendukung apapun yang dilakukan oleh si Bocah Tengik, Yamazaki Kenzo." Gemeletuk dari rahang yang mengerat terdengar jelas. Tuan Harada mengepalkan tangannya yang menempel di dinding kaca.
BUGH!
Pria paruh baya itu memukul tembok di depannya, menyalurkan kemarahan di dalam hatinya. Tidak peduli pada punggung tangannya yang terasa ngilu detik itu juga.
Nyonya Hanako mengangkat sebelah alisnya, "Jadi ini sebabnya Anda menawarkan kerja sama dengan saya?" tanyanya sambil tersenyum miring.
"Musuhnya musuhku adalah temanku. Kita ada di kapal yang sama, ingin menghancurkan anak muda tidak tahu diri itu." Tuan Harada menolehkan wajahnya, menatap nyonya Hanako dengan pandangan iblis miliknya.
"Jadi, apa rencana Anda selanjutnya?" tanya nyonya Hanako, mendekat ke arah rekan bisnisnya kali ini.
Tok tok tok
Seorang pria masuk ke dalam ruangan dan menunduk setelah sampai di depan tuannya.
"Tuan, mereka sudah bergerak. Satu jam lagi akan sampai di tempat ini." Laporan pria itu membuat tuan Harada terkekeh.
"Benar dugaanku. Kematian Matsumoto pasti akan membuat mereka datang."
"Si... siapa yang datang?" tanya nyonya Hanako dengan suara bergetar. Ia takut berada di antara orang-orang haus darah ini. Bagaimanapun juga ia tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali. Nyawanya berada dalam bahaya jika terus ada di tempat ini.
__ADS_1
"Pertunjukan akan segera di mulai. Lihatlah bagaimana aku akan membantai bocah itu!"
Tuk tuk
Gemeletuk high heels yang dipakai nyonya Hanako terdengar tak beraturan. Wanita itu mundur, menjauh dari pria yang menunjukkan sisi iblisnya ini.
"Aku tidak mau ada di tempat ini. Mai-chan, ayo kita pergi!" Nyonya Hanako panik. Ia berbalik dan mengajak asisten pribadinya keluar dari ruangan ini.
Srett
Pria berpakaian hitam yang melapor pada tuan Harada kini menghalangi pintu, menahan donatur mereka agar tidak pergi dari hadapan tuannya.
"Anda tidak bisa pergi, Nyonya!"
Plakk
"Lancang!" Nyonya Hanako menampar pria yang menghalanginya. Ia ada di puncak emosinya, takut nyawanya akan terancam.
"Anda harus ada di sini. Lihat bocah itu meregang nyawa di tanganku!"
Glek
Nyonya Hanako tidak bisa membantah lagi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berdoa semoga ia masih bisa melihat matahari terbit besok pagi.
...****************...
BRUMM BRUMM BRUUMM
Derum suara kendaraan bersahut-sahutan dari kejauhan. Hawa dingin seketika menyelimuti punggung nyonya Hanako. Matanya bergerak gelisah menyaksikan puluhan mobil yang mendekat ke arah bangunan ini. Di bawah sana, tuan Harada menyambut iring-iringan kendaraan itu bersama ratusan orang bawahannya dari geng Naga Hitam.
Di sisi yang lainnya, puluhan mobil itu mulai berhenti di halaman. Orang-orang berpakaian hitam mulai turun dari kendaraan yang membawa mereka dari Tokyo, ratusan kilometer arah tenggara Nagano. Mereka siap bertempur menghadapi musuhnya.
"Heh, hanya puluhan orang saja?" Tuan Harada terkekeh geli melihat pasukan yang ada di bawah kendali Yamazaki Kenzo. Ia merasa di atas angin. Dari segi jumlah, tentu ia yang akan menang disini.
...****************...
Huh 😥😥
Are you ready?
Hanazawa Easzy
__ADS_1