Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kekhawatiran Mone


__ADS_3

Sebuah mobil hitam melaju kencang, membelah jalanan Tokyo. Satu dua kendaraan berhasil didahului dengan mulus, tanpa membuat penumpang di dalamnya merasa resah. Kentara sekali bahwa yang mengemudikannya sudah benar-benar profesional.


CIIIITTT


Hampir saja mereka melanggar rambu lalu lintas yang ada. Kendaraam roda empat itu hampir saja menerobos lampu merah di salah satu persimpangan jalan. Untung saja Minami sigap menekan pedal rem di bawah kakinya.


"Maafkan saya, Nona." Wanita hamil itu tampak merasa bersalah pada orang yang duduk di sebelahnya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Aira sambil berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak sedikit lebih kencang dibanding sebelumnya.


Drrtt drrtt


Di saat yang bersamaan, ponsel milik Minami yang ada di atas dashboard bergetar, menandakan ada telepon masuk. Di layarnya tampak nama Husbu dengan emoticon love, itu artinya Kosuke yang menghubunginya.


"Boleh aku mengangkatnya?" Aira meminta izin pada Minami yang kini fokus mengamati jalanan di sekitar, satu detik sebelum lampu lalu lintas kembali berwarna hijau.


"Silakan."


Mobil hitam itu kembali melaju. Aira segera mendekatkan benda pipih itu ke dekat telinganya dan menyapa Kosuke di seberang sana.


"Bagaimana kondisi Ken sekarang?" tanya Aira to the point membuat Kosuke sedikit terkejut.


"Tuan ... dia baik." Jawaban ambigu dari Kosuke membuat kening Aira bertaut. Sepertinya pria itu tidak menyangka bahwa panggilan teleponnya akan dijawab oleh orang yang paling ia hindari. Ya, Kosuke tidak berani bercakap langsung dengan istri tuannya ini. Entah bagaimana dia harus bersikap saat bertatap muka nanti.


"Dia masih tidur?" tanya Aira dengan tenang. Ia tidak yakin apakah Kosuke tahu tentang obat tidur itu atau tidak.


"Iya masih," jawabnya singkat.


"Baiklah. Siapkan jawaban yang logis nantinya agar aku bisa mempertimbangkan kemana kamu akan ditempatkan setelah ini," ancam Aira sebelum menutup panggilan dua arah itu, membuat Kosuke membulatkan matanya. Aira dan Ken sama-sama berbahayanya seperti binatang buas. Keduanya bisa mengancam nyawa mangsanya dalam sekali terkam. Mengerikan.


Aira menatap jam digital di tangannya yang menunjukkan pukul 10.50 pagi. Setidaknya mereka baru akan sampai di Miracle sepuluh menit lagi, tepat satu jam sebelum tengah hari.


"Apa Kosuke tahu tentang obat tidur itu?" selidik Aira, menantikan jawaban dari wanita yang kini membelokkan kendaraan yang dibawanya menuju ke arah selatan Tokyo.


"Aku tidak memberitahukannya."


"Baguslah," cetus Aira. Kosuke tidak perlu tahu 'jalur belakang' para istri untuk melumpuhkan suami mereka. Setiap wanita memiliki caranya masing-masing untuk menyiasati keadaan yang ada. Aira tidak menyalahkan Minami sama sekali, justru merasa langkah yang diambilnya sama seperti pemikirannya. Bagaimana tidak? Tanpa obat tidur itu, Ken tidak akan mau istirahat total di jam kerja ini. Tidur siangnya paling lama hanya tiga puluh menit. Itupun sering terganggu oleh banyak hal yang berkaitan dengan perusahaannya.


Di saat yang sama, Mone turun dari bus yang ditumpanginya. Ia berjalan dengan langkah gontai, bersiap keluar dari halte ini. Kata-kata nyonya Sumari terus terngiang-ngiang di telinganya.


Dukk!


Mone menabrak sesuatu, tepatnya punggung bidang seorang pria yang ada di depannya.

__ADS_1


"Sumimasen," ucapnya tanpa melihat pria yang kini tengah menatapnya. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.


(Maaf)


*Sumimasen merupakan kata maaf paling umum yang sering digunakan dalam bahasa Jepang, Sumimasen sendiri selain memiliki arti meminta maaf juga memiliki arti untuk diperhatikan seseorang atau digunakan jika ingin menanyakan suatu hal.


Drap


Drap


Drap


Pria yang tak sengaja Mone tabrak, kini menyusulnya dengan langkah tegap. Ia mencekal lengan Mone dari belakang, membuat langkah gadis itu terpaksa berhenti. Ia menoleh ke samping, tepat pada seseorang yang berdiri di sana.


"Dokter?" ucap Mone begitu menyadari sosok yang menahannya adalah orang yang sudah membuat nyonya Sumari tak lagi mempercayainya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mone canggung.


"Ada apa? Katakan padaku!" Bukannya menjawab, pria yang memakai sweater berwarna pucat itu justru menanyakan sesuatu yang membuat Mone tergagap. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada orang ini.


"Kamu menghindariku beberapa hari ini. Benar 'kan?"


Hening


Mone menundukkan kepala, merasa bersalah pada pria yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik ini. Tidak seharusnya ia mengabaikannya. Dia maupun Yamaken sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Semuanya terjadi begitu saja. Mone sendiri tidak yakin dengan perasaannya yang selalu merasa nyaman saat di dekat pria 32 tahun ini.


Drrt drrtt


Tepat saat itu, ponsel dalam genggaman Mone bergetar. Ada sebuah pesan masuk di sana.


"Calon suamimu demam. Bisakah kamu datang dan merawatnya?"


Pesan teks yang berasal dari manager Yamaken membuat Mone semakin bimbang. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Padahal selama ini Yamaken tidak pernah sakit, tapi kenapa sekarang tiba-tiba manager mengiriminya pesan?


Mone mendekatkan ponsel di tangannya ke arah telinga dan mulai mendengar suara panggilan yang mulai terhubung. Wajahnya terlihat panik dan mengabaikan Sang Dokter yang terpaut usia dua belas tahun darinya ini, Takeshi Kitamura.


Grep



"Aku menyukaimu. Jangan pergi ke sana," ucap dokter Takeshi spontan. Dia melihat pesan dari manager tadi dan membuatnya refleks memeluk Mone dari belakang.


"Dokter ... " ucapan Mone terhenti. Suaranya tercekat di tenggorokan yang tiba-tiba mengering.


"Moshi-moshi, Mone-chan," sapa sebuah suara di dalam telepon detik berikutnya, membuat tubuh gadis yang memakai jaket navy ini seketika menegang. Dia merasa bersalah, seolah sedang mengkhianati seseorang. Hati dan pikirannya tertuju pada Yamaken, namun tubuhnya sedang ada dalam pelukan dokter tampan ini. Apa yang harus dia lakukan?

__ADS_1


Pria kepala tiga itu semakin mengeratkan pelukannya, membuat Mone semakin merasa tidak nyaman. Ia berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia.


Cup


"Jangan pergi," bisik Takeshi setelah mencium kepala gadis imut ini dari belakang. Hal itu membuat Mone menolehkan kepalanya ke samping. Jantungnya berdegup sangat kencang setelah mendengar kalimat itu, membuat otaknya blank seketika.


"Mone-chan, kamu bisa mendengarku?" kali ini suara manager kembali menyapa karena beberapa detik berlalu tanpa ada suara apapun dari gadis ini.


"Ba ... bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mone tergagap. Sungguh ia tidak nyaman ada di situasi ini. Hati dan pikirannya terbagi pada dua pria yang berbeda usia ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Mone sendiri takut untuk membayangkannya.


"Aku sudah memberikannya obat penurun panas, tapi demamnya tak juga mereda. Bisakah kamu datang dan merawatnya? Aku harus pergi untuk mengurus sesuatu. Beberapa agensi iklan memintanya datang tanda tangan kontrak hari ini. Aku harus menemui mereka secara pribadi dan tidak ada yang mengurus Yama-chii. Jadi, apa kamu bisa datang?" suara wanita itu terdengar sampai ke telinga Takeshi, membuat pria itu melepaskan dekapannya.


Mone kembali menoleh, menatap dokter yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke arah lain. Pria itu menilik satu dua pohon sakura di sekitar mereka yang hanya menyisakan dahan dan rantingnya saja. Keindahan mereka sudah mulai berguguran sejak seminggu yang lalu, membuat jalanan seolah sengaja ditaburi bunga berwarna pink dan putih ini.


Deg!


Hati Mone mencelos. Dia merasa kehilangan setelah pelukan hangat pria ini terlepas. Tapi dalam hatinya ada sedikit kelegaan karena takut ada yang melihat kedekatan mereka ini. Entah perasaan apa ini? Apa dia menyukai dokter Takeshi? Lalu kenapa dia juga mengkhawatirkan keadaan Yamaken? Jadi apa yang sebenarnya dia inginkan?


"Bisakah kamu datang?" ucap manager memastikan.


"Ya. Aku akan datang." Mone segera berlari dari tempat itu, meninggalkan dokter Takeshi dengan segala penyesalannya. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia ini.


"Arrghhhhh .... Baka!!" umpatnya pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bersikap impulsif seperti ini? Hanya karena membaca istilah 'calon suami' dari ponsel Mone, membuat hatinya memanas dan langsung memeluk gadis muda di hadapannya tanpa berpikir lebih jauh. Jelas-jelas usia mereka terpaut begitu jauh. Dasar bodoh!


Di ujung jalan, tampak Mone mulai memasuki halte dengan tergesa. Tampak sekali bahwa gadis itu mengkhawatirkan calon suaminya, Yamaken. Gadis itu tidak menyadari adanya sepasang mata yang tidak rela membiarkannya pergi. Ia juga tidak tahu bahwa penyebab calon suaminya sakit mungkin adalah ikatan batin dengan saudara kembarnya, Yamazaki Kenzo.


...****************...


Note :


-Tantrum adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. (Wikipedia)


-Moshi-moshi : Hallo, kalimat pembuka saat mengangkat telepon.


-Baka : bodoh


...****************...


Waah bakalan jadi sadboy enggak nih abang Yamaken? 😢😭😭😭😭


Jangan lupa tap jempolnya yaa. See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2