Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Respon Tak Terduga


__ADS_3

Ken menjelaskan permasalahan Miracle dengan sejelas-jelasnya. Semua dewan direksi dan para investor tampak puas dengan solusi yang Ken sampaikan.


Yuki mendekat ke arah Ken dan meminta waktunya sejenak. Ia ingin membicarakan masalah yang berkaitan dengan ibunya.


"Mari kita bicarakan di tempat lain," ajak Ken. Ia berdiri dan berjalan mendahului Yuki.


"Maaf atas sikap buruk saya sebelumnya. Saya terlalu bodoh dan tidak mencari tahu masalah yang sebenarnya." Yuki menundukkan kepalanya cukup dalam saat mereka sampai di ruang kerja Ken.


"Itu bukan masalah. Silakan duduk," ucap Ken sembari menggerakkan tangannya, isyarat bahwa tamunya ini bisa duduk di kursi yang ada di depannya.


"Terima kasih," balas Yuki menurut. Dia tidak ingin Ken memandang rendah dirinya yang tidak tahu etika dasar seperti ini. Tentu saja ia harus duduk sebelum memulai pembicaraan serius ini.


"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Ken lugas. Ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Lebih baik segera menyelesaikan urusan ini dan ia bisa segera menemui ketiga anak-anaknya yang selalu ia rindukan.


"Anda sudah menyelidiki kasus yang menimpa ibu saya. Benar 'kan?" tanya Yuki to the point.


Ken tersenyum mendengarnya, suka dengan gaya bicara pria ini yang tidak bertele-tele. Namun di sisi lain, ia tidak menyukai ada orang lain yang sama ambisiusnya dengannya. Sisi superioritasnya bergejolak, tidak ingin dikalahkan oleh siapapun.


"Iya. Itu benar. Anda merasa keberatan?" tanya Ken sarkas. Ia tidak suka seseorang meragukan keputusannya, atau bahkan menghakiminya. Sebelum hal itu terjadi, ia harus memasang standar yang tinggi terlebih dahulu.


"Apa Anda menemukan ahli kecantikan itu? Di mana dia sekarang?" kejar Yuki kemudian.


Pertanyaan itu tak langsung Ken jawab. Ia mencoba meraba kemana arah pembicaraan mereka ini. Ia belum begitu mengenal pria di depannya ini.


"Kenapa Anda ingin tahu? Bukankah jika wajah nyonya Suzuki kembali sehat seperti sediakala, itu sudah cukup?" pancing Ken. Ia ingin melihat bagaimana respon pria yang selisih usia dua tahun dengannya ini.


Kali ini Yuki yang terdiam. Ia tampak menimang-nimang kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Jika ia menyetujui pendapat Ken, bisa jadi ia tidak akan mendapat informasi tentang ahli kecantikan yang sudah merusak wajah ibunya. Tapi, jika ia jujur mengatakan ingin balas dendam dan memberikan perhitungan pada dokter wanita itu, Ken juga tidak akan rela memberikan informasinya.


Bagaimanapun juga, dokter itu bekerja di bawah naungan nama besar Miracle Cosmetics. Pria ini pasti akan melindungi orang-orangnya, termasuk dokter itu.


Sementara itu, beberapa meter dari keduanya, tampak dokter Kaori keluar dari dalam lift bersama Shun. Ia segera menuju ruangan Ken dan berhenti tepat di depan pintu.


"Dimana Ken?" tanya Kaori pada sekretaris yang duduk di belakang mejanya.


"Tuan Yamazaki ada di dalam, sedang menerima tamu," jawab wanita yang memakai blazer berwarna hijau itu.


"Kosuke?" lanjut Kaori.


"Dia masih ada di ruang rapat bersama beberapa staf yang lain. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris itu menawarkan bantuan.


"Katakan pada atasanmu, aku datang membawa laporan yang dia minta." Kaori menunjukkan stopmap kuning di tangannya yang berisi hasil autopsi dokter Olivia.


"Baik, akan saya sampaikan. Silakan duduk, Nona."


Sekretaris itu tampak mengangkat gagang telepon di tangannya dan segera menghubungi atasannya di dalam ruangan yang ada di belakangnya.


"Ada apa?" terdengar suara Ken dari ujung telepon.


"Nona Kaori datang untuk mengantarkan laporan yang Anda minta."

__ADS_1


"Suruh dia masuk," titah Ken singkat.


"Baik Tuan." Wanita 35 tahunan itu menutup sambungan telepon dua arah itu setelah mendapat jawaban dari tuannya. Ia berdiri, menatap dua orang tamunya yang duduk di kursi tunggu.


"Nona Kaori, silakan masuk." Sekretaris itu mempersilakan.


Tok tok


Shun mengetuk pintu di depannya dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari orang di dalam sana. Tanpa dipersilakan, pria 29 tahun itu langsung duduk di sofa. Ia membiarkan Kaori mendekat untuk menyerahkan file di tangannya.


"Ini laporan autopsi yang kamu minta," ucap Kaori sembari menyerahkan data di tangannya pada pewaris keluarga Yamazaki ini, mengabaikan pandangan pria yang menatapnya dengan mata membola seolah baru saja melihat hantu.


Ken segera membuka map di tangannya, membaca laporan itu sekilas. Ia tidak begitu mengerti tentang istilah-istilah medis yang ada di sana. Ini sama sekali bukan bidang spesialisasinya.


"Bisa kamu jelaskan secara singkat?" pinta Ken tanpa ragu.


Saat itulah Kaori melirik tamu di hadapan Ken, ingin tahu siapa yang duduk di sana. Ia tidak ingin orang asing mendengar penuturannya, takut akan mempengaruhi kredibilitas perusahaan maupun nama Ken sendiri.


"Ka-chan!" panggil pria itu saat matanya bertumbuk dengan Kaori. Ia begitu terkejut melihat wanita yang sangat dikenalnya.


"Yu-kun?" balas Kaori pada pria dengan setelan pakaian berwarna putih itu. Dia sama terkejutnya dengan Yuki, tidak tahu akan bertemu di tempat ini. Wajahnya berbinar seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.


Yuki berdiri dari duduknya dan segera mendekat ke arah Kaori, mengabaikan pandangan Ken yang menatapnya dengan kening berkerut.


Kaori segera memeluk sahabatnya itu dengan erat. Ia terlihat begitu bahagia, tampak dari wajahnya yang tersenyum lebar. Belum lagi tangannya yang bersemayam di punggung Yuki seolah tidak rela melepaskan pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kaori saat Yuki mengurai pelukannya. Tangannya masih bertengger di pinggang pria itu. Pun sama dengan Yuki, menahan kedua lengan Kaori dengan erat, tak berniat melepaskannya sama sekali.


Srett


Sebuah tinju mendarat di wajah putih tuan muda keluarga Harada. Di terhuyung ke belakang, menabrak kursi yang sebelumnya menjadi tempat duduknya. Tubuhnya limbung seketika saat Shun memukulnya dengan tiba-tiba.


"YU-KUN?!" pekik Kaori saat melihat Yuki hampir terjerembap ke lantai marmer di bawah kakinya.


Yuki berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya, beberapa detik sebelum tubuhnya menghantam lantai. Ibu jarinya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia menatap pria aneh yang kini berdiri kokoh di depan Kaori. Matanya berkilat tajam, menandakan ia sedang marah. Hal itu membuat Yuki tertawa terbahak-bahak detik berikutnya.


"Hahahaha.... " Tawanya menggema di ruangan ini. Ia begitu menikmati pemandangan di depannya, melupakan nyeri di rahang bawahnya yang Shun hantam dengan keras. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa kebas.


Respon yang tak terduga itu membuat Ken mengerutkan keningnya semakin dalam. Ia terkejut saat mendapati fakta bahwa Kaori dan Yuki saling mengenal satu sama lain. Bahkan, dari interaksi mereka yang begitu intens, nampaknya hubungan Kaori cukup dekat dengan pria kepala tiga ini. Dan itulah yang menjadi penyebab kemarahan Shun sampai meninju tamunya kali ini.


Shun terlihat semakin marah. Ia tidak terima saat seseorang memeluk calon istrinya. Terlebih lagi, Kaori yang berinisiatif memeluk pria ini lebih dulu. Gadisnya itu bahkan terlihat sangat bahagia, membuat api cemburu di dalam hatinya terpantik begitu saja. Shun mengepalkan tangannya, bersiap meninju pria tak tahu diri ini yang masih berusaha meredam tawanya.


Langkahnya terhenti saat mendapati Kaori berdiri di depannya. Ia bergerak cukup cepat, menjadi penghalang antara calon suami dan seseorang dari masa lalunya ini.


"APA KAMU GILA?!" tanya Kaori dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak suka dengan sikap Shun yang impulsif. Apalagi pria ini tiba-tiba memukul Yuki, bahkan berniat mengulanginya jika ia tidak menjadi penghalang di sana.


"Yu-kun, kamu baik-baik saja?" tanya Kaori, berbalik memperhatikan pria dengan sudut bibir tampak memerah dan mulai bengkak itu. Pukulan Shun begitu kuat, berhasil merobek kulit tipis di wajah tampan pria ini.


"Kaori-chan, apa yang kamu lakukan?" Shun menahan tangan Kaori yang bersiap memapah Yuki duduk di kursi sofa yang ada di salah satu sisi ruangan ini.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" hardik wanita 29 tahun ini. Ia menatap Shun dengan pandangan tajam dan menukik sambil melepas cengkeraman di lengannya.


Ken menahan seniornya. "Jangan buat keributan. Dia tamuku," titah Ken.


Shun mendengus kesal. Ia tidak terima melihat kedekatan Kaori dengan pria lain. Tapi dia juga tidak bisa membantah fakta yang Ken sampaikan. Ia juga tamu disini, bahkan tamu tak diundang. Nyatanya, ia tidak memiliki kepentingan disini. Ia datang untuk mengantar Kaori, itu saja.


"Duduklah," ucap Kaori sebelum mengambil kotak P3K yang ada di sebelah kiri pintu masuk. Wanita itu dengan cekatan mengobati luka di sudut bibir Yuki, mengabaikan kemarahan Shun yang naik ke ubun-ubun.


"Aku baik-baik saja. Tidak perlu merepotkanmu seperti ini." Yuki menahan jemari Kaori yang bersiap mengobati luka kecilnya ini.


Kaori tidak menjawab. Dia tetap menempelkan kapas di tangannya untuk menghapus darah yang mulai mengering si bibir Yuki.


"Kaori-chan, menyingkir darinya!" geram Shun dengan rahang mengerat. Gemeletuk giginya yang saling beradu membuat urat lehernya terlihat menonjol.


Kaori diam. Ia melanjutkan aktivitasnya tanpa mempedulikan perintah dari pria pemaksa itu. Ia marah. Marah sekali karena calon suaminya itu begitu bodoh, memukul orang tanpa sebab yang jelas.


"Kaori-chan!!" Shun semakin berang. Ia maju, berniat menarik gadisnya dengan paksa dari sana.


Srett


Ken merentangkan sebelah tangannya di depan Shun, menahan pria yang tengah dikuasai amarah ini.


"Apa kau bodoh?" sindir Ken pada seniornya.


"Huh!" Shun mendengus kesal. Ia memalingkan wajahnya ke samping, berusaha menguasai emosinya. Ia memilih menjauh, bersandar di dinding sambil mengamati pemandangan gedung pencakar langit di luar sana.


"Harada-san, maaf atas kejadian tak terduga ini." Ken meminta maaf pada tamunya, mewakili Shun yang tidak akan pernah mengucapkannya. Pria itu merasa ia tidak bersalah dalam hal ini.


"Ini bukan kesalahan Anda, Yamazaki-san." Yuki tersenyum melihat Ken berbesar hati meminta maaf padanya, padahal jelas-jelas dia tidak terlibat dalam tragedi ini.


"Kalian saling mengenal sebelumnya?" tanya Ken ingin tahu.


"Kami bertemu di Inggris tiga tahun yang lalu," jawab Yuki ramah.


Shun kembali mendengus kesal mendengar jawaban yang Yuki ucapkan. Melihat wajahnya saja membuat Shun muak, apalagi mendengar caranya bicara yang seolah-olah dia itu pria paling baik di dunia.


"Kami berbagi apartemen yang sama." Kaori menjelaskan tanpa diminta.


Deg!


Shun membulatkan matanya mendengar pernyataan yang gadisnya ucapkan. Dia seolah tertampar oleh kenyataan yang tak terduga ini.


'Berbagi apartemen yang sama?'


...****************...


Uwuuuu.... Kita nantikan Shun bucin ke Kaori 😂😂


Yang penasaran lanjutannya, wajib like n komen!!!! Author maksa! 😋

__ADS_1


See you next episode,


Hanazawa Easzy


__ADS_2