
Matahari mulai kembali ke peraduannya saat Mone menyajikan teh hijau yang masih mengepulkan asap di depan Shun. Meskipun ia tidak bisa memasak, bukan berarti ia tidak bisa menyeduh teh sederhana seperti ini.
"Jadi apa yang terjadi sebenarnya?" tanya gadis yang memakai dress sebatas lutut tanpa lengan ini. Ia melihat kakaknya sudah cukup tenang. Mereka berdua juga sudah membereskan kekacauan di rumah ini dan kini duduk bersama di beranda, menatap langit yang sebentar lagi gelap.
"Kaori mengabaikanku. Dia menolakku terang-terangan." Shun mengucapkannya dengan ekspresi patah hati.
"Itu bukan yang pertama kalinya, 'kan?" tanya Mone sambil beranjak berdiri. Ia bersiap mengambil stoples berisi kue kering yang sempat ia beli sebelumnya.
"Dia bertemu mantan suaminya," lirih Shun namun masih bisa terdengar jelas di telinga Kaori.
(pict : Pinterest)
"Man... mantan suami?" tanya Mone heran, sedikit mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar kisah masa lalu Kaori, tapi tidak pernah tahu siapa nama mantan suaminya itu. "Apa kakak yakin?" tanya Mone ragu. Ia takut kakaknya hanya menduga-duga atau mendengarnya dari sumber yang tidak bisa dipercaya.
"Kaori sendiri yang mengatakannya," jawab Shun lemah.
Mone kembali ke beranda, meletakkan stoples penuh berisi kue kering berbentuk bulan sabit di meja.
"Jadi kakak sudah tahu kisah masa lalunya?" tanya Mone hati-hati.
Shun menggeleng lemah. Ia tidak tahu sama sekali tentang calon istrinya ini. Ia menerawang angkasa yang terlihat begitu luas, seluas jaraknya dengan Kaori saat ini.
Mone mengembuskan napas kasar dari mulutnya. Ia tahu pukulan terbesar apa yang menimpa kakaknya ini sampai membuatnya menggila beberapa jam yang lalu.
"Aku tahu sedikit. Kakak mau mendengarnya?"
Shun menatap Mone, tak mengangguk ataupun menggeleng. Wajahnya tanpa ekspresi, membuat Mone tak tega menatapnya.
"Kakak terlihat lelah. Kita bicarakan lain kali saja." Mone enggan menceritakan kisah Kaori yang mungkin akan membuat kakaknya semakin patah hati.
"Katakan saja," lirih Shun. Ia ingin mendengar informasi dari Mone saat itu juga.
__ADS_1
Mone diam beberapa saat, memilah kata yang tepat untuk mulai menjelaskan kisah Kaori yang ia dengar sendiri dari mulut wanita cantik itu.
"Seperti yang kakak tahu, kak Kaori memang pernah menikah sebelumnya. Dia bercerita padaku saat kami pergi bersama." Mone merasa bersalah menceritakan hal ini.
Shun mengangguk pelan, memberi tahu adiknya bahwa ia siap mendengarkan lanjutannya.
"Itu terjadi tiga tahun yang lalu. Kak Kaori melanjutkan pendidikannya di Inggris dan menikah dengan cinta pertamanya di sana."
"Cinta pertama?" tanya Shun dengan hati terluka. Ia kembali mengingat ekspresi Kaori saat Yuki menciumnya. Pantas saja wanita itu tampak tersipu malu, rupanya pria itu cinta pertamanya. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang wanita akan kesulitan melupakan cinta pertama mereka. Dan tampaknya hal itu juga terjadi pada Kaori.
"Umm. Kakak bilang bahwa saat itu ia sangat bahagia karena bisa menikah dengan sahabat masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Kehidupan mereka yang harmonis membuat banyak orang kagum. Bahkan kehamilan kak Kaori membuat semua orang bersuka cita, termasuk teman-temannya di sana. Mereka mengadakan pesta untuk merayakannya." Napas Mone terhenti di tenggorokan, tidak tega melanjutkan ceritanya.
"Kenapa? Lanjutkan," pinta Shun.
"Pulang dari pesta itu, kak Kaori kecelakaan. Mereka berdua mengalami luka parah dan kakak kehilangan bayinya. Dia keguguran," jelas Mone, menelan salivanya dengan paksa. Sisi keibuannya terluka mengingat cerita yang Kaori sampaikan dengan berlinang air mata.
"Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Terjadi perdarahan berat. Bukan hanya harus kehilangan buah hatinya, ternyata rahim kak Kaori juga harus diangkat."
Deg!
Hening
Tak ada yang bersuara. Keduanya diam, meresapi kisah sedih yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun.
Ya, semua perempuan tentu tidak ingin rahimnya diangkat. Mereka pasti memimpikan kehidupan bahagia bersama pasangan dan anak-anak mereka di masa yang akan datang. Namun, ada beberapa alasan medis yang membuat mereka harus merelakan hal itu. Termasuk Kaori. Ia merelakan dirinya yang tak akan bisa hamil di masa yang akan datang. Padahal saat itu ia baru menginjak usia 25 atau 26 tahun. Masih terlalu muda, masa depannya masih panjang. Seharusnya...
"Kenapa mereka berpisah? Bukankah mereka saling mencintai? Bahkan ibu pria itu masih berharap menantunya pulang." Shun berucap sambil mengepalkan tangan. Kata-kata Yuki kembali berdengung di kepalanya, perlahan tapi pasti, membuat emosinya kembali menyeruak.
"Ayah mertuanya tidak ingin menerima seorang menantu yang tidak akan memberikan keturunan di keluarga mereka. Beliau memaksa kak Kaori menandatangani surat perceraian begitu keluar dari rumah sakit. Beliau bahkan mengatur kepulangan kak Kaori ke Jepang dan memblokir namanya agar tidak bisa kembali ke Inggris."
Kepalan tangan Shun semakin erat. Ia marah pada pria yang 'membuang' wanitanya sesuka hatinya. Ia akan membalas dendam pada pria itu, ayah dari Yuki Harada, yakni Hayato Harada. Ia akan membuatnya menderita dan menyesal telah membuat Kaori menangis saat itu.
__ADS_1
Shun beranjak. Ia menggulung lengan bajunya, bersiap menghabisi politisi tua itu. Rasanya ingin sekali melenyapkan pria tak berperikemanusiaan itu, menguburnya hidup-hidup atau bahkan melemparnya ke laut lepas sebagai santapan ikan hiu di dalam sana.
"Kak, apa yang kamu lakukan? Jangan bertindak bodoh!" tegas Mone. Ia tahu benar apa yang mungkin akan Shun lakukan. Ia merentangkan tangan, menghalangi kakak angkatnya untuk pergi dari hadapannya.
"Menyingkir dari jalanku!" titah Shun.
Mone menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia bertekad tidak akan melepaskan kakaknya ini yang mungkin bisa lebih menggila dari sebelumnya.
"Berhenti mempedulikan orang itu! Yang harusnya kakak pedulikan sekarang adalah kak Kaori, bukan orang lain."
Deg!
Shun terhenyak. Ia mematung di tempatnya berdiri.
"Kakak hanya perlu membuat kak Kaori bahagia, bukan membuatnya semakin terluka."
Shun memeluk adiknya. Ia merasa begitu beruntung mempunyai adik yang cerdas dan dewasa seperti Mone ini.
"Aku tahu apa yang harus ku lakukan. Terima kasih," ucap Shun setelah mengurai pelukannya. Ia bahkan sempat mengacak puncak kepala adiknya sebelum pergi.
Melihat hal itu, membuat Mone tersenyum. Ia tenang karena kakaknya masih bisa menggunakan logikanya dengan baik.
Shun keluar dari apartemennya dengan tergesa. Ia berlari menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Ia melajukan mobilnya ke pusat kota, bersiap menemui Kaori dan meminta maaf padanya. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka berdua. Shun bertekad akan membuat wanitanya itu bahagia bagaimanapun caranya.
...****************...
Ganbatte kudasai, Shun-kun!!! Author mendukungmu! 🤗💃💃
Ternyata gitu yaa masa lalu dokter Kaori. Di balik wajah cantik dan sikap tenangnya itu, ternyata dia menyimpan luka mendalam dari masa lalunya. Huhuhu.... Jadi sedih kan Author 😢ðŸ˜ðŸ˜
Author juga sedih lho kalo kalian ngga like, vote n komen. Hiks hiks 😢
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💙