
"Mone-chan, mari kita bicara."
Wajah Yamaken terlihat begitu menyeramkan. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, seolah memendam masalah berlarut-larut. Padahal sebelumnya, dia terlihat baik-baik saja. Bahkan sempat melemparkan godaan pada calon istrinya.
Tapi, setelah mendengar istilah Black Diamond itu, ekspresi wajahnya berubah. Dia tidak suka jika wanitanya menjadi pembunuh bayaran atau semacamnya. Padahal, itu juga bukan keinginan Mone. Terlebih lagi, dia mendengar sebutan itu dari Kosuke, bukan pengakuan Mone sendiri.
Yamaken melangkah lebih dulu. Dia berdiri di balkon, menatap langit siang menjelang sore yang terasa hangat ini.
"Ada apa?" Mone memberanikan diri, bertanya kenapa Yamaken menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal itu dariku?"
"Ano..."
"Kamu tidak percaya padaku?"
Deg!
Mone bungkam. Ribuan jarum tajam terasa menghunjam jantungnya. Pertanyaan Yamaken berhasil membuat harga dirinya terluka. Dia begitu mengagumi Yamaken, menyukai semua yang ada padanya. Bagaimana mungkin dia tidak mempercayainya? Justru karena Mone sangat menyayanginya dan percaya Yamaken akan mendukungnya, makanya dia tidak mengungkapkan identitas rahasianya itu.
"Jika aku tidak mendengarnya dari orang lain, kamu juga tidak akan mengatakannya padaku?"
"Bu-bukan begitu. Aku hanya..." Mone tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu. Dia hanya bisa menundukkan kepala, tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
"Apa karena aku tidak bisa bersaing denganmu?"
Mone menggeleng. Sama sekali bukan itu alasannya. Dia hanya belum menemukan momen yang tepat untuk mengungkapkannya pada Yamaken. Itu saja.
"Tidak masalah jika kamu mengungkapkan identitasmu. Aku bisa menerimanya. Yang masih belum bisa ku terima adalah, kamu tidak mengatakan itu sejak awal padaku. Aku kecewa. Aku pria yang tidak bisa diandalkan."
"Bukan begitu. Kemampuanku itu juga bukan keinginanku!" Mone sedikit meninggikan nada bicaranya. Dia tidak ingin Yamaken mempermasalahkan masa lalunya. Dia tidak bisa menolak masuk ke sekolah mafia karena saat itu hanya paman Takeshi yang ada untuknya.
"Kamu bisa berbicara padaku setelahnya!" Yamaken ikut tersulut emosi. Egonya memberontak, merasa direndahkan.
"Aku tidak ingin membuatmu terbebani. Selama aku tidak terpancing, aku bisa mengendalikan kemampuanku itu!"
"Lalu apa yang akan terjadi jika aku memancing kemarahanmu? Apa kamu akan membantaiku?"
"Bukankah itu artinya kamu yang tidak bisa mempercayaiku?!"
Yamaken mengepalkan tangannya di sisi badan, menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak ingin melayani debat kusir kekasihnya ini. Percuma saja, hanya akan memperburuk keadaan.
Brukk
__ADS_1
Mone mendudukkan dirinya di atas sofa dan menutup wajahnya dengan dua tangan. Dia sendiri tidak ingin menjadi seorang pembunuh. Dia hanya gadis tersesat. Ah, lebih tepatnya disesatkan oleh Anna. Jika saja wanita licik itu tidak memutarbalikkan fakta yang ada, kehidupannya sama saja seperti gadis normal lainnya.
Perlahan, bahu mungil itu berguncang. Dia menahan isaknya sebisa mungkin agar tidak terdengar.
Yamaken merasa bersalah, sudah membuat gadisnya menangis sedu sedan tertahan. Bukannya memberikan kenyamanan, justru ia membuat Mone ketakutan.
"Mone-chan," panggil Yamaken lirih, mengelus puncak kepala calon istrinya dengan sayang. "Maafkan aku."
Plakk
Mone menepis tangan pria ini dari kepalanya. Dia masih marah karena Yamaken sempat emosi padanya.
Pria dengan lesung pipi itu berjongkok di depan Mone, membuat lututnya bertumpu di atas lantai.
"Monmon, hontou ni gomenasai." Yamaken meraih lutut Mone, meminta maaf dengan tulus. Dia benar-benar menyesal karena menyalahkan Mone tadi.
(Aku sungguh minta maaf)
"Aku emosi dan tidak tahu harus bagaimana menghadapimu. Kemampuanmu jauh di atasku. Bagaimana aku bisa melindungimu jika aku tidak menguasai satu pun ilmu itu? Jangankan melindungimu, justru yang ada, aku hanya akan menyusahkanmu." Yamaken menempelkan dagunya, berpangku pada tempurung lutut wanitanya.
"Aku terlalu takut kehilanganmu sampai lupa bahwa kita saling memiliki satu sama lain. Aku milikmu, kamu milikku. Kita tidak akan bisa meninggalkan satu sama lain sebelum kematian menjemput. Benar, 'kan?"
Tangis Mone mereda. Kata-kata Yamaken berhasil membuatnya tenang. Hatinya menghangat. Tadinya, dia tidak suka saat pria ini seolah men-judge bahwa identitasnya tidak bisa diterima.
Lagi-lagi Yamaken mengulurkan tangannya, mengelus puncak kepala gadisnya dengan gemas. "Wajahmu jelek kalau menangis."
Mone tersenyum sambil menyeka bekas air mata yang membasahi pipinya. Kesedihannya sirna, berganti dengan tawa bahagia yang terasa.
"Ayo temui kakak ipar," ajak Yamaken, berdiri dan membimbing Mone untuk ada di sebelahnya.
"Heih? Kakak ipar?" Mone tidak tahu siapa yang dimaksud oleh kekasihnya ini. Kakak ipar mereka adalah Ken dan Aira. Jelas-jelas keduanya ada di Indonesia. Dan rasa-rasanya tidak mungkin pergi ke sana di saat situasi seperti ini.
Yamaken mengangguk mantap. "Bukankah aku suamimu? Jadi, kakak angkatmu adalah iparku."
"HAH?"
Sementara itu di waktu yang sama, terhalang puluhan kilometer...
Kaori sedang membereskan bekas makannya dengan Shun. Dia tidak tahu kenapa suaminya terus bungkam sejak kemarin. Jangankan berbincang dengannya, saat Kaori bertanya, pria itu hanya mengangguk, menggeleng, atau diam. Benar-benar membingungkan.
"Shun," panggil Kaori, menatap suaminya yang tengah menghisap rokoknya di beranda. Pria 29 tahun itu menoleh sekilas, tanpa menjawab panggilan istrinya.
"Minuman ringan di lemari habis. Bisa minta tolong belikan?"
__ADS_1
Masih tetap tanpa kata, pria 184 cm itu tak menjawab. Dia mematikan rokok di tangannya dan bersiap melenggang keluar apartemen.
"Ah, Sayang. Tolong sekalian belikan beberapa buah ya. Jangan lupa yogurt-nya juga."
Shun tidak menjawab, dia mendengar semua permintaan istrinya dengan baik. Langkah panjangnya segera mengantarkan pria itu melewati pintu, membuat punggungnya menghilang dari jarak pandang Kaori.
"Aish, ada apa dengannya? Bagaiman bisa mulutnya hanya terbuka untuk makan dan menguap? Apa pita suaranya bermasalah?" Kaori menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu kenapa Shun diam saja hampir 24 jam ini.
Ting tong
Beberapa detik berselang setelah kepergian Shun, bel berbunyi.
"Siapa yang datang? Apakah itu Mone-chan? Kenapa harus memencet bel? Dia bisa langsung masuk saja," gumam Kaori seorang diri. Dia mengira yang datang adalah adik iparnya yang tembam dan menggemaskan.
Kaori segera mengeringkan tangannya. Dia baru saja selesai membersihkan peralatan bekas makannya dengan Shun.
Dengan senyum terkembang di wajah, Kaori membuka pintu, menyangka sosok Mone yang ada di depan sana.
"Selamat siang, Nyonya," sapa seseorang dengan pakaian serba hijau. Dilihat dari logo yang menempel di pakaiannya, tampak bahwa pria ini pekerja pesan antar dari salah satu florist di pusat kota.
"Siang." Kening Kaori bertaut melihat buket bunga mawar putih yang dibawa oleh Sang Kurir.
"Benar dengan nyonya Yamada Kaori?"
"Ya. saya Kaori. Ada apa ya?"
"Saya mengantarkan paket untuk Anda. Silakan diterima."
"Aku tidak memesan buket bunga hari ini." Kaori menyangkal pemberian pria ini padanya.
"Mohon maaf, Nyonya. Tugas saya hanya mengantarkan barang-barang ini."
Kaori menandatangani berkas penerimaan barang dengan ragu. Dia tida memesan apapun sebelumnya.
"Baiklah, Nyonya. Saya permisi."
Kaori mengangguk dan kemudian masuk ke kediamannya sendiri. Perlahan dia melihat note yang ada di depan tangkai bunga. Seketika matanya membola. "Ini?!!"
* * *
Waah, kira-kira, apa tulisan yang Kaori lihat yaa?
See you later.
__ADS_1
Hanazawa_easzy