
Ken diizinkan pulang dari rumah sakit kemarin, namun hari ini ia harus kembali bekerja. Ada beberapa rekan bisnis yang memaksanya bertemu secara langsung. Meskipun dokter menyuruhnya istirahat total selama tiga hari, namun kenyataannya berlainan. Pria workaholic itu memaksa tetap pergi.
*workaholic : gila kerja
"Tuan, pimpinan dari Circle K dan Diamond datang lagi," lapor Kosuke setelah menerima telepon dari staf di perusahaan. Ken yang duduk di bangku belakang bersama Aira sedikit mengerutkan kening. Mereka sedang ada dalam perjalanan menuju Miracle.
"Heh? Sepagi ini?" tanya Ken tidak percaya. Kedua perusahaan itu tak kenal kata menyerah untuk membujuk Ken. Jelas-jelas mereka sudah ditolak berkali-kali. Dan Ken selalu melakukan pertemuan setelah makan siang dengan rekan bisnisnya, bukan di awal hari seperti sekarang.
"Benar. Bahkan mereka kembali membawa contoh produk yang sudah mereka tunjukkan pada saya kemarin."
"Minami, apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Kosuke. Instingnya sebagai seorang pebisnis mengatakan ada sesuatu yang kedua perusahaan itu sembunyikan darinya. Dan ia meminta istrinya menyelidiki diam-diam kemarin.
"Harga saham perusahaan mereka naik turun dengan drastis. Beberapa rumor mengatakan para sponsor seringkali menarik dukungannya di tengah kontrak. Namun, tidak ada kepastian tentang rumor itu."
"Terus selidiki!" perintah Ken.
"Siapa Circle K dan Diamond?" tanya Aira penasaran. Selama menikah dengan Ken, ini pertama kalinya ia mendengar pembicaraan Ken dan kedua asistennya yang membahas tentang pekerjaan.
"Circle K adalah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan manufaktur bahan kimia dasar dan khusus. Mereka ingin bekerja sama dengan Miracle dan membuat produk kecantikan baru. Sedangkan Diamond adalah salah satu agensi permodelan yang cukup terkenal. Ada beberapa selebriti besar yang mereka naungi saat ini. Mereka ingin Miracle menjadi sponsor utama dalam pagelaran fashion show akhir tahun ini." Jelas Kosuke tanpa melepaskan fokus pada jalanan di depannya.
"Apa ada masalah?" Aira kembali bersuara.
"Pemilik Circle K dan Diamond adalah orang yang sama." jawab Ken datar.
"Dan kamu curiga padanya?"
Ken mengangguk. Ia menggenggam jemari Aira dengan erat, berharap mendapat dukungan dari istrinya.
"Biarkan aku ikut pertemuan hari ini," pinta Aira.
"Kamu yakin?" tanya Ken. Sebelumnya, Ken memaksa Aira mengantarnya ke kantor. Hanya mengantarnya saja, kemudian akan Minami antarkan pulang saat Ken sampai di ruangannya.
"Aku bisa meretas jaringan mereka," jawab Aira percaya diri.
Hal itu membuat Minami seketika menengok ke arah belakang, tidak menyangka wanita Indonesia ini berani campur tangan pada perusahaan milik suaminya.
"Itu cukup sulit, Nona. Keamanan Circle K berlipat ganda. Bahkan ahli IT Miracle juga tidak bisa menembusnya," cetus Kosuke mengingatkan.
"Aku suka tantangan," Aira meraih jemari Ken dan menatap suaminya intens, "Boleh, kan?" ucapnya meminta persetujuan dari pria yang kini memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tidak!" jawab Ken tegas. Ia tidak ingin istrinya kelelahan. Seorang hackers seringkali lupa waktu saat bekerja. Mereka terlalu asik berselancar di dunia programming tanpa memperhatikan kesehatan mereka sendiri. Makan tidak teratur, kurang istirahat, dan berbagai kemungkinan buruk yang tidak Ken inginkan. Ia tidak akan membiarkan istrinya seperti itu.
"Ayolah, Ken...," bujuk Aira terus meminta persetujuan suaminya. Ia menusuk-nusuk pipi Ken dengan jarinya.
Ken diam, tak ingin menanggapi godaan istrinya.
"Kembalikan syal milikku!" Aira berusaha melepas kain wol hitam yang melingkar di leher suaminya.
Hap
Ken mencekal jemari istrinya, mencegah wanita kesayangannya melepas kain yang menutupi noda kemerahan di lehernya. Jika Aira melepasnya, dimana Ken akan menyembunyikan wajahnya dari para karyawan atau rekan bisnisnya? Apa yang akan mereka pikirkan?
__ADS_1
"Jangan melewati batas kesabaranku!" Ken menatap manik mata istrinya dalam-dalam.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan sekarang?" sindir Aira. Ia tidak gentar sama sekali mendapat ancaman dari suaminya.
"Kamu yang memintanya sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?" ucap Ken pasrah saat tak bisa melawan kehendak istrinya lagi. Ia membenarkan letak syal di lehernya. Dominasi Aira benar-benar membuatnya kewalahan.
"Aku akan menghubungi Yu." celoteh Aira setelah berhasil mengalahkan suaminya.
Aira segera mengambil ponsel dan bersiap menghubungi partner in crime-nya itu. Seperti sebelumnya, ia akan bekerjasama dengan gadis cantik itu untuk memecahkan kode pemrograman agar dapat menyelinap masuk pada sistem keamanan dua perusahaan tersebut. Namun ekspresi wajah Aira berubah seketika saat panggilan telepon dua arah itu berakhir.
"Ada apa?" tanya Ken khawatir.
"Yu tidak bisa. Dia sedang sibuk," jawab Aira sambil menghembuskan nafas berat.
Ken tersenyum dan mengelus kepala istrinya dengan lembut, "Aku akan mengirimkan orang lain untukmu. Kemampuannya tidak perlu di ragukan lagi."
"Siapa?" Aira mencoba mencari tahu siapa yang suaminya maksudkan disini.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Ken menyisakan rasa penasaran di benak istrinya.
Sementara itu di kediaman Ken, dua orang pria wanita tengah duduk berhadapan. Mone menata bunga mawar yang Yamaken bawa ke dalam vas bunga. Aira meninggalkannya begitu saja karena Ken memaksanya pergi.
"Kamu libur hari ini?" tanya Mone pada pria yang tengah sibuk memotong ujung tangkai mawar di tangannya.
"Hmm," jawab Yamaken. Ia menyerahkan batang hijau itu pada gadis di hadapannya.
"Benarkah? Aku curiga kamu sebenarnya melarikan diri dari managermu," Mone menuduh Yamaken karena ia tahu ada begitu banyak pekerjaan yang Prince of Live Action ini ambil. Ada beberapa drama yang akan release tahun ini, dan itu artinya Yamaken pasti sibuk dengan promosi dan lain-lain.
"Kakak ipar menyuruhku mengajakmu kencan."
Mone tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup cepat mendengar kalimat yang Yamaken ucapkan barusan. Adik kembar Ken ini begitu to the point. Seharusnya ia bisa sedikit berpura-pura meliburkan diri atau apapun itu, kan? Kenapa harus begitu jujur?
*to the point : bicara langsung/blak-blakan
"Kak Aira pasti hanya bercanda. Kamu bisa pergi sekarang. Manager pasti menunggumu," usir Mone salah tingkah.
Grep
"Aku menyukaimu. Jadi, ayo berkencan," ajak Yamaken setelah menangkap jemari Mone yang sedikit gemetar dan menatapnya dalam-dalam.
'Apa-apaan ini?' batin Mone berteriak.
Dan semua terjadi begitu saja. Mone membiarkan pria 178 cm itu menggandeng tangannya sepanjang jalan. Keduanya ada di dalam kebun binatang yang cukup ramai. Mereka benar-benar berkencan.
"Ayo kesana," ajak Yamaken meraih pergelangan tangan Mone dan menariknya menuju kandang panda, "Lihat, dia sangat lucu."
Mone tertawa melihat hewan asal negeri tirai bambu itu tengah menaiki batang kayu dengan susah payah dan akhirnya terjatuh ke tanah. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena tidak bisa menghentikan tawanya.
Yamaken tersenyum menatap gadis 20 tahun ini yang terlihat begitu bahagia karena hal sepele. Misi yang Aira berikan padanya terpenuhi. Ia berhasil membuat Mone tersenyum dan kembali ceria.
Keduanya berlanjut melihat-lihat aneka satwa yang ada di sini. Udara yang mulai terasa hangat nampaknya ikut menghangatkan dua keping hati yang bersemayam di tubuh masing-masing. Baik Mone atau Yamaken, mereka mulai merasa nyaman satu sama lain. Dan benih-benih cinta yang Aira semaikan nampaknya mulai tumbuh, siap berkembang dan memberikan kebahagiaan bagi keduanya.
__ADS_1
"Terima kasih, aku sangat senang hari ini," ucap Mone saat keduanya ada di salah satu kedai es krim di tempat ini. Mereka duduk di lantai dua dimana tidak ada orang lain kecuali keduanya. Yamaken mengangguk sambil tersenyum menanggapi ungkapan terima kasih dari Mone.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," pancing Yamaken.
"Um... Ano...," Mone tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Semuanya begitu tiba-tiba.
*ano : itu
"Jadilah kekasihku." tembak Yamaken lugas.
Wajah Mone merah sepenuhnya. Panah-panah cinta yang Yamaken lesatkan menancap tepat di hatinya. Ia tidak bisa menolaknya, namun ragu untuk menerimanya.
"Mm, aku tidak bisa," lirih gadis bersurai hitam itu. Ia menggigit bibir bawahnya, sama seperti kebiasaan Aira.
Ada hal-hal yang tidak bisa ia hapuskan dari hatinya, meragu akan dirinya sendiri yang memiliki sisi iblis yang tak terkendali. Ya, meskipun tersembunyi dengan baik, namun Mone menyadari bahwa ia adalah mesin pembunuh yang telah Takeshi Kaneshiro ciptakan. Dia bukan gadis baik-baik yang bisa mendampingi Yamaken. Tidak sama sekali. Ia adalah monster yang kejam.
Popularitas Yamaken saat ini tidak bisa Mone rusak begitu saja. Jika mereka memiliki hubungan khusus, Yamaken yang akan menanggung akibat terbesar jika seseorang membongkar semua kejahatan yang pernah Mone lakukan.
"Jangan terlalu memikirkannya, ayo pulang," ajak Yamaken sembari membawa gadis itu keluar dari restoran ini.
Tepat saat itu keduanya berpapasan dengan Yu dan seorang pria yang memeluk pinggangnya dengan erat.
"Yu-chan?" Mone menahan lengan Yu yang telah melewatinya satu langkah.
"Nani?" tanya Yu dengan suara dingin.
*nani : apa
"Lama tidak berjumpa," Mone melepaskan cekalannya dan segera menunduk untuk memberi salam pada gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya ini.
"Kamu mengenalnya?" tanya pria yang masih setia berdiri di sisi Yu, dia bahkan semakin mengeratkan tangannya di pinggang Yu. Tidak merasa canggung sedikit pun meski Mone memperhatikannya.
"Dia adik sepupu temanku," jawab Yu singkat sebelum berbalik pergi meninggalkan Mone dan Yamaken di depan pintu masuk.
"Siapa pria itu? Bukankah dia berkencan dengan Yoshiro-san?" gumam Mone penuh tanda tanya. Ia menatap jaket hitam dengan logo berlian dengan tulisan Circle K yang Yu kenakan.
Ia heran melihat sikap Yu yang begitu dingin tanpa ekspresi. Sebelumnya saat di Rusia, hubungan Yoshiro dan Yu tampak baik-baik saja. Apa dia melewatkan sesuatu?
"Mone-chan..." panggil Yamaken mengingatkan gadis yang tidak merespon panggilannya.
"Ya?"
"Ayo pulang," ajak Yamaken lagi. Ia menggandeng tangan Mone dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil yang berwarna merah miliknya.
Tanpa Mone sadari, Yu menatap kepergiannya dengan perasaan bersalah. Sejujurnya ia masih ingin berbincang dengan gadis itu, tapi pria yang ada di sampingnya terlalu berbahaya.
'Maaf, Mone-chan,' lirih Yu dalam hati.
...****************...
Mulai main teka-teki nih... 💃
__ADS_1
See you next day,
Hanazawa Easzy 🍁