Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Pura-Pura Berselisih Paham


__ADS_3

Anna keluar dari dalam apartemen tempat tinggalknya, membawa sebuah remote control berwarna hitam di tangan. Dua buah drone terbang rendah dua meter di depannya, melakukan manuver cantik sebelum melaju ke arah yang lainnya.


Brakk


Dua pesawat mini itu saling bertabrakan satu sama lain, membuat keduanya tergeletak di lantai. Beberapa bagian terpelanting jauh akibat benturan yang cukup keras itu.


"Ahaha, aku tidak sabar ingin bermain-main dengan mereka," ucapnya lirih, hanya bisa didengar oleh kedua telinganya sendiri. Tawa sumbang itu terasa begitu renyah, membayangkan kehancuran orang yang menjadi target utamanya.


"Kaori-chan, siapa suruh kamu menikah dengan pria itu. Jadi, aku harus memanfaatkanmu untuk pembalasan dendamku."


Anna melenggang bebas, kembali ke dalam rumah setelah membuang remote di tangannya ke sembarang arah. Dia tidak peduli jika benda itu akhirnya pecah, berserak di lantai sama seperti drone seharga puluhan juta yang ia hancurkan sebelumnya.


Dulu, ia tinggal dan hidup bahagia dengan kedua orangtuanya. Tapi, setelah Sang Ayah wafat, dia tidak lagi merasakan kebahagiaan itu. Bahkan hidupnya terasa hampa, hingga Takeshi Kaneshiro datang dan membawa warna baru. Perlahan hidupnya kembali berubah normal dengan bantuan pria itu.


Dan beberapa tahun yang lalu, saat Anna merasa kesepian, Takeshi datang membawa Mone yang baru saja keluar dari sebuah akademi kepelatihan mafia. Anna dengan senang hati mengajak putri angkatnya itu melakukan hal gila, membantai sisa keluarganya dan menguasai seluruh harta mereka.


Takeshi tahu hal itu, tapi dia tidak melakukan apapun. Dan Mone juga melakukan perintah ibu angkatnya dengan patuh, tak pernah melayangkan protes sama sekali. Dia gadis haus darah, ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah membunuh ayahnya, Kamishiraishi Shu. Mone benar-benar tidak tahu bahwa Anna dan Takeshi sedang memanfaatkannya.


Dia intan permata di dunia gelap, berhasil memusnahkan kartel Rusia yang saat itu bermusuhan dengan Anna. Benar-benar pertarungan yang mengerikan, dimana seorang gadis 152 cm berhasil melibas habis ratusan orang pedagang senjata ilegal dalam waktu singkat. Hingga kemudian, julukan Black Diamond menjadi miliknya, karena tak segan membunuh siapa saja yang bertentangan dengannya.


Saat itulah Anna merasa berada di puncak kebahagiaannya, memiliki boneka setangguh Mone Kamishiraishi. Dia tidak pernah berpikir bahwa akan ada saat dimana orang lain merebut boneka itu darinya. Atau lebih tepatnya, menyadarkan Mone untuk kembali ke tempatnya semula.


Detik berikutnya, wajah Anna berubah merah padam. Dia kembali mengingat ledakan yang telah menewaskan suami tercintanya dan membuat Mone meninggalkannya.


"AAARRGGHHHH!!!!" teriak wanita Rusia ini sambil menyingkirkan berbagai botol di atas meja rias miliknya. Ia tiba-tiba marah, merasa emosi atas apa yang terjadi beberapa bulan kebelakang. Bekas luka di wajahnya mengingatkan bahwa dia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Shun bahagia. Pria itulah yang menjadi alasan utama Mone meninggalkannya. Jika Shun tidak ada lagi di dunia ini, Anna yakin Mone akan kembali ke sisinya.


"Mone, Sayang. Mommy akan menjemputmu!" geramnya dengan kedua tangan terkepal. Dia bertekad akan langsung melaksanakan misinya, tak ingin menunggu waktu lebih lama lagi.


Dengan tergesa, Anna mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Dia mencari nama Harada Yuki dan menghubunginya.


"Yuki-kun, bisa kita bertemu?" ucapnya to the point saat panggilan dua arah itu berhasil tersambung.


* * *


Mobil berwarna silver terhenti di pelataran sebuah perusahaan ekspor impor di dekat pelabuhan. Kosuke keluar dari dalam sana bersama Shun. Keduanya menuju salah satu bangunan rendah di sisi lain dermaga.


"Dimana tuan Harada Yuki?" tanya Kosuke pada seorang petugas yang ia temui di jalan.


Sekilas pria ini mengamati penampilan Kosuke dan Shun dari kaki hingga ke kepala. Keduanya tampak rapi, dengan jas yang melekat di masing-masing tubuhnya.


"Apa Anda sudah membuat janji sebelumnya? Belakangan ini kami sedikit sibuk," ucapnya berkilah, ingin mengetahui tujuan kedatangan dua orang ini.


"Atasanmu itu yang meminta kami datang kemari, bukan sebaliknya!" ketus Shun dengan sebal. Dia meletuskan permen karet di mulutnya dengan keras, sengaja menunjukkan ketidaksukaannya pada orang rendahan di hadapannya ini.

__ADS_1


Kosuke segera menguasai keadaan. Dia tidak ingin pria ini membuat keributan atau rencana awal mereka untuk bertemu Yuki akan gagal.


"Maaf, Tuan. Bisakah Anda menyampaikan pada tuan Harada bahwa kami sudah ada di sini?"


Pria yang sebelumnya mulai emosi itu, mau tak mau undur diri, masuk ke dalam sebuah ruangan dan menemui tuannya.


Tak lama kemudian, Yuki keluar dari dalam bilik 6 x 8 meter itu.


"Kalian sudah datang?" Pria itu mendekat ke arah Kosuke dan Shun, menyapa keduanya. "Mari."


Ketiga orang itu berjalan menyusuri tepi dermaga, menuju salah satu speedboat yang terpancang di tiang beton.


HAP!!


Kedua kakinya berhasil mendarat di atas kendaraan cepat yang hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu ini. Dia melompat dari tepi dermaga, sampai kemudian kakinya berdiri dengan mulus di belakang Yuki, meski harus membuat pria ini sedikit oleng karena hentakan yang tiba-tiba.


Kosuke menggelengkan kepala. Ini bukan pertama kalinya Shun bertingkah aneh. Dibandingkan melewati jalur yang seharusnya, dia lebih suka mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai di tujuannya.


"Kita kemana?" tanya Shun, kembali meletupkan balon permen karet dari mulutnya. Dia duduk santai di bagian kanan lambung speedboat, memangku lutut dengan angkuhnya.


"Kalian akan tahu nanti." Yuki melirik Kosuke yang berhasil melepas ikatan tali yang mengikat kendaraan laut ini.


Speedboat warna putih itu melaju cepat membelah lautan, menuju sebuah pulau kecil yang tampak seperti sebuah titik hitam di kejauhan.


"Kita ke sana?" tanya Shun, menunjuk tempat tujuan mereka.


Beberapa saat berlalu tanpa percakapan antara ketiga orang itu. Mereka berkutat dengan pemikirannya masing-masing. Kedatangan Anna dengan segala trik liciknya, membuat kedua orang ini harus saling bertemu.


"Bagaimana keadaan Kaori? Ku dengar dia sedikit demam saat kalian menghabiskan waktu bersama di Thailand?" Suara Yuki sedikit meninggi, mengalahkan deburan ombak yang bertabrakan dengan kendaraan yang dikendalikan olehnya ini.


Pluup


Lagi-lagi Shun meletupkan permen karet di mulutnya. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan pria ini.


"Apa urusannya denganmu?" ketus Shun, menyapu pandang pada hamparan lautan yang tertangkap matanya. Satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh air, merasakan gelombang yang saling bertabrakan dengan jemari tangannya.


Yuki tersenyum, menyadari pria ini masih tidak menyukainya seperti pertemuan pertama mereka di ruangan Ken beberapa minggu yang lalu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya saja."


Kosuke mengamati kedua pria ini dari samping. Mereka sama-sama rupawan, dan terjebak memiliki perasaan yang sama pada satu wanita. Kisah klise seperti yang ada di dalam cerita rekaan manusia.


Perjalanan mereka berakhir beberapa menit kemudian. Ketiganya tiba di pantai pasir putih dan langsung menuju sebuah rumah berbentuk pondok yang keseluruhannya terbuat dari kayu.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Kenapa harus jauh-jauh ke tempat ini?" Shun merasa enggan masuk ke dalam rumah yang terlihat lusuh ini. Beberapa sarang laba-laba terpampang nyata di depan pintu, menandakan bahwa tak ada kehidupan di dalam rumah dengan desain klasik ini.


"Ikut saja. Kalian tidak akan menyesal setelah melihat apa yang ada di dalamnya."


Mau tak mau, Shun meneruskan langkahnya, mengikuti Yuki yang lebih dulu masuk ke dalam bangunan yang tampak mulai lapuk ini.


"Hanya tempat ini yang aman untuk melakukan pembicaraan. Aku tidak yakin tidak ada mata-mata yang wanita itu kirimkan di sekitarku." Yuki berucap sambil memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dihadapannya.


"Sebelum itu, kamu baca ini lebih dulu." Yuki menyerahkan secarik kertas pada Shun, menunggu reaksinya.


"APA KAMU GILA?! MANA MUNGKIN AKU BISA MENGHAMILINYA?" ketusnya dengan kedua mata terbeliak. Dia tidak percaya dengan deretan huruf yang sedetik lalu ia baca. Disana tertulis bahwa alasan tuan Hayato Harada mengusir Kaori kembali ke Jepang adalah karena yang dikandungnya adalah darah daging Shun, bukan Yuki.


"Siapa yang membuatnya? Akan kupatahkan kedua tangan yang menulis surat bodoh ini!! Kaori-chan wanita baik-baik. Dia bukan wanita seperti itu. Dia hanya setia pada pasangannya saja!" Emosi Shun menggebu-gebu, tidak terima dengan fitnah yang mengarah pada istrinya.


Yuki terkekeh geli. Dia sudah bisa membayangkan seperti apa ekspresi Shun yang tidak mempercayai surat di tangannya. Pria ini pasti akan emosi, dia juga merasakan hal yang sama saat pertama kali membacanya. Dan tentang pernyataan Shun, Yuki setuju. Kaori bukan playgirl. Dia setia pada satu lelaki saja.


"Itu hanya surat wasiat palsu." Kedua kaki Yuki melangkah ke dalam, diikuti oleh Shun dan Kosuke. "Anna yang melakukannya. Ah, tepatnya wanita yang bersama Anna. Dia sengaja ingin mengadu domba kita berdua. Itulah alasan utama kenapa aku sengaja meminta kalian berdua datang. Ada sesuatu yang ingin ku katakan."


Shun meremas kertas di tangannya dengan sekuat tenaga sebelum membuangnya.


 


"Apa rencana Anda?" Kosuke memberanikan diri bersuara. Dia tidak tahu apa yang ada dalam surat wasiat itu, tapi pastilah mengatakan sesuatu yang buruk tentang Kaori.


"Ayo kita ikuti permainan Anna. Kita pura-pura berselisih paham!"


Shun mengangkat satu sudut bibirnya, sebelum kembali sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Apa imbalannya? Kenapa aku harus menuruti permintaanmu untuk menjebak wanita itu? Tanpa bekerjasama denganmu sekalipun, aku bisa menyingkirkannya!" Shun begitu yakin dengan kemampuannya. Wanita itu bukan Aira, jadi dia yakin bisa memusnahkannya sekejap mata.


"Aku tahu apa yang kamu inginkan. Bagaimana jika aku memberikan separuh peninggalan ayahku untukmu?" Yuki membuka pintu di belakang tubuhnya, menampilkan pemandangan luar biasa yang membuat Shun dan Kosuke terhenyak.


"Ii-ini imbalannya?" Shun tergagap.


Yuki mengangguk. Dia begitu yakin Shun tidak bisa menolak penawarannya ini. "Bagaimana? Kamu bersedia berkongsi denganku?"


* * *


Waaahhh akhirnya bisa up. Gomen ne,


Hontou ni gomenasai karena baru sempet up. Bulan depan in syaa Allah Author rutin ke sini lagi kok. Tunggu yaa. Author juga kangen sama kalian semua.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar di bawah. Boleh juga kasih vote dan rate bintang lima di bagian depan novel ini. See you next chapter.

__ADS_1


Salam sayang dari Author tercinta...


Hanazawa Easzy


__ADS_2