
"Berhenti meminta maaf padaku sampai kamu bisa memperbaiki emosimu!"
Aira menjauh dari suaminya, meninggalkan pria itu dengan ketiga anak-anak yang belum mengerti apapun tentang dunia yang menyakitkan ini.
Brukk!
Ken kehabisan tenaga, dia mendudukkan diri di tepi ranjang, bersama tiga malaikat tak bersayap kebanggannya. Wajahnya meredup menyadari fakta pahit bahwa Aira belum bisa memaafkan kesalahannya. Hal itu membuat Ken
seolah hidup segan mati tak mau. Tak ada semangat sama sekali.
"Wuuwu." Suara Azami membuat Ken menoleh. Pria 28 tahun itu tersenyum kecut. Bayi menggemaskan ini seolah tahu perasaan ayahnya.
Tangan Ken terulur, menggapai pipi bulat Si Bungsu, mengelusnya dengan sayang.
"Apa kamu tahu Daddy sedang sedih?" Ken mengamati ciptaan Tuhan yang terlihat begtu sempurna ini. Matanya yang bening menyiratkan bahwa bayi ini masih begitu suci, tak bernoda sama sekali.
"Apa kalian tahu? Ayah sangat menyayangi ibu. Tapi ayah terlalu bodoh untuk bisa membedakan antara rasa sayang dengan obsesi." Ken meraih tangan Akari, Si Sulung, dan menciumnya dengan lembut. Aroma khas bayi yang menenangkan segera menyapa kedua lubang hidungnya.
"Ayah terobsesi pada ibumu, terpikat akan segala pesona yang dimilikinya. Tapi ayah terjebak dalam pusaran itu, tak bisa mengendalikan diri lagi. Ayah takut ibumu menjadi semakin kuat dan tak lagi membutuhkan orang lain di sisinya."
"Umm," Akari bergumam, kembali memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Bayi itu menatap pria di hadapannya, seolah mengajaknya bicara.
"Apa kamu mendengarkan ayah?" Ken terharu. Malaikat kecilnya ini membuat kesedihannya sedikit terobati. Kehadiran mereka menjadi harapan baru untuknya. Aira tidak mungkin mengabaikannya karena dia adalah ayah dari bocah-bocah menggemaskan ini.
"Waawaa." Kali ini suara Aya yang menggema di ruangan dengan warna biru sebagai dekorasi utamanya. Gadis cantik nan tembam itu membuka mulutnya lebar-lebar, menatap langit-langit sambil mengangkat kakinya ke atas.
Sama dengan Sang Kakak, bayi ini merasa terpanggil karena ayahnya tengah menderita batinnya.
Bayi yang masih kecil seperti kembar tiga ini memang belum bisa berbicara langsung. Mereka baru sebatas membuka dan menutup mata, dan sesekali menangis. Tak jarang kicauan tak jelas terdengar dari mulut mereka. Namun, itu justru bisa menjadi penyembuh bagi seorang Yamazaki Kenzo yang kini tengah meraasa terpuruk.
Bagaimana tidak? Aira, wanita yang paling dia sayangi di dunia ini, kini tengah mengabaikannya. Jangankan mengajaknya bicara, bahkan dari ekspresi wajahnya terlihat jelas bahwa wanita itu enggan bertatap muka dengannya. Apa yang harus Ken lakukan untuk memperbaiki kesalahannya? Pria itu sungguh tidak tahu langkah apa yang harus diambilnya.
Perhatiannya sedikit teralihkan dengan tingkah lucu ketiga bayi yang kini ada bersamanya. Mereka seolah mengerti, berusaha mengajak ayahnya untuk bicara. Nantinya, mereka jualah yang akan menemani hari-hari tuanya.
"Apa kalian bisa mendengar ayah?" Ken menatap ketiga anaknya satu per satu. "Jangan pernah menyakiti ibu seperti ayah kalian yang bodoh ini!" Pria 28 tahun itu menggigit bibir bawahnya sendiri, merasakan getir akan ucapan yang terlontar dari mulut. Otaknya berkelana, membuka kembali memori masa lalu tentang hubungan awal
pernikahannya dengan Aira.
"Sejak awal, ayahlah yang memaksakan pernikahan ini." Ken mulai bernarasi, menjelaskan tanpa diminta. Sebenarnya, pria ini bukan sedang mendongeng, melainkan dia tengah berbicara dengan dirinya sendiri.
Ketiga bayi berkulit putih itu tampak asik dengan kegiatan mereka sendiri, berguling, menghisap jempol, atau mengangkat kaki ke atas sambil berceloteh bahasa surga. Ken sendiri tidak keberatan. Dia hanya ingin mengingat
__ADS_1
masa lalu, dimana seringkali dia membuat Aira menderita.
"Ibu kalian adalah wanita hebat. Apa kalian tahu bagaimana Tuhan mengatur pertemuan kami?"
Hening. Tak ada jawaban dari triplet, karena memang mereka belum bisa diajak bicara.
"Ayah menabrak ibu yang sedang jogging. Tanpa sengaja, ponsel kami tertukar." Sebuah senyum simpul terukir di wajah pewaris keluarga Yamazaki ini. Hatinya menghangat mengingat bagaimana indahnya semesta mempertemukannya dengan Aira.
"Hanya karena salah paham, nenek kalian mengatur pernikahan untuk kami." Ken menerawang jauh ke angkasa luas. Dia tidak bisa memungkiri bahwa sejak awal pernikahan ini memang salah. Ah, bukan pernikahannya yang
salah, karena takdir telah tertulis sejak mereka belum mengenal dunia ini. Tapi yang keliru adalah sikap keluarganya, termasuk dia sendiri.
"Nenek kalian berpikiran yang tidak-tidak tentang kami hanya karena pertukaran ponsel tanpa sengaja itu." Ken masih asik bernarasi, tanpa menyadari kehadiran Aira di ambang pintu.
"Dan pria yang bodoh ini tidak melakukan apapun." Suara Ken melemah di akhir kallimat, menandakan ada sedikit penyesalan di dalam hatinya. "Jika saja ayah tidak memaksakan diri, mungkin ibumu mendapatkan pria lain
yang lebih baik, bukan berandalan b*rengsek seperti ini."
Deg!
Hati Aira mencelos. Dia tidak menyangka Ken akan memaki dirinya sendiri. Dengan tabiat yang dia miliki, sangat mustahil jika pria perfeksionis ini bisa melihat kekurangannya sendiri. Aira memilih duduk, beberapa meter di belakang suaminya. DIa ingin mendengarkan kelanjutan pengakuan Ken.
Ken menundukkan kepala, merasa malu akan tingkahnya sendiri. Memori itu terus berputar, memainkan ingatannya seperti tengah menonton film layar lebar di bioskop. Layarnya penuh, tanpa halangan sama sekali.
Lagi-lagi hening. Baik Akari, Ayame, maupun Azami tidak mengerti apa yang ayah mereka ucapkan. Sementara Aira semakin tertarik, memasang kupingnya sebaik mungkin untuk mendengar untold story yang selama ini hanya tersimpan di dalam benak suaminya.
"Ayah jatuh cinta dengan mata elang ibumu." Ken tersenyum simpul, mengingat pertemuan ke duanya dengan Aira di apartemen kecil itu.
"Sejak awal tidak ada yang berani melawan ayah, tapi ibu kalian berani melakukannya."
Aira sedikit berpikir ke belakang, perlawanan seperti apa yang tengah pria ini bicarakan? Aira tidak ingat bahwa dia memiliki masalah dengan Ken saat itu.
"Ibumu menjepit tangan ayah dengan pintu," ungkap Ken sambil menoel pipi Ayame dengan jari telunjuk miliknya.
Di belakang sana, netra Aira membola. Dia tidak habis pikir, Ken jatuh hati padanya karena hal itu? Bukankah itu bodoh? Bagaimana bisa seperti itu?
"Benar. Aku bodoh."
Kelopak mata Aira semakin lebar. Dia terhenyak saat mendapati kalimat Ken, seolah pria ini mendengar kata hatinya. Mungkin hati mereka saling terhubung, makanya mereka memiliki telepati yang tidak bisa dijabarkan dengan pengetahuan medis. Itu salah satu anugerah Tuhan, menautkan hati pada pasangan halal makhluk-Nya.
"Malam itu, ibumu bersikap begitu tenang, mengusir kedatangan ayah yang tak diundang." Ken melanjutkan narasinya, sungguh tidak menyadari bahwa tokoh protagonis dari kisah itu ada di belakang sana, mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
"Apa kalian tahu apa yang ayah lakukan?" Kalimat Ken terdengar menggantung. "Bukannya pergi, perut ayah justru berbunyi. Ayah kelaparan."
Aira tidak menyangka Ken ingat detail kejadian malam itu. Dia saja sudah melupakannya. Bukan hal yang penting sama sekali.
"Itu pertama kalinya ayah makan mie instan selama 27 tahun menghirup udara di dunia ini." Ken tertawa, menampilkan deretan gigi yang tertata rapi di tempatnya. Dia paling anti dengan makanan tidak sehat seperti itu. Pengurus rumah juga tidak pernah memberikan makanan yang sarat penyedap makanan itu. Kalaupun ada menu mie atau spaghetti dalam makanan Ken, pastinya itu mahal dan higienis, bukan mie instan plus telor dan sayuran.
"Bahkan ayah berpikir untuk minta tambah saat itu." Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menggelikan.
Aira mengangkat sudut bibirnya. Dia sungguh tidak pernah tahu akan hal ini. Ken tidak pernah mengatakannya.
Azami kembali berguling, tengkurap dengan wajah tersembunyi di atas selimut.
"Hey, Boy. Hati-hati dengan hidung minimalis milikmu!" Ken membenahi posisi putra sulungnya, meletakkan bantal sebagai penopang dagu Si Gendut. Ya, diantara tiga bersaudara itu, Akari yang paling pendiam, Ayame paling aktif, dan Azami paling gembil. Benar-benar menggemaskan.
Hati Aira menghangat. Batu es di dalam sana mulai mencair perlahan. Ken yang dia kenal sebagai pria brutal ini ternyata bisa bersikap lembut pada anak-anak. Dia begitu tanggap dengan keadaan sekitar, mencegah semaksimal mungkin agar putranya tidak terluka.
"Kalian adalah anugerah terindah untuk ayah. Tanpa kehadiran wanita itu, kalian tidak ada di dunia ini." Ken mengelus kepala bayinya satu per satu. "Dan tanpa ibu kalian, ayah tidak bisa berubah menjadi manusia seperti sekarang. Ayah pasti menjadi iblis yang paling kejam di muka bumi ini." Arah narasi Ken berubah, bukan lagi tentang pertemuan awalnya dengan Aira, melainkan dampak yang ditimbulkan saat ini.
"Ibumu adalah wanita terhebat yang pernah ayah temui. Dia berdiri kokoh meski badai menerjang." Ken kembali terbawa suasana. "Tidak peduli ayah mencambuknya, bersikap kasar padanya, bahkan sampai menyiksanya sedemikian rupa, dia tidak akan tumbang. Dia tetap mendampingi ayah, mempertahankan pernikahan yang sama sekali bukan keinginannya." Sebulir air mata melesak begitu saja tanpa bisa Kenzo cegah.
"Ibu kalian benar-benar luar biasa."
Cup
Cup
Cup
Ken menciumi pipi malaikat kecilnya satu per satu dengan penuh cinta. Andai saja bisa, ingin sekali pria ini mencium Aira, tapi yang ada di hadapannya adalah bayi-bayi hasil cetakannya. Jadi hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Kamu juga pria yang luar biasa."
Deg!
Ken terhenyak. Suara itu membuat tubuhnya menegang. Mungkinkah dia berhalusinasi? Apakah dia sudah gila? Begitu rindunyakah dia pada wanita itu sampai dia mengengar suaranya?"
* * *
So sweet Si Abang Kenzo.... Unchhh, lucunya mereka.
Kira-kira mamak Ai udah maafin suaminya belum ya? Kira-kira bakal gimana hubungan mereka? Otak Author udah travelling keliling dunia maya loh. Astagaa.... Hahahahaa.
__ADS_1
Sampai jumpa episode berikutnya. See yaa,
Hanazawa Easzy