Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Memberinya Obat Tidur


__ADS_3

"Maaf, Sayangku. Hanya ini yang bisa mencegah sisi iblis yang selalu menyertaimu." Aira bergumam lirih, hanya bisa tertangkap oleh sepasang indera pendengarannya sendiri. Lagipula tidak ada orang lain di tempat ini.



Dengan sigap, Aira membawa nampan berisi makanan untuk Ken menuju kamarnya di lantai atas. Ada sup jamur yang dilengkapi dengan tofu dan irisan daun bawang, juga chicken katsu dengan saus lada hitam yang ia masak tiga puluh menit yang lalu.


Bukan hal yang sulit untuk menyajikan makanan satu ini. Tidak membutuhkan waktu lama. Lagipula, hanya hidangan rumah yang sederhana, semua orang bisa membuatnya. Meski Ken sudah bisa menerima makanan Indonesia untuk mengisi perutnya, tapi tetap saja, dia besar di jepang. Jadi, makanan seperti ini yang lebih cocok di lidahnya.


Masih tetap sama seperti saat Aira meninggalkannya, Ken masih menatap layar monitor di hadapannya. Seluruh atensinya tertuju ke sana, mengamati setiap gerak-gerik wanita Rusia itu. Instingnya sebagai seorang pemburu segera aktif begitu melihat pergerakan mangsanya.


"Sayang, makanlah dulu." Aira sampai di sebelah Ken dan menyenggol puncak lengan suaminya dengan siku.


"Hmm. Letakkan saja di sana. Sebentar lagi," jawab Ken tanpa mengalihkan pandang sepersekian detik pun dari rekaman CCTV itu. Netra tajamnya terus mengamatinya, tidak ingin melewatkan satu titik pun dari penampakan yang ada di sana.


Aira tersenyum hambar. Dia tidak yakin makna 'sebentar' yang diucapkan oleh suaminya ini. Itu kata yang ambigu, berlaku prinsip relatif bagi setiap orang yang berbeda. Bagi Aira, kata sebentar itu berarti membutuhkan waktu beberapa menit saja, setidaknya kurang dari satu jam.


Tapi, bagi seorang pria pemburu seperti Ken, 'sebentar' yang diucapkannya berbeda makna. Bisa saja sangat cepat, atau justru begitu lambat. Dan pastilah makna kedua yang akan berlaku dalam situasi ini. Ken baru akan memikirkan untuk mengisi perutnya saat mangsa buruannya sudah terkunci. Sementara sekarang ini, Anna dan


wanita yang membantunya, mereka masih 'bebas'.


"Mau aku suapi?" Aira menawarkan bantuan, duduk di samping Ken. Wanita 26 tahun ini menempati posisinya semula, sebelum sibuk berkutat di dapur guna membuatkan santap malam untuk suaminya tercinta.


"Nanti saja." Ken tidak ingin melewatkan pergerakan Maria sama sekali. Wanita itu terlihat kembali ke kediaman Anna dan masuk ke sana dengan leluasa. Itu menandakan bahwa Anna sangat mempercayai wanita ini.


"Nanti?" gumam wanita yang kini menatap Ken dengan kening berkerut. Dia tida bisa menunggu lagi. Ini sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat.


"Tidak ada nanti-nanti!" Kali ini Aira menggelengkan kepala. Pria ini gila kerja. Dia akan melupakan makanan di hadapannya, membiarkannya dingin dan tidak berselera untuk disantap nantinya. Dan itu artinya usaha Aira memasak makanan ini akan sia-sia saja. Itu tidak seharusnya terjadi.

__ADS_1


"Kalau begitu minumlah." Aira menyodorkan gelas berisi segelas air putih mendekat ke arah Ken. Pria itu langsung meneguknya tanpa curiga sama sekali. Lagipula itu hanya air putih saja, 'kan?


Diam-diam Aira menundukkan kepala, menahan tawa yang sebisa mungkin ia redam. Hanya tinggal menghitung mundur dan Ken akan tumbang.


"Ada apa? Kenapa kamu menertawakanku, huh?" tanya Ken sambil sibuk menekan tuts berbagai huruf di atas laptop. Dia sempat melirik Aira yang berusaha menyembunyikan tawa di wajahnya. Instingnya sebagai pemburu tidak mengizinkan orang di hadapannya menipu atau memainkan trik tertentu di depannya.


"Apa kamu menambahkan racun ke dalam minumanku?" sarkas Ken, mengingat dia baru saja meneguk segelas air putih pemberian Aira hanya dalam hitungan detik saja.


"Mana ada!" Aira berkilah. Dia tidak mungkin meracuni ayah dari anak-anak yang sangat dia sayangi ini. "Kamu akan tahu sendiri nanti. Sekarang makanlah!"


"Jika kamu meracuniku, aku akan mengganggumu sepanjang waktu, membuat hidupmu tidak tenang. Dan aku akan selalu muncul di dalam mimpimu setiap malam!"


Aira terkekeh geli. "Apa aku wanita sejahat itu di matamu?" Tangan Aira sigap menyuapkan makanan di dalam mangkuk pada mulut Ken. Dan kedua bibir pria ini mengatup begitu mulutnya terisi makanan. Rasanya tidak diragukan, benar-benar pas sesuai selera seorang Yamazaki Kenzo.


Perlahan Aira mulai menyuapi suaminya dengan makanan hasil kerja kerasnya berkutat di dapur.  Dan hanya dalam hitungan menit, makanan itu tandas tak bersisa. Entah makanan itu yang terlalu enak atau memang yakuza muda ini yang kelaparan. Ya, beigutlah.


Awalnya tidak ada keanehan yang terjadi pada pria 28 tahun ini. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke layar monitor yang ada di atas meja. Namun, beberapa menit kemudian, mata elang itu mulai terganggu fokusnya. Dia ingin terpejam sekarang juga. Tubuhnya juga terasa sedikit lemah.


"Hoaam." Mulut Ken terbuka lebar dan Aira segera menutupnya dengan tangan.


"Tutup mulutmu saat menguap. Bagaimana kalau tiba-tiba ada kecoa masuk ke dalam sana, huh?" canda Aira pada suaminya


Ken menggelengkan kepala beberapa kali. Ini tidak biasanya terjadi. Dia bisa terjaga selama tiga hari tiga malam tanpa kantuk sama sekali saat sudah mendapat target buruan. Tapi kali ini? Rasanya ada yang salah. Kantuk yang hebat terasa menderanya, membuat matanya terasa berat dan ingin segera terpejam.


Aira yang mulai merasakan keanehan itu, sengaja bungkam. Dia pura-pura sibuk membereskan mangkuk dan peralatan makan untuk dibawa kembali ke dapur.


"Ah, Ai-chan," panggil Ken setelah berhasil menahan kantuknya untuk sementara setelah mencuci muka.

__ADS_1


"Ya?" tanya wanita kelahiran Indonesia ini dengan wajah tanpa dosa. Dia tahu Ken akan memintanya mengambilkan sesuatu untuk meredam rasa kantuknya.


"Tolong ambilkan beberapa soft drink dingin untukku."


Aira berpura-pura memasang wajah heran. "Soft drink? Hampir tengah malam begini?" Ujung netranya melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan angka 23.45 malam.


"Umm. Tolong yaa." Ken memijat pelipisnya dengan sebelah tangan, berharap denyutan pelan di kepalanya tidak terus berlanjut. Dia masih ingin mengawasi Anna dan wanita Rusia yang lainnya itu, mengawasi pergerakan mereka.


"Aku tidak mau!" ketus Aira tanpa tapi. Dia jelas-jelas menunjukkan penolakannya.


"Ayolah, Sayang."


"Ambil saja sendiri!" Aira melenggang keluar kamar dengan membawa nampan di tangannya.


Di belakang sana, Ken kembali menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Rasa kantuk yang amat sangat ini membuat kepalanya berdenyut jika matanya masih terbuka. Tapi, jika dia menutup matanya, denyutan itu terasa berkurang intensitasnya.


"Apa dia memberiku obat tibur?" gumam Ken seorang diri. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, pria ini kembali membasuh wajahnya dengan air dingin dan kembali mengamati layar monitor.


"Dia benar-benar sengaja membuatku seperti ini, ya?" Ken menyadari apa yang telah Aira lakukan. Ada sesuatu yang salah dengan makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Itulah sebabnya dia mengantuk sekarang. Pasti wanita itu menambahkan obat tidur ke dalam hidangan santap malamnya.


"Awas saja jika itu benar! Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi, Sayangku."


Dukk


Baru beberapa detik berlalu, kepala Ken tergeletak di atas meja di hadapannya. Dia ketiduran tanpa sadar. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kenapa Aira melakukan itu pada suaminya? Nantikan bab berikutnya.


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2