Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Make A Wish


__ADS_3

Ken mengerjapkan matanya saat hembusan angin terasa menyapa wajahnya. Ia membuka kelopak matanya dan mendapati wajah Aira yang ada di depannya.


Cup


"Itoshii hito, ohayou." ucap Aira setelah mengecup sekilas pipi suaminya yang baru bangun tidur. Aira berlutut di sisi ranjang Ken, membuat jarak mereka hanya tersisa beberapa centimeter saja. Wanita itu tidak segan-segan memainkan alis suaminya yang tertutup helaian rambut yang sudah sedikit panjang.


(Selamat pagi, sayang)


"Hmm, ohayou." jawab Ken dengan suara parau khas bangun tidur. Ia tersenyum manis dan meraih wajah istrinya saat itu juga, menghujaninya dengan kecupan-kecupan singkat sebagai balasan atas morning kiss dari Aira barusan. Kebahagiaan yang begitu nyata kini melingkupi kedua insan itu. Mereka larut dalam dunianya sendiri seolah tak ada orang lain di sana.


*morning kiss : kecupan selamat pagi


"Ekhhmm.. " Kosuke berdeham untuk mengingatkan tuannya yang kini bertindak semakin berani meraba punggung Aira. Pria yang dulunya pembunuh berdarah dingin itu terlalu terbawa suasana dan tidak menyadari keberadaan Kosuke.


Kosuke merasa tidak nyaman. Ia melihat interaksi manis kedua tuannya itu dengan perasaan jengkel. Bagaimana tidak? Ia harus datang kemari pagi-pagi buta dan meninggalkan Minami yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebagai manusia biasa, ia juga memiliki perasaan pribadi seperti marah, kesal, senang, sedih, dan sebagainya. Hanya saja Kosuke selalu menutupinya dan memenuhi tanggung jawabnya dengan profesional karena inilah resiko pekerjaannya sebagai seorang asisten pribadi.


Ken segera menarik diri dan bangkit dari ranjangnya. Ia pura-pura membenahi piyamanya dan mengumpulkan kesadarannya akan situasi saat ini. Aira tersenyum melihat suaminya yang salah tingkah. Pemandangan langka bisa melihat Ken yang canggung dengan wajah memerah.


"Selamat pagi, tuan." sapa Kosuke dengan nada formal. Ini kebiasaannya sejak dulu. Ia selalu datang 2 jam sebelum Ken bangun. Kosuke bertugas untuk mempersiapkan segala keperluan tuannya, termasuk menyiapkan sarapan pagi dan pakaian yang akan dikenakan pria bermarga Yamazaki itu.


Tentu dengan berbagai kesibukan itu, Ken mengganjalnya dengan gaji yang tinggi. Itu yang membuat Kosuke selalu berada di sisi Ken. Melayaninya dengan sepenuh hati dan tidak pernah mengeluh. Dia tinggal seorang diri di Tokyo, jadi tidak masalah jika ia menghabiskan waktu 24 jam bersama Ken. Tapi sekarang berbeda, ia memiliki kehidupan pribadinya bersama Minami. Tentu Kosuke ingin memiliki waktu lebih bersama wanita kesayangannya itu.


"Aku akan siapkan sarapan untukmu." pamit Aira yang dijawab anggukan oleh Ken.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ken sembari berdiri. Ia menatap Kosuke dengan pandangan tidak suka. Asistennya itu seharusnya pergi diam-diam saja dari kamar ini, bukan justru menginterupsi kegiatan pribadinya bersama Aira.


"Maafkan saya." Kosuke menundukkan kepalanya.


"Pergilah." Ken mengulurkan dua lembar tiket wisata ke Okinawa yang telah ia siapkan khusus untuk Kosuke dan Minami.


"Heih?" Kosuke membulatkan matanya, menatap Ken dengan heran. Ia menerima pemberian Ken dengan senang hati. Kemarin Ken memintanya datang tanpa mengatakan apapun. Ia pikir Ken gila kerja karena tidak membiarkannya istirahat sepulang dari Rusia dini hari tadi.


"Pulanglah dan persiapkan bulan madu kalian yang sempat tertunda sebelumnya." perintah Ken sebelum masuk ke kamar mandi.


"Nona..." Kosuke mendekat ke arah Aira yang sedang sibuk di dapur. Ia kehabisan kata-kata untuk sekadar mengucapkan terima kasih atas pemberian Ken itu.


"Maaf karena bulan madu kalian tertunda beberapa bulan. Aku akan menjaga diriku dengan baik, jadi kalian bisa menikmati waktu berdua dengan tenang. Tolong bahagiakan Minami." pinta Aira sambil tersenyum. Ia mengatakannya dengan tulus, berharap Kosuke dan Minami bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan apapun.


Sebelumnya, karena kesehatan Aira yang memburuk menyebabkan pasangan suami istri itu harus kembali bekerja padahal baru beberapa hari berlibur. Kini, Ken dan Aira ingin membayar hutang mereka pada keduanya.


"Arigatou gozaimasu. Hontou ni arigatou." Kosuke menundukkan badannya 90°, merasa sangat berterima kasih pada nonanya ini.


(Terima kasih. Terima kasih banyak)

__ADS_1


"Pergilah sekarang. Sampaikan permintaan maafku untuk Minami. Selamat menikmati liburan kalian."


Kosuke bergegas meninggalkan kediaman mewah itu dengan hati yang buncah oleh kebahagiaan. Ia merasa bersalah karena telah mengganggu aktivitas Ken-Aira tadi. Jika tahu Ken menyiapkan paket liburan untuknya dan Minami, ia akan menunggu tuannya itu selesai dengan urusannya. Satu jam, dua jam, atau bahkan lebih, ia akan bersedia menunggunya.


Ken keluar dari dalam kamarnya dengan wajah basah. Ia hanya menggosok gigi dan mencuci wajahnya sebelum melakukan kewajiban dua roka'atnya sebagai seorang muslim. Sudah lumrah bagi orang Jepang untuk tidak mandi di pagi hari. Mereka hanya akan mandi sekali dalam sehari, itu pun malam hari sepulang bekerja sebelum tidur. Mereka beranggapan tidak perlu mandi saat bangun tidur karena tubuh mereka masih bersih dan tidak berkeringat. Terlebih di musim dingin seperti sekarang ini.


"Apa itu?" tanya Ken yang kini berjarak dua meter dari istrinya.


"Ah, aku coba membuat kue ulang tahun untukmu. Entah ini bisa dimakan atau tidak. Setidaknya aku sudah berusaha" jawab Aira sembari meletakkan buah di atas kue tart buatannya. Ia membawa makanan manis itu mendekat pada suaminya.



Aira duduk si depan Ken dan menyerahkan kue di tangannya pada Ken. Ia dengan sigap menghidupkan pemantik api yang ia arahkan ke atas lilin, membuat benda bersumbu itu menyala.


"Kamu belum sempat membuat permintaan." Aira mengingatkan Ken yang melupakan kuenya saat di pesawat. Saat Ken melepas pelukan Aira semalam, wanita itu tiba-tiba merasa mual dan kembali ke kursi penumpang. Ken terus berada di sisinya dan mengabaikan kue yang ada di tangan Minami. Ia kembali panik karena mendapati wajah Aira yang terlihat pucat. Kaori menyarankan agar Aira istirahat sampai kondisinya membaik.


"Darling, make a wish." pinta Aira yang melihat Ken sedikit melamun barusan.


(Sayang, buat permohonan)


Ken segera menutup matanya dan merapalkan doa di dalam hati. Ia berharap bisa membahagiakan Aira dan keluarga kecilnya. Bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya dan ayah yang bisa membimbing anak-anaknya kelak. Sebenarnya Ken bukan berdoa sebagai ritual ulang tahun sebelum meniup lilin, ia bisa berdoa kapan saja sebagai seorang muslim. Dia hanya menuruti permintaan Aira, untuk menyenangkan wanita hamil di depannya.


"Apa kamu punya begitu banyak permintaan? Kenapa lama sekali?" canda Aira karena Ken belum juga membuka matanya padahal dua menit telah berlalu.


Ken tersenyum dan meniup lilin di depannya hingga padam, membiarkan asap halus berwarna putih yang menguar di udara dan menghilang detik berikutnya.


"Rahasia." jawab Ken sembari meletakkan lilin di atas meja dan mencicipi krim berwarna merah yang menghiasi sekeliling kue miliknya. Dengan cekatan Ken memotongnya dan menyuapi Aira. Ia bahkan sempat mengoleskan krim di hidung wanita berjilbab di depannya. Mereka tertawa bersama.


"Mana hadiah untukku?" tanya Ken saat keduanya berdiri di depan wastafel untuk membersihkan wajah dari bekas krim kue yang terasa licin. Ia menggosokkan busa di tangannya ke wajah Aira sambil sesekali mencubit pipi chubby istrinya yang menggemaskan.


"Hadiah? Aku belum sempat membeli apapun. Apa yang kamu inginkan?" Aira melakukan hal yang sama, ia mengusap wajah suaminya dengan sabun. Pria itu sedikit menunduk agar Aira tidak kesulitan melalukan tugasnya.


"Apa kamu akan memberikan yang ku minta?" pancing Ken menampilkan smirk di wajahnya.


*smirk : menyeringai/mengangkat sebelah bibirnya


"Katakan saja." ucap Aira dengan tenang.


"Aku menginginkanmu." Ken menangkup pipi istrinya yang masih penuh dengan busa.


Gerakan tangan Aira terhenti, ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Ia melepaskan diri dari suaminya dan berlalu membasuh wajahnya sendiri di depan cermin.


"Berhentilah menggodaku. Kita sudah melakukannya kemarin di sana." cetus Aira sambil memanyunkan bibirnya. Bukannya ia tidak suka jika Ken bermanja-manja dengannya, ia juga tahu kewajibannya harus melayani suaminya. Tapi kondisi fisiknya tidak terlalu fit sekarang. Ia takut jika ia kelelahan akan mengganggu tumbuh kembang bayi mereka di dalam sana.

__ADS_1


"Melakukan apa? Apa yang kamu pikirkan?" kali ini Ken membersihkan wajahnya dengan air mengalir yang berasal dari kran dengan sensor otomatis itu. Cukup meletakkan tangan di depan kran, lalu airnya akan keluar dengan sendirinya.


"Eh?" Aira menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


"Ayo."


...****************...


Aira tersenyum menatap pria yang begitu ia cintai kini sedang meliukkan badannya di atas papan ski. Ia terlihat lihai melewati rintangan yang ada. Sepertinya dia bukan sekali dua kali bermain ski. Dilihat dari kemampuannya, mungkin ia sudah belajar bertahun-tahun. Itu tentu bukan hal yang mustahil karena Ken lahir dan besar di negara empat musim ini. Berbeda dengan Aira yang baru datang ke Jepang. Ini adalah salju pertamanya sejak terlahir 26 tahun yang lalu.



Ski adalah olahraga favorit saat musim dingin. Banyak pengunjung yang sengaja menghabiskan waktu di tempat ini bersama keluarga dan orang-orang kesayangan mereka. Salah satunya Ken dan Aira. Mereka ada di GALA Yuzawa, salah satu resort ski paling terkenal di Jepang.


GALA Yuzawa adalah tempat ski yang praktis karena terhubung langsung dengan stasiun shinkansen. Ken sengaja mengajak Aira menggunakan moda transportasi umum itu agar tidak bosan. Selama ini mereka selalu bepergian naik mobil. Lagipula, Kosuke dan Minami sedang libur sekarang jadi tidak ada yang mengantar mereka. Maka, shinkansen menjadi pilihan utama agar ia tidak perlu mengemudikan mobilnya sendiri.


Untuk sampai di sana cukup mudah, dari Stasiun Tokyo hanya memerlukan waktu 75 menit. Mereka menggunakan kereta Max Tanigawa di jalur shinkansen Joetsu. Setelah turun dari shinkansen dan keluar dari gerbang stasiun, akan langsung menemukan konter tiket area ski. Ken menyewa peralatan ski dan berganti baju di sana sebelum naik gondola yang membawa mereka ke puncak.


*shinkansen : kereta cepat



Peta GALA Yuzawa


Total ada 17 rute ski yang tersedia di area ski ini. Mulai dari pemula hingga yang sudah mahir. Ketika pulang, para pengunjung bisa mengikuti rute ski yang menuruni gunung, tapi ini cukup berat bagi pemula. Jika sudah lelah, bisa juga kembali ke bawah dengan naik gondola. Gondola yang menuju kaki gunung akan penuh penumpang pada waktu pulang.


"Ken.." Aira melambaikan tangannya saat Ken melewatinya. Ia duduk di salah satu kursi kayu yang menghadap lautan salju tempat para pemain ski beraksi.


Ken menunjukkan senyumnya dan berlalu mengikuti jalur. Meninggalkan istrinya yang duduk diam di kafe bersama beberapa pengunjung yang lain.


"Rara?" panggil sebuah suara membuat pemilik wajah bulat itu sedikit mendongakkan kepalanya.


"Ya?"


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini." ucapnya sambil tersenyum.


"Eh? Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Aira menatap wanita di depannya. Ia tidak yakin mengenal wanita berambut panjang ini. Rasanya ini pertemuan pertama mereka.


"Kamu mungkin tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu."


Aira berusaha membuka memorinya yang lain, tapi dia benar-benar tidak ingat siapa wanita ini. Dia teman atau lawan?


...****************...

__ADS_1


See you next episode, jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa 😍🙇🙏🙏


Hanazawa easzy 💃


__ADS_2