Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Menjilat Air Ludah


__ADS_3

Mentari bersinar di ufuk barat, menyiratkan sinar berwarna jingga di angkasa. Satu dua kawanan burung berterbangan di langit, bersiap kembali menuju ke sarangnya.


"Nyonya, sudah waktunya saya mengoleskan obat." Suara wanita berparas indah itu menyapa Aira yang tengah menidurkan Aya di pangkuannya. Sejak siang tadi, ibu tiga anak itu hanya berdiam diri di kamar. Dia tidak keluar sama sekali setelah menjemput Aya dari kamar anak-anak.


Aira melirik asisten sekaligus pengasuh anaknya.


"Izinkan saya membantu Anda."


Aira meletakkan Aya ke atas ranjang, bergabung dengan dua saudaranya yang lain. Perlahan, dia menurunkan piyama lengan pendek yang dipakainya, membiarkan bahu mulusnya terekspose.


"Berikan padaku!" Suara Ken menyela, tepat sebelum Sakura menempelkan gel anti memar di tengkuk puannya.


Sakura mematung. Dia tahu hubungan kedua tuannya ini sedang dalam keadaan tidak baik.


"Tunggu apa lagi? Berikan itu padaku." Ken semakin mendekatkan diri, mendesak Sakura agar memberikan tabung obat di tangannya.


"Pergilah. Siapkan makan malam untuk kami." Aira mengusir wanita ini dengan bahasa yang halus. Dia tidak ingin membuatnya semakin merasa bersalah.


"Baik, Nyonya."


Sakura pergi, meninggalkan Ken dan Aira bersama ketiga buah cinta mereka.


Hening. Tak ada suara apapun. Baik Ken maupun istrinya, tak ada yang membuka mulutnya lebih dulu, masih sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Jemari Ken mulai mengoleskan gel tanpa warna itu ke tengkuk Aira, menimbulkan rasa dingin yang menyegarkan.


Ken mengamati luka lebam di bagian belakang tubuh istrinya ini. Ada rasa bersalah yang seketika menjalar di hatinya. Luka itu adalah bekas pukulan tangannya kemarin.


"Maafkan aku." Ken menyesali semua perbuatannya. Dia terlalu panik, bertindak gegabah dengan langsung melumpuhkan wanita ini dengan cara yang keji.


Aira tak merespon. Dia tidak ingin membahas hal yang terjadi kemarin. Toh semua sudah berlalu, tidak ada yang akan berubah meski dia marah.


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi." Jemari Ken terus bergerak, meratakan gel pereda rasa sakit itu ke area yang tampak membiru.


Masih lengang. Aira sungguh tak merespon suaminya.


"Aoo..." Suara Azami memecah keheningan, membuat Ken maupun Aira tertegun.

__ADS_1


"Ooo." Aya ikut menanggapi, seolah tengah berbincang dengan adiknya.


Hal itu membuat Aira menyunggingkan senyum tanpa sadar. Hatinya menghangat melihat kedua bayinya yang begitu aktif, sedangkan Si Sulung asik menghisap ibu jarinya. Dia memang  yang paling pendiam diantara ketiganya.


"Mereka sangat menggemaskan." Ken membenahi pakaian Aira dan merapikan rambut panjang yang sempat dialihkan ke depan.


"Umm," gumam Aira lirih. Dia mulai memasangkan kancing piyamanya satu per satu.


Ken berpindah, duduk di hadapan Aira dan mulai bermain-main dengan Aya dan Azami.


"Apa yang sedang kalian bicarakan, hmm?" Ken menggelitik perut putra bungsunya, membuat bayi dengan pipi menggembung itu menggeliat. Tubuhnya meliuk ke samping, sebelum tengkurap dan menyurukkan wajahnya ke bawah.


"Ahahaha... awas hidungmu, Nak!" Ken semakin terhanyut dengan kelucuan anak-anaknya. "Apa kamu malu pada Daddy?"


Puk puk


Ken menepuk bokong bayi di hadapannya.


"Kapan dia mulai bisa tengkurap? Aku tidak menyadarinya." Ken masih asik dengan Azami, bertanya tanpa sadar pada Aira.


Hening. Aira tidak bersuara, membuat Ken menolehkan kepalanya.


Glek!


Ken menelan salivanya dengan paksa. Dia baru ingat bahwa perang dingin mereka belum berakhir. Ya, sejak mereka tiba di tempat ini, Aira cenderung mendiamkannya. Tak ada candaan maupun percakapan penuh kemesraaan seperti sebelumnya. Wanita ini seolah menutup diri darinya, meminimalkan interaksi di antara mereka.


"Sayang," panggil Ken. Dia menatap wajah tembam yang kini tampak sedikit tirus. "Maafkan aku."


Entah kata maaf yang ke berapa kali yang pria ini ucapkan. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat menyesali perbuatannya. Luka lebam di tengkuk Aira, menunjukkan bahwa dia sudah melewati batas. Tapi wanita itu justru tidak menunjukkan amarahnya sama sekali.


"Jangan membahas hal itu lagi. Aku tidak ingin mendengarnya." Aira membenahi selimut yang  membelit kaki Azami. Dia juga mengelap air liur yang membasahi jemari putra sulungnya. Sungguh ibu yang siaga.


Lagi-lagi hening. Wanita itu menyibukkan diri, merapikan alas kasur yang kusut karena pergerakan baby triplet. Setelahnya, Aira beranjak, sengaja menghindari tatapan Sang Suami.


Grep

__ADS_1


Kedua tangan lelaki berwajah tampan itu menahan tubuh mungil istrinya, membuat langkah kakinya terhenti beberapa jengkal dari ranjang.


"Jangan mendiamkanku seperti ini." Ken memohon, meminta wanita ini tak lagi mengabaikannya.


"Aku salah. Aku tahu kesalahanku dan aku sangat menyesalinya. Tidakkah kamu bisa melihat ketulusanku? Aku akan melakukan apapun asalkan kamu mau memaafkanku. Jangan terus diam seperti ini." Ken terus bermonolog. Dia tidak tahu bagaimana caranya meluluhkan wanita ini. Keterdiamannya bagaikan neraka bagi Ken, menyakitkan.


"Apa yang kamu bicarakan? Tidak ada yang perlu dimaafkan." Nada suara Aira masih sama seperti sebelumnya, dingin dan tak disertai ekspresi apapun.


Pelukan Ken semakin erat. Dia mencium punggung Aira, membuat hidungnya mencium aroma gel yang sebelumnya dia oleskan.


"Aku sungguh tidak berniat menyakitimu. Semua terjadi begitu saja, hanya refleks otomatis karena aku panik." Ken coba menjelaskan apa yang terjadi, kenapa dia bisa memukul tengkuk wanita kesayangannya ini.


Aira mengangkat sudut bibirnya. Dia kehilangan selera membahas hal ini. Kenapa Ken tetap bersikeras menjelaskannya?


"Aku takut kamu akan pergi menemui kakek dan membuatnya murka. Jika itu terjadi, mungkin saja kita harus pergi ke tempat lain yang lebih jauh dibandingkan Indonesia."


"Sejak kapan kamu menjadi seorang pengecut?" tanya Aira, tajam dan menukik. Wanita ini kesal dengan sikap suaminya yang kini terlalu lunak saat dihadapkan dengan masalah yang menyangkut keberadannya dan anak-anak. DImana tabiat gangster kebanggaannya? Bukankah julukannya adalah monster dingin tanpa belas kasih sama sekali? Kenapa sekarang menjadi seperti ini?


"Aku hanya tidak ingin ada orang yang membuat kalian terluka." Ken taktis merespon, segera menjawab pertanyan singkat Aira.


"Tidak ingin membuat kami terluka?" Aira melepaskan tangan Ken dengan sekali sentakan. "Apa kamu tidak belajar dari kesalahanmu di masa lalu?"


Ken terhenyak, mendengar penuturan Sang Istri. Tentu saja dia ingat tentang semua perlakuan kasarnya pada Aira kala itu. Wanita ini berjuang dengan hidup dan matinya, sekuat tenaga, semampu yang bisa dilakukannya. Dan lagi-lagi, Ken yang menyakitinya lebih dulu tanpa peringatan.


"Berapa banyak janji yang akan kamu ucapkan lagi? Mungkinkah kamu bisa  menjilat air ludahmu yang telah mengering?"


Deg!


Ken tak bisa membantah. Dia sudah berkali-kali melanggar janji yang diucapkannya sendiri.


"Berhenti meminta maaf padaku sampai kamu bisa memperbaiki emosimu!"


* * *


Yaaahhhh si Abang sih. Emak marah kaaan jadinyaa...

__ADS_1


See you. Jangan lupa tinggalkan jejak yaa.


Hanazawa Easzy


__ADS_2