Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Masak Bersama


__ADS_3

Ken pura-pura bisa membaca pikiran Aira, membuat wanita itu tidak percaya. Namun, ia tidak bisa menyangkalnya karena Ken seolah benar-benar tahu apa kata hatinya.


"Mana mungkin dia bisa membaca pikiran. Pasti dia hanya sekadar menebak!" ketus Aira sambil menuruni anak tangga di hadapannya. Ia mengambil sehelai rambutnya yang tergerai dan membawanya ke belakang telinga. Kepalanya menggeleng kuat beberapa kali, menyangkal keraguan yang terbersit di dalam hatinya.


"Selamat malam, Nyonya." Seorang pelayan paruh baya yang tadi membukakan pintu, kini berdiri menyambut kedatangan Aira. Dia adalah kepala pelayan di rumah ini.


"Malam. Apa menu makan malam hari ini?" tanya Aira saat kakinya berada di anak tangga terbawah, dua langkah dari wanita itu.


"Sesuai permintaan Anda siang tadi, kami menyiapkan daging merah segar dan beberapa sayuran hijau segar. Kami menunggu perintah Anda karena Tuan Muda tidak terlalu suka daging merah." Wanita paruh baya itu mengikuti Aira ke dapur, dua langkah di belakang nyonya muda keluarga Yamazaki ini.


Aira terhenti sejenak. Ia harus memutar otak bagaimana caranya mencukupi kebutuhan zat gizi yang Ken butuhkan tapi tanpa menghilangkan selera makannya. Dokter Hugo mengatakan, salah satu penyebab anemia bisa juga karena pola makan yang tidak teratur. Beliau tahu benar tabiat Ken yang tidak bisa diganggu saat fokus membereskan urusan perusahaannya. Dia pasti sering melupakan makan siangnya.


"Aku akan masak sendiri malam ini. Bibi bisa istirahat lebih awal." Aira membuka kulkas dua pintu di depannya. Matanya mencari-cari bahan makanan yang akan ia masak kali ini. Ada beberapa seafood, tapi ia tidak yakin apakah akan memasaknya atau tidak. Ken memang menyukai semua jenis olahan makanan laut, tapi ia sendiri memiliki alergi.


Aira masih termenung di depan lemari penyimpanan itu saat sebuah tangan merayap di perutnya.


Cup


Sebuah kecupan hangat dan mesra mendarat di tengkuk lehernya yang tak terhalang apapun, sepersekian detik setelah seseorang mendekapnya dari belakang.


"KEN?!" Aira memekik saat menyadari bahwa pemilik tangan yang mengunci perutnya adalah Si Suami Mesumnya, Yamazaki Kenzo. "Apa yang kamu lakukan?!"


Aira berbalik dan mendorong dada Ken menjauh. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba berdegup kencang setelah Ken mencium salah satu bagian sensitifnya itu.


"Aku lapar," jawab Ken dengan tampang polosnya. Ia meraih jemari Aira dan menjilati ujung-ujungnya, membuat Aira terbelalak.


"KEN?!" Aira menarik tangannya dan menjauh beberapa langkah dari suaminya. Dadanya naik turun, menandakan bahwa napasnya kembali memburu saat ini. Suaminya benar-benar bertingkah luar biasa, diluar logika. Apa hubungannya lapar dengan menjilat jemarinya? Dan sialnya, ada geleyar aneh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, seolah ribuan kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Wajahnya bersemu merah tanpa bisa ia cegah. Hal itu membuat Ken tersenyum, ia berhasil menggoda istrinya.


Dengan wajah tanpa dosa, Ken menghadap lemari pendingin dan mulai mengambil beberapa bahan makanan dari dalam sana. Ada seikat sawi hijau, wortel, tomat, dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Pria itu berjongkok, tangannya terulur di antara tiram, kerang, dan udang. Dia berniat mengambil salah satu bahan makanan itu yang merupakan sumber zat besi terbaik bagi pemulihannya.


"Sayang, apa kamu keberatan jika aku memintamu membuat udang goreng tepung?" Ken mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Aira di sisi kanan tubuhnya.


"Huft ... " Aira mengembuskan napas beratnya. Dia masih merasa gondok tapi Ken justru sebaliknya. Pria itu tampak begitu bahagia, mengabaikan raut wajah Sang Istri yang masih tertekuk karena merasa sebal. Kelakuan minus Ken benar-benar menguji kesabaran ibu tiga anak ini.


"Aku sedang sakit. Dokter bilang kamu harus memenuhi keinginanku, 'kan?" Ken membujuk Aira dengan menggunakan saran dokter sebagai senjatanya.


"Masak ya masak saja." Aira mengambil udang dari tangan suaminya dan membawa makanan kaya gizi itu ke meja dapur, bersiap memasaknya seperti permintaan Ken.


"Apa kamu marah?" Ken meraih dagu istrinya dan mengecup bibirnya singkat. Dia benar-benar senang saat melihat wanita kesayangannya uring-uringan seperti sekarang. Menggemaskan!


Aira mengunci mulutnya rapat-rapat. Percuma saja bersilat lidah dengan suaminya, pasti dia yang akan kalah. Lebih baik menyimpan energinya untuk nanti mengurus baby triplets.


Aira mengambil apron yang ada di lemari dan memberikan satu untuk Ken. Sebagai suami yang pengertian, pria itu segera mendekat dan mengikatkan tali yang ada di belakang punggung istrinya. Tentunya dia sesekali mencuri kesempatan dengan mencium dan meniup-niup telinga istrinya. Sengaja menggodanya.


Aira mengeratkan rahangnya, membuat bunyi gemeletuk terdengar akibat perpaduan gigi-giginya. Dia harus benar-benar bersabar menghadapi sikap jahil suaminya. Ken sengaja usil padanya, ia tahu itu.


"Sayang, bisa bantu aku bersihkan ini? Aku alergi udang." Aira menyerahkan udang yang tertutup plastik wrap pada Ken. Wanita ini jelas-jelas berusaha membuat suaminya sibuk dengan kegiatan lain agar berhenti menjahilinya.


Ken terkekeh. Dia tahu tujuan Aira menyuruhnya. Tidak ada hubungannya sama sekali, antara membersihkan udang dengan alergi yang ia takutkan. Jelas-jelas alergi seseorang hanya akan kambuh saat dia mengonsumsi satu jenis makanan itu. Sekadar mencucinya tidak akan berpengaruh apapun pada tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang." Aira kembali memanggil suaminya, membuat Ken menoleh. "Bisa ambilkan pisau itu?" Aira menunjuk rak pisau yang ada di depan Ken. Jelas-jelas Aira bisa mendekat dan mengambilnya sendiri. Untuk apa dia menyuruh Ken yang kini sibuk membersihkan udang?


Kening Ken berkerut dalam. Dia menatap istrinya dengan pandangan tajam, penuh selidik. Mungkinkah Aira berusaha membalasnya?


"Sayang, kamu sedang sakit. Harus banyak bergerak agar tubuhmu sehat."


Glek


Ken menelan ludahnya dengan paksa. Kali ini Aira yang menggunakan kata-kata dokter Hugo untuk menyerangnya. Beliau mengatakan agar Ken lebih banyak bergerak, tidak melulu duduk di atas kursi empuknya. Dan Aira menggunakan itu sebagai serangan balasan padanya. Lagi-lagi senjata makan tuan.


Aira menunjukkan senyum lebarnya, menampilkan deretan giginya agar Sang Suami tidak marah. Kali ini Ken yang mengembuskan napas beratnya. Dia terperangkap pada jebakan istrinya.


Keduanya melanjutkan masak setelah Ken memberikan pisau yang Aira minta. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ken masih berkutat dengan udang di hadapannya dan Aira mulai menyiangi sayuran hijau yang akan ia tumis bersama beberapa bahan makanan yang lain.


"Sayang, bisa tolong buang ini ke tempat sampah?" pinta Aira pada Ken yang kini sibuk mencuci udang di washtafel. Ia menyerahkan kulit wortel di tangannya pada pria 28 tahun itu.


"Sayang, tolong cuci ini." Aira mendekatkan keranjang berisi sayur mayur yang sudah ia potong-potong.


"Sayang, bisa ambilkan wajan di sana?"


Ken menatap Aira dengan pandangan sebal. Ia mulai kesal pada permintaan istrinya, tapi dia juga tidak bisa menolaknya. Salahnya sendiri yang berinisiatif mendekat ke dapur. Tahu begini, lebih baik dia menunggui anak-anaknya saja.


"Sayang, apa kamu marah?" Aira membalikkan keadaan. Dia benar-benar mendominasi sekarang, menyuruh Ken melakukan ini itu sesuka hatinya.


"Ai-chan, aku ... "


"Hmm. Kalau saja aku tidak alergi." Ucapan Aira membuat Ken terhenyak. Protes yang siap ia layangkan, terpaksa ia telan mentah-mentah. Dia tahu Aira tidak suka masak seafood, tapi demi keinginannya wanita itu bersedia melakukannya malam ini.


"Tidak ada." Ken kembali mengurus udang di depannya, membumbuinya dengan garam dan perasan air lemon. Dengan wajah tertekuk, ia mengambilkan wajan yang istrinya minta.


Aira tersenyum. Ia memenangkan sesi ini dan berhasil membuat suaminya bungkam. Benar-benar pertunjukan yang manis. Tak disangka, Ken yang selalu menang saat berada di acara lelang bisnis atau semacamnya, kini bertekuk lutut di depan istrinya. Dia dengan patuh menjadi asisten istrinya saat memasak, mengambilkan garam, lada, mencuci peralatan dapur, dan sebagainya. Dia melakukan itu tanpa bantahan sekalipun.


Cup


Aira mencium pipi Ken saat pria itu selesai membawa masakan ke meja makan. Wanita itu bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher Sang Suami, membuat mata pria itu membola seketika.


"Ai-chan?"


Aira tersenyum, "Arigatou, itoshii hito."


(Terima kasih, Sayangku)


Ken tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat.


"Terima kasih sudah membantuku memasak. Terima kasih karena kamu bersabar menghadapiku. Terima kasih karena kamu tidak marah padaku," ungkap Aira tulus, mengikis jarak di antara mereka.


Perasaan hangat seketika menjalar di hati Ken, memenuhi relung jiwa yang sebelumnya terasa gersang. Ia diam selama memasak tadi, membiarkan istrinya mendominasi. Dan sebagai imbalannya, ternyata Aira berinisiatif menciumnya lebih dulu. Bukankah itu sebuah keajaiban yang harus ia syukuri? Selama ini, jangankan memulai duluan, wanita itu tidak mengusirnya saja sudah suatu keberuntungan bagi Ken.


Pilihannya untuk turun ke dapur bukanlah kesalahan. Pasangan suami istri yang meluangkan waktu untuk masak bersama di dapur memiliki cinta dan kasih sayang yang lebih besar, tulus serta mengesankan untuk satu sama lain. Interaksi mereka tadi membuat hubungan keduanya semakin mesra, romantis dan bahagia.Β Dan tak bisa dipungkiri bahwa mereka menjadi lebih sabar atas kelakuan pasangannya.

__ADS_1


Selain itu, makanan yang mereka siapkan pastinya makanan sehat sehingga tubuh jadi lebih prima ketika melakukan berbagai aktivitas. Nyatanya, memasak bersama pasangan akan membuat komunikasi semakin baik. Ken jadi mengerti, istrinya ini sengaja membuatnya kesal dan akan memberikan hadiah jika ia berhasil melaluinya. Dan buktinya dia bisa bekerja sama dengan baik dan memberi bantuan saat Aira memasak. Kecupan Aira terasa tulus, membuatnya sangat bahagia.


Bagi dua insan ini, memiliki waktu untuk berduaan bersama saat memasak, menjadi momen yang sangat penting untuk memperbaiki hubungan mereka. Berbeda dengan makan di restoran, memasak bersama adalah waktu untuk mereka agar dapat berinteraksi secara aktif.


Cup


Ken mencium puncak kepala istrinya. Ia merasa begitu beruntung bisa bersanding bersama wanita tangguh nan hebat ini. Dia satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya jungkir balik. Satu saat membuatnya kesal tak terelakkan, namun detik berikutnya bisa membuatnya terbang hingga ke awan. Benar-benar istri yang sempurna.


Cup


Cup


Cup


Ken semakin agresif menghujani wajah istrinya dengan kecupan. Dia tidak peduli pada berbagai hidangan favoritnya yang kini tersaji di meja. Libidonya sudah terlanjur naik dan keinginannya tak bisa ia kendalikan lagi. Dia menginginkan Aira.


"Ken?!" Aira menahan jemari Ken yang siap melepas kancing piyama yang dikenakannya. Mereka masih ada di ruang makan sekarang, membuat Aira tidak nyaman, takut akan ada orang lain yang melihat interaksi mereka.


"Kita makan dulu." Aira berusaha mencegah perbuatan suaminya. Ia tahu betul apa yang pria itu inginkan sekarang, begitu terlihat dari sorot mata tajamnya itu.


Ken menggeleng. Dia tidak bisa menundanya lagi. Apa yang ia inginkan, harus dia dapatkan.


"Jangan disini!" Aira menggeleng kuat sambil mencengkeram kaus yang suaminya pakai. "Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya?"


"Kalau begitu kita cari tempat lain. Tidak akan ada yang melihatnya."


Ken menggendong Aira di atas pundaknya seperti sebuah karung. Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana bisa dia membawa istrinya dengan cara seperti ini?


Bugh


Bugh


"KEN! APA KAMU GILA?!" Aira terus meronta dan tak henti memukuli punggung suaminya. Kakinya bergerak tak beraturan, berusaha turun dari gendongan pria buas ini. Namun semua usahanya nihil, tak membuahkan hasil sama sekali. Suaminya itu sudah berubah menjadi serigala liar, tidak ada satu pun yang bisa menjadi pawangnya, termasuk Aira.


Aira berhenti berontak saat keduanya sampai di kamar tamu. Ken membaringkannya di ranjang sebelum beranjak mengunci pintu di belakang sana. Dia melepas kaus hitam yang melekat di tubuhnya dan membuangnya sembarang. Hal itu membuat jantung Aira berdegup kencang. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga saja pria ini bisa bersikap lembut padanya. Ya, hanya itu harapan Aira.


Ia merelakan makan malamnya demi memenuhi kebutuhan Sang Suami. Ibu tiga anak itu memejamkan matanya, membiarkan Ken bergerak sesuai kehendaknya. Aira sudah pasrah pada momen-momen seperti ini. Biarlah Ken mendapat kepuasan yang didambakannya. Bukankah itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri?


...****************...


Duh, tutup muka deh yang single πŸ˜‚πŸ˜‚


Dek adek, jangan ditiru yaa. Itu cuma boleh dilakuin sama papa Ken & mama Aira yang udah sah jadi suami istri. Bocah macam kalian ngga boleh πŸ€—


Buat kalian yang bukan bocah belasan tapi masih sendiri, sabar yaa. Nanti dateng kok pasangan buat kalian 😊 Sabaaar. Sabaaaarr terus kayak Author ini πŸ˜‰πŸ˜‚πŸ˜‚


Dah ah, jan lupa like, vote, komen, share, etc.


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2