
"Jangan melakukannya lagi. Aku tidak suka," Aira berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon yang menaungi mereka. Membiarkan netranya menikmati pemandangan malam yang damai ini. Setidaknya kedamaian ini bisa meredam gemuruh di hatinya. Ia takut Ken lepas kendali, bagaimanapun juga suaminya lelaki normal.
Ken ikut duduk di samping Aira, menatap lurus ke depan, "Pertama kalinya untukmu, hah?" tanyanya dengan nada mengejek.
Brukk...
Yamazaki Kento berdiri di depan keduanya. Ia melompat turun dari pohon membuat Ken dan Aira terkejut.
"Benar dugaanku, kamu pasti akan membawanya kemari," ucapnya dengan senyum lebar menatap kakak kembarnya, "Tapi tidak kusangka akan mendapat jackpot secepat ini,"
Keduanya diam, wajah Aira memerah menahan malu. Jadi Kento melihat semuanya?
"Kakak ipar, selamat," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Aira segera berdiri hendak menerima uluran tangan dari adik iparnya dengan heran. Seketika Ken berdiri menghalangi keduanya, menarik tangan Aira untuk bersembunyi di belakang tubuhnya, tidak ingin wanitanya disentuh siapapun.
"Apa yang kamu lakukan?" Ken menatap adiknya dengan tidak suka.
"Apa lagi? Tentu saja memberikan selamat pada kakak ipar. Dia berhasil membuatmu jatuh hati, kan?" ucapnya sembari melongok ke belakang Ken, menatap gadis yang terlihat malu-malu itu.
"Berhenti bicara omong kosong !" Ken mendorong Kento menjauh, tak membiarkannya bicara lebih banyak pada Aira.
"Kakak ipar, kamu seperti candu untuknya. Berhati-hatilah saat tidur, dia suka mencuri ciumanmu" ucapnya sebelum pergi sambil melambaikan tangannya.
"Pergilah," usir Ken dengan paksa.
"Kakak ipar, hati-hati..." Kento berteriak sebelum tubuhnya menghilang tertelan gelapnya malam.
"Kamu suka mencuri ciuman?" Aira bertanya tepat ketika Ken berbalik, membuatnya gugup dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ekhmm..." Ken berusaha menetralisir perasaannya, "Dia hanya bicara omong kosong,"
"Lalu kapan ciuman pertamamu?" selidik Aira menatap Ken dengan seksama.
"Aku lupa," jawabnya acuh, "Ayo pulang," ajaknya menarik tangan Aira menuruni bukit.
"Kita perlu bicara," Aira melepaskan genggaman tangan Ken. Ia duduk di bangku kayu tak jauh dari mereka, meninggalkan Ken yang keheranan.
"Apa tugasku? Tolong katakan dengan jelas," ucap Aira datar sembari menatap ke depan tanpa ekspresi.
Ken terhenyak melihatnya dan akhirnya ikut duduk disamping istrinya itu. Aura mencekam terpancar darinya. Bukan lagi Aira yang penurut dan bisa ia tekan, melainkan seorang wanita mandiri penuh percaya diri yang membuat Ken sedikit sulit berkata-kata.
"Mm... Kenapa?"
"Ini," Aira menunjukkan sebuah belati kecil seukuran pena di depan wajah Ken, "Begitu berbahaya nya kah menjadi istrimu?"
Glek
'Kakek memberikan belati ini padanya, apa orang tua itu benar-benar mempercayai Aira?" Ken menatap istrinya yang sekarang meletakkan belati itu di tangannya.
"Aku tidak bisa menggunakannya, jadi kamu simpan saja atau tolong kembalikan pada kakek,"
__ADS_1
"Huh..." Ken menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Aira. Menatap langit malam yang bertabur bintang sebelum menutup matanya. Menikmati suara gemericik air dan binatang malam yang menyapa indera pendengarannya.
Aira menyentuh hidung Ken dengan jarinya, kemudian naik ke alis sebelah kirinya, memainkannya dari ujung kembali ke ujung lagi membuat pipi pria itu menghangat.
"Apa kamu pernah membunuh orang?" tanya Aira. Tangannya terhenti di depan mata Ken, urung memegang bulu mata suaminya. Tanpa Ken menjawab pun, ia sudah bisa memperkirakannya. Hatinya mencelos mengingat ancaman Ken di bawah pistolnya hari itu, pria di depannya sekarang pernah hampir mengambil nyawanya.
Hap
Ken menangkap tangan istrinya, "Kenapa berhenti? Kamu takut padaku?" ucap Ken seraya membuka kelopak matanya.
Aira berusaha melepaskan genggaman tangan Ken, tapi ia justru menariknya. Membawa jemari mungil itu ke pipinya.
"Jadilah ibu yang hangat untuk anak-anakku, hmm?" ucapnya dengan penuh keseriusan, terlihat dari matanya yang menatap mata Aira dalam-dalam.
Aira menarik tangannya dengan paksa dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, belum bisa menerima keadaan ini. Kejadian akhir-akhir ini tidak ada yang menguntungkannya kecuali kebebasan ibu dari penjara. Ia tidak tahu lagi 'kejutan' apa yang akan ia hadapi kedepannya.
"Naru sudah menceritakannya padamu kan? Belati ini yang ia (Erina) gunakan untuk bunuh diri," ucapnya menggantung, dadanya terasa sesak mengingat cinta pertamanya.
Hening
Keduanya tak ada yang bersuara untuk beberapa menit kemudian. Ken meraih tangan Aira dan menyimpan belati itu ke dalam genggamannya sambil tersenyum. Aira menatap mata suaminya yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan pernah meninggalkanku, hmm?" tangan kiri Ken meraih pipi Aira, mengelusnya perlahan. Tangan kanannya menggenggam jemari tangan Aira di dadanya.
Aira terpaku di tempatnya, masih belum tau apa yang harus ia lakukan. Hatinya bimbang mengambil keputusan.
Ken meneteskan sebulir air mata. Namun detik berikutnya Ia segera bangkit dan menghapus air matanya sembarang, tak ingin Aira melihatnya. Pantang bagi seorang pria terlihat lemah, apalagi menangis.
"Aku bisa jalan sendiri," Aira beranjak pergi tapi Ken menahan jemarinya.
"Ayo naik," Ken mengisyaratkan dengan gelengan kepalanya sekali.
Awalnya Aira ragu, namun tatapan tulus Ken akhirnya yang menang. Ia menurutinya dalam diam. Tak ada yang bersuara. Perlahan Aira meletakkan kepalanya di punggung Ken dan tanpa ia sadari, ia masuk ke alam mimpinya.
Ken mendorong pintu dengan sebelah kakinya. Meski sempat oleng, akhirnya ia bisa membaringkan Aira di kamar mereka.
Tanpa Ken sadari, kakek melihat kedatangan mereka dari jendela kamar yang terbuka. Di sisi lain, Sumari juga sedang memperhatikan keduanya dengan senyum mengembang di wajah.
*******
"Angkat dagumu !" perintah kakek sambil mengarahkan busur panah yang Aira pegang dengan gemetar.
Ini pertama kalinya ia memegang busur seberat 12kg itu. Tangannya selalu turun dengan sendirinya sebelum kakek memintanya membidik target.
"Pelayan, Siapkan makanan 2x lebih banyak untuknya,"
"Baik," jawab seorang bibi yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka sambil menunduk sekali.
"Tarik bahumu, pusatkan seluruh energi di kedua tanganmu,"
Aira menuruti perintah kakek dengan tenaganya yang tersisa. Usai sarapan pagi tadi, ia langsung berlatih memanah bersama kakek. Terhitung sudah 3 jam berlalu dan ia tidak istirahat sedetikpun.
__ADS_1
"Konsentrasi," Kakek meluruskan tangan Aira yang sedikit turun," Lepaskan !!" lanjutnya.
Syutt...
Aira melepaskan anak panah itu disertai hembusan nafas beratnya.
Tak
Anak panah itu tertancap di bagian terluar dari target yang Aira bidik. Hasil yang mengecewakan untuknya. Ia berharap bisa lebih baik dari kemarin.
Prok prok prok...
Kento mendekati mereka dengan tersenyum, "Good job kakak ipar," ucapnya seraya menunjukkan dua jempolnya.
Aira menoleh ke sumber suara dan mendapati Ken sekarang berada tepat di sampingnya.
"Kakek, sudah cukup latihannya. Simpan energimu untuk esok," pintanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Kakek meminta busur yang ada di genggaman Aira dan menyerahkannya pada Ken, "Tunjukkan padaku perkembanganmu,"
"Baiklah,"
Ken menerima busur panah itu dengan senang hati. Menempati posisi Aira semula dan segera melesatkan anak panahnya sedetik kemudian.
Tak
Lingkaran ke dua.
"Aah sayang sekali, aku tidak bisa menyamai kemampuan Ken," ucapnya sambil pura-pura frustasi dengan menutup wajahnya.
"Bocah nakal," ucap kakek sambil berlalu pergi.
"Terima kasih," Aira berdiri hendak pergi mengikuti kakek, meninggalkan area latihan memanah yang mulai terasa terik.
"Dia belum kembali?" tanya Kento serius.
Langkah Aira terhenti namun tidak berbalik. Ia menggeleng pelan, kemudian kembali berjalan ke tepi lapangan untuk berteduh. Ya, sejak malam itu ia tidak melihat Ken lagi. Saat terbangun di pagi hari, ia tidak menemukan siapapun di kamarnya. Hanya belati berbentuk pena yang ia genggam.
"Kamu tidak merindukannya?"
*******
Arigatou gozaimasu buat minna-san yang udah nyempetin baca tulisan unfaedah ini.
Author terobsesi sama jejepangan jadi mengambil latar di jepang, tapi gomen ne kalo masih ngambang alur atau penjelasan latarnya.
Jangan lupa like, comment & fav yaa. tunggu next chapter.
Ja nee
with love,
__ADS_1
Hanazawa easzy