Gangster Boy

Gangster Boy
First Kiss


__ADS_3

"Apa kemampuanmu? Berkuda? Mendaki gunung? Memasak? Berdandan? Melipat kertas? Menata bunga? Menari? Berkendara?"


"Nothing," jawabnya dengan datar. Ia menebalkan mukanya untuk menghadapi situasi ini.


"Apa?" Kakek tidak mengerti apa yang gadis itu katakan. Ya, seperti kebanyakan orang Jepang, kakek paling anti dengan bahasa asing. Raut wajahnya berubah seketika, bukan lagi marah yang naik ke ubun-ubunnya melainkan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di raut wajah yang telah menua itu. Kedua alisnya bertaut menanti kata-kata selanjutnya yang akan Aira nyatakan.


Beberapa orang yang menguasai bahasa Inggris menatap tak percaya pada Aira. Gadis itu seolah sengaja menantang ketua mereka. Orang yang paling ditakuti di seantero Jepang.


"Saya tidak bisa melakukan satupun yang Anda sebutkan," lanjut Aira dengan tekad bulat untuk menghadapi kakek Yamazaki.


Semua mata membulat melihat Aira yang mengangkat mukanya dengan percaya diri. Sebelumnya tidak ada yang berani berhadapan dengan ketua secara langsung, atau dia akan dieksekusi saat itu juga jika menyinggung nya.


"Satupun?"


"Benar," jawab Aira tanpa sungkan.


"Lalu kenapa menikah dengan cucuku?"


"Sebaiknya tanyakan pada cucu Anda kenapa dia mau menikahi saya," jawab Aira dengan bahasa formal. Ia harus menjaga batasan yang jelas dengan orang tua itu, atau dia akan berada dalam masalah.


Kakek Yamazaki terlihat tidak nyaman dengan jawaban Aira. Dia mengetatkan pegangan tangannya di gagang katana yang ada di pinggangnya. Hal itu tak luput dari pandangan Ken dan Aira.


"Hentikan," bisik Ken seraya memegang lengan Aira. Bagaimanapun juga dia khawatir Aira membuat kakek marah dan hal itu bisa membahayakan nyawanya.


"Katakan satu saja kemampuanmu," suara kakek melunak, namun masih dengan pandangan menyelidik. Kakek ingin mencari tahu seberapa jauh tekad gadis ini memasuki lingkaran keluarganya. Karena tatapan tajamnya tadi bisa ia lawan, justru sekarang gadis kecil itu semakin terlihat percaya diri.


"Saya..."


Jantung Aira berdetak 2x lebih kencang sekarang, bersiap menyatakan jawabannya yang mungkin akan jadi penyebab kematiannya detik berikutnya. Ia tidak peduli lagi pada orang-orang yang kini menatapnya seperti binatang buruan. Dia hanya harus jujur tentang tugasnya dari pernikahan ini. Namun lidahnya terasa kelu hanya untuk mengatakan beberapa kata yang sudah terangkai di otaknya.


"Aku bisa melayani suamiku," ucapnya datar.


Hening


Tidak ada yang bersuara sedikitpun. Semuanya terkejut dengan jawaban Aira. Bagaimana bisa gadis yang terlihat polos mengatakan hal pribadi seperti itu?


Kakek berdiri dan menghampiri keduanya dengan wajah yang sulit digambarkan, "Yamazaki Kenzo.. Kamu memilih gadis ini?" tanya kakek setelah berdiri di depan keduanya.


"Ya" jawab Ken mantap.


"Terimalah" kakek menyerahkan katana yang sedari tadi di pegangnya.


"Eh?" Untuk sepersekian detik Ken terkejut dengan ucapan kakeknya, namun detik berikutnya dia mengulurkan kedua tangannya untuk menerima pedang itu, "Aku menerimanya."


"Jaga keduanya dengan baik" pinta kakek sebelum pergi.


Beberapa masih tidak percaya dengan kejadian barusan. Kakek menyerahkan pedangnya pada Ken, artinya Ken lah yang terpilih sebagai ahli waris utama dan bertugas menjaga garis keturunan keluarga ini. Dengan kata lain, kakek menyetujui Aira jadi istrinya.

__ADS_1


Semua orang berlalu meninggalkan ruangan itu, kembali ke tempatnya masing-masing. Tersisa Ken dan Aira saja.


"Terima kasih," ucap Ken.


Aira menengok ke arah suaminya, memandangnya dengan heran. Ia tahu, sulit bagi seorang pria untuk mengucapkan terima kasih.


"Apa kamu lapar? Ayo makan," lanjutnya dengan senyum minimalis ke arah Aira. Namun detik berikutnya senyum itu memudar melihat wajah istrinya yang pucat pasi dengan tubuh yang gemetar. "Ada apa denganmu?"


Brukk


Aira mencoba berdiri tapi terjatuh detik itu juga. Kakinya mati rasa karena duduk berpangku lutut terlalu lama. Dengan segera Ken menggendongnya ke kamar untuk istirahat. Wajah Aira memerah, ini pertama kalinya ia berada sedekat itu dengan seorang pria.


"Maaf, " ucapnya lirih. Merasa tak enak hati karena harus merepotkan orang berwajah tanpa ekspresi itu.


Mereka sampai di kamar berukuran 4x6 meter itu dan Ken segera membaringkan istrinya di ranjang yang berwarna silver. Ia mengambil selimut dan menutupi Aira sampai sebatas perut.


"Istirahatlah," pintanya beranjak pergi.


"Tetap disini," lirih Aira.


Ken mematung di tempatnya mendengar permintaan Aira


"Aku takut," lanjutnya dengan suara bergetar.


"Tidak akan ada yang melukaimu disini" Ken berlalu pergi untuk mengambil makan siang Aira.


Ken kembali dengan sebuah nampan penuh makanan untuk mereka berdua. Langkahnya terhenti beberapa meter dari ranjang melihat Aira yang sekarang tertidur.


"Terima kasih," ucap Ken sambil tersenyum menatap gadis mungil di depannya. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas dan duduk di sebelah Aira. Perlahan Ken mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya yang sudah terlelap. Dari mata pandanya, ia tahu semalaman Aira tidak tidur. Atau bahkan dari beberapa malam sebelumnya? Seketika tangan Ken terulur mengusap kepala Aira yang tertutup jilbab birunya, senada dengan yukata yang ia kenakan.


*******


Langit terlihat cerah malam ini. Ken mengajak Aira mendaki bukit yang ada di belakang rumah mereka. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Aira berhasil berdiri di samping Ken yang sampai puncak lebih dulu.


"Kamu mau membunuhku?" tanya Aira dengan sisa nafasnya.


Ken mundur selangkah dan mendekap Aira dari belakang. Menjalin kedua tangannya di depan perut Aira, mengabaikan keterkejutan yang tampak sangat jelas dari respon tubuh gadis itu yang menegang.


"Aku tidak akan membunuhmu sebelum kamu melahirkan anakku," ucapnya tepat di telinga Aira, membuat bulu romanya meremang.


Glek


Aira memeguk salivanya membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Ia mencoba melepaskan diri namun Ken justru semakin mempererat pelukannya.


"Aku seorang gangster. Pewaris berikutnya dari yakuza yang paling ditakuti di seluruh Jepang. Apa kamu juga takut?" seringai iblis terukir di wajah tampannya.


Hening

__ADS_1


Aira tidak berani menjawabnya. Lagipula ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lagi-lagi orang itu membuat otaknya berhenti berputar. Semua kosa kata dalam kamusnya seolah menghilang begitu saja.


"Siang tadi, apa aku bisa meminta buktinya?"


"Bukti apa?" Aira mencoba berbalik tapi Ken menahannya.


"Tetap seperti ini," pintanya dengan meletakkan dagunya di pundak Aira, "Yang kamu ucapkan pada kakek, apa itu benar?"


Deg


"Ekhmm... Kenapa tiba-tiba menanyakannya?" Aira mencoba menetralkan rasa gugupnya. Detak jantungnya berpacu dengan kencang sekarang.


Ken tersenyum menyadari itu. Tangannya mulai mengelus perut Aira yang rata, "Kamu bilang akan melayaniku. Apa itu benar?"


Aira melepaskan diri dengan paksa dan menjauh 2 langkah dari Ken, "Mm... Itu... Aku hanya...," ucapnya lalu menggigit bibir bawahnya, mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. Tangannya memegangi ujung jilbab, kebiasaannya ketika gugup.


Ken menarik Aira ke dalam pelukannya, "Aku tidak peduli apa alasanmu mengatakan itu. Kamu milikku. Hanya milikku. Jangan pernah melihat ke arah orang lain, hmm?"


"Hmm..." Aira menjawabnya dengan gumaman. Tangannya naik hendak memeluk punggung Ken di depannya, tapi kemudian terhenti di udara.


"Jangan pernah menunjukkan ekspresi itu pada orang lain,"


"Eh?" Aira mengurai pelukan suaminya, "Ekspresi apa?" tanyanya tak mengerti.


"Ini..." Ken menyentuh bibir bawah Aira dengan jari telunjuknya, "Jangan menggigit bibirmu di depan orang lain. Itu bisa berbahaya untukmu dan..." ucapannya terhenti, "Hanya aku yang boleh menggigitnya,"


Detik berikutnya Ken ******* bibir Aira dengan antusias, menyalurkan seluruh perasaannya pada gadis mungil yang kini berstatus sebagai istrinya. Mata Aira membulat mendapati Ken yang bertindak sangat agresif.


Aira memukul dada Ken dengan kedua tangannya saat pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. Ken tak menghiraukannya dan justru menahan kedua tangan mungil itu dalam satu genggaman. Ia kembali menikmati bibir manis itu dan mengakses ke dalam mulut Aira yang terbuka setelah ia gigit.


Duk


Aira menginjak kaki Ken sekuat tenaga yang berhasil membuatnya terlepas. Mata Ken membulat dan menatap Aira dengan tajam, "Kamu..."


Tubuh Aira luruh ke tanah, kakinya tak mampu lagi menopang badannya. Ia begitu terkejut dengan perlakuan Ken barusan. Dengan nafas yang mulai teratur, Aira menatap Ken yang berdiri di depannya.


"Jangan melakukannya lagi. Aku tidak suka," Aira berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon yang menaungi mereka. Membiarkan netranya menikmati pemandangan malam yang damai ini. Setidaknya kedamaian ini bisa meredam gemuruh di hatinya. Ia takut Ken lepas kendali, bagaimanapun juga suaminya lelaki normal.


Ken ikut duduk di samping Aira, menatap lurus ke depan, "Pertama kalinya untukmu, hah?" tanyanya dengan nada mengejek.


Brukk...


Yamazaki Kento berdiri di depan keduanya. Ia melompat turun dari pohon itu membuat Ken dan Aira terkejut.


*******


Author baper sendiri gaess 😂😂

__ADS_1


__ADS_2