Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Luar Biasa


__ADS_3

BAMM


Terdengar pintu berdebam keras membuat Ken terbangun. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10.35 malam. Seingatnya dia pulang dari kantor jam tujuh, dan berbincang sebentar dengan Aira seputar kehamilannya. Ia sempat marah karena Mone datang dan mengganggu waktu berharganya bersama Aira. Tapi, entah bagaimana ceritanya justru tiba-tiba Aira menyergapnya saat dia baru selesai mandi. Dan semuanya terjadi begitu saja.


Ken meraup wajahnya dengan kedua tangan, merasa tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang sangat aneh ini. Sebelumnya Aira selalu terlihat malu-malu jika mereka hanya berdua saja di dalam kamar yang temaram. Tapi, hari ini? Ah, bahkan bukan hanya hari ini. Perilaku istrinya menjadi aneh sejak dua bulan terakhir. Wanita ini seolah terobsesi padanya dan ingin selalu menempel padanya jika ada kesempatan.


Ken beranjak bangun dan meraih tongkat penyangga kakinya yang tergeletak di lantai. Untung saja tidak patah setelah Aira melemparnya sembarang. Kini ia beranjak pergi ke ruang kerja untuk melihat rekaman cctv yang terpasang di berbagai sudut rumahnya. Ia penasaran siapa yang membanting pintu hampir tengah malam begini.


Mata Ken memicing, ia menatap tajam setiap titik yang menampilkan keadaan rumahnya sejak ia pulang. Tidak ada yang aneh, semuanya terlihat baik-baik saja. Ken merasa lega karena tidak ada hal berbahaya yang mengancam keselamatan mereka.


Bunyi debaman yang cukup keras tadi adalah perbuatan Mone yang marah karena dia dan Aira tak kunjung keluar. Ia mengingatnya dengan jelas, Aira menahannya di kamar dan akhirnya mereka ketiduran. Lagi-lagi Ken hanya bisa menutup wajahnya karena malu.


Ken memutuskan mandi untuk membuat pikirannya lebih jernih. Ia harus menghubungi Kaori dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa wanitanya menjadi begitu aneh dan bisa dibilang, tak terkendali?


"Ada apa tengah malam menghubungiku? Apa Aira sakit?" tanya Kaori khawatir begitu ia tahu Ken yang menghubunginya.


"Dia baik-baik saja," jawab Ken sembari mengelus kepala Aira yang kini terlelap di sampingnya. Ken selesai mandi beberapa menit yang lalu dan kini duduk di tepi ranjang, membelai istrinya dengan sayang, "Aku yang tidak baik-baik saja."


"Kenapa? Kakimu sakit? Atau ada keluhan lain? Aku akan meminta dokter Hugo memeriksamu besok pagi." Kaori terdengar sedikit panik.


"Tidak. Bukan begitu. Aku..." Ken bingung mengungkapkan pertanyaannya. Kaori pasti akan menertawakannya.


"Ada apa?"


"Datanglah kemari. Akan lebih mudah jika aku menanyakannya langsung padamu."


Kaori menatap jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua belas, tepat tengah malam.


"Tidak bisa. Aku harus berangkat pagi-pagi besok. Katakan saja sekarang!" Kaori bersikeras menolak permintaan pasien khususnya ini. Ah, sebenarnya Ken tidak tergolong pasiennya, dia tidak menerima upah apapun selama ini. Kaori hanya merasa harus peduli pada pria ini karena ia berhutang satu nyawa pada mereka. Ia hampir saja melenyapkan Aira dengan obat bius dosis tinggi yang Shun berikan kala itu.


"Ano... "


Beberapa menit berlalu namun Ken masih belum mengatakan apapun. Lidahnya kelu sekadar mengatakan keadaannya saat ini. Aira sungguh bertingkah luar biasa dan membuatnya malu sendiri.


"Aku hitung sampai tiga. Jika kamu tetap tidak bersuara, aku tutup teleponnya. Satu ... "


Hening


Ken belum bisa bersuara. Ia tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini pertama kalinya ia kehilangan kata-kata di depan orang lain, selain Aira.


"Dua ... "


"...."


"Tiga ... "


Kaori berdecak kesal karena tidak juga mendapati jawaban Ken. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, heran dengan orang yang menghubunginya ini.


"Baiklah, aku menyerah. Aku akan datang sekarang," Kaori memutuskan panggilan dua arah itu dan segera meraih jaket dari dalam lemarinya. Ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Ken, membuatnya menjadi aneh dan tidak percaya diri seperti sekarang. Ken yang ia kenal memiliki sifat yang tegas dan cenderung kejam. Kaori berpikir pasti ada sesuatu yang tidak lazim.


Hanya berselang sepuluh menit kemudian, rasa penasaran Kaori terjawab sudah. Ia tinggal di gedung sebelah, jadi hanya tinggal jalan kaki dan ia sampai di kediaman Ken.

__ADS_1


Dan pemandangan tak terduga segera terpampang nyata di depan wajahnya. Ia bahkan sampai harus menghapus bulir air mata yang keluar dari ujung indera penglihatannya. Ada lebih dari tiga 'tanda cinta' yang Aira tinggalkan untuk Ken. Hal itulah yang menjadi penyebab Ken kehilangan kata-kata.


"Hahaha, jadi ini sebabnya kamu menghubungiku tengah malam begini?" Kaori memegangi perutnya yang terasa kebas karena terlalu banyak tertawa.


"Berhenti tertawa atau aku benar-benar akan mengakuisisi rumah sakit ayahmu!" ancam Ken dengan rahang mengerat. Ia kesal karena dokter cantik di depannya justru menertawakannya, padahal ia berharap mendapat pencerahan darinya. Ia ingin mendengar penjelasan, kenapa Aira begitu bar-bar seolah dia seperti serigala yang kelaparan. Dan sayangnya Ken yang lemah sudah menjadi mangsanya.


"Apa tidak ada ancaman lain yang lebih mengerikan?" Ah, hahaha..."


"Berhenti menertawakanku!" geram Ken semakin sebal. Ia meraih tongkatnya dan bersiap pergi dari ruang kerjanya ini.


"Baiklah, maafkan aku." Kaori menahan pasien khususnya ini. Ia meminta Ken kembali duduk untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Kaori mencoba menetralkan lagi detak jantungnya dengan cara menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah puas menertawakan yakuza berdarah dingin yang tengah ketakutan pada tingkah aneh istrinya ini.


"Jadi, apa yang ingin kamu dengar dariku?"


Ken menatap Kaori dengan tajam, "Apa yang terjadi pada istriku sebenarnya?"


Kaori tersenyum, "Berapa usia kandungannya sekarang?"


"Enam bulan."


"Enam bulan? Pantas saja," Kaori mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Detik berikutnya, jemarinya tampak sibuk berselancar di atas layar sentuh itu.


"Apanya yang pantas?" tanya Ken tidak puas. Ia ingin penjelasan yang logis, bukan opini semata.


"Mone juga menghubungiku sebelumnya. Dia mengeluh karena kakaknya berubah menjadi otoriter dan pemaksa seperti seseorang." Kaori sengaja menyindir Ken dengan mengibaratkannya sebagai seseorang.


"Seseorang?" Ken mendengus kesal, "Apa lagi yang setan kecil itu katakan padamu?" geramnya menahan emosi.


"Apa ini?" tanya Ken heran. Ia tidak pernah belajar ilmu medis kompleks seperti ini, tentu saja tidak tahu apa yang ditampilkan disana. Tertulis berbagai nama yang aneh dengan satuan angka di belakangnya.


"Akan ku anggap ini sebagai konsultasi pribadi. Kamu berhutang satu kali padaku. Aku akan meminta tolong padamu lain kali," Kaori mengangkat sebelah alisnya, menunggu respon dari Ken.


"Jelaskan saja apa maksudnya ini! Tidak peduli apa yang kamu minta, aku pasti akan memberikannya."


"Baik. Ingatlah kata-katamu." Kaori tersenyum lebar, nampaknya ia memiliki sesuatu yang ingin Ken lakukan suatu saat nanti.


"Istrimu normal," ucap Kaori memulai penjelasannya, "Meski itu bukan spesialisasiku, tapi aku pernah mengikuti seminar ini sebelumnya." Kaori mulai menjelaskan pengetahuan yang ia miliki.


Ken tampak menantikan penjelasan dokter di depannya ini dengan tak sabar.


"Perubahan psikologis yang terjadi pada ibu hamil seringkali unik dan berbeda-beda pada setiap orangnya. Ada bumil yang sangat ingin dimanja, tetapi ada juga bumil yang justru inginnya bertengkar dengan suaminya, bahkan tidak ingin melihatnya. Dan Aira adalah tipe yang pertama."


"Benar. Dia begitu manja akhir-akhir ini," ujar Ken sependapat dengan Kaori.


"Apa dia bertindak diluar kendali?" tanya Kaori yang dijawab anggukan oleh Ken.


"Saat ini sudah semestinya kamu mengerti apa keinginan istrimu. Pada usia kehamilan 4-6 bulan, ibu hamil perlu dimanjakan, di-treat dengan baik. Butuh atensi/perhatian yang lebih."


*treat : dirawat


"Faktor lainnya adalah karena kehamilan bayi laki-laki menghasilkan lebih banyak androgen, yaitu hormon yang meningkatkan libido sang ibu. Jadi, jika libido ibu begitu memuncak saat hamil, bisa jadi calon bayi berjenis kelamin laki-laki. Dan menurut sebuah penelitian, ternyata pada trimester kedua usia kehamilan ini, libido perempuan sedang berada dalam masa puncak."

__ADS_1


Ken mengerutkan kening, mengingat-ingat beberapa minggu ini Aira memang sangat agresif. Seringkali dia yang berinisiatif lebih dulu. Padahal biasanya Ken yang meminta.


"Namun masalahnya, belum tentu semua suami mau meladeni libido sang istri saat itu. Sebab, bukan karena tak ingin, akan tetapi demi menjaga keamanan dan keselamatan calon buah hati. Itu juga yang membuatmu ragu padanya kan?" tanya Kaori.


Lagi-lagi Ken hanya bisa menganggukkan kepalanya. Semua yang dikatakan Kaori benar adanya. Ia berusaha menolak Aira sebisa mungkin, takut membahayakan kehamilannya.


"Tapi sebaiknya kamu tidak menolaknya, Ken. Sebab Aira sedang dalam tahap sensitif secara psikologis. Saat hamil trimester kedua memang tidak sering lagi terjadi masalah dan muntah, namun perubahan fisik sudah mulai terlihat. Tubuh menjadi gemuk dan perut mulai buncit. Terlebih untuk Aira yang mengandung bayi kembar, fisiknya berubah dengan sangat cepat."


"Jika kamu menolak keinginannya, hal itu justru akan membuat kondisi istrimu drop/menurun. Mereka merasa ditolak dan dianggap tidak menarik lagi. Hormon ibu hamil berfluktuasi (naik turun) dengan cepat, aliran darah mereka juga meningkat. Beberapa wanita menjadi lebih sensitif dan nafsu makan meningkat."


"Keinginannya untuk melakukan 'itu' juga meningkat?" tanya Ken heran.


"Benar. Keinginannya yang tak terkendali itu hanya terjadi sementara. Itu menurun selama trimester pertama, kemudian akan memuncak di trimester kedua, dan turun lagi di trimester ketiga. Bukankah dulu dia hampir selalu menolakmu?"


Pertanyaan Kaori membuat wajah Ken merah padam. Ia malu karena dia dulu pernah konsultasi pada Kaori saat Aira selalu menolaknya.


"Apa ini aman? Tidak berbahaya untuk mereka (anak-anak)?"


Kaori tersenyum, "Itu aman selama kamu tidak berlebihan."


"Tapi ... "


"Kamu tidak perlu khawatir saat melakukannya karena serviks, rahim, dan cairan ketuban melindungi janin. Hanya sebatas itu yang aku tahu. Jika masih ragu, kamu bisa menanyakannya pada dokter spesialis kandungan. Mereka akan menjelaskan hal lain yang lebih spesifik. Mau aku buatkan janji?"


"Tidak. Penjelasanmu sudah cukup untukku," jawab Ken pasrah. Ia malu untuk menanyakannya pada orang lain.


"Ah, satu hal lagi. Ada baiknya kamu sering mengajak istrimu untuk jalan-jalan atau mendapatkan hiburan. Bisa dengan pergi ke bioskop atau memanjakan diri ke salon. Itu berpengaruh besar pada suasana hatinya. Jika dia senang, anak-anak kalian juga akan bahagia dan tumbuh dengan sehat," pungkas Kaori sambil beranjak berdiri. Ia bersiap pergi setelah memperhatikan jam tangannya yang menunjukkan pukul satu pagi.


"Jangan lupa dengan janjimu. Aku akan memintamu membayarnya kelak."


"Umm. Katakan saja, aku pasti akan menepatinya. Pulanglah. Aku tidak akan mengantarmu. Masih ada dokumen yang harus aku periksa." Usir Ken pada dokter wanita berambut panjang ini.


"Baiklah. Aku pergi," pamit Kaori. Ia keluar dari ruang kerja Ken dan bersiap pulang ke apartemennya sendiri. Setidaknya masih ada waktu beberapa jam untuknya istirahat.


Ken berkutat dengan dokumen yang ada di meja. Itu adalah draft pekerjaan yang Kosuke siapkan. Seharusnya ia memeriksanya begitu pulang, tapi tertahan karena Aira dan segala tingkahnya yang luar biasa.


Dukk


PRANGG


Terdengar suara gaduh di luar membuat Ken segera meraih tongkat yang ia simpan di sebelah meja kerjanya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ken pada dua orang yang tampak kacau di depannya.


...****************...


Artikel kesehatan lagi, hehe. Maaf yaa kalo ada yang bosen. Itu author ambil dari berbagai sumber di google. Siapa tahu ada manfaatnya. Terutama buat menjelaskan kenapa Aira begitu "luar biasa" akhir-akhir ini.


See you next day, jangan lupa tap jempolnya yaa 😉


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2