Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Penemuan Mayat


__ADS_3

Yamaken datang bersama Mone ke kediaman kakek Yamazaki. Nyonya Sumari menahan calon menantunya itu di dalam kamar Akari, Ayame dan Azami. Di sana ada ibu Aira, yang berarti kakak kandung ibunya, Rosa Maheswari. Wanita Indonesia yang telah melahirkannya dua puluh tahun yang lalu.


Sementara itu, Yamaken merasa putus asa saat melihat kakek mangabaikan ia dan kekasihnya. Pria lanjut usia itu bahkan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beliau mengurung diri di dalam kamar, tidak bisa ditemui. Sepertinya beliau benar-benar marah pada cucunya satu ini. Ia berjalan gontai tanpa arah dan berakhir di taman sakura yang terletak di bagian belakang kediaman milik kakeknya ini.


Aira yang berusaha kabur dari suaminya, tak sengaja menabrak Yamaken. Wanita itu jatuh terduduk di lantai, membuat Ken panik dan segera membantu istrinya untuk berdiri. Kekesalannya hilang seketika.


"Kakek marah padaku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yamaken dengan wajah muram. Tak ada semangat sama sekali di wajahnya. Matanya meredup, seolah tak ada harapan tentang masa depannya dengan Mone.



Ken, Aira dan Yamaken duduk di bagian lain taman ini. Sebuah tangga pendek yang menghubungkan taman dengan kebun rusa di sebelah utara kediaman ini. Ya, selain ada kandang kuda dan tempat latihan berkuda, nyatanya masih ada area lain yang masih dalam lingkup pengawasan kakek Yamazaki, yakni kebun rusa dan peternakan lebah di bagian lainnya.


Yamaken duduk di anak tangga teratas, sedangkan Ken dan Aira duduk di bangku taman beberapa meter darinya. Mereka saling pandang, menantikan siapa yang akan memulai pembicaraan lebih dulu.


Setelah sekian lama tak ada yang bersuara, akhirnya Aira memecah keheningan.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah kakek tidak pernah marah padamu sebelumnya?" tanya Aira.


"Sepertinya dia marah karena aku masih bersama Mone," lirih Yamaken hampir tak terdengar.


"Mone? Dimana dia sekarang?" Aira hendak berdiri, ingin menemui adik sepupunya. Namun cengkeraman tangan Ken di pinggangnya justru semakin erat.


"Aku akan menghukummu jika kamu bersikeras pergi!" titah Ken mendominasi. Ia tidak mengizinkan wanitanya bergerak satu mili pun. Sungguh merepotkan sekali sifat posesifnya ini. Hal itu membuat Aira mengerucutkan bibirnya.


"Dia ada di kamar bersama anak-anak." Yamaken mengatakan jawaban atas pertanyaan Aira.


"Di kamar anak-anak?" Aira sedikit tersentak. Pikirannya terpecah, antara mencari solusi untuk adik iparnya atau memikirkan pertemuan ibunya dan Mone untuk yang pertama kalinya. Mungkin keduanya mengalami kesulitan komunikasi, karena Mone tidak bisa berbicara bahasa Indonesia sedangkan ibunya tidak tahu sama sekali tentang bahasa Jepang.


"Tenanglah. Sakura akan menjadi penerjemah untuk mereka." Ken mengelus kepala istrinya. Hati mereka seolah terhubung satu sama lain. Ia bisa membaca kekhawatiran yang tersimpan di dalam hati wanita kesayangannya.


"Hontou?" tanya Aira antusias.


(Sungguh?)

__ADS_1


"Umm," jawab Ken, kembali merangkul pinggang istrinya yang sempat berjarak sebelumnya.


"Berhenti bermesraan di depanku!" ketus Yamaken. Ia merasa sebal pada interaksi keduanya yang terlihat begitu romantis. Berbanding terbalik dengan kisah cintanya yang seolah berada di ambang jurang.


"Oey! tutup mulutmu!" hardik Ken pada adik kembarnya itu. Ia tidak terima kemesraannya bersama Aira diusik.


Yamaken berdiri. Ia bersiap pergi dari tempat itu daripada harus menyiksa dirinya dengan menyaksikan pertunjukan romansa yang ada.


"Kakek tidak marah padamu." Ucapan Ken terdengar begitu yakin, membuat langkah Yamaken terhenti. Ia tidak berbalik, hanya menolehkan wajahnya ke samping.


"Hmm? Maksudmu?" tanya Aira mewakili adik iparnya.


"Kakek butuh waktu untuk sendiri sekarang. Ada masalah di Nagano." Ken berucap sambil menunjukkan layar ponselnya pada Aira. Disana ada pesan dari Kosuke tentang peristiwa mengejutkan yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Ada apa?" tanya Yamaken mendekat. Ia meraih ponsel Kenzo demi melihat apa yang ditampilkan di balik monitor layar sentuh itu. Disana tertulis bahwa seorang anggota yakuza ditemukan meninggal semalam. Setelah berhasil diidentifikasi, ternyata dia adalah salah satu anak buah kakek Yamazaki.


"Ini?" Yamaken sangsi atas informasi yang baru saja dibacanya sedetik yang lalu.


"Pria itu meninggal diperkirakan karena adanya masalah keuangan dengan sesama anggota yang lain. Dari rekaman CCTV, tampak ia dipukuli sampai meninggal kemarin malam."


"Dari luka sayatan yang ada di tubuhnya, kemungkinan orang-orang itu sengaja menggunakan pisau dan memukul kepalanya dengan keras. Bekas tusukan itu tentu saja membuat ia kehabisan darah. Sesampainya di rumah sakit, nyawanya tidak tertolong lagi."


Baik Aira maupun Yamaken hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat. Mereka tahu ini bukan kasus biasa yang hanya melibatkan uang. Ada seseorang yang sengaja membunuhnya. Pasti seperti itu.


"Polisi masih mengusut kasus tersebut sekaligus menanyakan kesaksian pada penjaga toko atau warung minuman keras di sekitarnya. Banyak pemuda di Nagano yang sering berkumpul bersama. Seharusnya ada yang bisa memberikan kesaksian yang sebenarnya."


"Apa seseorang membunuhnya?" tebak Aira.


"Aku tidak tahu. Kosuke masih terus menyelidikinya."


"Kapan kamu mendengar hal ini?" tanya Yamaken penasaran.


"Semalam. Dua jam setelah mayat ini ditemukan. Tapi aku meminta Kosuke merahasiakannya dari kakek. Mungkin tuan Kobayashi sudah mendengarnya dan memberitahu kakek pagi ini. Itu sebabnya dia mendiamkanmu."

__ADS_1


Yamaken mengangguk. Ia merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari kakaknya.


"Bagaimana mereka tahu itu salah satu anak buah kakek?" Aira menatap wajah tampan suaminya, berharap mendapat jawaban yang memuaskan.


"Kelompok yakuza resmi itu terdaftar semua datanya di kepolisian, bahkan sampai nama-nama anggota kita yang terbawah pun tercatat dan diketahui pihak polisi."


"Eh? Benarkah?" Aira tak percaya begitu saja pada penjelasan suaminya.


"Tentu saja. Bahkan aku yakin namamu dan ketiga anak kita sudah sampai di kantor intelijen negara."


Glek


Aira hanya bisa meneguk ludahnya dengan paksa. Ia tidak menyangka ada lingkaran tak kasat mata yang menjeratnya di bawah payung hukum. Satu kali saja ia melanggar hukum, maka satu klan bisa mendapat efeknya sekaligus. Itu mengerikan.


"Apa yang kamu pikirkan benar adanya. Kakek memang sengaja menyerahkan daftar nama anggotanya pada kepolisian. Bukan hanya karena alasan keamanan, melainkan sebagai lingkaran pelindung saat hal-hal tak terduga seperti ini terjadi."


"Maksudmu?" tanya Aira tak mengerti.


"Polisi akan memblokir berita negatif yang timbul seperti sekarang. Bahkan meskipun seseorang mengatakan aku membunuh suaminya, maka orang itulah yang akan berakhir dengan mendekam di balik jeruji besi. Itulah sebabnya aku ingin membahas hal ini denganmu. Identitasku sebagai pewaris utama di keluarga ini, mau tidak mau akan membawa namamu dan anak-anak. Kamu harus lebih berhati-hati kedepannya." Ken mengatakan itu sambil menatap manik hitam kecokelatan yang istrinya miliki.


"Jumlah kasus yakuza kini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2010 yang mencapai sedikitnya 1071 orang yang ditangkap selama setahun. Sekarang, hanya sekitar 600 kasus penangkapan per tahun yang melibatkan anggota kita di seantero negeri. Terjadi penurunan terus menerus sejak kakek memilih bekerjasama dengan kepolisian." Ken menjelaskan panjang lebar.


"Bagaimana dengan Miracle? Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang kamu tangani sekarang?"


Ken tersenyum. Ia mengakui pemikiran istrinya yang begitu cerdas ini. Wanitanya ini tahu kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya.


"Tenang saja. Aku dan Kosuke akan menemukan pelakunya dengan bantuan dari kakek." Ken terlihat begitu yakin. Sepertinya ia sudah bisa menangkap musuhnya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.


...****************...


Author puyeng 😅😂😂


See you next day,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2