Gangster Boy

Gangster Boy
Kamu Berhak Bahagia


__ADS_3

"Nona dari Indonesia? Gaun ini nyonya pesan langsung dari sana," ungkapnya.


"Ah... Benarkah?" Aira melihat box tempat gaun yang tergeletak di meja. Ia tersenyum manis, hatinya tersentuh melihat ketulusan ibu mertuanya. Hanya untuk membuatnya merasa nyaman, mereka jauh-jauh harus mencari sampai ke tanah kelahirannya. Karena di negara dengan muslim sebagai minoritas ini, mencari gaun muslimah pastilah memang sulit.


Tanpa Aira sadari, Ken berdiri di ambang pintu memperhatikan pantulan wajahnya yang sedang tersenyum di cermin.


'Dia bisa tersenyum hanya karena hal kecil seperti itu?'


Aira mengangkat wajahnya dan melihat cerminan Ken yang kini duduk beberapa meter di belakangnya.


"Kamu suka?" tanyanya sambil bersedekap.


"Terima kasih," jawab Aira dengan wajah datarnya lagi.


"Apa kamu lapar?"


"Aku tidak akan mati hanya karena telat makan satu kali,"


"Asam lambungmu naik, tekanan darahmu juga tidak baik. Aku tidak mau kamu pingsan,"


Seorang pelayan masuk membawa nampan. Di atasnya terdapat piring berisi potongan buah dan beberapa cup puding.


"Tidak tahu mana yang kamu suka. Setidaknya makan salah satu," pintanya sok cool.


"Sudah selesai," wanita perias wajah itu berdiri dan menunduk sebelum pergi.


Aira mendekati Ken dengan mengangkat gaunnya yang cukup panjang. Ia menutup pintunya dan duduk di depan Ken.


"Buka mulutmu," pinta Aira seraya menyuapi Ken sepotong apel yang telah dikupas.


Keningnya berkerut heran melihat tingkah istrinya. Wajah Aira memerah, entah karena perona pipi yang dipakainya atau memang wanitanya itu sedang menahan malu. Tanpa banyak bicara, Ken menggigit apel yang Aira sodorkan. Detik berikutnya Aira memakan sisa potongan apel yang ada di tangannya.


"Uhukk.." Ken tersedak melihat kelakuan istrinya yang terasa aneh.


Dengan cekatan, Aira mengambil botol air minum yang ada di sebelahnya dan memberikannya pada Ken, "Bodoh," ucapnya sembari berlalu meninggalkan suaminya yang masih terbatuk-batuk. Ia meraih sebuah kotak perhiasan yang ada di meja dan menyerahkannya pada Ken.


"Dia bilang aku harus memakai ini, tapi kurasa lebih baik mengembalikannya padamu," ucapnya kembali duduk dan menikmati puding mangga di depannya.


Lagi lagi ken dibuat tercengang saat membuka kotak mungil berbentuk kubus itu. Sebuah gelang yang ia berikan pada Erina saat gadis itu merayakan sweet seventeennya. Beberapa jam sebelum Erina mengakhiri hidupnya, ia mengembalikan gelang itu pada Ken. Tapi Ken membuangnya ke tempat sampah saat keluar dari restoran yang biasa mereka kunjungi bersama.


"Darimana kamu mendapatkannya?"

__ADS_1


"Yu. Salah satu temanku di akademi. Dia bilang sudah menantikan hari ini. Sebelum kakaknya pergi, ia memintanya untuk memberikan gelang ini sebagai kado pernikahanmu kelak,"


Ken menunduk. Ia cukup lama terdiam, menyesali semua tingkah kasarnya di masa lalu. Erina tidak bersalah, dia yang terlalu egois.


Aira menghabiskan cup pudingnya dan bersiap keluar ruangan. Sekilas ia melihat pantulan wajahnya di cermin, baru kali ini ia dirias secantik ini. Biasanya ia hanya memakai eyeliner dan lipstick saja, itupun dengan warna pastel yang tidak menarik perhatian. Ia tidak suka saat orang-orang menjadikannya objek penilaian. Sekilas ia melirik Ken yang masih tertunduk di kursinya, tangannya menggenggam kotak itu dengan erat seolah tak ingin melepaskannya.


'Huh, bukan urusanku,' lirihnya dalam hati.


"Aku tunggu diluar," Aira berjalan melewati Ken menuju pintu keluar.


"Apa kamu mau memakainya?" tanya Ken lirih.


"Kedudukanku tidak setinggi itu. Erina ada di hatimu, sedangkan aku hanya ada di atas selembar kertas. Bagaimana mungkin aku pantas memakainya?" Aira bertanya sarkas. Detik berikutnya ia melangkah keluar ruangan.


Hap


"Aku menyukaimu. Sangat sangat menyukaimu," jawab Ken seraya memeluk Aira dari belakang. Tangannya melingkar di depan dada Aira, menahan wanitanya agar tak pergi jauh dari jangkauannya.


"Yamazaki-san, kamu hanya terbawa suasana. Sampai kapanpun dia tetap ada di hatimu. Karena rasa bersalahmu, kamu pura-pura menyukaiku. Karena kamu butuh pelarian, kamu merengkuhku. Karena kamu tidak bisa lagi bersembunyi, kamu menahanku sebagai tameng. Benar-benar licik,"


Hening


"Tidak peduli seberapa bencinya aku kepadamu, kamu tetaplah suamiku. Aku akan tetap patuh padamu," Aira berbalik dan mengambil gelang yang ada di genggaman Ken. Ia berusaha memakainya, tapi pada akhirnya Ken yang menyelesaikannya.


"Tuan muda, Nyonya muda, acara akan segera dimulai. Silahkan bergabung dengan yang lain" seorang pelayan berdiri di belakang Aira meminta keduanya untuk datang ke ballroom.


Semua orang bertepuk tangan saat Ken dan Aira keluar dari pintu, bersamaan dengan bunga yang bertaburan. Cahaya keemasan bersinar menerpa keduanya. Semua pasang mata terpana akan keindahan ciptaan Tuhan yang kini berjalan bersisian melewati karpet merah yang telah disiapkan. Keduanya sampai di atas panggung dan menunduk hormat pada semua tamu undangan yang hadir.


Aira merasa gugup berdiri di depan ratusan orang yang sedang mengamatinya. Tangannya semakin erat mencengkeram lengan kiri Ken.


"Apa kamu gugup? Tenanglah, ada aku disini. Ini tidak akan lama," bisik Ken saat melihat bibir Aira memucat.


Aira mengangguk mengiyakan kata-kata suaminya. Ia mencoba tersenyum dan kembali memandang para tamu undangan. Mungkin ada seseorang yang ia kenal.


Ya, benar saja. Seorang pria dengan tuxedo berwarna navy sedang menatapnya tanpa berkedip. Dari semua orang disana, entah kenapa pandangan Aira harus tertuju pada orang itu. Orang dengan garis wajah yang sama dengannya, kulit sawo matangnya terlihat jelas di antara orang-orang berkulit putih khas negara empat musim ini. Yudha, cinta pertamanya.


Aira menunduk tak ingin beradu pandang dengan pria itu. Ia bisa saja berlagak kuat di hadapan Ken, tapi ia tidak pernah bisa membohongi mantan kekasihnya.


Ken menangkap perubahan raut wajah Aira dan mencari penyebabnya. Netranya berhasil menemukan Yudha yang masih setia menatap istrinya dengan pandangan patah hati.


*******

__ADS_1


Angin malam berhembus di atap gedung pencakar langit di pusat kota Tokyo. Sejauh mata memandang, terlihat kerlip lampu tak berujung seperti kunang-kunang yang beterbangan di angkasa tanpa cela.


Dua orang berdiri di belakang portal besi pembatas sisi gedung dengan ruang hampa di sampingnya. Seorang pria menatap kejauhan tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun. Begitu juga dengan si wanita yang memilih memeluk erat lengannya sendiri sambil memainkan kakinya di lantai berpasir berwarna hijau ini.


"Apa kamu bahagia?" ucap pria dengan rahang menegang menahan emosi. Bagaimana tidak, setelah hampir 4 bulan ia tidak bertemu dengan pujaan hatinya, sekarang gadis ini sudah jadi milik orang. Menjadi pendamping hidup atasannya, mengorbankan diri untuk orang yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Bahagia itu apa? Lalu, tidak bahagia seperti apa?" tanyanya menggantung. Ia merasa gamam dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar. Bahagia atau tidak, seharusnya bukan urusan orang ini lagi.


"Kamu terpaksa menjalaninya, bagaimana mungkin bisa bahagia?" Yudha mengendurkan dasinya yang terasa mencekik leher. Ah, lebih tepatnya dadanya yang sesak sampai ia tidak bisa bernafas dengan leluasa.


"Itu bukan urusanmu. Kita tidak punya hubungan apapun, jadi tidak seharusnya aku melaporkan kehidupan pribadiku padamu," Aira menggerus butiran pasir dengan ujung sepatunya untuk melampiaskan sesak di hatinya.


"Aku masih tetap menyukaimu," ucap Yudha sambil menolehkan kepalanya ke arah Aira yang bersandar di portal, beberapa meter dari posisinya berdiri.


"Aku tidak akan mengkhianati suamiku," jawab Aira menunjukkan jari manis dengan cincin melingkar disana, "Sampai kapanpun, aku akan tetap berdiri di sisinya,"


"Walaupun dia hanya memanfaatkanmu?"


"Secara tidak langsung aku juga sedang memanfaatkannya. Jadi impas kan?"


"Ra, kamu membodohi dirimu sendiri !" tegas Yudha mulai emosi.


"Kamu pikir kamu pintar dengan mengungkapkan perasaan pada istri orang lain? Ah, tepatnya istri atasanmu sendiri. Tidak takut dipecat ya? Hahaha," Aira tertawa garing, menertawakan pria di hadapannya, sekaligus menertawakan dirinya sendiri.


Yudha tak mampu menjawabnya. Ia selalu kalah jika berdebat dengan Aira. Meskipun gadis itu tak banyak bicara, kata-katanya selalu bisa membuat Yudha terdiam. Sama seperti kejadian di restoran sebelum ibu Aira dibebaskan, mereka berdebat dan akhirnya tetap ia yang harus diam karena kesalahannya sendiri.


"Aku bukan lagi Khumaira yang kamu kenal dulu. Jangan sia-siakan waktu dan perhatianmu untuk orang tak tahu malu sepertiku. Hiduplah untuk dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia," Aira melangkah menjauhi Yudha.


"Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal," pungkas Aira sebelum punggungnya menghilang di balik pintu besi yang berdebam tertutup angin.


*********


Author sesak napas gaess...


Nyesek rasanya 😭😭 saat melihat cinta tak terbalas. Ah, semesta suka bermain-main rupanya. Tapi percayalah, ada kebahagiaan lain yang akan kamu dapatkan setelah pengorbananmu ini. Keep positif dalam setiap keadaan yaa,


Thanks buat kalian yang mau baca sampai chapter ini. Sehat selalu kalian,


Bye bye


Hanazawaeaszy 😙😙

__ADS_1


__ADS_2