Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Indonesia?


__ADS_3

Yamaken meminta penjelasan kakek tentang siapa musuh yang tengah mereka hadapi kali ini. Namun, pria lanjut usia itu tak menjelaskannya sama sekali, hanya memperingatkan cucunya untuk lebih berhati-hati.


"Pergilah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Kakek mengusir Yamaken sambil memilah kumpulan kaligrafi miliknya yang sudah menumpuk di sana. Satu dua tampak usang, sepertinya dibuat beberapa tahun yang lalu.


"Kakek sudah menyukainya sejak awal, kenapa harus berbelit-belit seperti sekarang?" Yamaken bersuara, sama sekali tidak berniat meninggalkan ruangan pribadi kakeknya ini.


"Aku ragu, kenapa kakek tidak juga merestui hubungan kami tapi tidak bertindak apapun sampai sekarang? Jika kakek tidak setuju pada hubungan kami, bukan hal yang sulit untuk menyingkirkan Mone dari sisiku." Yamaken mengungkapkan keluh kesah yang sekian lama terpendam di hatinya.


Kakek berbalik, menatap salah satu cucu yang selama ini beliau abaikan.


"Bukan gadis itu yang harus disingkirkan, tapi kualitasmu yang harus ditingkatkan."


Yamaken mengangkat kepala, menatap kakek renta yang kini memaku pandang tepat di matanya.


"Dia adalah Black Diamond, berlian hitam yang langka. Banyak orang ingin memilikinya, memanfaatkan kemampuan langka yang dia miliki demi kepentingan pribadi. Jika kamu tidak bisa melindunginya bagaimana aku bisa mati dengan tenang nantinya?"


Deg!


"Jadi, itu tujuan kakek meminta kami berlatih? Bukan karena adanya ancaman lain yang mengintai?"


Kakek diam. Pria 77 tahun itu memilih bungkam. Pergerakan Anna belum terlihat, belum meresahkan menurutnya. Biarlah cucunya ini tersesat dengan keyakinannya, dai tidak peduli. Lagipula, dengan kemampuannya saat ini, Yamaken pasti bisa melindungi dirinya  sendiri. Dibandingkan dengan mengkhawatirkan keselamatan Mone, kakek justru lebih khawatir pada cucunya yang memiliki ketahanan fisik yang lemah ini.


"Pergilah." Kakek kembali mengusir Yamaken, membuat pria rupawan itu terpaksa meninggalkan ruangan serba kayu ini.


Tanpa mengabaikan sopan santunnya, Yamaken menundukkan kepalanya tepat sebelum pintu kayu itu tertutup. Bagaimanapun juga, dia harus menghormati kakeknya.


* * *


Sinar matahari yang berwarna kemerahan membias di ufuk barat, menandakan bahwa langit sekejap lagi berubah menjadi gelap. Udara hangat menerpa wajah tembam Aira yang masih terpejam, membuat netranya mengerjap beberapa kali.


Detik berikutnya, kelopak mata bulat itu terbuka. Ibu tiga anak ini akhirnya tersadar setelah tidur panjangnya beberapa jam ini. Langit-langit kamar berwarna putih di atas sana menjadi pemandangan pertama yang ditangkap oleh mata Aira.


'Dimana ini?' batin Aira bertanya-tanya. Suasana di ruangan ini terasa asing, belum lagi dekorasinya yang tidak biasa, mengingatkannya pada negara asalnya, Indonesia.


Deg!


Kilasan memori itu terlintas begitu saja, membuatnya terhenyak.


"Indonesia?" gumam Aira lirih, namun penuh perasaan yang meletup-letup ingin diungkapkan. "Ini tidak mungkin!"


Aira beranjak bangun, memaksakan tubuhnya untuk segera bergerak.


"Arghh." Aira merasakan nyeri luar biasa di pangkal lehernya, itu akibat pukulan Ken yang membuatnya pingsan. Rasa pening seketika menguar di kepala, membuat pandangan matanya buram saat itu juga. Keringat dingin segera membanjiri pelipis Aira, membuatnya mencengkeram alas kasur di sisi badannya.


"Oek." Aira merasakan perutnya seperti dipelintir, bersamaan dengan rasa mual yang begitu kuat. Semua isi perutnya terasa melesak keluar melalui kerongkongan, membuat rasa tidak nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya, dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Brukk!


Aira memejamkan matanya, kembali merebahkan badannya di atas kasur. Tubuhnya tidak bisa bekerja sama. Dia tidak bisa memaksakan diri lebih jauh. Wanita 26 tahun ini mengambil napas dalam-dalam. Dia ingat terakhir kali orang yang bersamanya adalah Kenzo, suaminya sendiri. Mungkinkah Ken yang sudah memukul tengkuknya dengan begitu keras?


Dalam ilmu beladiri dikenal teknik melumpuhkan lawan yang dikenal dengan istilah sentuhan maut. Tanpa mengeluarkan banyak gerakan, satu sentuhan pada bagian tertentu bisa membuat lawan tersungkur tak berdaya. Bahkan, bisa meregang nyawa saat itu juga.


Aira mendapat pengetahuan ini saat mengikuti pelatihan di Thailand, hampir sepuluh tahun yang lalu.  Ada beberapa bagian tubuh yang harus dia jaga jika berhadapan dengan tukang pukul profesional. Salah satunya adalah bagian leher dan belakang kepala.

__ADS_1


Beberapa titik di samping leher memiliki pembuluh darah yang cukup vital. Fungsi utamanya adalah untuk mengirimkan oksigen ke otak. Jika organ ini terganggu, maka pembuluh darah tersebut kesulitan melakukan tugasnya. Akibat paling fatal dari kejadian ini adalah memicu kelumpuhan berbagai sistem saraf yang dapat menyebabkan kematian. Mengerikan!


Perasaan mual dan tidak nyaman itu perlahan mulai menghilang. Aira kembali membuka matanya, menatap langit di luar sana yang mulai terlihat gelap.


Hening.


Tak ada suara apapun di tempat ini selain deru ombak di kejauhan.


'Tunggu!' Aira kembali menggunakan otaknya untuk berpikir. 'Ombak? Laut?'


Seketika rasa pening itu kembali menghampiri, membuat Aira terpaksa menutup matanya lagi. Dia terlalu memaksakan diri untuk berpikir, memacu otaknya untuk berputar, membuat beberapa sarafnya menegang.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka. Aira memejamkan matanya, berpura-pura belum sadarkan diri. Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aira yang tak terhalang oleh apapun.


"Sayang, cepatlah bangun." Suara Ken menyapa indera pendengaran Aira yang berfungsi dengan normal. Tangan kanannya mendapat kecupan mesra, terasa sekali bahwa pria ini meyesal atas apa yang dia lakukan terakhir kali.


"Sayang, kamu membuatku takut." Ken masih terus mengungkapkan rasa khawatirnya. Dia tidak ingin istrinya ini kenapa-napa.


"Ai-chan. Aku akan menerima apapun hukumanku. Ku mohon bangunlah," ucap Ken menahan kesedihannya.


Aira semakin yakin jika pria inilah yang telah melumpuhkannya, membuatnya merasakan ngilu, pening, dan mual di saat bersamaan. Dan akhirnya pria ini merasa bersalah. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Itu pasti!


Grep


Dengan kekuatan yang Aira kumpulkan, dia menangkap pergelangan tangan suaminya.


"Dua menit!" tegas Aira, penuh penekanan di setiap suku kata yang terucap dari mulutnya.


"Eh?" Ken terkejut. Pertama, dia tidak menyangka Aira sudah siuman dari pingsannya. Kedua, tatap mata wanita ini begitu tajam, seolah siap mengebor matanya.


"Aku butuh penjelasan. Apa yang kamu lakukan padaku?!"


Rasa mual kembali menyapa, membuat Aira menahan napas sebisa mungkin. Dia memejamkan mata, meredam perasaan tidak nyaman yang menyerangnya lagi untuk kesekian kali.


Glek!


Ken menelan salivanya, membasahi kerongkongan yang terasa kering. Keterdiaman Aira dianggapnya sebagai bentuk kemurkaan wanita ini. Dan dia pantas mendapatkan ini.


"Itu... Aku... " Ken kesulitan memilah kata yang tepat. Apa yang dia lakukan sebelumnya tanpa rencana sama sekali. Hanya refleks karena Aira bersikeras menolak untuk pergi.


Di saat Ken sibuk menyusun kata-kata sebagai penjelasan, Aira juga sibuk menahan laju pergerakan isi perutnya yang ingin dimuntahkan. Dia tidak bisa menahannya lagi, cairan itu sudah sampai di mulutnya.


"Oekk!" Cairan berwarna kekuningan itu keluar dari mulut Aira, membasahi piyama dan alas tidur di sisi kiri wanita ini.


"Ai-chan?!" Ken panik. Dia segera berdiri dan menilik keadaan istrinya. "Apa yang terjadi?"


Rasa pahit getir seketika menyalak ujung mulut dan hidung ibu tiga anak ini, membuatnya semakin tidak nyaman. Jangankan menjawab pertanyaan Ken, mengondisikan tubuhnya saja dia kesulitan.


"Sayang, ada apa denganmu?" Ken menyeka peluh yang kini membasahi kening Aira. Dia tidak tahu penyebab wanita ini muntah. Wajah yang terlihat pucat segera menyadarkannya bahwa Aira tidak dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


Ken berlari ke arah pintu, meninggalkan Aira yang masih bergulat menahan mual dan pusing di saat yang bersamaan.


"SAKURA! PANGGIL DOKTER! SEKARANG!"


Teriakan Ken menggema, membuat Sakura terlonjak. Dia sedang berkutat di dapur saat tiba-tiba suara Ken mengejutkannya.


Tanpa berpikir panjang, Sakura mematikan kompor di hadapannya dan segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Langkah panjangnya menyusuri ruangan luas ini. bersiap mendekat ke arah tuannya berada untuk melihat apa yang terjadi.


"Hallo, Dokter.... "


Beralih kembali pada Yamazaki Kenzo, dia mendekat pada Aira dan berusaha membersihkan cairan muntahan itu dengan tisu. Aroma tidak sedap yang menguar di kamar itu, tak menyurutkan niatan Ken untuk mengurus wanitanya.


"Dokter akan segera datang." Sakura mendekat ke arah tuannya dan mengambil alih kepengurusan Aira. Dengan cekatan, gadis 26 tahun ini membersihkan noda bekas muntahan itu tanpa rasa jijik. Tak lupa, dia juga menyeka kening dan pelipis puannya yang basah oleh keringat.


"Nyonya, Anda bisa mendengar suara saya?" tanya Sakura pada Aira yang terus memejamkan mata.


"Hmm," gumam Aira, sedikit menundukkan kepalanya.


Respon yang Aira tunjukkan, membuat Sakura sedikit lega. Setidaknya wanita itu tidak kehilangan kesadaran.


"Apa yang Anda rasakan sekarang? Bisakah beritahu saya?"


Tanpa membuka mulutnya, Aira menunjuk kening, dada, dan perutnya bergantian, tanda bahwa dia pusing, mual, dan perasaan tidak nyaman di dalam perut.


Sakura mengangguk sekali. Dia bisa tahu apa yang puannya rasakan.


"Anda bisa membuka mata Anda?" kejar Sakura, memeriksa fungsi penglihatan wanita di hadapannya.


Aira menggeleng, kembali menunjuk dadanya sebagai jawaban : Tidak bisa, itu membuatku mual.


Sakura mengerti keadaannya. Dia bergerak cepat mengambil segelas air putih hangat dan kembali ke tempat itu lagi.


"Nyonya, tolong buka mulut Anda sedikit. Anda harus minum untuk membersihkan mulut dan tenggorokan agar tidak lagi terasa pahit." Sakura berusaha membujuk dengan halus.


Aira menurut, perlahan mulai menyedot air hangat yang Sakura siapkan, dengan bantuan sedotan stainless yang steril tentunya.


Kekhawatiran Ken sedikit mereda saat melihat bagaimana kesigapan Sakura mengurus istrinya. Tidak salah dia membawa putri tuan Kobayashi ini dalam 'pelarian' mereka.


"Nyonya, bolehkah saya mengganti pakaian Anda?" Sakura kembali meminta izin dengan hati-hati. Gadis ini memperlakukan Aira layaknya batu permata, tak ingin membuatnya tergores, apalagi terluka.


Lagi-lagi Aira mengangguk lemah, membuat Ken semakin merasa bersalah. Pria itu tak sanggup melihatnya lagi, memilih pergi dari ruangan itu secepatnya.


Ken berdiri di atas balkon, menatap hamparan laut luas di depan sana. Ombak yang bergulung terlihat datang dan pergi secara terus menerus. Sama seperti kebahagiaan dan kesedihan yang bergantian dia rasakan. Dan semua kesedihan ini adalah akibat kebodohannya sendiri.


'Apa yang terjadi padanya? Mungkinkah itu karena pukulan telak dariku kemarin?' Berbagai pertanyaan muncul di dalam hati pria 28 tahun ini, menggerus kepercayaan dirinya, membuatnya semakin merasa bersalah.


"Ai-chan, maafkan aku."


...****************...


Hwa, Si Papa mah suka gitu. Baka!!


Apa yang sebenarnya terjadi pada Aira? See you next day,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2