Gangster Boy

Gangster Boy
Pura-Pura


__ADS_3

"Dia ada di penginapan. Jemput dia besok pagi." titah kakek.


"Aku akan pergi sekarang juga." Ken tergesa-gesa ingin segera bertemu istrinya. Pria itu hendak meraih kotak cincin yang ia berikan pada Aira 6 bulan lalu, tapi kakek mengambilnya lebih dulu.


"Bukan sekarang. Biarkan dia sendiri untuk malam ini, dia aman selama ada Minami bersamanya." kakek menyembunyikan cincin itu di dalam sakunya lagi, "Ambil cincinnya sebelum kamu berangkat."


Raut kecewa terlihat jelas di wajah putih itu, namun secercah harapan membuatnya tersenyum. Ia akan segera bertemu dengan pujaan hatinya. Istrinya. Cintanya. Calon ibu dari anak-anaknya. Ia hanya harus bersabar beberapa jam lagi.


Ken melangkah ke kamarnya dengan semangat. Ia harus segera istirahat agar bisa bertemu istrinya dengan keadaan yang segar.


Tak


Sebuah batu jatuh mengenai kepalanya. Ah, tampaknya seseorang yang melemparnya. Ken menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada siapapun. Ia pura-pura melangkah, lalu berbalik ke arah kanan dengan cepat sedetik kemudian. Tangannya sigap menangkap sebuah kerikil yang siap mengenai kepalanya untuk yang kedua kalinya. Ia tahu seseorang sedang mengincarnya.


Hap


Yamaken melompat dari atap dan menatap kakak kembarnya dengan smirk di wajahnya. Dari ekspresinya jelas ia marah dan sangat tidak menyukai keberadaan Ken di depannya. Sedangkan Ken sendiri tampak acuh tak acuh pada pria yang memakai jaket merah selutut di depannya. Ah, adiknya ini selalu suka menjadi pusat perhatian dengan memakai pakaian full color.


"Apa kau bodoh?" tanya Yamaken sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia heran dengan semua sikap Ken pada Aira. Apalagi setelah mendengar kejadian tak mengenakan yang terjadi pada Aira beberapa hari yang lalu. Bahkan Yoshiro sampai harus menyembunyikan Aira di penthousenya agar bisa menenangkan diri.


"Apa pedulimu?" Ken malas meladeni adiknya, ia ingin segera membersihkan dirinya setelah kesana kemari seharian demi menemukan istrinya.


"Aira hamil." jawab Yamaken pelan.


"NANI?" Ken membulatkan matanya mendengar berita mengejutkan itu.


(APA?)


"Berhentilah menyiksanya, atau dia benar-benar akan meninggalkanmu untuk selamanya."


Ken memegang kepalanya. Ia tidak habis fikir dengan apa yang terjadi saat ini. Yamaken bilang Aira sedang hamil, tapi ia sendiri belum mengetahuinya.


"Apa kamu ingin membodohiku?" Ken tampak frustasi menyadari kesalahannya sendiri. Ia berlaku kejam pada Aira karena wanitanya itu berkeras ingin berpisah dengannya. Ken dengan segala egonya memaksa Aira untuk tinggal, tanpa memperdulikan perasaannya.


"Dia belum menyadarinya." jawab Yamaken seraya duduk di depan kakaknya, menyingkirkan butiran salju yang ada di kursi kayu berbentuk bundar ini. Mereka berbicara di pinggir pacuan kuda yang tertutup salju. Sebuah tempat lapang dengan palang kayu di kanan kirinya. Kandang kuda tampak 500 meter di depan mereka dengan pencahayaan seadanya.


"Siapa yang mengatakannya padamu?"


"Kedua pengawalmu tidak sengaja membicarakannya. Mereka ingin menyembunyikan itu dari kalian berdua."


Ken mengepalkan tangannya, marah.

__ADS_1


'Kosuke benar-benar tidak bisa dipercaya sekarang. Bagaimana mungkin dia menyembunyikan hal ini dariku?' geram Ken dalam hatinya.


"Mereka tidak bersalah." Yamaken merespon mimik wajah kakaknya yang terlihat semakin kesal menahan marah, seolah menjawab kata hati Ken, "Mereka hanya ingin melindungi Aira."


"Melindungi? Apa maksudmu?" Ken tak percaya ada orang yang meragukan kemampuannya untuk melindungi keselamatan Aira.


"Pikirkan apa yang akan terjadi jika kamu mengetahui kehamilannya. Aku yakin dengan sangat, kamu akan menguncinya di dalam kamar sepanjang waktu. Tidak membiarkannya keluar walaupun hanya untuk melihat bintang. Padahal Aira sangat suka melihat bintang gemintang. Benar kan?"


Ken terdiam, ia tidak bisa menyangkal pernyataan adiknya itu. Karena emosinya yang tidak stabil, berkali-kali Aira harus menjadi korban kekerasannya.


"Dan kau akan membuatnya ketakutan seperti sebelumnya."


Glek


Ken menyadari kesalahannya yang sudah membuat Aira ketakutan. Pantas saja tangan Aira gemetar saat pertama kali ia datang dan bersimpuh di hadapannya. Ia tidak menyadari hal itu sebelumnya.


"Berapa usianya?" lirih Ken hampir tak terdengar. Nafasnya melemah, terlalu syok dengan informasi yang di dengarnya.


"4 minggu." Yamaken kasihan melihat kakaknya yang terlihat bersedih. Bagaimana pun juga, semua orang berharap untuk kebahagiaan keduanya. Tapi semesta sepertinya masih ingin bermain-main dengan mereka.


"Apa yang harus ku lakukan?"


"Pura-pura?" Ken berlalu meninggalkan pria cerminannya yang hanya berdiri di bawah salju. Langkahnya membawa tubuh lelah itu masuk ke dalam kamar dan segera merebahkan diri di atas ranjang. Melupakan niat awalnya untuk membersihkan diri. Informasi yang Yamaken berikan benar-benar memukul harga dirinya.


Bagaimana mungkin ia bisa bersikap sekasar itu pada istrinya? Wanita yang akan melahirkan anak-anaknya...


*******


Di tempat lain...


Udara semakin rendah saat Aira keluar dari penginapan. Keadaan sekitar yang mulai gelap sempurna membuat matanya harus berkerja ekstra. Langkahnya lincah menyusuri jalan setapak yang menjadi penghubung antara penginapan dan sebuah kuil di depan sana.


"Nona, kita bisa kembali esok. Jalanan licin dan gelap, terlalu berbahaya untuk Anda." Minami coba mengingatkan. Dia merasa sangat bertanggung jawab pada keselamatan Aira. Jika sesuatu terjadi pada nona-nya, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Aku baik-baik saja." Aira tetap melanjutkan langkahnya. Ia baru berhenti melangkah saat sampai di depan sebuah kuil yang tampak anggun. Cahaya temaram dari lampu tradisional yang tergantung di beberapa sisinya, membuatnya terkesan hangat dan homey. Seperti suasana pedesaan di Indonesia, kampung halamannya.


"Maaf nona, ini terlalu larut. Kembalilah untuk berdoa besok pagi." seorang pria dengan baju biksu menyapa keduanya.


"Aku datang untuk menemui kepala biksu disini, bukan untuk berdoa." jawab Aira mantap. Ia tidak peduli apa penilaian orang ini terhadapnya.


"Bawa mereka masuk." terdengar suara berat dari dalam kuil. Aira masuk ditemani Minami. Ia terkejut karena orang yang ada di hadapannya adalah biksu yang ia temui di Gerbang Dewa pagi ini.

__ADS_1


Aira menyampaikan permintaan maafnya karena telah melewati batas. Dia mendekati Torii tanpa izin. Biksu itu hanya tersenyum menerima permintaan maaf Aira dan mendoakan untuk kebaikan mereka. Minami membawa Aira kembali ke penginapan karena udara semakin dingin.


*******


Seorang pria berjalan kesana kemari dengan gundah. Ia mengetuk pintu di depannya berkali-kali namun masih belum ada jawaban. Kakek tampaknya enggan berurusan denga cucunya pagi buta seperti sekarang.


Pria berumur itu keluar saat Ken berada di ambang batas putus asanya. Wajahnya terlihat pucat dan rambut yang berantakan. Ia tidak bisa tidur semalaman. Kata-kata Yamaken berhasil mencabik perasaannya sampai kacau begini.


"Bawa Kosuke bersamamu." perintah kakek sambil memberikan cincin pernikahan milik Aira. Ia tahu keadaan Ken tidak baik-baik saja, jika pergi sendiri takutnya sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ken berlari melewati teras dengan tergesa-gesa. Ia tidak sabar untuk menemui istrinya dan meminta maaf padanya. Kosuke yang bersiap di dalam mobil segera membawa tuannya ke alamat yang di maksud.


Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi saat Aira membuka matanya. Ia merasakan hembusan nafas seseorang menerpa wajahnya. Ia menatap Ken dengan bingung. Seingatnya ia tidur sendiri semalam.


Untuk sesaat Aira tidak bisa melakukan apa-apa, Ken memeluknya terlalu erat. Perlahan ia menyingkirkan tangan Ken dari pinggangnya dan pergi mencari Minami untuk meminta penjelasan. Pengawalnya itu pasti tahu kedatangan Ken, tapi kenapa tidak membangunkannya?


"Bagaimana keadaan anda, nona?" tanya Kosuke saat melihat nona-nya mendekat. Membuat Minami harus menjaga jarak dari kekasihnya itu. Ya, Kosuke dan Minami menjalin hubungan tanpa orang lain tahu. Keduanya menutup rapat perasaannya dan bersikap profesional saat sedang bekerja. Aira menyadari interaksi keduanya yang sering curi-curi pandang sekilas saat bertemu.


"Baik. Apa yang membawamu kemari?" tanya Aira dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia ingin mendengar penjelasan asisten suaminya itu kenapa Ken tiba-tiba ada di tempat tidurnya.


"Tuan tidak tidur semalaman demi bertemu dengan anda," jawabnya singkat, "Dia mencari anda seharian." lanjutnya dengan melirik Minami, tidak yakin dengan jawabannya.


"Huh?" Aira tak bisa mencerna penjelasan Kosuke dengan baik. Bukan itu yang ingin ia dengar, melainkan alasan kedatangan Ken kemari. Pria itu pasti memiliki alasan tertentu sampai kakek memberikan informasi keberadaannya.


"Ai-chan.." Ken berlari menghambur ke arah Aira dan segera memeluknya. Berkali-kali ia mencium puncak kepala istrinya dengan sayang. Ia terbangun dan mendapati ranjang di depannya kosong, jadi ia langsung berlari keluar mencari istrinya.


"Jangan menyentuhku !" Aira mengurai pelukan Ken dan mundur 2 langkah. Sejujurnya ia masih belum ingin bertemu dengan suaminya secara langsung.


"Ai-chan.."


"Berhenti memanggilku seperti itu !"


Ken terpaku di tempatnya berdiri.


*******


See you next day,


Arigatou


Hanazawaeaszy 😂

__ADS_1


__ADS_2