
Udara yang hangat terasa membelai pipi, menerbangkan kelambu transparan yang berkibar di atas ranjang. Ken meminta Sakura membawa Akari dan Ayame untuk bergabung dengannya serta Aira di balkon kamar utama. Pria ini ingin menikmati quality time bersama keluarga kecilnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aira, melihat Ken meletakkan tiga bayi menggemaskan itu berjejer di atas ranjang.
"Sstt. Kamu cukup melihatnya saja." Ken tersenyum, meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. Ia menggulung kelambu yang ada, membuat bias sinar jingga menerpa wajah ketiga anaknya.
Detik berikutnya Ken berlari masuk ke dalam kamar, mengambil sebuah kamera dan mencoba membidik sesuatu sembarang.
Klik
Pria 28 tahun itu berhasil mengabadikan momen dimana seekor burung terbang bebas di angkasa, bersiap kembali ke sarangnya sebelum malam menjelang.
Kening Aira berkerut, heran dengan kelakuan pria yang hampir membunuhnya setahun lalu.
Klik
Bunyi dari kamera digital itu terdengar samar. Ken memotret Aira dari samping.
"Apa yang ka-" Kata-kata Aira tartahan di tenggorokan.
Klik klik klik
Ken semakin bersemangat memotret wanita berwajah bulat yang kini tampak sedikit tirus. Sepertinya mengurus tiga bayi kecil dan seorang bayi besar tampan ini sungguh membuat Aira kerepotan. Tubuhnya yang mungil, kini berubah menjadi lebih kecil lagi dibanding sebelumnya.
"Kamu semakin kurus," komentar Ken, memperhatikan hasil bidikannya barusan.
Aira yang tadinya merasa kesal, sekarang justru tersenyum. Hatinya menghangat mendengar komentar Ken barusan. Berat badannya turun satu kilogram dan pria ini menyadarinya. Itu artinya, fungsi penglihatan Ken masih berguna dengan baik. Lebih tepatnya, pandangan mata pria ini hanya tertuju padanya, setiap detail dari tubuhnya sudah pria ini hafal di luar kepala.
"Benar, aku memang kurusan sekarang. Mengurus seorang suami dan tiga orang anak tidaklah mudah. Apalagi suamiku begitu mesum dan seringkali lupa waktu seperti siang tadi. Jika aku tidak memaksa pergi, sepertinya pergulatan kami belum berakhir sampai sekarang. Dia menginginkan tubuhku sepanjang waktu, bahkan sampai mengabaikan waktu makan siangku!" ketus Aira panjang lebar, sengaja menyinggung pria di dekatnya ini.
Bukannya marah, Ken justru terkekeh geli mendengar curahan hati istrinya.
"Salahmu sendiri, kenapa tubuhmu begitu menggoda!" Ken balik menyerang Aira.
"Menggoda dari mananya? Jelas-jelas hanya tulang dan kulit yang tersisa seperti ini. Pria itu saja yang tidak tahu diri. Kadar hormon di dalam tubuhnya tidak normal, ingin lagi, lagi, dan lagi. Memangnya aku ini mainan yang bisa dia gunakan sepanjang hari? Aku juga butuh makan dan istirahat. Dia benar-benar monater yang mengerikan. Ya, pasti seperti itu. Dia memang monster!"
Aira terus mengungkapkan unek-unek di dalam hatinya, mencemooh pria yang kini tersenyum lebar sambil menatapnya.
Cup
Ken tidak marah sama sekali, justru mendekat dan menghadiahkan sebuah kecupan singkat di sudut bibir Sang Istri.
"KAMU?!"
Tawa Ken semakin lebar. Dia segera berlari menjauh, meninggalkan wanitanya yang kini memelototkan kedua matanya, lagi-lagi dibuat terkejut oleh ayah dari anak-anaknya ini.
Aira menggelengkan kepala. Dia tidak ingin memikirkan tingkah pewaris yakuza paling berbahaya di Jepang itu. Meskipun akhir-akhir ini Ken tidak pernah lagi menunjukkan tajinya, tapi Aira yakin jika kemampuan pria ini dalam berkelahi masih sama baiknya seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Terserah kamu sajalah." Wanita yang mengenakan longdress oversize warna kuning kunyit itu berlalu, masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Ken dan ketiga buah hatinya di luar sana.
"Huh, dia mulai lagi," gumam Aira lirih, hanya bisa ia dengar sendiri. Sikap kekenak-kanakan Ken kembali datang, menggodanya seperti anak kecil. Menyebalkan!
Sementara Aira sibuk dengan urusannya sendiri, Ken memulai aksinya.
Klik klik klik
Ken memotret ketiga bayinya berkali-kali, bergantian satu per satu. Lensa kamera itu menangkap momen indah saat Akari memejamkan mata sambil menghisap ibu jarinya. Dia terlihat begitu menikmatinya, seolah tengah menyusu pada ibunya.
"Hey, Boy. Apa rasanya manis? Kenapa kamu tidak mau melepaskannya?" Ken menarik jari itu dari mulut Akari dan membersihkan air liur di sekitar wajah lucunya, tapi detik berikutnnya daging bertulang itu kembali masuk ke dalam mulut seperti sebelumnya.
"Ahahahaa, baiklah, baiklah. Lakukan apapun yang kamu suka. Ayah tidak akan melarangnya."
Lagi-lagi Ken mengambil potret itu, kali ini dari angle yang berbeda. Lesung pipi di wajah mungil Akari samar-samar terlihat. Benar-benar persis seperti potretnya sendiri saat kecil.
"Ao wa wa waaaa." Suara Aya terdengar menggema, bahkan sampai membuat Aira menolehkan kepalanya, khawatir jika putri kesayangannya itu menangis.
"Apa, Sayang? Kamu juga mau Daddy potret?" Ken tersenyum melihat putri kesayangannya kini tengah menatap tepat ke arahnya.
Lagi-lagi Ken bertingkah, membeda-bedakan panggilan untuk anak-anaknya. Ken menyebut dirinya dengan sebuatan ayah saat mengobrol dengan Akari, Daddy pada Ayame, dan Papa pada Si Bungsu, Azami.
"Waau."
Senyuman Ken semakin lebar, menganggap respon Aya itu seperti mengucapkan kata 'mau'.
Tanpa membuang waktu lagi, Ken segera melakukan hal yang sama pada gadis manis berpakaian menggemaskan itu. Senyumnya yang merekah indah membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh cinta. Dia akan tumbuh menjadi gadis menawan yang cantik dan mempesona.
__ADS_1
Di saat yang sama, Azami mengangkat kakinya tinggi-tinggi ke udara. Bayi yang paling gembil ini seolah tak mau kalah, beraksi bersama dua saudaranya yang lain.
Ken semakin sibuk mengambil potret ketiga anaknya, menangkap berbagai pose dan gaya yang bisa mereka lihat saat dewasa nanti.
Dari kejauhan, Aira tersenyum. Dia tahu suaminya sudah banyak berubah, dari seorang pria yang kasar, arogan, dan pemaksa, menjadi sosok seorang ayah yang begitu menyayangi ketiga anaknya. Perlahan dia menyentuh perutnya yang masih rata. "Apa tidak masalah jika aku hamil lagi? Dia bisa diandalkan untuk mengurus ketiga bayi-bayi itu," gumam Aira lirih.
Tadinya, Aira begitu khawatir jika dia mengandung buah hatinya lagi, takut tidak akan sanggup mengurus mereka secara bersamaan. Tapi, melihat Ken yang begitu dekat dengan baby triplets, membuat Aira berpikir ulang tentang kehamilannya. Bolehkah?
Proses pemotretan itu terus berlangsung sementara Aira berjalan-jalan di sekitar ruangan. Dia tidak terlalu memperhatikan dekorasi dan tata letak ruangan yang sudah ia huni dua hari terakhir. Baru kali ini dia sempat mengamati satu per satu hiasan yang ada.
Langkah wanita kelahiran Indonesia ini terhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam. Di depannya tertulis peringatan dilarang masuk. Namun, hal itu justru membuat Aira penasaaran.
Dengan penuh kehati-hatian, Aira memegang handle pintu yang tak terkunci itu, menggesernya ke samping tanpa suara.
Klik
Aira menekan sakelar lampu, membuat ruangan segi empat ini terang benderang.
Detik berikutnya, netra Aira membola. Dia tertegun menatap isi ruangan yang kini ada di hadapannya.
"I-ini?!"
Aira masuk ke dalam galeri khusus yang sengaja Ken siapkan untuknya. Disana ada setumpuk kain berbagai motif dan warna, lengkap dengan semua peralatan jahit yang ada. Itu adalah hadiah dari seorang Yamazaki Kenzo untuk istrinya tercinta, tapi pria itu belum menunjukkannya.
Ken tahu jika Aira suka menggambar desain baju. Beberapa kali tidak sengaja melihat Aira sibuk bermain dengan aplikasi design fashion di tablet milliknya.
Tanpa banyak berpikir, Aira duduk di atas sebuah kursi kayu berbentuk bulat dan meraih sebuah buku di atas meja. Dengan penuh antusias, wanit 26 tahun itu menuangkan ide yang ada di dalam kepalanya, menggambarkan berbagai desain baju untuk anak-anaknya.
Aira tidak menyadari Ken yang sudah selesai melakukan pengambilan gambar dengan ketiga buah hatinya sebagai model. Pria itu meminta Sakura dan dua rekannya untuk mengambil alih pengasuhan Akari, Ayame, dan Azami.
Diam-diam, Ken memotret Aira yang tidak menyadari kehadirannya. Seluruh atensi wanita ini tertuju pada goresan pensil di atas sketch book atau buku sketsa yang ada di atas meja.
"Apa kamu suka?" tanya Ken, memeluk Aira dari belakang. Seketika tubuh wanita itu menegang, terperanjat akan sapaan pria yang mengganggu aktivitasnya.
"Aah, gambarku." Aira menatap goresan pensil di tangannya yang mendarat di tempat yang tidak seharusnya, merusak sketsa yang sedang digambarnya.
Ken tertawa. Dia berhasil mengejutkan istrinya. Itu memang tujuan utamanya.
"Suka apanya? Lihat gambarku-mmphh."
Aira yang tengah menyampaikan keluhannya, langsung bungkam. Bibir tipisnya langsung terpenjara oleh mulut Ken yang tiba-tiba menyergapnya. Pria ini begitu ekspresif, melakukan semuanya dengan begitu cepat sampai Aira tidak bisa menghindarinya.
Tak cukup sampai di sana, Ken menahan tengkuk Aira erat-erat, tidak mengizinkan wanita ini melepaskan penyatuan keduanya.
Bugh bugh
"Mppphh... mpphh!" Aira memukul dada bidang Ken, meminta pria ini mengakhiri penyatuan bibir keduanya. Stok oksigen di dalam paru-parunya semakin menipis, tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Pergerakan Ken begitu cepat, melesakkan lidah ke dalam mulut istrinya, menjelajah ke seluruh pelosoknya dalam hitungan detik.
Dukk
Aira terpaksa harus menendang tulang kering Ken cukup keras, membuat pria ini mengerutkan keningnya. Tautan bibir mereka terlepas seketika. Ken meringis kesakitan, menundukkan badan sambil memegangi bagian bawah kakinya yang menjadi sasaran tendangan Aira barusan.
"Dasar mesum!" ketus Aira sebal. Dia kembali dibuat kesal karena Ken berusaha mengambil keuntungan sebanyak mungkin darinya yang masih terkejut.
"Kapan kamu berhenti bersikap bar-bar pada suamimu sendiri?" Ken masih mengelus kakinya, tidak habis pikir dengan respon wanita pemilik hatinya ini. Dia begitu tangguh, tidak mengizinkan siapapun menindasnya. Sejak identitasnya sebagai agen rahasia terungkap, Aira tidak lagi takut membela diri. Semua sikapnya berubah menjadi lebih berani, berbeda dengan image yang ia tanamkan di benak Ken bahwa dia wanita lemah.
Aira memutar bola matanya, merasa tidak setuju dengan pendapat Ken yang mengatainya bar-bar.
"Itu akibat ulahmu sendiri! Siapa suruh kamu mencuri kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak akan tinggal diam jika kamu melakukan hal yang sama lain kali." Aira berdiri, menatap tajam ke arah suaminya. "Ah, tepatnya tidak akan ada lain kali. Aku akan melawan siapa saja yang berusaha menyusahkanku. Termasuk kamu, Yamazaki Kenzo!"
Aira melenggang pergi, meninggalkan ruangan yang sempat membuatnya jatuh cinta tiga puluh menit yang lalu.
"Ai-chan," panggil Ken, menyusul langkah cepat istrinya dengan tergesa. "Gomen-ne."
Aira mengabaikan ucapan Ken. Dia kesal karena pria ini tak juga berubah, selalu ingin mendominasi ketika mereka hanya berdua saja.
Grep
Ken berhasil menyusul, menahan langkah kaki istrinya di belakang pintu.
"Maafkan aku." Lagi-lagi Ken memeluk Aira dari belakang, membuat jalinan tangan di depan perut rata istrinya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Maafkan aku."
__ADS_1
"Huh..." Aira mengembuskan napas kasar dari dalam mulutnya. Dia tidak pernah bisa marah pada Ken jika sudah menunjukkan sikap manja seperti sekarang. Pria ini paling bisa mengambil perhatiannya, membuat semua kemarahan di dalam hatinya sirna.
"Lain kali aku akan meminta izin sebelum menciummu. Ya?"
Aira bungkam. Dia tidak ingin menjawab janji palsu pria ini. Tepatnya, dia tidak percaya jika Ken tidak akan menciumnya dengan tiba-tiba tanpa izin. Pria ini selalu melakukannya di atas ranjang. Saat matanya mulai terpejam, Ken justru asik mengganggunya dengan mengecup-ngecup seluruh wajahnya, tak terkecuali sepasang bibir tipis miliknya.
"Yaa?" Ken masih coba membujuk Aira, meredam kemarahan yang ia sebabkan. Tanpa ragu, Ken meletakkan dagunya di atas pundak Aira, menantikan jawaban dari wanita kesayangannya ini.
"Aku tidak percaya!" ucap Aira, masih tetap ketus. Dia berusaha menyingkirkan jalinan Ken yang memenjara tubuhnya. "Lepaskan tanganmu!"
Ken menggeleng. "Aku tidak akan melepaskanmu jika kamu tidak memaafkanku."
Aira memejamkan mata, berusaha mengendalikan emosi yang ada. "Astagaaa! Yamazaki Kenzo, lepas atau aku akan memukulmu lagi!"
Ken melepas pelukannya seketika. Dia tahu Aira tidak main-main. Dia benar-benar akan menyiku perutnya atau mungkin menginjak kakinya sekuat tenaga agar tautan tangannya terlepas paksa.
Aira bukan lagi wanita lemah yang diam saja saat ditindas. Dia wonder woman yang kuat dan tak tertandingi. Bahkan meluluhlantakkan seratus orang bisa ia lakukan seorang diri, apalagi hanya seorang pria lemah seperti Yamazaki Kenzo ini. Sama sekali bukan tandingannya!
"Ai-chan," Ken mulai merubah caranya untuk membujuk Aira. Dia merengek seperti anak kecil, memegang jemari Aira dan menggoyang-goyangkan lengannya. Sungguh kekanak-kanakkan sekali.
Lagi-lagi Aira hanya bisa mengembuskan napas kasar dari mulutnya. "Apa yang kamu inginkan, huh?"
Ken tersenyum, jurus andalannya ini masih berhasil. Perannya sebagai seorang bayi besar masih efektif untuk membuat Aira luluh. Dibandingkan memaksa wanita ini dengan kekerasan, yang pasti tidak akan berhasil, lebih baik merengek seperti tadi.
"Kamu tidak marah padaku lagi?" Ken bergerak cepat, menarik istrinya dalam dekapan. Dia mengamati wajah bulat itu dengan penuh kelembutan.
Aira menggeleng. "Tidak ada gunanya marah pada laki-laki manipulatif sepertimu!" Aira mencubit hidung Ken, membuat laki-laki itu tertawa.
"Ai-chan," panggil Ken lirih.
"Umm?"
Hening. Keduanya saling berhadapan, mengamati satu sama lain dalam keterdiaman.
"Terima kasih." Ken membelai puncak kepala Aira dengan penuh cinta.
Aira tersenyum, menganggukkan kepala.
"Ken," panggilnya kemudian.
"Umm?" Kali ini Ken yang bergumam, seperti yang Aira lakukan tadi.
"Aku sudah memikirkannya." Suara Aira lirih, namun masih bisa tertangkap indera pendengaran suaminya.
"Memikirkan apa?"
Aira tak menjawab, memegangi perutnya dengan malu-malu. "Aku ingin hamil lagi."
"HAH?" Ken terkejut bukan kepalang. Seperti tersambar petir di siang bolong, apa yang Aira katakan sungguh mengejutkannya.
"Hontou?"
(Sungguh?)
Aira menganggukkan kepalanya, mengigit bibir bawahnya dengan wajah merah merona. Dia malu mengungkapkan keinginannya yang juga keinginan suaminya ini.
Wajah Ken terlihat begitu bahagia. Dia segera mengangkat tubuh Aira, membawanya berputar dalam pelukan, membuat wanita itu mencengkeram kemeja yang dipakaianya erat-erat.
"Sudah. Ini membuatku pusing!" Aira memejamkan mata, tidak ingin melihat pemandangan berputar di sekitarnya.
Ken menuruti permintaan Sang Istri. Detik berikutnya, ia kembali mendaratkan kecupannya di bibir Aira.
"Jadi, kapan kita akan membuatnya?"
* * *
Whaaaa.... Si Abang bahagia banget dah ah. Author jadi ikut bahagia juga. Hihihihiii...
Gimana gimana? Puas nggak sama bucin-bucinnya Ken-Aira?
Apa? Masih kurang?
Astaga.... Ini Author udah berasap loh otaknya. Jangan lah siksa lebih lama lagi. Kasihanilah Author cangtip yang jomblo ini. Hahahahaaa.
Ah iya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian, like, vote dan rate bintang lima yaa biar makin rajin update nya. See you next day. Bai-bai...
__ADS_1
Hanazawa Easzy