Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Patah


__ADS_3

"Aku iri padamu. Seberapa menyenangkan menjadi suaminya? Bisakah kamu membagi sedikit kebahagiaannya padaku?"


Ken berbalik dan menatap seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Matanya membulat menatap pria yang tampak kacau itu. Pakaiannya yang berwarna gelap semakin menyiratkan ia tidak baik-baik saja saat ini. Belum lagi wajah pucat dan sorot matanya yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Yoshiro tengah terluka.



"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Ken sembari memasukkan buah yang ada di tangannya ke dalam keranjang berbentuk oval yang ia bawa ke wastafel.


"Kami putus." jawab Yoshiro setelah mendudukkan diri di salah satu kursi yang berada di depan Ken. Ia meletakkan wajahnya di meja, terlihat begitu frustasi.


"Hmm?" tangan Ken terhenti di depan kran. Ia urung mencuci makanan kaya vitamin itu dan memutuskan untuk duduk di samping sahabatnya.


"Kalian bertengkar?" tanya Ken penasaran.


Yoshiro menggeleng, "Sebelumnya kami baik-baik saja. Bahkan masih sempat menertawakanmu yang emosi semalam."


"Lantas?" Ken mengangkat sebelah alisnya, menantikan kalimat berikutnya dari Yoshiro.


"Dia mengajakku menikah." jawab Yoshiro sambil memejamkan matanya.


"Kamu menolaknya?"


Yoshiro menggeleng, ia mengingat kejadian sesaat setelah Aira masuk ke dalam rumah.


FLASHBACK


"Ayo kita menikah." ucap Yu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Yu.." Yoshiro menarik Yu dalam pelukan. Hal itu berlangsung hanya beberapa detik. Yu melepas pelukan Yoshiro, ia memilih pergi dari tempat itu dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Dukk


Yoshiro menahan pintu yang berusaha Yu jadikan sebagai pembatas di antara keduanya. Pria itu segera masuk dan mencekal lengan gadis 22 tahun yang berusaha menjauhinya.


"Ayo kita putus." pinta Yu dengan wajah dinginnya membuat Yoshiro seketika melepaskan genggaman tangannya.


"Aku lelah. Mari tidak mempedulikan satu sama lain. Kita tidak akan bisa bersama. Sayonara." ucapnya sambil berlalu dari hadapan Yoshiro.


*sayonara : selamat tinggal


"Yuu.." panggil Yoshiro pada gadis yang tengah mengambil koper dan mengisinya dengan pakaian miliknya, "Ada apa denganmu?"

__ADS_1


Hening


Yu memilih tidak menjawab pertanyaan kakak angkatnya. Ia memasang jurus diam seribu bahasa seolah tidak mendengar panggilan kekasihnya itu.


"Yuzuki-chan.." panggil Yoshiro sambil menarik lengan Yu, memaksanya untuk saling bertatapan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam kepala wanitanya ini.


"Aku lelah." ucap Yu seraya menyentak tangan Yoshiro, membuat kelima jemari itu terlepas dengan paksa. Ia melanjutkan kegiatannya memasukkan baju-baju dari lemari ke dalam koper.


"Kamu akan menyerah setelah semua yang kita lewati bersama?" tanya Yoshiro dengan hati terluka.


Gerakan tangan Yu terhenti sejenak. Dalam hati kecilnya, ia juga tidak rela berpisah dengan Yoshiro. Tapi beban mentalnya sungguh tak tertahankan lagi kali ini. Ia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Yoshiro.


"Kamu sama sepertinya (Erina). Tidak ada yang berbeda sama sekali. Kalian benar-benar terlahir dari rahim yang sama dan sama-sama ingin meninggalkanku." lirih Yoshiro putus asa, "Bahkan meski kamu meninggalkanku, Erina tidak akan pernah kembali ke dunia ini."


PLAKK


Yu menampar pria di depannya dengan sangat keras, membuat pipinya memerah detik itu juga. Ini pertama kalinya Yu dan Yoshiro bertengkar hebat. Sejak kecil, mereka selalu akur. Yu tidak senang karena Yoshiro kembali menyinggung mendiang kakaknya. Hatinya patah lagi saat pria kesayangannya menyebutkan nama itu. Padahal itu kakak kandungnya sendiri yang telah tiada, tapi Yu tetap saja tidak suka.


Yu menutup kopernya dengan paksa dan membawa benda persegi panjang itu keluar dari ruangan ini. Langkahnya terus berlanjut hingga ke kamar Kaori. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan bersama dokter cantik itu.


Yoshiro hanya bisa memandang kepergian wanita kesayangannya dari belakang. Yu marah padanya atau mungkin pada dirinya sendiri. Yoshiro tidak bisa melakukan apapun. Ia jatuh terduduk bersandar di tepi ranjang, netranya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Hampa.


Ken menghembuskan nafas beratnya mendengar penuturan seniornya di akademi ini. Hubungannya dengan Aira dulu rumit, karena dia yang mempersulit Aira. Tapi berbeda dengan yang terjadi pada Yoshiro dan Yu. Mereka berdua saling menyayangi namun ada beberapa hal yang memisahkan keduanya. Entah itu bayang-bayang Erina, atau mereka yang meragukan dirinya sendiri.


Jika saja keraguan masing-masing terhapuskan, tidak akan ada yang menghalangi jalinan kasih keduanya. Mereka saling mencintai, bahkan tuan dan nyonya Ebisawa (ayah-ibu Yu) sudah merelakan putri satu-satunya itu bersama anak angkatnya. Hal yang cukup mereka tentang di awal. Mereka khawatir akan penilaian orang-orang yang mungkin akan menyakiti perasaan Yu. Sedikit aneh jika Yu menikah dengan kakak angkatnya sendiri. Tapi pada akhirnya kedua orang tua itu luluh juga melihat betapa bahagianya Yu saat bersama dengan Yoshiro.


Puk puk


"Biarkan dia pergi." ucap Ken sambil berdiri. Ia menepuk pundak sahabatnya untuk memeberikan dukungan moril padanya, "Jika dia ditakdirkan untukmu, dia akan kembali padamu. Bahkan meskipun kamu menolaknya, semesta tidak akan tinggal diam. Semua akan berjalan sesuai rencana-Nya."


Ken melanjutkan aktivitasnya mencuci buah demi membuat kudapan sehat untuk istrinya. Ia harus bergegas agar selesai lebih dulu dan bisa memberikan makanan itu untuk wanitanya.


"Aku bodoh ya?" gumam Yoshiro tanpa mengangkat kepalanya dari meja. Ia benar-benar merasa payah atas dirinya sendiri. Dia bisa merasa sangat bersemangat saat memikirkan Yu, juga bisa sebaliknya. Lemah seolah tubuhnya tak bertulang.


"Yu sudah sampai di Jepang." ucap Kaori yang mendekat ke arah keduanya, "Dia pulang ke rumah dan memintaku mengatakan padamu agar kamu tidak muncul di hadapannya sementara waktu." ucap Kaori menyampaikan pesan yang dikatakan Yu sebelum gadis cantik itu pergi.


"Biarkan dia sendiri untuk sesaat. Aku akan membantumu jika ia sudah tenang. Bersabarlah. Semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya perlu mengistirahatkan hatinya, terlalu banyak hal yang membuatnya lelah." Kaori mengambil segelas air putih hangat dan memberikannya pada Yoshiro.


"Minumlah. Setidaknya kamu harus tetap hidup untuk bisa memperjuangkan Yu nanti." canda Kaori dengan senyum terkembang di wajah.


Ken ikut tersenyum melihat interaksi dua orang di depannya. Selain cantik, Kaori juga baik kepada semua orang. Shun pasti benar-benar bodoh karena menolak wanita di depannya ini.

__ADS_1


"Ah, Ken.. Dimana Aira?" tanya Kaori saat berbalik menatap pria lesung pipi yang tengah sibuk memotong buah dan memasukannya ke dalam wadah segi empat berwarna bening.


"Dia sedang mandi. Lihatlah ke dalam, mungkin dia membutuhkan bantuanmu." ucap Ken sambil membereskan sampah di depannya. Ia menuang madu ke atas potongan buah berbagai warna itu dan mengaduknya perlahan. Hidangan manis ini akan siap dalam beberapa menit lagi.


Sementara itu di dalam kamar Aira...


Dukk


Aira menabrak ujung meja rias dengan kaca besar menempel di dinding. Ia berjengit merasakan kakinya yang nyeri. Tangannya sibuk memasang syal di lehernya yang ikut turun saat ia menunduk memegangi kakinya tadi.


Tok tok


"Boleh aku masuk?" tanya Kaori sambil menunjukkan kepalanya di sela-sela pintu yang ia buka sedikit.


"Ah, masuklah." jawab Aira sambil sibuk melepas handuk di kepalanya dan mengurai rambut panjangnya yang masih basah. Ia bergerak kesana kemari dengan tergesa.


"Ada apa denganmu?" tanya Kaori dengan raut wajah heran.


"Aku belum selesai berpakaian. Ken tidak membangunkanku lebih awal. Aku takut kita terlambat pergi ke bandara." jawab Aira sambil mencari hairdryer dari dalam laci di depannya.


Kaori menatap jam tangannya, ia tersenyum menyadari sesuatu. Ken mengerjai Aira.


"Aira-chan..." panggil Kaori. Ia mengambil pengering rambut yang ada di tangan Aira dan membantu wanita hamil itu melakukan tugasnya, "Masih ada waktu dua jam sebelum jadwal pesawat kita." ucap Kaori sambil tersenyum.


"Dua jam? Tapi..." ucapan Aira terhenti. Ia menyadari sesuatu. Ken sudah membodohinya, "Orang itu," Aira menggertakkan giginya. Kesal karena Ken sudah berbohong padanya.


"Aku akan buat perhitungan dengannya nanti." Aira menatap pantulan wajahnya yang ada di cermin dengan penuh siasat, "Kaori-chan, bisakah kamu membantuku?" ucapnya dengan mata berbinar. Ada rencana khusus yang ia pikirkan untuk membalas Ken yang sudah membuatnya begitu panik tadi.


"Tentu. Dengan senang hati." jawab Kaori. Ia mengerlingkan sebelah matanya pada Aira. Siap membantu Aira memberikan 'pelajaran' pada Ken.


...****************...


Uwuuu... Kira-kira apa nih pelajaran yang mau Aira kasih ke Ken? Ada saran?


Btw, banyak yang salah tebak yaa. Bukan Shun kok yang mau rebut Aira, cuman Yoshiro yang lagi galau ngebucinin Yuzuki si gadis yang mempunyai arti nama bulan yang lembut (kaya author) *abaikan 😂😂


See you next day,


With love 💜


Hanazawa easzy

__ADS_1


__ADS_2