
Ken berlari ke dalam rumah, mengambil telepon kabel yang tergeletak di meja.
"Ada apa?" tanyanya seketika.
Kosuke mengembuskan napas lega begitu mendengar suara tuannya. Dia hampir saja putus asa dan memutus sambungan telepon sepihak jika tidak juga mendengar suara Yamazaki Kenzo. Dia tidak bisa menyelesaikan masalah ini seorang diri, mengingat emosi Shun yang tidak bisa dikendalikan oleh siapapun.
"Kenapa kamu menggangguku? Katakan masalahnya!" titah Ken tak ingin membuang-buang waktu yang ada. Jujur saja, dia kesal karena waktu pribadinya bersama Azami terganggu. Jika Kosuke tidak menelepon, dia masih berjalan-jalan di pantai sambil menggendong putranya yang begitu menggemaskan itu.
"Se-sebenarnya ini hanya kesalahpahaman kecil saja, Tuan."
"Heih?"
"Maaf harus menyita waktu Anda."
Ken tidak berkomentar. Dia siap menunggu rentetan kata berikutnya dari calon ayah ini. Masalah seperti apa yang akan dia hadapi kedepannya?
Kosuke kembali mengambil napas panjang sebelum menjelaskan detail situasi yang terjadi siang ini. Dia mulai bermonolog, menceritakan kedatangannya ke dermaga bersama Shun dan rencana awal mereka. Tapi, Yuki salah bicara dan mengira Mone lah yang sudah membuat tuan Hayato Harada meregang nyawa. Shun yang temperamental, akhirnya marah dan meninggalkan keduanya di pulau.
"Hanya karena masalah sekecil itu, huh?" Ken mengangkat satu sudut bibirnya. "Dan kamu tidak bisa menghandle hal itu?" tanya Ken sarkas. Itu bukan hal yang penting sama sekali. Bagaimana mungkin Kosuke tidak bisa menyelesaikannya? Ada dia jadi bodoh sekarang ini?
"Maafkan saya. Anda tahu bagaimana sifat Tuan Ogu-"
"Alasan!" ketus Ken, memotong kalimat yang akan Kosuke ucapkan.
Kosuke bungkam. Dia tahu waktunya tidak tepat sekarang, tapi dia terlanjur meghubungi pria ini. Beberapa detik berlalu dalam diam.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
Ken sedari tadi berpikir, mencari solusi terbaik untuk masalah sepele yang terjadi antara dua orang yang mencintai wanita yang sama itu. Sepertinya mereka mudah sekali tersulut emosinya karena hal kecil. Secara tidak langsung, Kaori masih menjadi perebutan keduanya.
"Temui Mone. Dia bisa menjinakkan kakaknya. Atau jika itu masih tidak berhasil, katakan pada kakek apa yang terjadi. Aku tidak akan ikut campur untuk masalah ini. Kakek dan Aira bisa murka, aku tidak bisa menghadapi mereka berdua."
Kosuke menganggukkan kepalanya meski Ken tidak bisa melihatnya. Dia tahu bagaimana seorang Yamazaki Kenzo dibuat tak berdaya oleh Aira. Dan kepergian mereka ke Indonesia adalah atas perintah kakek, mencegah masalah ini agar tidak membebani ketiga cucu buyutnya kelak.
"Tuan, apakah saya harus mengatakan tentang kedatangan wanita itu pada nona Kamishiraishi? Sepertinya dia tidak tahu sama sekali tentang hal ini."
__ADS_1
Ken kembali memutar otaknya. Tadinya dia berpikir tidak akan melibatkan gadis itu. Tapi, pusaran topan ini tidak akan berhenti begitu saja. Mungkin saja tujuan utama Anna adalah Mone. Ingin menyandingnya kembali seperti dulu.
"Tuan," panggil Kosuke karena Ken tak juga mengungkapkan idenya.
"Katakan semuanya."
"Ya?"
"Termasuk kepergianku dan Aira ini. Dia berhak tahu. Dan kamu harus menjelaskan bahwa Aira tidak pernah meninggalkannya. Akulah yang sengaja membawanya pergi dengan paksa. Jangan membuatnya salah paham. Diantara semua orang, Aira lah yang paling mengkhawatirkannya."
Lagi-lagi Kosuke mengangguk. Dia tahu dengan jelas situasi yang ada.
"Baik. Saya akan segera menemui nona Kamishiraishi."
Kosuke berniat menutup sambungan telepon dua arah itu saat suara Ken menyela.
"Tunggu!"
"Ya? Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Umm." Ken bergumam lirih, tapi masih tertangkap oleh Kosuke. "Jangan biarkan Kaori tahu perselisihan suami dan mantan suaminya. Itu akan membuat masalah semakin pelik."
Ken menggeleng, menatap istrinya yang kini masuk sambil membopong Azami di dekapannya.
"Tidak ada. Jika bukan masalah penting, jangan menghubungiku! Lakukan apa saja yang menurutmu bisa mengatasinya. Aku tidak ingin bulan madu keduaku terganggu!"
Aira memelototkan kedua matanya saat mendengar pernyataan suaminya ini. Bulan madu kedua apa? Jelas-jelas mereka kemari untuk menghindari Anna dan segala rencana jahatnya. Bagaimana bisa berubah menjadi bulan madu kedua?
Sambungan telepon itu terputus, membuat Ken meletakkan gagang putih itu kembali ke tempatnya.
"Apa solusinya?" Aira bertanya, menatap manik mata gelap suaminya dengan intens.
"Ini solusinya."
Cup
__ADS_1
Ken menarik pinggang Aira untuk mendekat dan mencium sudut bibir istrinya dengan gerakan yang begitu singkat.
"Apa yang kamu lakukan?!" Aira menjauhkan badannya sebisa mungkin dari suaminya. Selalu saja, pria ini ingin mengambil kesempatan dari kesempitan yang ada!
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Ken menggendong Aira detik berikutnya, membuat wanita itu terperanjat.
"KEN?!!" Aira menatap suaminya dengan pandangan jengkel. Kedua tangannya sibuk memegangi Azami, jadi tidak bisa melakukan apapun saat Ken membawanya kembali ke dalam kamar. Pria ini tampak begitu bahagia, berbanding terbalik saat menjawab telepon Kosuke barusan.
"Diamlah, Sayang. Jangan membuat Azami ketakutan." Ken kembali mencuri ciuman Sang Istri dalam gendongannya.
"KAMU??!!"
Ken tertawa bahagia. Hormon cinta yang dia dapatkan siang ini dari Aira membuat dirinya begitu bahagia. Dan sekarang, dia tidak ingin melewatkan momen yang ada. Melewatkan waktu di kala senja bersama wanita tercinta dan ketiga anaknya, sungguh kebahagiaan yang sempurna.
"Sakura, bawa Akari dan Ayame kemari!" titah Ken sambil membuka pintu di depannya dengan kaki. Dua tangannya menjaga Aira tetap nyaman di depan badan. Gendongan ala bridal style itu tidak terasa berat sama sekali. Bahkan, meskipun ditambah dengan ketiga anaknya, Ken tetap kuat membopong istrinya.
Brukk
Ken membaringkan Aira di atas ranjang yang ada di balkon kamar. Hal itu membuat wajahnya merona merah seperti kepiting rebus. Dia kembali mengingat pergulatannya dengan Ken beberapa jam yang lalu. Itu pertama kalinya dia melakukan itu di tempat terbuka. Benar-benar menantang adrenalin dalam dirinya. Suara cicit burung yang kebetulan lewat bahkan bisa membuatnya terperanjat.
Sakura dan Mao datang, membawa Akari dan adiknya. Dua bayi itu sama-sama tengah memasukkan ibu jari ke dalam mulutnya, menyesapnya seperti sedang menyusu.
"Tinggalkan mereka di sini." Ken menunjuk sebelah ranjang Aira yang masih kosong.
Wanita 26 tahun itu terdiam. Dia tidak bisa berkomentar apapun. Entah apa rencana pria ini pada dia dan ketiga anaknya. Mungkinkah dia akan melakukan hal gila di depan malaikat kecil mereka ini? Dimana kewarasannya?
Sakura dan satu rekan kerjanya segera berlalu seperti permintaan Ken. Keduanya tidak ingin mengganggu quality time keluarga kecil yang bahagia ini.
"Mereka membuatku iri," bisik Mao pada rekan kerjanya.
"Sstt." Sakura meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. Dia tidak ingin membicarakan apapun tentang tuan dan puan mereka. Dia tahu betul seperti apa pengorbanan Aira di bulan-bulan awal pernikahannya dengan yakuza muda itu. Jadi, sangat pantas wanita Indonesia itu mendapat kebahagiaan setelah badai yang berhasil ditaklukkannya.
Apa yang akan Ken lakukan dengan Aira? Mungkinkah keduanya....
* * *
__ADS_1
Hwaaa.... So Sweet sekali abang satu ini. Ada nggak ya di real life suami setampan dan semanis itu? Kalo ada, mau lah satu. Ada yang mau daftar juga? Yuk ah sini bikin list yang mau antre buat dihalalin laki-laki sejenis Yamazaki Kenzo. Hihihihiii.... Pagi-pagi udah halu ajaa. Siyu episode berikutnya. Bye-bye....
Hanazawa Easzy